Back

Adam A.S di Alqur’an, Taurat, dan Kitab Kuno Yahudi (Part 1)

Kisah adam a.s dalam Alqur’an sama seperti kissah-kisah yang lain, kecuali kisah Yusuf a.s. Kisah Adam tersebar di banyak tempat. Sebagiannya berulang dan sebagiannya lagi tidak berulang. Pengulangan ini menjadi mukjizat tersendiri. Di setiap tempat, kisah disajikan dengan gaya Bahasa yang sesuai dengan tema besar surah dimaksud, terutama terkait dengan subtem yang disebutkan. Pada masing-masing pengulangan diberikan tambahan informasi untuk melengkapi kisah di tempat lain. Sementara itu, kisah yang tidak diulang biasanya hanya sesusai dengan  topik pada lokasi kisah itu berada.

Topik kisah tentang Adam yang berada di surah Al-baqarah berkaian dengan pengangkatan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Ini terkait dengaan tema surah yang secara umum berkaitan dengan persoalan khilafah (kepemimpinan), mulai dari kekhilafahan Adam, kekhilafahan Bani Israel, dan kekhilafahan kaum Muslimin (yang diwujudkan dengan dialihkannya kiblat dari Baitul Makdis ke Ka’bah).

Di surah Al-A’raf, kisah Adam berkaitan dengan kisah kemanusiaan yang menapaki jalan panjang dari dan menuju surga, juga peran Iblis di sana. Sekelompok orang memang akan kembali ke surga, tempat yang dulu ditinggali nenek-moyangnya (baca: Adam dan Hawa). Sekelompok lainnya Justru malah terjerumus ke neraka.[1]

Sementara itu, di surah Al-isra, topik yang melatari dituturkannya kisah Adam adalah pemberian peringatan. Sebelum ayat yang menceritakan kisah Adam, ada bagian ayat yag menginformasikan aya titu. Hal itu terdapat pada ayat berikut:

????? ???????? ??????????? ?????? ??????????

“Kami tidak meberi tanda-tanda itu melainkan untuk memberi peringatan”

(Q.S. Al-Isra : 59)

Karenanya, kisah ini sanga tepat sekali terutama ketika disajikan dalam dialog antara Allah ?dengan Iblis berikut:

?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ????????????? ??? ???????????? ?????????????? ?????????? ? ????? ?????????? ???????????? ?????? ????????

“Kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak. Beri janjilah mereka. Tidak ada yang dijanjikan oleh syetan kepada mereka melainkan hana tipuan belaka”

(Q.S. Al-Isra:64)

Degan analogi seperti itu, kisah Nabi Adam yang berada di surah lain dalam Al-Qur’an dapat dikaji.[2] Meski demikian, ada corak kemukjizatan lain dalam kisah ini, yang hanya bisa ditemukan setelah melakukan perbandingan secara menyeluruh terhadap kisah yang terdapat dalam A_Qur’an ini dengan isah yang sama dalam kitab suci Ahli Kitab yang lain. Melalui perbandingan seperti itu, keistimewaan Al-Qur’an akan terlihat. Cara seperti ini berlaku untuk perbandingan kualitas dan keistimewaan Al-Qur’a dengan kitab suci seperti Taurat atau informasi yang terdapat pada manuskrip yang ditemukan belakangan. Begitu pula dengan naskah-naskah tersembunyi (Pseudepigrapha),[3] seperti buku Adam wa Hawa (Adam dan Hawa) yang hanya bisa dikaji oleh agamawan Yahudi atau orang-orang yang menekuni teks-teks klasik seperti pada kitab-kitab beriktu:

  1. Talmud, yang secara harfiah bermakna ‘ajaran’. Kitab ini berisi ajaran-ajaran para nabi ketika Nabi Muhammad ? belum diutus.
  2. Targum, yang merupakan terjemahan Taurat ke dalam bahasa Armenia.
  3. Midrash, yang berisi kajian seputar para Nabi yang berkaitan dengan Tuhan yang terdapat di Taurat. Untuk diketahui, kitab ini merupakan buku berseri besar yang terdiri dari beberapa buku. Isinya berbeda jauh dengan Taurat. [4]

Kajian yang akan kita lakukan adalah memperbandingkan apa yang diinformasikan Al-Qur’an terkait kisah ini dengan informasi yang dituturkan pada kitab-kitab yang telah disebutkan di atas. Bagian berikut akan memberikan gambaran perbandingan tersebut pertema:

  1. Informasi kepada Malaikat Terkait Penciptaan Adam sebagai Khalifah di Muka Bumi

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

?????? ????? ??????? ??????????????? ?????? ??????? ??? ????????? ?????????

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaiakt, ‘sesungguhnya Aku hendk menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Q.S. Al-Baqarah:30)

taurat sama sekali tidak menyebutkan topik ini. Sementara itu dalam Beskati Rabbati yang merupakan salah satu buku dalam seri Midrash disebutkan bahwa Allah menyampaikan rencana penciptaan manusia kepada langit dan bumi. Selain itu, Allah menyampaikan hal itu pada malaikat yang kemudian disambut dengan penolakan dari mereka. Informasi ini sangat mirip sekali dengan informasi Al-Qur’an. Hanya saja pada buku ini ditambahkan informasi bahwa Allah melempar Malaikat Salam dari langit ke bumi karena menolak penciptaan manusia! Lantaran kejadian itu, malaikat yang lain berteriak.

  1. Keheranan para Malaika atas Rencana Allah

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

????? ?????????? ?????? ???? ???????? ?????? ?????????? ?????????? ???????? ????????? ?????????? ??????????? ????

‘Mereka berkata, ‘mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau’’ (Q.S. Al-Baqarah:30)

Sementara itu tidak ada informasi terkait hal ini dalam Taurat dan kitab orang Yahudi yang lain.

  1. Penolakan Allah terhadap Keberatan Malaikat

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

????? ?????? ???????? ??? ??? ???????????

“Tuhan berfirman , ‘Sesungghuhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahu’.”

(Q.S. Al-Baqarah:30)

Sementara itu tidak ada informasi terkait hal ini dalam Taurat dan kitab orang Yahudi yang lain.

  1. Bahan Dasar Penciptaan Adam

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

???????? ????????? ???????????? ???? ????????? ???? ?????? ?????????

??????????? ??????????? ???? ?????? ???? ????? ?????????

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Q.S. Al-Hijr: 26-27)

Informasi Taurat (kejadian 2:4) sama dengan informasi yang terdapat dalam Al-Qur’an terkait bahan dasar penciptaan Adam dari tanah liat. Seentara itu buku Adam wa Hawa menyebut kata Ath-Thin (tanah liat) seperti kata yang digunakan dalam Al-Qur’an. Lalu roh Adam ditiupkan ke dalam tanah itu. Namun, tidak menyebutkan bahwa Allah menciptakan sendiri Adam, seperti yang disebutkan Al-Qur’an.

Pada sebagian kitab-kitab orang Yahudi klasik ditemukan informasi ini. Ini seperti ditemukan pada Yerahmel 15:9. Informasi yang disebutkan pada buku-buku itu juga sama dengan informasi yang terdapat pada hadis Nabi Muhammad ? bahwa Adam diciptakan dari semua jenis tanah yang ada di bumi, termasuk jenis warnanya. Jibrillah yang membawa semua tanah itu. Informaasi ini juga terdapat dalam buku-buku kaum Sabian, hal yang sama juga ditemukan pada ajaran orang Amnubi yang hidup di Mesir zaman dahulu. Ajaran itu menyebut bahwa manusia itu tercipta dari tanah liat.

Terkait dengan kata shalshal (tanah liat kering) yang terdapat dalam sebagian ayat di dalam Al-Qur’an. Hal sama juga ditemukan dalam buku sastra Yunani kuno yang menyebutkan bahwa manusia pertama diciptakan dari tanah liat kering.

Informasi yang kurang lebih sama ditemuka pada kitab Weda (kitab suci umat Hindu). Sementara itu, cerita-cerita orang Akkad menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan cara membunuh salah satu tuhan yang darahnya dicampur dengan sedikit tanah liat.

Di beberapa sumber yang lain disebutkan bahwa manusia dikeluarkan dari perut bumi sebagaimana tumbuh-tumbuhan. Di bagian lain, disebutkan bahwa asal-muasal Adam berikut karakeristik fisiknya tidak bisa dilepaskan dari informasi yang berasal dari salah satu itab Talmud, seperti Tanhuma dan yang lainnya yang kebetulan bersesuaian dengan informasi pada hadis Muhammad ? yang menyebutkan tinggi Adam itu antara langit dan bumi. Hadis dimaksud menyebut tinggi Nabi Adam itu sekitar 60 dzira (sekitar 27,5 meter).

Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih Muslim Menyebut bahwa Rasulullah ? bersabda, “Allah menciptakan Adam dengan tinggi 60 dzira. Setelah itu, tinggi manusia terus menurun sampai sekarang.

  1. Dua Wajah Adam

Tidak ada informasi terkait hal ini di dalam Al-Qur’an. Begitu juga dalam Taurat. Padahal beberapa sumber Yahudi klasik ada informasi lain terkait dengan penciptaan istri Adam yang tidak bisa kita temukan dalam Al-Qur’an sumber dari para penyembah berhala di Babilonia kuno menyebutkkan bahwa Adam pada mulanya diciptakan dengan dua wajah yang kenudian dipecah menjadi dua ketika Hawa diciptakan. Informasi sejenis juga ditemukan pada cerita turun-menurun secara lisan yang sebetulnya tidak ditemukan di Taurat.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] Dirangkum dari tafsir fi Zhilalil Al-Qur’an, h. 2137

[2] Untuk mendapatkan informasi tambahan seputar hal ini dapat dirujuk buku Khasha ‘ish al-Ta’bir Al-Qur’ani karya Dr.  Abdul Azhim Al-Math’ani.

 

[3] Muhammad fi Al-Targum wa Al-Talmud wa Al-Taurat wa Ghairiha min Kutub Ahl Al Kitab wa Ashhabi Al-Dinayat karya Hisyam Muhammad Thalabah, h. 10-12. Pseudepigrapha atau pseudepigrafa merupakan naskah Yahudi yang berasal dari sekitar tahun 250 SM hingga 100 SM (peny.)

[4] Untuk mendapatkan informasi tambahan, silahkan rujuk beberapa literatur berikut: (1) The International Standard Bible Encyclopedia ; (2) Introduction to The Talmud and Midrash ; (3) Encyclopedia Judaica ; (4) Al-Kitab Al-Muqaddas, terbitan Dar Al-Masyriq, 1989; (5) Anajil Al-Thufulah karya Pastor Jean Danilo; (6) Al-Kanza Al-Marshud fi Fadha’ih Al-Talmud karya Muhammad Abdullah Al-Syarqawi.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *