Back

Nabi Nuh A.S : Banjir Topan Pada Masa Nabi Nuh A.S (Part 2)

Bukti Kepurbakalaan di Irak

Sebagian ahli sejarah dan ahli tafsir berpendapat bahwa banjir topan yang menimpa kaum Nuh tidak megenai seluruh bumi, tetapi hanya mengenai wilayah tertentu, yaitu Lembah Rafidin. Sudah banyak delegasi kepurbakalaan yang melakukan penelitian di Dataran Rafidin untuk menguji peninggalan yang tersimpan di sana yang bisa membuktikan berbagai peradaban. Hasil penelitian itu mengungkap bahwa daerah tersebut mengalami banjir topan dahsyat yang juga memusnahkan peradaban Sumeria yang sebagian besar penduduknya tinggal di Dataran Rafidin.

Sisa-sisa banjir topan terlihat jelas di empat kota utama di Rafidin: Ur, Erech, Shuruppak, dan Kish. Penelitian-penelitian kepurbakalaan mengungkap bahwa kota-kota itu disapu banjir topan pada sekitar 3000 SM.

Hasil Penelitian di Ur

Peradaban ermaju yang tersisa adalah kota Ur yang sekarang lebih dikenal dengan Tall al Muqayyar (Tell al-Obied). Sejarah kota ii merujuk pada tahun 7000 SM. Kota ini dihuni oleh peradaban yang bergantian. Suatu kali ditinggali peradaban yang porak poranda. Di antara penemuan kepurbakalaan pada kota Ur dijelaskan bahwa peradaban itu disapu banjir topan yang mengerikan. Berbagai peradaban mengembalikan tempat ini secara bertahap.

Ahli kepurbakalaan Sir Leonard Woolley memimpin rombongan penelitian yang dibiayai oleh Museum Inggris (British Museum) dan Universitas Pennsylvania pada tahun 1928. Penelitianitu dilakukan di tempat yang bergurun antara Bagdad dan Teluk  Persia. Ahl kepurbakaan dari Jerman Werner Keller menjelaskan penelitian Sir Leonard Woolley sebagai berikut:

Pada saat rombongan ahli kepurbakalaan ini sampai di Tall al Muqayyar yang tingginnya 50 kaki sebelah selatan kuil. Setelah dilakukan penelitian, mereka menemukan garis panjang kuburan yang menumpuk, juga jembatan batu yang indah, dan Gudang penyimpanan yang dipenuhi dengan gelas mahal, guci mewah, vas bunga, meja perunggu, mozaik, dan perak yang tertutup debu. Setelah beberapa hari penggalian dan peelitian, salah satu pekerja yang bernama Woolley berteriak, “Kita berada di atas permukaan tanah.” Ia pun meletakkan dirinya di lubang yang akan digali. Woolley mengira apa yang ditemukan sudah segalanya. Benda yang sudah ditemukan, ada juga batu mulia, yang hanya terendam dengan air saja.

Mereka lalu memutuskan untuk melanjutkan penggalian. Mereka lalu memutuskan untuk melanjutkan penggalian. Mereka menggali lebih dalam, dan lebih dalam lagi. Rombongan itu masuk ke dalam perut bumi sjauh tiga kaki, dan sepuluh kaki. Semuanya masih tanah liat.

Secara mengejutkan, pada kedalaman sepuluh kaki mereka mendapati petunjuk yang jelas adanya pemukiman manusia. MacMillan mengutip pendapat Sir Leonard Woolley yang menyebut bahwa banjir topan merupakan bukti satu-satunya yang memungkinkan terjadinya timbunan luar biasa yan gterletak di bawah anak bukit di kota Ur, yang memisahkan antara dua peradaban Kota Ur Sumeria dan Kota Ubaid Assyiria.[1]

Penelitian mikroskopis pada timmbunan batu mulia yang berada di bawah anak bukit di kota Ur dalam kondisi tertimbun sebagai akibat banjir topan.

