Terungkapnya Jasad Fir’aun (Part I)

Setelah tenggelamnya Fir’aun (Ramses II) di tengah-tengah peyerangan terhadap bani Israel, anggota istana yang selamat dari tenggelam melakukan pengawetan jasad dan membawa peti mati dengan menggunakan perahu di Sungai Nil menuju kota Tibah (kota historis Mesir) yang disertai perahu-perahu lain yang di dalamnya terhadap para rahib, para Menteri, dan para pembesar kaum Fir’aun. Peti mati itu pun ditarik ke kuburan yang telah dipersiapkan oleh Ramses II untuk dirinya di lembah Raja. Pada beberapa tahapan ini, do’a-do’a pun dibacakan dan upacara-upacara jenazah pun diselenggarakan. Dengan cara seperti itulah kehidupan Ramses II berakhir. Ia merupakan Fir’aun terbesar, meskipun bukan terbesar secara mutlak.

Setelah kematian Fir’aun, segerombolan pencuri pun merajalela. Mereka semakin berani menjarah kuburan para raja. Keberanian mereka didorong banyaknnya harta karun berupa perhiasan dan perabotan jenazah yang tersimpan di kubura itu. Mungkin dalam hati terdalam, mereka ingin mengembalikan apa yang sudah diambil oleh raja-raja itu saat masih hidup dari mereka, dari bapak mereka dan dari nenek moyang mereka. Para pencuri itu memang ditangkap dan dihukum lebih dari sekali. Namun yang mengejutkan, aktivitas ini kemudian menjadi profesi banyak orang. Bahkan kuburan semua raja dari dinasti kesembilan belas, dan kedua puluh, setelah itu juga menjadi sasaran penjarahan. Semua tidak ada yang selamat. Yang selamat hanya kuburan Amenhotep II dan kuburan Tutankhamun yang terkenal. Diantara gejala pelecehan masyarakat terhadap para Fir’aun adalah penggambaran mereka dalam gambar lucu yang jauh sekali dari etika. Salah satu contohnya adalah gambar yang melukiskan Ramses III dalam rupa harimau yang memainkan catur.

Penjarahan kuil dan kuburan terus berlangsung dan kian menjadi-jadi. Banyak tuduhan diarahkan pada Bupati TIbah Barat, kepala kepolisian, dan penanggung jawab keamanan kuburan-kuburan itu. Para penanunggung jawab itu pun dihukum. Informasi ini dikodifikasikan di papyrus yang terdapat di Museum Inggris. Namun, pencurian tetap saja terus berlanjut. Kepala rahib Amun memutuskan untuk menjaga jasada para Fir’aun, termasuk jasad Ramses II. Jasadnya dibungkus dengan kafan bagian luar yang baru dan diletakkan di peti dari kayu yang sederhana untuk mengelabui para pencuri. Ia dikuburkan di kuburan ayahnya, Seti I, bersama sekelompok jasad para Fir’aun terdahulu. Peristiwa itu dicatatkan di kafan para Fir’aun. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 15, bulan ketiga, tahun 24 berdasarkan perhitungan tanggal Ramses XI. Bila Ramses XI yang merupakan Fir’aun terakhir dari Dinasti XX dan memerintah selama 27 tahun, maka tahun peristiwa pengafanan dan penguburan kembali Ramses II terjadi pada tahun 1089 SM (127 tahun setelah kematiannya).

Namun, penjarahan terhadap kuburan kerajaan tidak berhenti. Pada masa pemerintahan Dinasti XXI, yang bertepatan dengan sesepuh rahib Amun bernama Binudijm II meninggal, para sejawatnya sesama rahib memutuskan untuk mengakhiri penjarahan terhadap jasad para Fir’aun. Mereka pun mengumpulkan jasad-jasad para Fir’aun. Pemakaman sesepuh rahib itu dijadikan momentum untuk mengelabui masyarakat. Mereka pun menguburkan semua Fir’aun di kuburan Ratu Hatshepsut di Kuil Laut (Dayr Al-Bahri) yang sudah diperluas agar bisa muat untuk semua jasad para Fir’aun mulai dari masa XIX. Mereka pun menutup kuburan dan mencatat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun ke-10 dari pemerintahan Raja Shenhonk tahun 969 SM.Mereka menutup sepenuhnya jalan masuk. Mereka juga menghilangkan simbol-simbol di sekitar kuburan. Tujuannya agar paara pencuri tidak tahu bahwa itu kuburan para Fir’aun. Kuburan yang baru itu pun selamat dari incaran para pencuri selama lebih dari 2800 tahun hingga akhirnya tidak diketahui sama sekali bahwa itu kuburan para Fir’aun. Tempat itu lalu disebut dengan “Kuil Laut Tersembunyi”. Ia memuat semua mumi, termasuk mumi Ramses II.

Posisi Informasi Al-Qur’an

Mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang mengetahui tenggelamnya Fir’aun adalah orang-orang istana dan para rahib yang jumlahnya tidak banyak, meskipun mungkin berita ini bocor juga ke sebagian orang lain di luar istana. Yang terpenting bahwa Ramses II meninggal seperti Fir’aun-fir’aun yang sebelumnya. Secara umum, umur Ramses II (Fir’aun) kala meninggal adalah 90 tahun. Ia memerintah Mesir selama 67 tahun. Oleh karenanya, masyarakat tidak merasa kehilangan atas kepergiannya. Orang yang tahu bahwa dia tenggelam saat menyerang Bani Israel, dan yang menolak melepaskan Bani Israel akan meyakini bahwa Allah sedang bersama bani Israel. Allah menolong mereka. Tenggelamnya Fir’aun ketika menyerang mereka menjadi petunjuk dan bukti yang jelas bahwa pada akhirnya kebenaran pasti menang, meskipun pada mulanya kedzaliman terlihat sangat kuat.

Orang yang mengetahui Fir’aun tenggelam setelah bani Israel, akan meyakini bahwa Musa berada di jalan yang benar, sementara Fir’aun di jalan yang bathil. Setelah tenggelam, orang-orang dan para rahib yang melakukan pemumian terhadap jasadna. Dalam hal ini Allah Swt berfirman:

وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Q.S Al-baqarah: 50)

Sampai di sini, peristiwa tenggelamnya Fir’aun menjadi satu bukti kekuasaan Allah, bahkan jika jasadnya pun tidak ditemukan. Fir’aun yang sombong, angkuh, suka menyiksa, dan suka merendahkan itu telah tenggelam. Kita pun menjadi tahu maka firman Allah Swt berikut:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (Q.S Yunus: 92)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah