LOWONGAN KERJA GURU AL-QUR’AN 2019

Let’s join us ! Excellent Islamic School ABATA
Sebagai GURU AL-QUR’AN guna mencetak generasi rabbani dambaan ummat
SYARAT:
1. Muslim & Muslimah yang Taat Beribadah,
2. Senang menghiasi diri dengan Akhlaqul Karimah,
3. Mencintai anak-anak dan dunia pendidikan,
4. Usia minimal 20 maksimal 30 tahun.
5. Pendidikan minimal SMA diutamakan S1.
6. Mampu membaca Al-Quran dengan baik & benar, Hafal Qur’an juz 30 & 29, diutamakan hafal lebih dari 5 juz.
7. Melek teknologi informasi internet dan diutamakan mampu mengoperasikan Microsoft Office (Power Point, Word, Excel),
8. Bersedia mengikuti pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi yang diwajibkan oleh lembaga.

GAJI & FASILITAS:
1. Gaji yang Menarik
2. Tunjangan Kinerja
3. Bantuan Sosial Pegawai
4. Jaminan Kesehatan dan Tenaga Kerja
5. Tunjangan Pendidikan Keluarga
6. Apresiasi Prestasi Guru
7. Fasilitas Umroh
8. Dana Pensiun

SEGERA Kirimkan Surat Lamaran & CV Anda ke sdm@abata.sch.id
Ditunggu sampai dengan 31 Januari 2019

Studi banding SDIT Baitul Maal ke SD Exiss Abata

Alhmdulillah, Hari ini, Rabu 21 Februari 2018, SD Exiss Abata kedatangan tamu Dari SD Baitul Maal Tangerang. Mereka berlima ingin studi banding ke SD Exiss Abata, tentang metode pembelajaran Al-Qur’an sistem Ummi. Kepala sekolah dan 4 orang guru SDIT Baitul Mal, ingin belajar banyak tentang prestasi yang telah dicapai SD Exiss Abata dalam menerapkan sistem Ummi. Ummi Foundatioan sebagai lembaga penjamin mutu pembelajaran Al-Qur’an, memberikan rekomendasi kepada SDIT Baitul Mal untuk belajar di SD Exiss Abata. Semoga hasil studi banding SDIT Baitul Maal ke SD Exiss Abata membantu mengefektifkan target target pembelajaran Al-Qur’an di sekolah Baitul Maal. Aamin.

Info Program LPI Abata 2019

Assalamu’alaikum wr wb

Ayah Bunda Exiss Abata yang kami hormati,
Kami ucapkan terima kasih atas perhatian, kerjasama dan kepercayaan Ayah Bunda sekalian pada Lembaga Pendidikan Islam Abata, dari masukan feedback on-line tahun 2019 insyaAlloh LPI Abata berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan dan peningkatan layanan pendidikan di Exiss Abata.

Berikut ini kami infokan beberapa program di LPI Abata, dimana Ayah Bunda dapat mengikuti dan berpartisipasi aktif didalamnya:

1. Program Tahsin dan Tahfidzul Quran
Sebuah program belajar membaca Quran dan menghafal Quran dengan metode UMMI, program ini terselenggara antara LPI Abata dengan QLA (Quranic Learning Academy) Fityatul Kahfi.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan dengan sdr Adi Firly klik Disini

2. Program Parenting berbasis Profiling
Sebuah program pengasuhan dan pendidikan anak melalui peningkatan kemampuan mengenali diri & komunikasi antara orang tua & anak. Program ini terselenggara bersama antara LPI Abata dengan Leantegra.

===============================

Link profiling orang tua silahkan klik Disini
Link profiling anak klik Disini

===============================
Informasi lebih lanjut dengan sdri Millah klik Disini

 

3. Program Umroh Guru
Sebuah program apresiasi memberangkatkan umroh guru-guru yang memiliki keteladanan dan dedikasi di bidang pendidikan, dimana para orang tua murid dapat berkontribusi dalam bentuk mengikuti program umroh yang diselenggarakan oleh Khoirul Qofilah sebagai mitra kerjasama dengan LPI Abata.

https://khoirulqofilah.com/umroh-guru-teladan/

 

===================================

Info jadwal umroh 2019

https://umrohtravelplus.blogspot.com/2019/05/jadwal-umroh-2019-bersama-khoirul.html

===================================

Untuk informasi lebih lanjut silahkan dengan sdr Ariefillah Klik Disini untuk Whatsapp

Demikianlah informasi ini kami sampaikan, semoga bermanfaat

Wassalamu’alaikum wr wb

Zainul Arief
Sekretaris Direktur LPI Abata

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part IV)

Bila Al-Qur’an itu karya Muhammad Saw seperti yang dituduhkan orang-orang Yahudi, tentu Al-Qur’a tidak akan menyebutakan bahwa Allah telah menjadikan mereka sebagai pemimpin umat manusia dan merekalah yang akan mewarisi bumi, karena mereka yang jelas-jelas memperlihatkan permusuhan semenjak munculnya dakwah Nabi Muhammad Saw. Fakta ketiga adalah bahwa teks Taurat tidak menyebutkan faktor yang menyebabkan Fir’aun membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan dari Bani Israel dan membiarkan bayi perempuan. Padahal, di sisi lain, Al-Qur’an justru menyebutkan faktor ini dalam firman-Nya:

الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

“Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu” (Q.S Al-Qashash: 6)

Nabi Saw menjelaskan pada para sahabatnya ihwal apa yang ditakutkan Fir’aun dan kaumnya. Ini bermula ketika rahib dan ahli nujum menginformasikan kepada Fir’aun bahwa kerajaannya akan hilang di tangan seorang pemuda dari Bani Israel. Ia pun memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang terlahir. Ayat di atas juga memperkuat fakta bahwa meskipun manusia sudah berusaha mati-matian untuk menolak sesuatu yang tidak diinginkannya, tetapi takdir Allah Swt tetap terlaksana. Meskipun mereka berupaya sedemikian rupa, tetap saja upaya Allah jauh lebih hebat.

Allah Swt berfirman:

فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ

.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (Q.S Al-Qashash: 8)

Fakta keempata adalah kerancuan yang sanagat jelas yang terdapat pada teks Taurat terkait dengan cara prosesi penyelamatan Musa As dari kematian ketika ibunya memutuskan untuk menyembunyikan si bayi di rumahnya pada saat melihat bayinya itu berwajah tampan. Setelah mengkhawatirkan bayinya, sang ibu memerintahkan saudara perempuan Musa untuk meletakkan Musa ke dalam peti di antara pepohonan Alfa di tepi sungai yang mengarah ke istana Fir’aun. Saudara Musa itu mengawasi dari jauh. Setelah putri Fir’aun menemukan dan membuka peti itu, ternyata di dalamnya terdapat seorang anak kecil, saudara perempuan Musa menawarkan diri untuk menunjukkan pada wanita yang bisa menyusui bayi itu. Putri Fir’aun pun langsung setuju, padahal belum dikomunikasikan dengan ayahnya, Fir’aun.

Kita mungkin bisa menguak kerancuan pada skenario ini dengan mudah. Kerancuan pertama, bahwa seorang ibu pasti akan mengkhawatirkan anaknya, baik bayinya itu tampan atau tidak. Kerancuan kedua adalah bahwa saudara perempuan Musa As yang meletakkan sendiri saudaranya di samping istana Sang pembunuh terbesar, Fir’aun. Yang palng mungkin adalah saudara Musa meletakkan Musa di letak yang jauh dari istana Fir’aun. Mungkin saja anak lelaki itu jatuh ke tangan orang yang hatinya lebih lembut dari Fir’aun.

Kerancuan ketiga adalah tidak seharusnya peti dicat dan di aspal, sementara saudaranya meletakkannya di dataran di sampig isana, bila dia mampu menjangkau tanah terlarang istana semudah itu. Kerancuan yang keempat adalah bahwa saudara Musa yang terus mengawasi peti itu dari jauh. Namun, teks secara tiba-tiba memunculkannya sedang berdiri di hadapan putri Fir’aun. Sesaat setelah ditemukannya anak lelaki itu, ia segera mengajukan wanita yang bisa menyusui anak itu. Ini mengundang kecurigaan bahwa saudara perempuan Musalah yang meletakkan bayi Musa di tempat itu. Bayi itulah yang menghendaki saudara perempuannya itu ketika Fir’aun akan membunuh bayi itu. Skenario kisah yang terdapat pada Al-Qur’an sudah bisa dipastikan bahwa kita tidak mungkin bisa menemukan cacat apapun. Di Al-Qur’an ibu Musalah yang meletakkan bayinya di peti dan melemparkannya ke sungai setelah ia mengkhawatikan anaknya akan dibunuh. Ini sesuai dengan firman Allah Swt:

اِذۡ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اُمِّكَ مَا يُوۡحٰٓى ۙ‏ ﴿۳۸﴾ اَنِ اقۡذِفِيۡهِ فِى التَّابُوۡتِ فَاقۡذِفِيۡهِ فِى الۡيَمِّ فَلۡيُلۡقِهِ الۡيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَاۡخُذۡهُ عَدُوٌّ لِّىۡ وَعَدُوٌّ لَّهٗ‌ ؕ وَاَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَـبَّةً مِّنِّىۡ وَلِتُصۡنَعَ عَلٰى عَيۡنِىۡ ۘ‏ ﴿۳۹﴾

“yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku” (Q.S Thaha; 38-39)

Ibu Musa memang yang meminta anak perempuannya untuk mengawasi dari jauh tanpa ada seorang pun yang tahu pergerakan peti di sungai, agar ia tahu apa yang akan terjadi pada anaknya. Anak perempuan ini mengetahui bahwa peti itu tertambat dan tetap berada di tepi sungai di depan istana Fir’aaun. Keluarga Fir’aun pun menemukannya dan membawanya ke istana agar mereka menemukan anak asuhan yang dipastikan merupakan anak keturunan Bani Israel. Allah Swt juga telah menumbuhkan cinta pada Musa, sehingga istri Fir’aun juga menyukai bayi itu. jadi, istri Fir’aun bukan anak perempuannya seperti yang disebutkan dalam Taurat.

Karena tidak rasional anak perempuan mengadopsi anak laki-laki, sementara dia masih tinggal di rumah ayahnya (belum menikah). Istri Fir’aun membujuk suaminya untuk tidak membunuh anak lelaki Ibrani ini setelah ia menggendongnya.si permaisuri juga membujuk suaminya agar mau mengngkat Musa menjadi anak, tanpa diketahui bahwa ia orang Ibrani. Fir’aun menyetujui meskipun terpaksa. Padahal, sang tiran merasa mungkin aja anak inilah yang akan memusnahkan kerajaannya. Namun pasti Allah akan memenangkan apa yang dikehendaki-Nya. Meski banya orang tidak mengetahuinya.

Agar Allah bisa mengembalikan bayi ini pada ibunya, seperti yang sudah dijanjikan-Nya, bayi ini menolak disusui wanita-wanita penyusu yang didatangkan istri Fir’aun. Setelah keluarga Fir’aun melakukan pencarian yang melelahkan keluarga ihwal wanita penyusu yang baru, saudara perempuan Musa menunjukkan pada mereka ibu yang bisa menyusui Musa. Bayi itu mau disusui wanita yang merupakan ibunya sendiri, mereka pun mengembalikannya pada ibu Musaagar ia menjadi wanita yang bertugas menyusuinya.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part III)

Orang yang membaca teks Taurat dan teks Al-Qur’an akan segera melihat perbedaan yang mencolok antara kedua teks ini bila di titik dari penyampai teks ini dan tingkat ketinggian bahwa teks. Ketika membaca teks Taurat, maka akan ditemukan bahwa yang menulis teks itu adalah manusia. Kelemahan maknanya sangat jelas terlihat mulai dari kalimat pertama: “Ada seorang lelaki yang pergi dari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki.” Kalimat ini sangat lucu. Sedikit sekali kandungan makna di dalamnya. Padahal, sebagian buku yang ditulis oleh manusia biasa tak jarang lebih bisa menampilkan teks lebih mendalam daripada teks di atas dalam kekuatan kandungan dan ketinggian bahasanya. Ketika membaca teks Al-Qur’an, kita akan tahu bahwa penyampainya bukan manusia. Kita juga bisa membandingkan firman Allah Swt berikut dengan awal teks di atas:

طٰسۤمّۤ ( ) تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ ( ) نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَّبَاِ مُوْسٰى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ( ) اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ( ) وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( )

“Tha Sin Mim. Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” (Q.S Al-Qashash: 1-5)

Berikut kita juga akan membandingkan fakta yang disampaikan pada kedua teks tersebut agar Pembaca semakin jelas bahwa teks Al-Qur’an lebih sesuai teks Taurat. Allah Swt Maha benar ketika berfirman sebagai berikut:

وَمَنْ اَصْدَقُ مِنَ اللّٰهِ قِيْلًا

“Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (Q.S An-Nisa: 122)

Fakta pertama terkait bahwa kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada umat manusia berfungsi untuk menunjukkan keberadaanNya. Kitab-kitab itu juga berfungsi untuk mengenalkan mereka akan sifat-sifat Tuhan, juga bahwa segala bagian di ala mini hanya bisa terjadi dengan kehendak-Nya saja. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seizinNya saja.tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seizin-Nya. Saat mengkaji teks kisah ini di Taurat, kita akan menemukan bahwa kisah itu sama sekali tidak menyebut nama Allah. Kisah itu hanya meyajikan urutan peristiwa yang dipenuhi kerancuan, di samping ditulis dengan bahasa yang rendahan.

Bandingkan dengan kisah ini yang terdapat dalam Al-qur’an yang selalu menyebut nama Allah. Menjadi jelas kiranya bahwa tangan Allah lah yang menggerakkan peristiwa dalam kisah ini. Dengan begitu, kisah ini semakin mengokohkan prinsip keimanan pada pembacanaya. Allah lah yang mewahyukan kepada ibu Nabi Musa As untuk melemparkan Musa ke sungai. Allah Swt pula yang menjanjikan pada sang ibu. Dia juga yang menjadikan peti yang menjadi tempat Musa As tetap bisa mengalir di tepi sungai yang menghampiri istana Fir’aun.

Dia juga yang menumbuhkan rasa cinta istri Fir’aun pada Musa agar Fir’aun tidak membunuhnya. Dia pula yang mengharamkan padanya susuan yang lain. Tujuannya agar hanya ibunya saja yang meyusuinya. Kelebihan lain juga bisa dilihat pada urutan manusia yang lain. Teks Taurat tidak pernah memberi catatan terkait peristiwa-peristiwa yang ada, padahal kita mendapat teks Al-qur’an membangun jalinan peristiwa dalam kisah itu. Al-qur’an memuji amal soleh dan mencela amal buruk. Ketika Musa As membunuh lelaki Mesir, teks Taurat tidak menyebut bahwa tindakan itu adalah perilaku salah. Padahal, kita mendapati teks Al-qur’an tidak mengakui perilaku seperti itu. Ini bisa dilihat dari peristiwa Musa As atas perilakunya dan permintaanya atas ampunan Allah.

Fakta kedua terkait dengan orang yang menulis teks Taurat itu. Ia pastilah seorang manusia, karena fokus perhatiannya tercurah pada penyebutan ayah Musa dan ibunya yang berasal dari kabilah Lawi yang menganut agama Yahudi.”Ada seorang lelaki yang pergidari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki.” Ia juga menjelaskan ciri-ciri peti yang menjadi temat Musa As. “Pada saat ia tahu tidak mungkin lagi untuk menyembunyikannya setelah itu, ia mengambil keranjang dari papyrus untuk anaknya. Ia pun mencat keranjang itu dengan aspal dan tir. Ia pun meletakkan anaknya di dalam keranjang itu.”

Sementara itu, teks kisah yang ada di Al-qur’an pasti ditulis oleh Dzat yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu. Dia memulai kisah dengan menyebut atmosfir umum dan situasi yang mendukung kisah ini. Dia menyebut kondisi yang melingkupi Bani Israil sebelum kelahiran tokoh utama kisah ini Musa As, Fir’aun berkuasa atas mereka dan berusaha untuk merendahkan mereka. Ia membunuh semua anak lai-laki dan membiarkan anak perempuan. Allah Swt berfirman:

اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

“Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S Al-Qashash:4)

Teks itu menyebut bahwa Allah hendak menganugerahi Bani Israil. Allah menyelamatkan mereka dari kehinaan ini dan menjadikan mereka sebagai pemimpin umat manusia. Allah Swt berfirman:

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( ) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka.” (Q.S Al-Qashash: 5-6)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part II)

Pada saat ia tahu tidak mungkin lagi untuk menembunyikannya. Setelah itu, ia mengambil keranjang dari papirus untuk anaknya. Ia pun mencat keranajng itu dengan aspal. Ia pun meletakkan anaknya di dalam keranjang itu. Ia meletakkan anaknya di antara alfa di tepi sungai. Saudara anaknya melihat dari jauh untuk mengetahui apa yang akan dilakukan pada anak itu. Putri Fir’aun turun ke sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai. Sang putri lalu melihat keranjang di antara alfa. Ia pun menyuruh budaknya untuk mengambil keranjang itu. Putri Fir’aun turun ke sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai. Sang putri lalu melihat keranjang di antara alfa. Ia pun menyuruh budaknya untuk mengambil kranjang itu. Ketika ia membuka keranjang itu, ia melihat bayi laki-laki yang menangis. Melihat itu, ia pun iba. Ia berkata, “Ini pasti anak orang Ibrani”. Saudara perempuan bayi itu berkata pada putri Fir’aun, “Apakah saya diizinkan mencari wanita Ibrani yang bisa menyusui anak kecil itu.” Putri Fir’aun pun berkata padanya, “Pergilah!” Saudara bayi itu pun pergi untuk memanggil ibu bayi itu. Putri Fir’aun pun berkata  pada wanita itu, “Bawa anak ini dan susuilah. Aku akan memberikan upah untukmu.” Wanita itu membawa anak itu dan menyusuinya. Ketika bayi itu sudah besar, wanita itu membawa sang bayi untuk menemui putri.

Anak itu pun mnjadi anak dari putri Fir’aun. Ia memanggil anak itu dengan sebutan “Musa”. Putri Fir’aun berkata “Aku memungutnya dari air”. Itu erjadi pada beberapa hari. Ketika semakin besar, Musa pun pergi untuk menemui saudara-saudaranya untuk melihat beban yang ditanggung mereka. Ia melihat seorang lelaki Mesir memukul lelaki Ibrani, yang termasuk saudaranya. Ia pun menoleh ke semua arah dan ia dapati tidak ada seorang pun di sana. Ia pun membunuh orang Mesir dan menguurkannya di gundukan pasir. Kemudian ia pergi di hari kedua. Kala itu ia mendapati dua orang lelaki Ibrani yang sedang berkelahi. Ia berkata pada orang yang bersalah, “Mengapa kamu memukulsaudaramu?” Orang itu menjawab “Siapa yang yang menjadikan kamu pemimpin dan hakimbagi kita? Apakah kamu memikirkan pembunuhanku seperti yang kamu lakukan pada orang Mesir?” Musa pun ketakutan. Ia berkata, “Wah, masalahku sudah diketahui.” Fir’aun pun mendengar masalah ini. Ia pun meminta Musa untuk dibunuh. Musa pun melarikan diri dari Fir’aun dan tinggal di tanah Midyan. Ia duduk di epi sumur.

Tokoh di Midyan mempunyai tujuh putri. Ketika putri ini datang (ke sumur itu) untuk menimba dan memenuhi timba unutk memberi minum kmbing ayah mereka. Lalu, para penggembala datang untuk mengusir mereka. Musa pun bangkit dan menolong mereka dan menolong dengan dengan memberi minum kambing mereka. Saat mereka sampai di kuil ayah mereka, sang ayah berkata “Apa yang terjadi pada kalian sehingga bisa pulang lebih cepat hari ini?” Mereka menjawab, “Ada seorang lelaki Mesir yang menyelamatkan kami dari tangan-tangan jahat para penggembala. Ia menimbakan kami dan memberi minum kambing”. Sang ayah berkata pada anak-anaknya, “Sekarang dia di mana? Mengapa kalian justru meninggalkan lelaki itu? Ajak dia untuk makan di sini”. Musa pun setuju untuk tinggal bersama dengan lelaki itu. Musa pin memberi burung elang untuk putri tokoh Midyan itu. Wanita itu pun melahirkan anak lelaki yang biasa dipanggil dengan nama “Jursyum”. Karena, ia berkata, “Aku tinggal di daerah yang asing.” Kisah Musa sendiri disebutkan terpisah-pisah di beberapa surah Al-Qur’an. Namun, bagian dari kisah yang disebutkan di awal surah Al-Qashash:

طٰسۤمّۤ ( ) تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ ( ) نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَّبَاِ مُوْسٰى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ( ) اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ( ) وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( ) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ ( ) وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ ( ) فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ ( ) وَقَالَتِ امْرَاَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّيْ وَلَكَۗ لَا تَقْتُلُوْهُ ۖعَسٰٓى اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ( ) وَاَصْبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوْسٰى فٰرِغًاۗ اِنْ كَادَتْ لَتُبْدِيْ بِهٖ لَوْلَآ اَنْ رَّبَطْنَا عَلٰى قَلْبِهَا لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ( ) وَقَالَتْ لِاُخْتِهٖ قُصِّيْهِۗ فَبَصُرَتْ بِهٖ عَنْ جُنُبٍ وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ (۞ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰٓى اَهْلِ بَيْتٍ يَّكْفُلُوْنَهٗ لَكُمْ وَهُمْ لَهٗ نَاصِحُوْنَ ( ) فَرَدَدْنٰهُ اِلٰٓى اُمِّهٖ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ اَنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ( ) وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَاسْتَوٰىٓ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًاۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ( ) وَدَخَلَ الْمَدِيْنَةَ عَلٰى حِيْنِ غَفْلَةٍ مِّنْ اَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيْهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلٰنِۖ هٰذَا مِنْ شِيْعَتِهٖ وَهٰذَا مِنْ عَدُوِّهٖۚ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِيْ مِنْ شِيْعَتِهٖ عَلَى الَّذِيْ مِنْ عَدُوِّهٖ ۙفَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ قَالَ هٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِيْنٌ ( ) قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ( ) قَالَ رَبِّ بِمَآ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ اَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِّلْمُجْرِمِيْنَ ( ) فَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ فَاِذَا الَّذِى اسْتَنْصَرَهٗ بِالْاَمْسِ يَسْتَصْرِخُهٗ ۗقَالَ لَهٗ مُوْسٰٓى اِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُّبِيْنٌ ( ) فَلَمَّآ اَنْ اَرَادَ اَنْ يَّبْطِشَ بِالَّذِيْ هُوَ عَدُوٌّ لَّهُمَاۙ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اَتُرِيْدُ اَنْ تَقْتُلَنِيْ كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًاۢ بِالْاَمْسِۖ اِنْ تُرِيْدُ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ جَبَّارًا فِى الْاَرْضِ وَمَا تُرِيْدُ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ ( ) وَجَاۤءَ رَجُلٌ مِّنْ اَقْصَى الْمَدِيْنَةِ يَسْعٰىۖ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنَّ الْمَلَاَ يَأْتَمِرُوْنَ بِكَ لِيَقْتُلُوْكَ فَاخْرُجْ اِنِّيْ لَكَ مِنَ النّٰصِحِيْنَ ( ) فَخَرَجَ مِنْهَا خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖقَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ( ) وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ( ) وَلَمَّا وَرَدَ مَاۤءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ ەۖ وَوَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَاَتَيْنِ تَذُوْدٰنِۚ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۗقَالَتَا لَا نَسْقِيْ حَتّٰى يُصْدِرَ الرِّعَاۤءُ وَاَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ ( ) فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ( ) فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ ۖقَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ فَلَمَّا جَاۤءَهٗ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَۙ قَالَ لَا تَخَفْۗ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ( ) قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ( )  قَالَ اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ اُنْكِحَكَ اِحْدَى ابْنَتَيَّ هٰتَيْنِ عَلٰٓى اَنْ تَأْجُرَنِيْ ثَمٰنِيَ حِجَجٍۚ فَاِنْ اَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَۚ وَمَآ اُرِيْدُ اَنْ اَشُقَّ عَلَيْكَۗ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ( ) قَالَ ذٰلِكَ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَۗ اَيَّمَا الْاَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّۗ وَاللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ

“Tha Sin Mim. Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka. Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyadari. Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya. Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudaranya Musa), “Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?” Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir‘aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, “Ini adalah perbuatan setan. Sungguh, dia (setan itu) adalah musuh yang jelas menyesatkan.” Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku! Demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, maka aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya), tiba-tiba orang yang kemarin meminta pertolongan berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya, “Engkau sungguh, orang yang nyata-nyata sesat.” Maka ketika dia (Musa) hendak memukul dengan keras orang yang menjadi musuh mereka berdua, dia (musuhnya) berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau bermaksud membunuhku, sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” Dan seorang laki-laki datang bergegas dari ujung kota seraya berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.” Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.” Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatangi ayahnya dan dia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” Dia (Syekh Madyan) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” Dia (Musa) berkata, “Itu (perjanjian) antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan.” (Q.S Al-Qashash: 1-28)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part I)

Nilai sesuatu akan terlihat jelas bila dibandingkan degan pembandingnya yang tidak memiliki nilai yang sama. Ini seperti dalam pantun Arab Al-dhidhdh yudhhiru husnahu al-dhidhdhu yang terjemahannya, “Nilai sesuatu itu diperlihatkan pembandingnya”. Apa yang disebutkan dalam pantun di atas sesuai dengan kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Penjelasannya yang apik dan keakuratan fakta yang diturunkan Al-Qur’an akan terlihat sangat jelas bila kita membandingkannya dengan kisah sejenis yang terdapat pada sumber lain, seperti Taurat. Allah Swt memastikan bahwa kisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah kisah terbaik dan merupakan kisah yang fakual. Ini seperti terdapat dalam firman Allah Swt berikut:

نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik” (Q.S Yusuf: 3)

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الۡقَصَصُ الۡحَـقُّ

“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar” (Q.S Ali Imron: 62)

Ketika membandingkan kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan kisah sejenis yang terdapat dalam Taurat, kita akan mendapati bahwa kisah yang terdapat pada Al-Qur’an akan sama dengan sebagian fakta yang terdapat dalam Taurat. Selain itu, kisah dalam Al-Qur’an juga berfungsi untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada bagian lain dari Taurat. Seringkali kisah itu menghadirkan fakta baru yang yang sama sekali tidak disebutkan dalam kisah di Taurat. Kita juga kan menemukan bahwa kisah dalam Al-Qur’an mampu menyebutkan rincian rumit yang tidak mungkin diceritakan dan diperhatikan oleh seseorang pendongeng, seperti kekhawatiran yang berkecamuk dalam hati para tokoh dalam kisah itu, juga kejadian yang yang terjadi di luar jangkauan pemantauan seorang manusia. Ini seperti saat Allah Swt berfirman dalam ayat berikut:

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِمۡ بِعِلۡمٍ وَّمَا كُنَّا غَآٮِٕبِيۡنَ‏ ﴿۷﴾

“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)”. (Q.S Al’A’raf: 7)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya”. (Q.S Al-Kahfi: 13)

Dalam tulisan ini, kita akan membandingkan kisah Nabi musa As pada masa yang panjang antara kelahiran hingga hijrahnya ke Madyan dan hidup berdampingan dengan tokoh Madyan setelah ia dinikahkan dengan anak sang tokoh. Hal ini disebutkan oleh Taurat dan Al-Qur’an. Kita akan menjelaskan bahwa ada perbedaan yang lebar antara dua teks ini pada tingkat ketinggian bahasa dan keakuratan fakta yang terdapat di dalamnya. Pembaca disarankan untuk lebih membaca teks Taurat. Tujuannya untuk merenungkannnya agar dengan sendirinya bacaan itu bisa meungkap kontradiksi yang terdapat pada sebagian fakta yang terdapat di Al-Qur’an dengan fakta yang terdapat pada teks Taurat. Kita pasti akan menemukan bahwa fakta Al-Qur’an lan fakta yang benar. Bila Al-Qur’an itu karya Muhammad Saw dan beliau merangkum isi Al-Qur’an dari kitab-kitab para rasul sebelumnya, seperti tuduhan orang yang tak bertanggung jawab, tentu fakta di Al-Qur’an akan sama dengan fakta yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya. Di samping itu, Al-Qur’an juga tidak akan melakukan pelurusan fakta yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang lain. Namun, Al-Qur’an diturunkan oleh Tuhan semesta alam yang berfirman sebagai berikut:

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ اِذْ قَضَيْنَآ اِلٰى مُوْسَى الْاَمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشّٰهِدِيْنَ  ( )وَلٰكِنَّآ اَنْشَأْنَا قُرُوْنًا فَتَطَاوَلَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُۚ وَمَا كُنْتَ ثَاوِيًا فِيْٓ اَهْلِ مَدْيَنَ تَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِنَاۙ وَلٰكِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ  ( )وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّوْرِ اِذْ نَادَيْنَا وَلٰكِنْ رَّحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اَتٰىهُمْ مِّنْ نَّذِيْرٍ مِّنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

“Dan engkau (Muhammad) tidak berada di sebelah barat (lembah suci Tuwa) ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan engkau tidak (pula) termasuk orang-orang yang menyaksikan (kejadian itu). Tetapi Kami telah menciptakan beberapa umat, dan telah berlalu atas mereka masa yang panjang, dan engkau (Muhammad) tidak tinggal bersama-sama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul. Dan engkau (Muhammad) tidak berada di dekat Tur (gunung) ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami utus engkau) sebagai rahmat dari Tuhanmu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang tidak didatangi oleh pemberi peringatan sebelum engkau agar mereka mendapat pelajaran”. (Q.S Al-Qashash: 44-46)

Kisah Musa As semenjak kelahirannya hingga ia sampai di Madyan terdapat dalam Ishah II pada kitab Keluaran yang teksnya sebagai berikut:

“Ada seorang lelaki yang pergi dari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perrempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki. Ketika melihat anaknya itu tampan, wanita itu pun menyembunyikannya selama tiga bulan.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part III)

Ahli kepurbakalaan Werner Keller, yang beragama Nasrani yang juga penulis buku Kitab Al-Muqaddas Kana Shahihan, menyimpulkan bahwa sailil arim terjadi seperti yang digambarkan dalam Al-qur’an. Banjir itu juga terjadi di lokasi itu. Kehancuran tempat itu secara menyeluruh disebabkan oleh runtuhnya bendungan. Ia juga membuktikan bahwa perumpamaan yang disebutkan di dalam Al-qur’an tentang kaum yang mendiami dua kebun, benar-benar ada.[5] Setelah terjadinya bencana bendungan ini, tanah di wilayah ini menjadi gurun. Kaum Saba kehilangan sumber pemasukan terpetting mereka. Begitulah hukuman bagi kaum yang berpaling dari Allah dan merasa sombong tidak mau bersyukur pada Allah. Seelah bencana ini, kaum ini pun berpecah-belah. Mereka lalu meninggalkan tanah mereka berhijrah ke bagian utara kepulauan ini, Mekah dan Suriah.[6]

Posisi waktu kejadian bencana ini setelah masa kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan kitab Perjanjian Baru (Injil). Oleh karenanya, kejadian ini hanya diinformasikan oleah Al-Qur’an. Sisa peninggalan Ma’rib yang ditinggalkan, yang dulunya menjadi tempat tinggal kaum Saba, menjadi salah satu tanda siksaan, yang sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang mengulangi kesalahan yang sama. Kaum Saba bukan satu-satunya kaum yang dihancurkan oleh banjir bandang. Pada surah Al-Kahf, Al-Qur’an menginformasikan kepada kita seorang pemilik dua kebun. Lelaki ini memiliki dua kebun subur dan indah yang mirip dengan kebun kaum Saba. Hanya saja orang ini melakukan kesalahan yang pernah dilakukan kaum Saba. Kesalahan itu adalah berpaling dari Allah. Ia mengira kenikmatan itu merupakan hasil kerjanya sendiri, tanpa peran serta pihak lain. Meskipun, kebun itu memnag haknya.

وَاضۡرِبۡ لَهُمۡ مَّثَلًا رَّجُلَيۡنِ جَعَلۡنَا لِاَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ مِنۡ اَعۡنَابٍ وَّحَفَفۡنٰهُمَا بِنَخۡلٍ وَّجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمَا زَرۡعًا ؕ‏ ﴿۳۲﴾ كِلۡتَا الۡجَـنَّتَيۡنِ اٰتَتۡ اُكُلَهَا وَلَمۡ تَظۡلِمۡ مِّنۡهُ شَيۡــًٔـا‌ ۙ وَّفَجَّرۡنَا خِلٰـلَهُمَا نَهَرًا ۙ‏ ﴿۳۳﴾ وَكَانَ لَهٗ ثَمَرٌ‌ ۚ فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ اَنَا اَكۡثَرُ مِنۡكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا‏ ﴿۳۴﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِهٖ‌ ۚ قَالَ مَاۤ اَظُنُّ اَنۡ تَبِيۡدَ هٰذِهٖۤ اَبَدًا ۙ‏ ﴿۳۵﴾ وَّمَاۤ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَآٮِٕمَةً  ۙ وَّلَٮِٕنۡ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّىۡ لَاَجِدَنَّ خَيۡرًا مِّنۡهَا مُنۡقَلَبًا‏ ﴿۳۶﴾ قَالَ لَهٗ صَاحِبُهٗ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ اَكَفَرۡتَ بِالَّذِىۡ خَلَقَكَ مِنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّـطۡفَةٍ ثُمَّ سَوّٰٮكَ رَجُلًاؕ‏ ﴿۳۷﴾ لّٰـكِنَّا۟ هُوَ اللّٰهُ رَبِّىۡ وَلَاۤ اُشۡرِكُ بِرَبِّىۡۤ اَحَدًا‏ ﴿۳۸﴾ وَلَوۡلَاۤ اِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ‌ ۚ اِنۡ تَرَنِ اَنَا اَقَلَّ مِنۡكَ مَالًا وَّوَلَدًا‌ ۚ‏ ﴿۳۹﴾ فَعَسٰى رَبِّىۡۤ اَنۡ يُّؤۡتِيَنِ خَيۡرًا مِّنۡ جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا حُسۡبَانًا مِّنَ السَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِيۡدًا زَلَـقًا ۙ‏ ﴿۴۰﴾ اَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا غَوۡرًا فَلَنۡ تَسۡتَطِيۡعَ لَهٗ طَلَبًا‏ ﴿۴۱﴾ وَاُحِيۡطَ بِثَمَرِهٖ فَاَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَاۤ اَنۡفَقَ فِيۡهَا وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا وَيَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِىۡ لَمۡ اُشۡرِكۡ بِرَبِّىۡۤ اَحَدًا‏ ﴿۴۲﴾ وَلَمۡ تَكُنۡ لَّهٗ فِئَةٌ يَّـنۡصُرُوۡنَهٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَمَا كَانَ مُنۡتَصِرًا ؕ‏ ﴿۴۳﴾ هُنَالِكَ الۡوَلَايَةُ لِلّٰهِ الۡحَـقِّ‌ؕ هُوَ خَيۡرٌ ثَوَابًا وَّخَيۡرٌ عُقۡبًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki. Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.”

Dari beberapa ayat di atas, kita menjadi paham bahwa pemilik kebun tidak mengingkari keberadaan Allah. Bahkan sebaliknya, ia menggambarkan bila kembali kepada Tuhannya, maka dia akan mendapatkan kebaikan dari kebun. Hanya saja ia menisbatkan segala kenikmatan yang diperolehnya merupakan hasil dari kerja keras yang dilakukannya sendiri sehingga menuai kesuksesan. Sangat jelas sekali bahwa berusaha menisbatkan semua yang menjadi hak Allah pada pihak lain merupakan perangkap syirik. Sikap seperti itu menyebabkan hilangnya rasa takut kepada Allah. Itu sama dengan meyakini bahwa ada tandingan yang mempunyai kehebatan dan kelebihan mengalahkan Allah.

Inilah yang dilakukan kaum Saba. Akibatnya, negeri dan kebun mereka tenggelam. Bencana itu memberi pesan agar mereka paham bahwa bukan mereka yang meempunyai kekuatan itu. Semua itu hanya nikmat yang dicurahkan kepada mereka. Kaum Saba dulunya memang menjadi pemilik peradaban yang termaju yang bergantung pada irigasi, setelah mereka membangun Bendungan Ma’rib dengan menggunakan sarana teknis yang yang paling maju. Mereka mendapat keuntungan dari bumi yang subur. Itu semua bisa mereka milliki berkat penguasaan atas jalur perdagangan. Keuntungan itu membuat mereak bisa hidup layak dan tumbuh pesat, yang kemudian menjadi karakter gaya hidup mereka.

Dengan segala kenikmatan yang didapatkan, mereka jusru berpaling pada Allah. Padahal Allah-lah yang seharusnya menjadi tempat bersyukur atas segala kenikmatan-Nya, disamping karena mereka diberkati-Nya sengan banyak kenikmatan. Oleh karenanya, bendungan mereka pun runtuh. Banjir di bendungan itu menghancurkan semua yang telah mereka bangun. Meskipun sekarang Bendungan Saba yang populer itu kembali menjadi sarana irigsi seperti di masa dulu. Al-Qur’an juga menginformasikan kepada kita bahwa Ratu Saba dan kaumnya selain mmenyembah Allah, juga menyembah matahari, sebelum tunduk pada Sulaiman. Kaum Saba juga menyembah matahari dan bulan di kuil mereka, seperti sudah diinformasikan sebelumnya.

[5] Werner Keller, Al Injil ka Tarikh, 1964, h. 207

[6] Al Dalil Al Hadits li Al Musafirin ila Al Yaman, h. 43

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part II)

Seperti ditunjukkan oleh ayat di atas, kaum Saba tinggal di daerah yang dikenal indah, juga kebun, dan pohon-pohon anggurya. Mereka juga tinggal di jalur perdagangan, yang terbilang sangat maju bila dibandingkan dengan kota-kota lain pada masa itu. Tingkat kehidupan di wilayah ini sangat istimewa. Tidak ada kerja keras yang mereka lakukan selain “makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya”, seperti yang disebutkan ayat di atas. Hanya saja mereka tidak mau melakukan itu. Mereka merasa apa yang yang mereka miliki itu merupakan hasil dari ushanya. Mereka mengira, merekalah yang mewujudkan kemewahan dan pertumbuhan yang mereka peroleh. Mereka lebih memilih tinggi hati, juga merasa tidak perlu bersyukur dan tunduk pada Allah. Ini seperti yang diinformasikan ayat “tetapi mereka berpaling”.

Karena mereka menisbatkan semua nikmat yang diberikan Allah sebagai hasil dari kerja mereka sendiri. Mereka ngotot semua itu buah dari usaha mereka. Mereka pun merasakan akibat dari sikap sombong itu. Banjir Arim menghancurkan semua yang sudah mereka kerjakan. AL-qur’an menyebut bahwa hukuman Tuhan berupa dikirimkannya banjir Arim. Ungkapan Al-Qur’an ini memberikan informasi pada kita bahwa peristiwa itu terjadi. Kata arim itu sebetulnya bermakna “bendungan”. Frasa sailil arim (banjir arim) menggambarkaan banjir yang datang untuk mengahcurkan bendunga itu. para ahli tafsir Al-Qur’an coba memecahkan masalah sputar tema waktu dan tempat yang ada dalam kata-kata yang terdapat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan banjir Arim. Dalam tafsirnya, Al-Maududi berkomentar terkait hal ini sebagai berikut:

“Kata arim pada frasa sailil arim merupakan pecahan dari kata arimiyyin yang dipergunakan dalam dialek penduduk sebelah selatan kepulauan ini. Kata arim bermakna “bendungan dan penghalang”. Kata ini didapatkan di sela-sela panggilan yang dilakukan di sebelah selatan Yaman terkait banyaknya penggunaan kata ini yang memberi penjelasan makna tersebut. Sebagai contoh, kata ini dipergunakan dalam tulisan yang didiktekan Raja Yaman yang berasal dari Etiopia yang bernama Abrahah, setelah membangun dan memperbaiki Bendungan Ma’rib pada tahun 542-543 M. Di situ ditemukan bahwa arti kata ini sekali lagi adalah “bendungan”. Jadi, frasa sailil arim  bermakna “bencana banjir yang terjadi setelah kehancuran bendungan”

وَبَدَّلۡنٰهُمۡ بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَىۡ اُكُلٍ خَمۡطٍ وَّاَثۡلٍ وَّشَىۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِيۡلٍ

Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr” (Q.S Saba: 16)

Tafsir ayat ini adalah negeri dengan segala kesempurnaanya telah tenggelam seteah runtuhnya bendungan akibat banjir. Semua saluran irigasi yang digali kaum Saba hancur. Begitu juga tembok yang dibangun dalam proyek pembangunan mereka, yang difungsikan sebagai penyekat dengan gunung. Sistem irigasi pun kacau. Kebun-kebun pun beralih menjadi hutan. Tidak ada buah-buahan yang tersisa. Hanya buah-buahan yang mirip ceri dan pohon-pohon pendek yang banyak ditemui dimana-mana, yang tersisa.[4]

[4] Al-Maududi, Tafhim Al-Qur’an, h. 517

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kunjungan Siswa Kelas 5 Ke Pabrik Sosro

Hari Kamis tanggal 21 Februari 2019 siswa kelas 5 SDIT EXISS ABATA mengadakan kunjungan ke pabrik Sosro yang berlokasi di Cakung. Kegiatan ini merupakan kegiatan tiap tahun yang di adakan oleh SDIT EXISS ABATA. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan siswa mengenai cara produksi, pengolahan, dan penjualan minuman kemasan.

Pukul 07.30 kita berangkat menuju lokasi dengan menggunakan angkutan bis dan Elf. Semua siswa terilahat bahagia. Selama perjalanan siswa menunjukkan bakat mereka masing-masing seperti bernyanyi, siswa perembuan bettle dengan siswa laki-laki sehingga suasana perjalanan sangat heboh dan rame. Memasuki tol Joglo perjalanan masih lancar jaya tanpa ada kendala. Namun, setelah memasuki wilayah Cakung timur terlihat pesona mobil-mobil besar yang melintasi jalanan. Macet mulai menghadang. Siswa mulai gelisah. Ada yang mau buang air kecil, ada yang bilang lapar. Mobil hanya bisa melakukan sedikir pergerakan. Setelah dua jam menghadang macet, Alhamdulillah sampai juga ke tempat yang dituju.