Hasil Penelitian di Kish

Sisa-sisa banjir topan yang sama juga ditemukan di kota lain wilaah Rafidin. Kota itu adalah Kish Sumeria yang sekarang lebih dikenal sebagai Tall al Uhaimar. Sejarah orang Sumeria kuno menyebut kota ini sebagai lokasi pertama keluarga Hakimah.[2]

Hasil Penelitian di Shuruppak

Kota yang beradda di sebelah selatan Rafidin yang sekarang ini lebih dikenal dengan Tall al Farah. Kota ini juga menyimpan bukti sangat jelas adanya banjir topan saat penelitian kepurbakalaan yang dilakukan oleh Henri de Genouillac dari Universitas Pennsylvania di kota ini pada tahun 1920-1930. Penelitian kepurbakalaan ini menguak misteri tiga tingkat pemukiman yang memanjang pada masa prasejarah hingga keluarga Hakimah III seperti Kota Ur (2112-2004 SM). Penemuan yang tergolong luar biasa, yakni berupa rumah yang dibangun dengan sangat indah, sesuai dengan tulisan Mismariah, serta penemuan tentang kota yang menunjukkkan perkembangan tinggi yang sudah ada pada akhir abad keempat sebelum Masehi.[3] Selain itu, ada pula peninggalan kepurbakalaan banjir topan yang terdapat di Kota Erech.

Petunjuk Adanya Kehidupan Sebelum Banjir Topan

Laporan NASA, Whasington, menyebut bahwa para peneliti dari Amerika mendapatkan peninggalan daerah pemukiman pada kedalaman ratusan meter di bawah permukaan Laut Hitam, di satu tempat yang menjadi lokasi banjir yang luar biasa 7500 tahun silam, yang urgensiya menyamai penemuan kota Romawi kuno yang dihancurkan oleh hujan batu lava gunung berapi, yang tidak diketahui selama berabad-abad.

Terkait ini, Reuters melaporkan bahwa Robbert Ballard, salah satu penemu dan peneliti, menjelaskan bahwa timnya dari National Geographic menemukan kuil yang berbentuk empat persegi panjang yang mungkin merupakan pada kedalaman sekitar 310 meter di bawah permukaan laut. Kuil itu menunjukkan adanya sekelompok orang yang hidup di sana sebelum banjir topan dahsyat pada kawasan itu. Penemuan ini dianggap sebagai bukti adanya pemukiman manusia.

Dalam pembicaraan telepon dari salah satu kapal penjelajah pada jarak 20 km, yang menghadap Pantai Turki, Ballard menyebutkan bahwa penemuan luar biasa itu menunjukkan arsitektur dan bagian seninya mengacu pada masa perunggu modern yang dimulai sekitar sebelum 7000 tahun. Penelitian ini juga berhasil menghimpun volume hujan dalam jumlah besar di bawah permukaan air yang menunjukkan banyak orang yang hidup di sana. Urgensi penemuan ini melampaui hasil penemuan pada reruntuhan Titanic pada tahun 1985.

Lebih lanjut, Robbert Ballard menyebutkan bahwa timnya berhasil mengungkap penemuan ini kurang dari tiga hari pada minggu kedua dari total waktu penelitian yang akan dihabiskan selama lima minggu. Anggota tim berharap bisa mengungkap penemuan-penemuan lain dalam kurun waktu itu. Mereka akan melakukan proses pengeringan, penggambaran dan verifikasi, sebelum mengangkat apa pun ke permukaan. Pengenalan pada bagian-bagian yang berhasil ditemukan dilakukan dengan menggunakan alat pengukur kedalaman dengan teknologi cahaya (sonar). Penggambarannya juga dilakukan dengan perantara alat pengangkut praktis Argus, yang seukuran mesin cuci. Alat ini berhubungan dengan kapal penjelajah melalui kabel serat optik. Setelah diteliti, ukuran kuil ini lebarnya mencapai 4 meter dan panjangnya mencapai 15 meter.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] Werner Keller, Und die Biebel hat doch recht (The Bible as History ; a Confirmation of the Book of Books).

[2] Britanica Micropedia, j. 6, h. 893, lema “Kish”.

[3] Britanica Micropedia, j. 10, h. 722, lema “Shuruppak”.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *