Info Lowongan Kerja (Pustakawan/i SD Islam)

SYARAT:
1. Muslim & Muslimah yang Taat Beribadah,
2. Senang menghiasi diri dengan Akhlaqul Karimah,
3. Mencintai anak-anak dan dunia pendidikan,
4. Usia minimal 23 maksimal 30 tahun.
5. Pendidikan minimal D3/S1 Perpustakaan dengan IPK minimal 2.75 dari PTN terkemuka atau 3.25 dari PTN/PTS lainnya.
6. Mampu membaca Al-Quran dengan baik.
7. Mampu berbahasa inggris aktif, diutamakan yang memiliki score TOEFL minimal 400,
8. Melek tehnologi informasi internet, mampu mengoperasikan Microsoft office (Power Point, Word, Excell), dan SLiMS.
9. Bersedia mengikuti pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi yang diwajibkan oleh lembaga.

GAJI & FASILITAS:
1. Gaji yang Menarik
2. Tunjangan Kinerja
3. Jaminan Kesehatan
4. Pendidikan Keluarga
5. Apresiasi Prestasi Guru
6. Fasilitas Umroh
7. Dana Pensiun

SEGERA Kirimkan Surat Lamaran & CV Anda ke sdm@abata.sch.id

Info Lowongan Kerja

Yayasan Abacu
www.abata.sch.id

Info Lowongan Kerja

Guru SD Islam

SYARAT:
1. Muslim & Muslimah yang Taat Beribadah,
2. Senang menghiasi diri dengan Akhlaqul Karimah,
3. Mencintai anak-anak dan dunia pendidikan,
4. Usia minimal 23 maksimal 30 tahun.
5. Pendidikan minimal S1 diutamakan dari fakultas MIPA dengan IPK minimal 2.75 atau fakultas Bahasa Indonesia dengan IPK minimal 3.00 dari PTN terkemuka.
6. Mampu membaca Al-Quran dengan baik, diutamakan Hafal Qur’an juzz 30 & 29.
7. Mampu berbahasa inggris aktif, diutamakan yang memiliki score TOEFL minimal 400,
8. Melek tehnologi informasi internet dan mampu mengoperasikan Microsoft office (Power Point, Word, Excell),
9. Bersedia mengikuti pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi yang diwajibkan oleh lembaga.

GAJI & FASILITAS:
1. Gaji yang Menarik
2. Tunjangan Kinerja
3. Jaminan Kesehatan
4. Pendidikan Keluarga
5. Apresiasi Prestasi Guru
6. Fasilitas Umroh
7. Dana Pensiun

SEGERA Kirimkan Surat Lamaran & CV Anda ke sdm@abata.sch.id

Membangun Pribadi Sholeh

Program Pengembangan SDM LPI Abata

Zainul Arief, SE MM, 1 Oktober 2016

Secara etimologi, kata sholeh berasal dari sholuha-yashluhu – sholahan yang artinya baik , tidak rusak dan patut. Sedangkan Sholeh merupakan isim fa’il yang artinya perbaikan, lawan katanya Fasad yang artinya kerusakan.

Di dalam kitab ”al’ain”, oleh Al khalil bin Ahmad Rahimahullah (2/406), dan laki – laki yang sholeh terhadap dirinya, dia memperbaiki amalannya dan urusan-urusannya.

Dan berkata al qadhi ‘iyadh di dalam (masyariqul anwar. 2/44): ” Laki-laki yang sholeh adalah yang menegakkan apa-apa yang menjadi kewajibannya dari hak-hak Robbnya dan beribadah kepada-Nya.

Di dalam Al-Qur’an orang yang shleh adalah orang yang senatiasa membaca Al-Qur’an di waktu malam, melaksanakan shalat malam (tahajjud),beriman dan beramal shalih, menyuruh kepada kebaikan, mencegah perbuatan mungkar dan bersegera mengerjakan kebajikan.

•      لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ

•      يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

 “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus,  mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud shalat malam. Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah dari yang mungkar, dan bersegera kepada mengerjakan pelbagai kebajikan;  mereka itulah termasuk orang yang sholeh” (Ali Imran 113-114).

•      وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang sholeh” (Al-Ankabut ayat 9).

Berdasarkan pengertian di atas, Sholeh adalah kepribadian dari seseorang yang paham dan mencintai kebaikan dan bersemangat melakukan perbaikan yang terus-menerus dalam kebenaran, kebaikan dan keridhoan Alloh SWT.

Makna ini menjadi landasan dan semangat Program Pengembangan SDM LPI Abata dalam membangun pribadi-pribadi yang Sholeh pada guru-guru dan pegawai kami lainnya di lingkungan pendidikan Islam Abata.

SDM LPI Abata mempunyai standar kompetensi umum yang salah satu unsur sikap-nya adalah kemauan untuk memperbaiki diri secara terus menerus. Pemenuhan kompetensi umum tersebut adalah upaya prioritas LPI merealisasikan 2 nilai inti Abacu yaitu Pursuit of Excellence dan Integrity.

Budaya Kerja Pursuit of Excellence meliputi perilaku :

  • Fokus pada Pemecahan Masalah
  • Menemukan “APA” Akar Masalah (bukan menyalahkan dan mencari “SIAPA” yang salah).
  • Terlibat Secara Penuh

Sedangkan Budaya Kerja Integrity meliputi perilaku :

  • Hadir Tepat Waktu
  • Melaksanakan Kewajiban
  • Bekerja Berdasarkan Data

Agar perilaku ini menjadi kebiasaan dalam bekerja bagi seluruh pegawai Yayasan Abacu, LPI Abata bekerja sama dengan Konsultan  Budaya Kerja Leantegra menyelenggarakan Lean Program, Program ini bertujuan:

  • Revitalisasi budaya organisasi
  • Peningkatan kapasitas individu
  • Penerapan sistem human capital development

Lean Program terdiri dari beberapa tahapan kegiatan:

  • Lean Preparation
  • Lean Transformation
  • HRD Revitalization

Dari 3 tahapan tersebut, Alhamdulillah selama tahun pelajaran 2015/2016 kita sudah melaksanakan kegiatan Lean Profiling dan dan Lean Thinking Workshop selama 3 hari berturut-turut sebanyak 4 angkatan kepada hampir seluruh Guru dan Pegawai Yayasan Abacu. Tahapan kegiatan ini adalah tahapan yang penting karena dalam kegiatan tersebut pegawai diberikan kemampuan mengenali dirinya dengan lebih baik, mengenali orang lain termasuk mengenali peserta didik dan mengenal lingkungan dimana ia bekerja sehari-hari.

Kemampuan ini diikuti dengan diberikannya pembekalan cara berfikir “Lean” atau ramping, sehingga dengan cara berfikir Lean peserta diharapkan siap merealisasikan nilai-nilai inti Abata kedalam kemampuannya mengelola Ruang, Waktu, Informasi dan Energi.

Dari buku Improving Knowledge Work: Lessons Learned, Robert Damelio, Lean Enterprise Division News Dec. 2007, American Society for Quality – ASQ, cara berfikir “Lean” itu ada 7 pola sebagai berikut:

  1. Mulailah Peningkatan aliran dari Akhirnya
  2. Ukurlah apa yang penting bagi Pelanggan Akhir kita (Value)
  3. Pastikan aliran dari ujung ke ujung bisa dilihat
  4. Identifikasikan dan Hilangkanlah yang Menghambat Aliran
  5. Identifikasikan Fragmen-fragmen Nilai dan koneksikan satu dengan yang lain dalam sebuah arah yang Jelas
  6. Organisasikan dengan tetap mempertahankan perspektif keseluruhan dari ujung ke ujung aliran
  7. Kelola aliran secara visual

Point 2 merupakan penterjemahan dari point 1, sedangkan point ke 4 dilakukan setelah mendapatkan point ke 3, dan point ke 5, 6, 7 merupakan penjabaran dari point ke 4.

Berikut penjelasan dari setiap pola pikir “Lean”,

  1. Mulailah Peningkatan aliran dari Akhirnya. 

Siapa pelanggan akhir kita, bagaimana tata nilai (value structure) yang dibutuhkan oleh pelanggan akhir kita. Dalam perspektif pelanggan, semua pekerjaan yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan, tidak ada gunanya dilakukan.

  1. Ukurlah apa yang penting bagi Pelanggan Akhir kita (Value). 

Prinsip ini mendorong anda untuk tidak hanya menggunakan ukuran internal untuk mengukur produktivitas, tetapi mengkorelasikan secara langsung dengan ukuran eksternal. Sehingga mendorong pula anda untuk mengukur langsung kebutuhan pelanggan (dan biasanya memakan waktu atau biaya yang tidak sedikit). Tetapi hal ini penting karena setiap tahapan kerja harus dapat menjawab “Apa kontribusi bagian saya terhadap pemenuhan kebutuhan pelanggan saya?”

  1. Pastikan aliran dari ujung ke ujung bisa dilihat.

Bisa dilihat bukan berarti anda memasang kamera atau membangun sebuah menara tinggi atau jembatan tinggi di lantai operasi (walaupun pada kadar tertentu ini bisa membantu), tetapi menggunakan sebuah metode dan alat untuk merepresentasikan keadaan operasi secara keseluruhan (misalnya menggunakan VSM, papan indikator, display animasi komputer dsb). Ini untuk memberikan kesan dan pemahaman yang lebih dalam kepada setiap bagian: betapa “pulau-pulau” aktivitas kerja sebenarnya menjadi satu kesatuan yang saling berketergantungan. “Peta” ini penting dimiliki dalam bentuk yang sama bagi semua orang.

  1. Identifikasikan dan Hilangkanlah yang Menghambat Aliran.

Tentunya dengan telah memiliki peta yang lengkap dan secara berkala diupdate (tidak harus real time, karena real time membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mungkin setiap jam atau beberapa jam), kita dapat mengidentifikasikan hambatan-hambatan yang ada didalam proses operasi dalam perspektik menyeluruh.

  1. Identifikasikan Fragmen-fragmen Nilai dan koneksikan satu dengan yang lain dalam sebuah arah yang jelas.

Dengan mendapatkan secara jelas peta nilai, maka kita bisa melihat pulau-pulau nilai (value creation island) berupa kelompok-kelompok operasi yang menciptakan nilai. Tentunya kelompok-kelompok ini harus dikoneksikan dan diarahkan menuju pencapaian nilai yang didefinisikan oleh pelanggan. Yang penting disadari bahwa proses identifikasi dan pengembangan ini akan berjalan lama, dan bisa saja berubah ketika terjadi perubahan nilai yang dipentingkan oleh pelanggan akhir.

  1. Organisasikan dengan tetap mempertahankan perspektif keseluruhan dari ujung ke ujung aliran.

Konsep ini menegaskan kembali bahwa pengorganisasian kerja, sumber daya dan tanggung jawab harus mengacu kepada konsep integrasi horisontal dan sinkronisasi. Perlu diperjelas siapa yang bertanggung jawab didalam organisasi yang akan mengatur keseluruhan aliran dari ujung ke ujung. Pada saat yang sama pula perlu dibuat sebuah pendekatan terpadu untuk memudahkan sinkronisasi antar stasiun kerja baik dari sisi desain tata letak, workload balancing, urutan kerja, penjadwalan dan prioritasinya, konsep pelatihan dsb.

  1. Kelola aliran secara visual. 

Secara ideal, kita ingin setiap stasiun kerja mampu mendapatkan informasi dan mengambil keputusan yang menjaga aliran keseluruhan. Informasi ini perlu mengemuka secara visual, baik dengan menggunakan teknologi informasi atau secara sederhana. Seperti kerja operasi sebuah kapal induk yang mengatur pesawat pada dek peluncuran telah diciptakan sebuah software penjadwalan sehingga pengaturan dilakukan didepan komputer. Tetapi akhirnya para operator dek menggunakan sebuah meja papan besar dengan replika-replika pesawat dalam bentuk kecil yang bisa ditumpangi dengan berbagai macam baut (setiap jenis baut menunjukkan muatannya apakah rudal, bensin cadangan dll).

Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada kita dalam menjalankan amanah-amanah, Wallohu a’lam bishowab.

Info Lowongan Kerja

Guru SD Islam

SYARAT:
1. Muslim & Muslimah yang Taat Beribadah,
2. Senang menghiasi diri dengan Akhlaqul Karimah,
3. Mencintai anak-anak dan dunia pendidikan,
4. Usia minimal 23 maksimal 30 tahun.
5. Pendidikan minimal S1 diutamakan dari fakultas MIPA dengan IPK minimal 2.75 atau fakultas Bahasa Indonesia dengan IPK minimal 3.00 dari PTN terkemuka.
6. Mampu membaca Al-Quran dengan baik, diutamakan Hafal Qur’an juzz 30 & 29.
7. Mampu berbahasa inggris aktif, diutamakan yang memiliki score TOEFL minimal 400,
8. Melek tehnologi informasi internet dan mampu mengoperasikan Microsoft office (Power Point, Word, Excell),
9. Bersedia mengikuti pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi yang diwajibkan oleh lembaga.

GAJI & FASILITAS:
1. Gaji yang Menarik
2. Tunjangan Kinerja
3. Jaminan Kesehatan
4. Pendidikan Keluarga
5. Apresiasi Prestasi Guru
6. Fasilitas Umroh
7. Dana Pensiun

SEGERA Kirimkan Surat Lamaran & CV Anda ke sdm@abata.sch.id

Membangun Pribadi Sholeh

Program Pengembangan SDM LPI Abata

Zainul Arief, SE MM, 1 Oktober 2016

 

Secara etimologi, kata sholeh berasal dari sholuha-yashluhu – sholahan yang artinya baik , tidak rusak dan patut. Sedangkan Sholeh merupakan isim fa’il yang artinya perbaikan, lawan katanya Fasad yang artinya kerusakan.

Di dalam kitab ”al’ain”, oleh Al khalil bin Ahmad Rahimahullah (2/406), dan laki – laki yang sholeh terhadap dirinya, dia memperbaiki amalannya dan urusan-urusannya.

Dan berkata al qadhi ‘iyadh di dalam (masyariqul anwar. 2/44): ” Laki-laki yang sholeh adalah yang menegakkan apa-apa yang menjadi kewajibannya dari hak-hak Robbnya dan beribadah kepada-Nya.

Di dalam Al-Qur’an orang yang shleh adalah orang yang senatiasa membaca Al-Qur’an di waktu malam, melaksanakan shalat malam (tahajjud),beriman dan beramal shalih, menyuruh kepada kebaikan, mencegah perbuatan mungkar dan bersegera mengerjakan kebajikan.

•      لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ

•      يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

 

 “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus,  mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud shalat malam. Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah dari yang mungkar, dan bersegera kepada mengerjakan pelbagai kebajikan;  mereka itulah termasuk orang yang sholeh” (Ali Imran 113-114).

•      وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang sholeh” (Al-Ankabut ayat 9).

Berdasarkan pengertian di atas, Sholeh adalah kepribadian dari seseorang yang paham dan mencintai kebaikan dan bersemangat melakukan perbaikan yang terus-menerus dalam kebenaran, kebaikan dan keridhoan Alloh SWT.

Makna ini menjadi landasan dan semangat Program Pengembangan SDM LPI Abata dalam membangun pribadi-pribadi yang Sholeh pada guru-guru dan pegawai kami lainnya di lingkungan pendidikan Islam Abata.

 

SDM LPI Abata mempunyai standar kompetensi umum yang salah satu unsur sikap-nya adalah kemauan untuk memperbaiki diri secara terus menerus. Pemenuhan kompetensi umum tersebut adalah upaya prioritas LPI merealisasikan 2 nilai inti Abacu yaitu Pursuit of Excellence dan Integrity.

 

Budaya Kerja Pursuit of Excellence meliputi perilaku :

  • Fokus pada Pemecahan Masalah
  • Menemukan “APA” Akar Masalah (bukan menyalahkan dan mencari “SIAPA” yang salah).
  • Terlibat Secara Penuh

Sedangkan Budaya Kerja Integrity meliputi perilaku :

  • Hadir Tepat Waktu
  • Melaksanakan Kewajiban
  • Bekerja Berdasarkan Data

Agar perilaku ini menjadi kebiasaan dalam bekerja bagi seluruh pegawai Yayasan Abacu, LPI Abata bekerja sama dengan Konsultan  Budaya Kerja Leantegra menyelenggarakan Lean Program, Program ini bertujuan:

  • Revitalisasi budaya organisasi
  • Peningkatan kapasitas individu
  • Penerapan sistem human capital development

 

Lean Program terdiri dari beberapa tahapan kegiatan:

  • Lean Preparation
  • Lean Transformation
  • HRD Revitalization

gbr1

Dari 3 tahapan tersebut, Alhamdulillah selama tahun pelajaran 2015/2016 kita sudah melaksanakan kegiatan Lean Profiling dan dan Lean Thinking Workshop selama 3 hari berturut-turut sebanyak 4 angkatan kepada hampir seluruh Guru dan Pegawai Yayasan Abacu. Tahapan kegiatan ini adalah tahapan yang penting karena dalam kegiatan tersebut pegawai diberikan kemampuan mengenali dirinya dengan lebih baik, mengenali orang lain termasuk mengenali peserta didik dan mengenal lingkungan dimana ia bekerja sehari-hari.

 

Kemampuan ini diikuti dengan diberikannya pembekalan cara berfikir “Lean” atau ramping, sehingga dengan cara berfikir Lean peserta diharapkan siap merealisasikan nilai-nilai inti Abata kedalam kemampuannya mengelola Ruang, Waktu, Informasi dan Energi.

gbr3

 

 

 

Dari buku Improving Knowledge Work: Lessons Learned, Robert Damelio, Lean Enterprise Division News Dec. 2007, American Society for Quality – ASQ, cara berfikir “Lean” itu ada 7 pola sebagai berikut:

  1. Mulailah Peningkatan aliran dari Akhirnya
  2. Ukurlah apa yang penting bagi Pelanggan Akhir kita (Value)
  3. Pastikan aliran dari ujung ke ujung bisa dilihat
  4. Identifikasikan dan Hilangkanlah yang Menghambat Aliran
  5. Identifikasikan Fragmen-fragmen Nilai dan koneksikan satu dengan yang lain dalam sebuah arah yang Jelas
  6. Organisasikan dengan tetap mempertahankan perspektif keseluruhan dari ujung ke ujung aliran
  7. Kelola aliran secara visual

Point 2 merupakan penterjemahan dari point 1, sedangkan point ke 4 dilakukan setelah mendapatkan point ke 3, dan point ke 5, 6, 7 merupakan penjabaran dari point ke 4.

Berikut penjelasan dari setiap pola pikir “Lean”,

  1. Mulailah Peningkatan aliran dari Akhirnya. 

Siapa pelanggan akhir kita, bagaimana tata nilai (value structure) yang dibutuhkan oleh pelanggan akhir kita. Dalam perspektif pelanggan, semua pekerjaan yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan, tidak ada gunanya dilakukan.

  1. Ukurlah apa yang penting bagi Pelanggan Akhir kita (Value). 

Prinsip ini mendorong anda untuk tidak hanya menggunakan ukuran internal untuk mengukur produktivitas, tetapi mengkorelasikan secara langsung dengan ukuran eksternal. Sehingga mendorong pula anda untuk mengukur langsung kebutuhan pelanggan (dan biasanya memakan waktu atau biaya yang tidak sedikit). Tetapi hal ini penting karena setiap tahapan kerja harus dapat menjawab “Apa kontribusi bagian saya terhadap pemenuhan kebutuhan pelanggan saya?”

  1. Pastikan aliran dari ujung ke ujung bisa dilihat.

Bisa dilihat bukan berarti anda memasang kamera atau membangun sebuah menara tinggi atau jembatan tinggi di lantai operasi (walaupun pada kadar tertentu ini bisa membantu), tetapi menggunakan sebuah metode dan alat untuk merepresentasikan keadaan operasi secara keseluruhan (misalnya menggunakan VSM, papan indikator, display animasi komputer dsb). Ini untuk memberikan kesan dan pemahaman yang lebih dalam kepada setiap bagian: betapa “pulau-pulau” aktivitas kerja sebenarnya menjadi satu kesatuan yang saling berketergantungan. “Peta” ini penting dimiliki dalam bentuk yang sama bagi semua orang.

  1. Identifikasikan dan Hilangkanlah yang Menghambat Aliran.

Tentunya dengan telah memiliki peta yang lengkap dan secara berkala diupdate (tidak harus real time, karena real time membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mungkin setiap jam atau beberapa jam), kita dapat mengidentifikasikan hambatan-hambatan yang ada didalam proses operasi dalam perspektik menyeluruh.

  1. Identifikasikan Fragmen-fragmen Nilai dan koneksikan satu dengan yang lain dalam sebuah arah yang jelas.

Dengan mendapatkan secara jelas peta nilai, maka kita bisa melihat pulau-pulau nilai (value creation island) berupa kelompok-kelompok operasi yang menciptakan nilai. Tentunya kelompok-kelompok ini harus dikoneksikan dan diarahkan menuju pencapaian nilai yang didefinisikan oleh pelanggan. Yang penting disadari bahwa proses identifikasi dan pengembangan ini akan berjalan lama, dan bisa saja berubah ketika terjadi perubahan nilai yang dipentingkan oleh pelanggan akhir.

  1. Organisasikan dengan tetap mempertahankan perspektif keseluruhan dari ujung ke ujung aliran.

Konsep ini menegaskan kembali bahwa pengorganisasian kerja, sumber daya dan tanggung jawab harus mengacu kepada konsep integrasi horisontal dan sinkronisasi. Perlu diperjelas siapa yang bertanggung jawab didalam organisasi yang akan mengatur keseluruhan aliran dari ujung ke ujung. Pada saat yang sama pula perlu dibuat sebuah pendekatan terpadu untuk memudahkan sinkronisasi antar stasiun kerja baik dari sisi desain tata letak, workload balancing, urutan kerja, penjadwalan dan prioritasinya, konsep pelatihan dsb.

  1. Kelola aliran secara visual. 

Secara ideal, kita ingin setiap stasiun kerja mampu mendapatkan informasi dan mengambil keputusan yang menjaga aliran keseluruhan. Informasi ini perlu mengemuka secara visual, baik dengan menggunakan teknologi informasi atau secara sederhana. Seperti kerja operasi sebuah kapal induk yang mengatur pesawat pada dek peluncuran telah diciptakan sebuah software penjadwalan sehingga pengaturan dilakukan didepan komputer. Tetapi akhirnya para operator dek menggunakan sebuah meja papan besar dengan replika-replika pesawat dalam bentuk kecil yang bisa ditumpangi dengan berbagai macam baut (setiap jenis baut menunjukkan muatannya apakah rudal, bensin cadangan dll).

Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada kita dalam menjalankan amanah-amanah, Wallohu a’lam bishowab.

Seminar Parenting Abata

Assalamu’alaikum wr wb
Dengan ini kami mengundang Ayah/Bunda untuk menghadiri kegiatan Seminar Parenting KB-TKIT & SDIT ABATa yang akan dilaksanakan pada :

Hari, tanggal : Sabtu, 4 Maret 2017
Waktu : Pukul 07.45 – 12.00 WIB
Tempat : Ruang Ali Sadikin Gedung Walikota Jakarta Barat, Kembangan Jak-Bar
Tema : Menumbuh kembangkan Karakter Daya Juang Anak Agar Menjadi Anak Yang Beprestasi
Narasumber : Ibu Nyimas Diane W, Psi
(Konsultan Kemendikbud Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga)
Biaya : Free

Fasilitas :
1. FREE TICKET
2. Snack

Dimohon konfirmasi kesediaan Ayah/Bunda untuk kegiatan seminar tersebut, paling lambat tanggal 28 Februari 2017 (sebagai data panitia untuk kepastian jumlah peserta seminar).

Demikian undangan ini kami sampaikan. Terima kasih

Wassalamu’alaikum wr wb.

Panitia Seminar Parenting Abata 2017

CP : Bu Ayu 0857 1491 4915
Bu Ela 0856 9318 0275
Bu Aida 0812 844 8630

*Tidak diperbolehkan membawa anak

f57ab596-2335-43c7-8339-23b267ae82ee

Qurban Keren di ABATA

Alhamdulillah LPI EXISS ABATA dan Yayasan ABACU  menyelenggrakan penyembelihan dan pemotongan hewan qurban tahun 1437 H /2016 dengan 6 sapi dan 13 kambing. Pemotongan berjalan dengan lancar. Pemotongan di laksanakan mulai pukul 08.00 sa,pai dengan selesai. Dari sejumlah sapi kambing yang di kurbankan akan dibagikan kepada para Mustahiq yang berjumlah 1000 orang di sekitar sekolah ABATA. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh murid, orang tua dan yayasan ABACU yang telah berkurban. Tak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh guru, pegawai LPI EXISS ABATA yang telah membantu menyelanggarakan kegiatan pemotongan hewan kurban semoga Allah SWT memberikan pahala yang besar Amin..

  1. Sejarah qurban idul adha

Sejarah qurban idul adha dijelaskan secara singkat dan jelas dalam Al Quran surat As Shoffat ayat 102. Dalam QS AS Shoffat tersebut bisa diceritakan sejarah qurban adalah sebagai berikut. Saat Ismail berusia remaja, ayahnya Ibrahim memanggil Ismail (anak Ibrahim) untuk mendiskusikan sesuatu.

Ibrahim menceritakan kepada Ismail bahwa Ibrahim telah mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Dari sini, Ibrahim menanyakan kepada Ismail: “Bagaimana menurutmu, wahai Ismail?”.

Lantas, Ismail menjawab: “Wahai ayah, laksanakan perintah Allah yang dimandatkan untukmu. Saya akan sabar dan ikhlas atas segala yang diperintahkan Allah,” ujar Ismail kepada ayahnya, Ibrahim. Dalam hal ini, Ibrahim mengkonfirmasikan mimpinya jangan-jangan mimpinya datang dari setan.

Ternyata tidak, Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah sebanyak 3 (tiga) kali melalui mimpi. Setelah mendapatkan petunjuk dan yakin bahwa itu adalah perintah Allah, maka Ibrahim dengan ikhlas akan menyembelih puteranya sendiri, yaitu Ismail.

Setelah Ibrahim dan Ismail kedua-duanya ikhlas untuk menjalankan perintah Allah, ternyata Allah mengganti Ismail menjadi domba. Dari peristiwa ini, sudah mulai bisa diketahui arti, makna, dan hakikat idul adha qurban. Peristiwa ini kemudian dijadikan sebagai hari raya umat Islam selain hari raya idul fitri.

  1. Hukum dan arti qurban idul adha

Bahasa Arab, binatang kurban disebut “Udh-hiyah” atau “Dhahiyyah”. Sayyid Sabiq menjelaskan:

لْأُضْحِيَةُ وَالضَّحِيَّةُ اِسْمٌ لِمَا يُذْبَحُ مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ يَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيْقِ تَقَرُّبًا إِلَى تَعَالى

“Udh-hiyah dan dhahiyyah adalah nama untuk binatang yang disembelih berupa unta, sapi dan kambing, pada hari nahr dan hari-hari tasyriq, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah”.

Arti kata idul adha qurban ada dua makna. Pertama, arti qurban adalah dekat yang diambil dari bahasa Arab Qarib. Pandangan umum mengatakan bahwa qurban adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tata cara penyembelihan hewan qurban
Dalam pelaksanaan penyembelihan hewan qurban harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut yang merupakan syarat pelaksanaannya :

  • Wajib membaca basmalah, disunnahkan bertakbir. Dalilnya : “Jangan kalian makan sembelihan yang tidak disebut nama Allah atasnya, karena itu adalah kefasikan” (QS. Al An’am: 121).
  • Meletakkan kaki pada leher hewan sembelihan. Dalilnya : “Nabi Shallallahu’alahi Wasallam berqurban dengan dua kambing kibasy berwarna putih lagi panjang tanduknya. Beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kaki beliau diatas leher keduanya” (HR. Bukhari – Muslim).
  • Gunakan pisau tajam agar cepat putus sehingga hewan qurban tidak terlalu lama merasakan sakit, tenangkan hewan sebelum di sembelih. Dalilnya : “Jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian menajamkan pisau dan hendaknya ia menenangkan hewan sembelihannya” (HR. Muslim).

 

dscn2767 dscn2772 dscn2793 dscn2814

 

#penulis Mudita Pohan S.Pd

Aleppo Berdarah, Exiss Abata Peduli Suriah

exiss abata peduli

Gempuran senjata massal terhadap warga sipil Suriah dinilai setara dengan aksi genosida dan kini menjadi tragedi besar dunia. Dalam hal ini, Exiss Abata mencoba untuk menggalang dana untuk Peduli Suriah.

Krisis Suriah sudah lebih dari cukup untuk membuat nurani kita guncang, sudah saatnya civitas Exiss Abata kembali berbuat nyata dalam membantu korban kebiadaban kafir Bashar Assad walaupun kami menyadari hal ini memang tidak bisa menghentikan krisis yang terjadi di Suriah, namun setidaknya kami sudah turut andil dalam meringankan beban penderitaan rakyat Suriah khususnya Aleppo.

Aleppo, kota paling utara dan salah satu yang terbesar di Suriah kini hancur tak berbentuk. Gempuran rezim Bashar Assad selama lebih dari dua pekan tanpa henti ini telah meluluhlantakkan fasilitas sipil dan membunuh ratusan warga sipil.

Hanya dalam hitungan jam sejak serangan terakhir di hari Jum’at pekan lalu, serangan berdarah itu mendapat kecaman jutaan orang di dunia. Tagar #AleppoIsBurning dan #SaveAleppo pun memenuhi ragam lini masa di media sosial.

1 17 18 19 20 21