Sambutan hangat dan senyum yang ramah ditambah jamuan minuman segar membuat keceriaan anak-anak timbul lagi. Mereka semakin semangat dan siap untuk melihat kegiatan yang ada di pabrik Sosro, setelah istirahat 10 menit anak-anak diarahkan ke suatu ruangan untuk mengikuti beberapa penjelasan kengenai rangkaian kegiatan di pabrik Sosro. Sebelum memasuki pabrik anak-anak dipasangkan peci berwarna merah sesuai dengan warna logo Sosro. Selanjutnya siswa diarahkan menuju pabrik. Sesampai dipabrik anak-anak kaget karena suhu dipabrik sangat panas. Akan tetapi rasa panas tidak menyurutkan semangat siswa untuk mengetahui lebih dalam proses pembuatan minum kemasan yang terkenal ini. Setip tahapan proses pembuatan minuman diamati siswa, mulai dari pembuatan botol, bahan baku minuman, pengemasan, pengepakan, dll.

Kegiatan di pabrik selesai anak-anak kembali di arahkan ke ruang utama untuk istirahat, makan, dan sholat. Setelah kegiatan ishoma selesai anak-anak kembali berkumpul untuk mengikuti penutupan kegiatan di pabrik sosro. Sebelum pulang anan-anak dihadiahkan berupa bingkisan yang tentunya minuman TEH SOSRO yang terkenal dengan jargon Apapun makanannya minumnya tetap TEH BOTOL SOSRO. Alhamdulillah kegiatan di Sosro selesai dan kita pulang menuju sekolah tercinta…

TKIT ABATA Juara III Lomba Senam di RPTRA Smart Meruya

Rabu, 20 Februari 2018, murid  TKIT kembali mengukir prestasi dengan menjuarai lomba senam di RPTRA Smart Meruya sebagai peringkat ke-3. Ada 10 sekolah yang mengikuti Lomba senam ACI dalam rangka Festival PAUD di RPTRA kali ini yang diselenggarai  oleh SUDIN Pendidikan  Jakarta Barat.

Masing-masing sekolah mengirimkan  1 regu yang terdiri dari 10 orang murid. Dengan waktu latihan sekitar 2 minggu, murid-murid terus berlatih secara intensif dibimbing ustzh. Nor dan ustzh. Saidah

Dengan mengenakan seragam olahraga hijau biru, bersepatu putih dan ikat tangan berwarna merah, mereka menuju lokasi lomba dengan penuh semangat diiringi doa dari teman-temannya disekolah dan orangtua. Alhamdulillah berkat karunia Allah dan buah kesabaran serta ketekunan dalam berlatih,  mereka berhasil menjadi juara III. Barakallah team senam TKIT Abata, Jazakumullah Khairan Katsiran untuk support yang diberikan Orangtua Murid semoga semakin banyak prestasi yang ananda raih di event-event lomba berikutnya. Aamiin…

Pembuatan Bakso Halal

Assalamu’alaikum wr.wb.

Hai teman-teman pada akhir Januari kemarin, kami siswa siswi kelas 4 SD EXISS Abata melakukan sebuah project yang seru sekali. Kami belajar membuat bakso halal. Awalnya pada hari Senin, ustadz dan ustadzah memberikan informasi seputar bakso mulai dari asalnya, jenis-jenisnya dan cara membuatnya. Dari sana kami menjadi tahu bahwa ternyata bakso adalah salah satu makanan kesukaan masyarakat Indonesia. Oleh karenanya banyak sekali pedagang bakso yang berinovasi menciptakan bakso yang enak dan unik. Mulai dari bakso keju, bakso bakar, bakso atom, bakso rusuk, bahkan bakso tumpeng. Wah…banyak sekali ya jenisnya sampai-sampai membuat kami yang melihat videonya saja menjadi lapar.

Pada hari Selasa kami melakukan planning, yaitu simulasi dan menghafalkan resep serta cara membuat bakso. Baru pada hari Rabu, kami siap melakukan action. Pertama-tama kami dibagi dalam 4 kelompok kecil dalam 1 kelas. Masing-masing kelompok menyiapkan bahan dan peralatan. Syarat utama dalam membuat bakso yaitu peralatan dan tangan kita harus dalam keadaan steril. Jangan lupa pastikan juga daging yang kita gunakan memenuhi standar penyembelihan secara islami.

Setelah syarat-syarat tadi terpenuhi, kami siap membuat bakso halal. Ini cara membuatnya:

  1. Siapkan semua bahan
  2. Cincang 500gram daging sapi
  3. Masukkan daging sapi cincang ke dalam blender, tambahkan es batu secukupnya (es batunya dihaluskan juga ya)
  4. Blender sampai halus
  5. Tambahkan 2 butir telur. Tambahkan 6 sdm tepung tapioka, 1 sendok makan bawang putih yang sudah dihaluskan, 2sdt garam, 1 sdt merica dan ½ sdt baking powder. Blender lagi sampai tercampur rata
  6. Siapkan baskom besar, masukkan adonan bakso, uleni dan banting2 adonan sampai benar-benar menyatu dan teksturnya lembut seperti pasta
  7. Bulatkan sesuai selera
  8. Didihkan air, sampai benar-benar mendidih, kecilkan api masukkan bulatan-bulatan bakso. Jika sudah mengapung langsung angkat
  9. Siap disajikan bersama mie atau bihun dan sayuran.
  10. Selamat menikmati.

Nah, teman-teman, mudah kan! Ayo kalian juga bisa mencobanya di rumah. Selain rasanya enak, dengan membuat bakso sendiri kita dapat memastikan bahwa bakso tersebut diolah dengan bahan-bahan yang halal dan proses yang steril. Semoga ilmu yang didapat dari project kali ini dapat bermanfaat bagi kami di masa depan. Siapa tahu suatu saat lahir pengusaha bakso kelas dunia yang berasal dari siswa kelas 4 SD EXISS Abata. Aamiin yaa robbal alamiin.

1 2 3 21