Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part III)

Ahli kepurbakalaan Werner Keller, yang beragama Nasrani yang juga penulis buku Kitab Al-Muqaddas Kana Shahihan, menyimpulkan bahwa sailil arim terjadi seperti yang digambarkan dalam Al-qur’an. Banjir itu juga terjadi di lokasi itu. Kehancuran tempat itu secara menyeluruh disebabkan oleh runtuhnya bendungan. Ia juga membuktikan bahwa perumpamaan yang disebutkan di dalam Al-qur’an tentang kaum yang mendiami dua kebun, benar-benar ada.[5] Setelah terjadinya bencana bendungan ini, tanah di wilayah ini menjadi gurun. Kaum Saba kehilangan sumber pemasukan terpetting mereka. Begitulah hukuman bagi kaum yang berpaling dari Allah dan merasa sombong tidak mau bersyukur pada Allah. Seelah bencana ini, kaum ini pun berpecah-belah. Mereka lalu meninggalkan tanah mereka berhijrah ke bagian utara kepulauan ini, Mekah dan Suriah.[6]

Posisi waktu kejadian bencana ini setelah masa kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan kitab Perjanjian Baru (Injil). Oleh karenanya, kejadian ini hanya diinformasikan oleah Al-Qur’an. Sisa peninggalan Ma’rib yang ditinggalkan, yang dulunya menjadi tempat tinggal kaum Saba, menjadi salah satu tanda siksaan, yang sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang mengulangi kesalahan yang sama. Kaum Saba bukan satu-satunya kaum yang dihancurkan oleh banjir bandang. Pada surah Al-Kahf, Al-Qur’an menginformasikan kepada kita seorang pemilik dua kebun. Lelaki ini memiliki dua kebun subur dan indah yang mirip dengan kebun kaum Saba. Hanya saja orang ini melakukan kesalahan yang pernah dilakukan kaum Saba. Kesalahan itu adalah berpaling dari Allah. Ia mengira kenikmatan itu merupakan hasil kerjanya sendiri, tanpa peran serta pihak lain. Meskipun, kebun itu memnag haknya.

وَاضۡرِبۡ لَهُمۡ مَّثَلًا رَّجُلَيۡنِ جَعَلۡنَا لِاَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ مِنۡ اَعۡنَابٍ وَّحَفَفۡنٰهُمَا بِنَخۡلٍ وَّجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمَا زَرۡعًا ؕ‏ ﴿۳۲﴾ كِلۡتَا الۡجَـنَّتَيۡنِ اٰتَتۡ اُكُلَهَا وَلَمۡ تَظۡلِمۡ مِّنۡهُ شَيۡــًٔـا‌ ۙ وَّفَجَّرۡنَا خِلٰـلَهُمَا نَهَرًا ۙ‏ ﴿۳۳﴾ وَكَانَ لَهٗ ثَمَرٌ‌ ۚ فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ اَنَا اَكۡثَرُ مِنۡكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا‏ ﴿۳۴﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِهٖ‌ ۚ قَالَ مَاۤ اَظُنُّ اَنۡ تَبِيۡدَ هٰذِهٖۤ اَبَدًا ۙ‏ ﴿۳۵﴾ وَّمَاۤ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَآٮِٕمَةً  ۙ وَّلَٮِٕنۡ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّىۡ لَاَجِدَنَّ خَيۡرًا مِّنۡهَا مُنۡقَلَبًا‏ ﴿۳۶﴾ قَالَ لَهٗ صَاحِبُهٗ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ اَكَفَرۡتَ بِالَّذِىۡ خَلَقَكَ مِنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّـطۡفَةٍ ثُمَّ سَوّٰٮكَ رَجُلًاؕ‏ ﴿۳۷﴾ لّٰـكِنَّا۟ هُوَ اللّٰهُ رَبِّىۡ وَلَاۤ اُشۡرِكُ بِرَبِّىۡۤ اَحَدًا‏ ﴿۳۸﴾ وَلَوۡلَاۤ اِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ‌ ۚ اِنۡ تَرَنِ اَنَا اَقَلَّ مِنۡكَ مَالًا وَّوَلَدًا‌ ۚ‏ ﴿۳۹﴾ فَعَسٰى رَبِّىۡۤ اَنۡ يُّؤۡتِيَنِ خَيۡرًا مِّنۡ جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا حُسۡبَانًا مِّنَ السَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِيۡدًا زَلَـقًا ۙ‏ ﴿۴۰﴾ اَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا غَوۡرًا فَلَنۡ تَسۡتَطِيۡعَ لَهٗ طَلَبًا‏ ﴿۴۱﴾ وَاُحِيۡطَ بِثَمَرِهٖ فَاَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَاۤ اَنۡفَقَ فِيۡهَا وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا وَيَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِىۡ لَمۡ اُشۡرِكۡ بِرَبِّىۡۤ اَحَدًا‏ ﴿۴۲﴾ وَلَمۡ تَكُنۡ لَّهٗ فِئَةٌ يَّـنۡصُرُوۡنَهٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَمَا كَانَ مُنۡتَصِرًا ؕ‏ ﴿۴۳﴾ هُنَالِكَ الۡوَلَايَةُ لِلّٰهِ الۡحَـقِّ‌ؕ هُوَ خَيۡرٌ ثَوَابًا وَّخَيۡرٌ عُقۡبًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki. Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.”

Dari beberapa ayat di atas, kita menjadi paham bahwa pemilik kebun tidak mengingkari keberadaan Allah. Bahkan sebaliknya, ia menggambarkan bila kembali kepada Tuhannya, maka dia akan mendapatkan kebaikan dari kebun. Hanya saja ia menisbatkan segala kenikmatan yang diperolehnya merupakan hasil dari kerja keras yang dilakukannya sendiri sehingga menuai kesuksesan. Sangat jelas sekali bahwa berusaha menisbatkan semua yang menjadi hak Allah pada pihak lain merupakan perangkap syirik. Sikap seperti itu menyebabkan hilangnya rasa takut kepada Allah. Itu sama dengan meyakini bahwa ada tandingan yang mempunyai kehebatan dan kelebihan mengalahkan Allah.

Inilah yang dilakukan kaum Saba. Akibatnya, negeri dan kebun mereka tenggelam. Bencana itu memberi pesan agar mereka paham bahwa bukan mereka yang meempunyai kekuatan itu. Semua itu hanya nikmat yang dicurahkan kepada mereka. Kaum Saba dulunya memang menjadi pemilik peradaban yang termaju yang bergantung pada irigasi, setelah mereka membangun Bendungan Ma’rib dengan menggunakan sarana teknis yang yang paling maju. Mereka mendapat keuntungan dari bumi yang subur. Itu semua bisa mereka milliki berkat penguasaan atas jalur perdagangan. Keuntungan itu membuat mereak bisa hidup layak dan tumbuh pesat, yang kemudian menjadi karakter gaya hidup mereka.

Dengan segala kenikmatan yang didapatkan, mereka jusru berpaling pada Allah. Padahal Allah-lah yang seharusnya menjadi tempat bersyukur atas segala kenikmatan-Nya, disamping karena mereka diberkati-Nya sengan banyak kenikmatan. Oleh karenanya, bendungan mereka pun runtuh. Banjir di bendungan itu menghancurkan semua yang telah mereka bangun. Meskipun sekarang Bendungan Saba yang populer itu kembali menjadi sarana irigsi seperti di masa dulu. Al-Qur’an juga menginformasikan kepada kita bahwa Ratu Saba dan kaumnya selain mmenyembah Allah, juga menyembah matahari, sebelum tunduk pada Sulaiman. Kaum Saba juga menyembah matahari dan bulan di kuil mereka, seperti sudah diinformasikan sebelumnya.

[5] Werner Keller, Al Injil ka Tarikh, 1964, h. 207

[6] Al Dalil Al Hadits li Al Musafirin ila Al Yaman, h. 43

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah