Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part V)

Fakta keenam adalah bahwa teks Taurat menjadikan Musa As sebagai seorang criminal professional yang terlihat dari caranya membunuh lelaki Mesir ketika ia mendapati lelaki itu bersengketa dengan orang Israel. Musa As menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah yakin tidak ada orang yang menyaksikannya, ia pun membunuh lelaki Mesir itu dan menguburkannya di gundukan tanah atau pasir. Itu artinya Musa membunuh lelaki Mesir dengan sepenuh hati, seperti yang mereka katakan. Teks Al-Qur’an justru menyebutkan bahwa Musa As hanya membantu orang Israel dalam sengketanya dengan orang Mesir. Ia hanya memukul orang Mesir itu dengan bogem mentahnya, tanpa berniat untuk membunuhnya. Namu, ternyata bogem mentahnya itu terlalu kuat sehingga menyebabkan kematian lelaki Mesir. Buktinya Musa As segera mengatakan, “Perilaku itu merupakan perilaku setan.” Ia pun memohon ampun kepada Allah atau dosa itu yang dilakukannya tanpa sengaja. Allah pun mengampuninya. Mungkin ada yang mengatakan bahwa paara Fir’aun membunuh anak-anak Bani Israel. Mereka juga mengenakan siksa terpedih pada orang Israel. Karena itu, tidak ada salahnya bila Musa As atau yang lain membunuh orang Mesir yang berada di kekuasaan mereka. Namun, ini omongan manusia, sementara bila merujuk pada petuntuk Tuhan semesta alam, maka orang Mesir yang tidak bersalah itu tidak boleh dibunuh lantaran kejahatan Fir’aun yang zalim. Ia hanya boleh dibunuh bila lelaki Mesir itu bersama Fir’aun di medan perang. Teks Taurat menyebutkan bahwa dua lelaki yang sedang bertikai itu pada hari berikutnya ternyata adalah orang Bani Israel.

Saat berjalan-jalan di hari kedua, Musa As mendapati dua orang lelaki Ibrani yang sedang brkelahi. Ia berkata pada orang yang bersalah, “Mengapa kamu memukul kawanmu?” orang itu menjawab, “Siapa yang menjadikan kamu pemimpin dan hakim bagi kita? Apakah kamu memikirkan pembunuhanu seperti yang kamu lakukan pada orang Mesir?” Sementar itu, teks Al-Qur’an menyebutkan bahwa satunya orang Mesir, apalagi bila melihat tidak ada keuntungan apapun bagi Musa As untuk membantu seorang Israel melawan orang Israel lainnya. Ini seperti yang terdapat dalam firman Allah Swt berikut:

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ ۚ قَالَ لَهُ مُوسَىٰ إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ () فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَا مُوسَىٰ أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ ۖ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ0

Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)”. Karenanya, di dalam kota, Musa menjadi takut kepada Fir’aun, ia mencari tahu tentang berita yang diperbincangkan oleh masyarakat terkait dirinya dan korban yang dibunuhnya. Lalu ia melihat temannya yang kemarin beradu senjata dengan orang lain dari suku Qibthi dan meminta pertolongan darinya, maka Musa berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu itu benar-benar banyak berbuat penyimpangan dan nyata kesesatannya.” Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”. Maka tatkala Musa hendak memukul orang Qibthi itu, ia berkata “Apakah kamu akan membunuhku sebagaimana kamu telah membunuh seseorang kemarin? Kamu itu tidak ingin kecuali menjadi seorang yang melampaui batas di muka bumi. Kamu tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mendamaikan di anatara manusia.” (Q.S AL-Qashash: 18-19)

Fakta ketujuh adalah bahwa teks Taurat menyebut bahwa tokoh Madyan mempunyai tujuh putri. Ketujuh putrinya itu pergi semua ke Sumur Madyan untuk menimba minuman kambing ayahnya. Setelah mereka memnuhi timba dengan air, para penggembala datang untuk mendusir mereka. Musa As yang sedang duduk-duduk di dekat sumur itu menolong mereka dan memberikan minuman pada kambing mereka. Kerancuan – kerancuan yang terdapat di Taurat sangat jelas sekali. Sangat tidak masuk akal bila semua putri tokoh Madyan untuk memberi minum kambing ayah mereka. Semestinya cukup satu, dua, atau maksimal tiga putrinya yang melakukan kegiatan itu. Sisanya membantu ayah mereka yang sudah tua renta, dan mengurus keperluan rumah. Teks ini juga menunjukkan bahwa putri-putri sang tokoh itu benar-benar asing (dengan situasi sumur). Padahal, ini bukanlah kali pertama mereka melakukan kegiatan itu.

Seharusnya para penggembala itu mengusir mereka sebelumnya. aneh bila putri-putri itu mengulangi kesalahan seiap hari. Mereka memenuhi timba, kemudian para penggembala mengusir mereka, kemudian mereka baru mengisi timba itu setelah para penggembala keluar dari sumur.di sisi lain, teks Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika sampai di Sumur Madyan, Musa As mendapati para penggembala sedang memberi minum kambing mereka. Ia melihat dua orang gadis di dekat sumur itu yang sedang berusaha keras menahan kambing mereka agar tidak sampai di sumur. Kambing yang kehausan setelah sehari digembalakan tidak terkontrol lagi dan tidak bisa dilarang mendekati air. Pemandangan dua gadis yang kesullitan menghadapi kambing agar tidak mendekati air, telah menarik perhatian Musa As. Ia pun menanyakan apa yang sedang terjadi. Keduanya menjawab bahwa mereka tidak bisa memberi minum pada kambing mereka, sebelum para penggembala itu pergi dari sumur.

Mereka juga menceritakan bahwa yang menyuruh mereka untuk menggembalakan kambing adalah ayah mereka yang sudah renta. Sang ayah tidak mungkin bisa menggembalakan dan memberi minum kambing sendiri. Nabi Musa As pun memberikan minum kambing-kambing ituuntuk membantu kedua gadis tersebut. Faktor yang menyebabkan dua gadis itu tidak mau memberi minum pada kambing saat masih ada para penggembala bukan lantaran keduanya takut kalau-kalau akan diusir. Tidak ada untungnya bagi para penggembala itu mengusir keduanya dari sumr, karena semua kambing di Madyan minum dari tempat itu.

Namun, yang menjadi faktor adalah kedua gadis itu tidak menyukai berama-sama dan berselisih pendapat dengan para penggembala yang berlainan jenis kelamin. Semua itu demi kebaikan keduanya. Keduanya juga malu pada para penggembala. Rasa malu ini bisa dilihat saat salah satu di antara keduana memanggil Musa As untuk diajak ke rumah ayahnya yang akan memberi upah untuk apa yang sudah dilakukan Musa As. Wanita itu berjalan dengan malu saat menuju kea rah nabi Musa. Fakta kedelapan adalah bahwa teks Taurat berlawanan dengan teks Al-Qur’an. Taurat tidak memberikan Batasan waktu tinggal Musa As di Madyan. Teks Taurat juga tidak menyebutkan bahwa Musa As telah menceritakan pada tokoh Madyan ihwal apa yang terjadi padanya saat di Mesir. Taurat juga tidak menceritakan bahwa ia daang ke Madyan karena melarikan diri dari acaman Fir’aun, lalu sang tokkoh Madyan ini menenangkannya bahwa dia sekarang di tempat yang aman.

Setelah tokoh Madyan itu tahu bahwa Musa As adalah lelaki yang baik, disamping kuat dan terpercaya seerti yang disaksikan oleh putrinya, ia menawarkan Musa As untuk menikahi salah satu putrinya sebagai pengganti Musa yang sudah bekerja selama delapan tahun. Bahwa akhirnya Musa As bekerja selama sepuluh tahun , itu merupakan budi baik Musa As. Seperti kita sudah singgung sebelumnya, teks Taurat menampilkan urutan peristiwa tanpa menyelipkan karakteristik keimanan pada masing-masing tokohnya. Padahal teks Al-Qur’an menunjukkan kebaikan dua gadis itu yang tidak mau bergaul bersama-sama dengan para penggrmbala, juga kebaikan ayah keduanya.

Sang ayah mengutus putrinya di belakang Musa As agar terlihat kebaikan yang dilakukan Musa pada dua orang putrinya, juga wibawa Musa As ketika membantu dua gadis itu untuk memberi minum kambing keduanya, meskipun Musa kala itu orang asing bgi penduduk Madyan. Hal lainnya adalah bagaimana Musa As selalu bergantung padanya ketika megatakan:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

 “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Q.S AL-Qashash: 24)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah