Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part IV)

Bila Al-Qur’an itu karya Muhammad Saw seperti yang dituduhkan orang-orang Yahudi, tentu Al-Qur’a tidak akan menyebutakan bahwa Allah telah menjadikan mereka sebagai pemimpin umat manusia dan merekalah yang akan mewarisi bumi, karena mereka yang jelas-jelas memperlihatkan permusuhan semenjak munculnya dakwah Nabi Muhammad Saw. Fakta ketiga adalah bahwa teks Taurat tidak menyebutkan faktor yang menyebabkan Fir’aun membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan dari Bani Israel dan membiarkan bayi perempuan. Padahal, di sisi lain, Al-Qur’an justru menyebutkan faktor ini dalam firman-Nya:

الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

“Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu” (Q.S Al-Qashash: 6)

Nabi Saw menjelaskan pada para sahabatnya ihwal apa yang ditakutkan Fir’aun dan kaumnya. Ini bermula ketika rahib dan ahli nujum menginformasikan kepada Fir’aun bahwa kerajaannya akan hilang di tangan seorang pemuda dari Bani Israel. Ia pun memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang terlahir. Ayat di atas juga memperkuat fakta bahwa meskipun manusia sudah berusaha mati-matian untuk menolak sesuatu yang tidak diinginkannya, tetapi takdir Allah Swt tetap terlaksana. Meskipun mereka berupaya sedemikian rupa, tetap saja upaya Allah jauh lebih hebat.

Allah Swt berfirman:

فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ

.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (Q.S Al-Qashash: 8)

Fakta keempata adalah kerancuan yang sanagat jelas yang terdapat pada teks Taurat terkait dengan cara prosesi penyelamatan Musa As dari kematian ketika ibunya memutuskan untuk menyembunyikan si bayi di rumahnya pada saat melihat bayinya itu berwajah tampan. Setelah mengkhawatirkan bayinya, sang ibu memerintahkan saudara perempuan Musa untuk meletakkan Musa ke dalam peti di antara pepohonan Alfa di tepi sungai yang mengarah ke istana Fir’aun. Saudara Musa itu mengawasi dari jauh. Setelah putri Fir’aun menemukan dan membuka peti itu, ternyata di dalamnya terdapat seorang anak kecil, saudara perempuan Musa menawarkan diri untuk menunjukkan pada wanita yang bisa menyusui bayi itu. Putri Fir’aun pun langsung setuju, padahal belum dikomunikasikan dengan ayahnya, Fir’aun.

Kita mungkin bisa menguak kerancuan pada skenario ini dengan mudah. Kerancuan pertama, bahwa seorang ibu pasti akan mengkhawatirkan anaknya, baik bayinya itu tampan atau tidak. Kerancuan kedua adalah bahwa saudara perempuan Musa As yang meletakkan sendiri saudaranya di samping istana Sang pembunuh terbesar, Fir’aun. Yang palng mungkin adalah saudara Musa meletakkan Musa di letak yang jauh dari istana Fir’aun. Mungkin saja anak lelaki itu jatuh ke tangan orang yang hatinya lebih lembut dari Fir’aun.

Kerancuan ketiga adalah tidak seharusnya peti dicat dan di aspal, sementara saudaranya meletakkannya di dataran di sampig isana, bila dia mampu menjangkau tanah terlarang istana semudah itu. Kerancuan yang keempat adalah bahwa saudara Musa yang terus mengawasi peti itu dari jauh. Namun, teks secara tiba-tiba memunculkannya sedang berdiri di hadapan putri Fir’aun. Sesaat setelah ditemukannya anak lelaki itu, ia segera mengajukan wanita yang bisa menyusui anak itu. Ini mengundang kecurigaan bahwa saudara perempuan Musalah yang meletakkan bayi Musa di tempat itu. Bayi itulah yang menghendaki saudara perempuannya itu ketika Fir’aun akan membunuh bayi itu. Skenario kisah yang terdapat pada Al-Qur’an sudah bisa dipastikan bahwa kita tidak mungkin bisa menemukan cacat apapun. Di Al-Qur’an ibu Musalah yang meletakkan bayinya di peti dan melemparkannya ke sungai setelah ia mengkhawatikan anaknya akan dibunuh. Ini sesuai dengan firman Allah Swt:

اِذۡ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اُمِّكَ مَا يُوۡحٰٓى ۙ‏ ﴿۳۸﴾ اَنِ اقۡذِفِيۡهِ فِى التَّابُوۡتِ فَاقۡذِفِيۡهِ فِى الۡيَمِّ فَلۡيُلۡقِهِ الۡيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَاۡخُذۡهُ عَدُوٌّ لِّىۡ وَعَدُوٌّ لَّهٗ‌ ؕ وَاَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَـبَّةً مِّنِّىۡ وَلِتُصۡنَعَ عَلٰى عَيۡنِىۡ ۘ‏ ﴿۳۹﴾

“yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku” (Q.S Thaha; 38-39)

Ibu Musa memang yang meminta anak perempuannya untuk mengawasi dari jauh tanpa ada seorang pun yang tahu pergerakan peti di sungai, agar ia tahu apa yang akan terjadi pada anaknya. Anak perempuan ini mengetahui bahwa peti itu tertambat dan tetap berada di tepi sungai di depan istana Fir’aaun. Keluarga Fir’aun pun menemukannya dan membawanya ke istana agar mereka menemukan anak asuhan yang dipastikan merupakan anak keturunan Bani Israel. Allah Swt juga telah menumbuhkan cinta pada Musa, sehingga istri Fir’aun juga menyukai bayi itu. jadi, istri Fir’aun bukan anak perempuannya seperti yang disebutkan dalam Taurat.

Karena tidak rasional anak perempuan mengadopsi anak laki-laki, sementara dia masih tinggal di rumah ayahnya (belum menikah). Istri Fir’aun membujuk suaminya untuk tidak membunuh anak lelaki Ibrani ini setelah ia menggendongnya.si permaisuri juga membujuk suaminya agar mau mengngkat Musa menjadi anak, tanpa diketahui bahwa ia orang Ibrani. Fir’aun menyetujui meskipun terpaksa. Padahal, sang tiran merasa mungkin aja anak inilah yang akan memusnahkan kerajaannya. Namun pasti Allah akan memenangkan apa yang dikehendaki-Nya. Meski banya orang tidak mengetahuinya.

Agar Allah bisa mengembalikan bayi ini pada ibunya, seperti yang sudah dijanjikan-Nya, bayi ini menolak disusui wanita-wanita penyusu yang didatangkan istri Fir’aun. Setelah keluarga Fir’aun melakukan pencarian yang melelahkan keluarga ihwal wanita penyusu yang baru, saudara perempuan Musa menunjukkan pada mereka ibu yang bisa menyusui Musa. Bayi itu mau disusui wanita yang merupakan ibunya sendiri, mereka pun mengembalikannya pada ibu Musaagar ia menjadi wanita yang bertugas menyusuinya.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah