“Apakah Anakku Bahagia?” Membangun Islamic Thinking Skills & Emotional Connection di Rumah
Majelis Taklim Jannatul Umahat kembali menggelar kajian parenting. Para bunda serta orang tua murid dari KB-TK, SD Exiss Abata, dan SMP Leaderss Khalid bin Walid hadir antusias. Berlokasi di Mushola Baitus Sholihin, kajian ini mengusung tema “Apakah Anakku Bahagia? Membangun Islamic Thinking Skills & Emotional Connection di Rumah.”
Kajian pada 7 Oktober ini menghadirkan Ms. Wina Risman, M. Ed., seorang Thinking Skills Coach. Acara ini memberi ruang bagi orang tua untuk memahami dunia anak. Selain itu, peserta belajar membangun komunikasi sehat serta mempererat hubungan emosional dengan anak.
Memahami Kebahagiaan Anak dari Rumah
Pertanyaan “Apakah Anakku Bahagia?” menjadi bahan refleksi penting bagi orang tua. Kebahagiaan anak tidak cuma bersumber dari materi, prestasi akademik, atau fasilitas. Lebih dari itu, anak membutuhkan rasa aman, perhatian, pengertian, dan ikatan emosional yang kuat.
Dalam kajian ini, Ms. Wina Risman mengulas berbagai situasi keseharian anak. Ia mencontohkan anak yang enggan bicara, mudah marah, atau tertutup. Respons-respons tersebut sering kali membuat orang tua bingung.
Lewat pembahasan ini, narasumber mengajak orang tua agar tidak terburu-buru menilai perilaku anak. Sebaliknya, orang tua perlu mengenali perasaan dan kebutuhan hakiki anak.
Membangun Islamic Thinking Skills dan Emotional Connection
Kajian ini menekankan pentingnya melatih Islamic Thinking Skills pada anak. Pola pikir ini melandaskan setiap keputusan dan pandangan hidup anak pada nilai-nilai Islam.
Orang tua tidak hanya membangun kemampuan ini melalui nasihat, tetapi juga lewat interaksi harian. Cara orang tua mengajukan pertanyaan, merespons cerita, serta memberikan pilihan ikut membentuk cara berpikir anak.
Selain itu, emotional connection menjadi pilar utama pengasuhan. Anak lebih mudah menerima arahan saat merasa dekat, aman, dan terhubung secara emosional dengan orang tua.
Oleh sebab itu, komunikasi keluarga bukan sekadar pembicaraan satu arah. Orang tua harus aktif mendengarkan, memahami, dan hadir sepenuhnya untuk anak.
Belajar dari Berbagai Kasus dalam Kehidupan Sehari-hari
Kajian berlangsung interaktif dengan membedah berbagai kasus nyata. Peserta melihat bahwa satu perilaku anak bisa memiliki latar belakang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan yang berbeda pula.
Melalui studi kasus ini, peserta memperoleh wawasan untuk menyikapi situasi secara lebih tenang. Kajian ini mendorong orang tua memilih respons yang membantu anak memahami emosinya, bukan sekadar menghentikan perilaku buruk.
Komunikasi yang baik membuat anak merasa nyaman bercerita. Langkah ini menumbuhkan hubungan yang erat dan saling percaya di dalam keluarga.
Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar
Kegiatan Majelis Taklim Jannatul Umahat menunjukkan komitmen wadah ini dalam mendampingi orang tua. Mengasuh anak merupakan proses panjang yang menuntut orang tua untuk terus belajar dan merefleksikan diri.
Melalui kajian “Apakah Anakku Bahagia? Membangun Islamic Thinking Skills & Emotional Connection di Rumah”, para bunda dapat membawa pulang wawasan praktis untuk diterapkan di rumah.
Pada akhirnya, rumah bukan sekadar tempat beristirahat. Rumah menjadi madrasah pertama bagi anak untuk mempelajari kasih sayang, komunikasi, nilai-nilai Islam, dan cara menyelesaikan masalah kehidupan.