Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part III)

Orang yang membaca teks Taurat dan teks Al-Qur’an akan segera melihat perbedaan yang mencolok antara kedua teks ini bila di titik dari penyampai teks ini dan tingkat ketinggian bahwa teks. Ketika membaca teks Taurat, maka akan ditemukan bahwa yang menulis teks itu adalah manusia. Kelemahan maknanya sangat jelas terlihat mulai dari kalimat pertama: “Ada seorang lelaki yang pergi dari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki.” Kalimat ini sangat lucu. Sedikit sekali kandungan makna di dalamnya. Padahal, sebagian buku yang ditulis oleh manusia biasa tak jarang lebih bisa menampilkan teks lebih mendalam daripada teks di atas dalam kekuatan kandungan dan ketinggian bahasanya. Ketika membaca teks Al-Qur’an, kita akan tahu bahwa penyampainya bukan manusia. Kita juga bisa membandingkan firman Allah Swt berikut dengan awal teks di atas:

طٰسۤمّۤ ( ) تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ ( ) نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَّبَاِ مُوْسٰى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ( ) اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ( ) وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( )

“Tha Sin Mim. Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” (Q.S Al-Qashash: 1-5)

Berikut kita juga akan membandingkan fakta yang disampaikan pada kedua teks tersebut agar Pembaca semakin jelas bahwa teks Al-Qur’an lebih sesuai teks Taurat. Allah Swt Maha benar ketika berfirman sebagai berikut:

وَمَنْ اَصْدَقُ مِنَ اللّٰهِ قِيْلًا

“Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (Q.S An-Nisa: 122)

Fakta pertama terkait bahwa kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada umat manusia berfungsi untuk menunjukkan keberadaanNya. Kitab-kitab itu juga berfungsi untuk mengenalkan mereka akan sifat-sifat Tuhan, juga bahwa segala bagian di ala mini hanya bisa terjadi dengan kehendak-Nya saja. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seizinNya saja.tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seizin-Nya. Saat mengkaji teks kisah ini di Taurat, kita akan menemukan bahwa kisah itu sama sekali tidak menyebut nama Allah. Kisah itu hanya meyajikan urutan peristiwa yang dipenuhi kerancuan, di samping ditulis dengan bahasa yang rendahan.

Bandingkan dengan kisah ini yang terdapat dalam Al-qur’an yang selalu menyebut nama Allah. Menjadi jelas kiranya bahwa tangan Allah lah yang menggerakkan peristiwa dalam kisah ini. Dengan begitu, kisah ini semakin mengokohkan prinsip keimanan pada pembacanaya. Allah lah yang mewahyukan kepada ibu Nabi Musa As untuk melemparkan Musa ke sungai. Allah Swt pula yang menjanjikan pada sang ibu. Dia juga yang menjadikan peti yang menjadi tempat Musa As tetap bisa mengalir di tepi sungai yang menghampiri istana Fir’aun.

Dia juga yang menumbuhkan rasa cinta istri Fir’aun pada Musa agar Fir’aun tidak membunuhnya. Dia pula yang mengharamkan padanya susuan yang lain. Tujuannya agar hanya ibunya saja yang meyusuinya. Kelebihan lain juga bisa dilihat pada urutan manusia yang lain. Teks Taurat tidak pernah memberi catatan terkait peristiwa-peristiwa yang ada, padahal kita mendapat teks Al-qur’an membangun jalinan peristiwa dalam kisah itu. Al-qur’an memuji amal soleh dan mencela amal buruk. Ketika Musa As membunuh lelaki Mesir, teks Taurat tidak menyebut bahwa tindakan itu adalah perilaku salah. Padahal, kita mendapati teks Al-qur’an tidak mengakui perilaku seperti itu. Ini bisa dilihat dari peristiwa Musa As atas perilakunya dan permintaanya atas ampunan Allah.

Fakta kedua terkait dengan orang yang menulis teks Taurat itu. Ia pastilah seorang manusia, karena fokus perhatiannya tercurah pada penyebutan ayah Musa dan ibunya yang berasal dari kabilah Lawi yang menganut agama Yahudi.”Ada seorang lelaki yang pergidari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki.” Ia juga menjelaskan ciri-ciri peti yang menjadi temat Musa As. “Pada saat ia tahu tidak mungkin lagi untuk menyembunyikannya setelah itu, ia mengambil keranjang dari papyrus untuk anaknya. Ia pun mencat keranjang itu dengan aspal dan tir. Ia pun meletakkan anaknya di dalam keranjang itu.”

Sementara itu, teks kisah yang ada di Al-qur’an pasti ditulis oleh Dzat yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu. Dia memulai kisah dengan menyebut atmosfir umum dan situasi yang mendukung kisah ini. Dia menyebut kondisi yang melingkupi Bani Israil sebelum kelahiran tokoh utama kisah ini Musa As, Fir’aun berkuasa atas mereka dan berusaha untuk merendahkan mereka. Ia membunuh semua anak lai-laki dan membiarkan anak perempuan. Allah Swt berfirman:

اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

“Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S Al-Qashash:4)

Teks itu menyebut bahwa Allah hendak menganugerahi Bani Israil. Allah menyelamatkan mereka dari kehinaan ini dan menjadikan mereka sebagai pemimpin umat manusia. Allah Swt berfirman:

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( ) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka.” (Q.S Al-Qashash: 5-6)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *