Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part II)

Seperti ditunjukkan oleh ayat di atas, kaum Saba tinggal di daerah yang dikenal indah, juga kebun, dan pohon-pohon anggurya. Mereka juga tinggal di jalur perdagangan, yang terbilang sangat maju bila dibandingkan dengan kota-kota lain pada masa itu. Tingkat kehidupan di wilayah ini sangat istimewa. Tidak ada kerja keras yang mereka lakukan selain “makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya”, seperti yang disebutkan ayat di atas. Hanya saja mereka tidak mau melakukan itu. Mereka merasa apa yang yang mereka miliki itu merupakan hasil dari ushanya. Mereka mengira, merekalah yang mewujudkan kemewahan dan pertumbuhan yang mereka peroleh. Mereka lebih memilih tinggi hati, juga merasa tidak perlu bersyukur dan tunduk pada Allah. Ini seperti yang diinformasikan ayat “tetapi mereka berpaling”.

Karena mereka menisbatkan semua nikmat yang diberikan Allah sebagai hasil dari kerja mereka sendiri. Mereka ngotot semua itu buah dari usaha mereka. Mereka pun merasakan akibat dari sikap sombong itu. Banjir Arim menghancurkan semua yang sudah mereka kerjakan. AL-qur’an menyebut bahwa hukuman Tuhan berupa dikirimkannya banjir Arim. Ungkapan Al-Qur’an ini memberikan informasi pada kita bahwa peristiwa itu terjadi. Kata arim itu sebetulnya bermakna “bendungan”. Frasa sailil arim (banjir arim) menggambarkaan banjir yang datang untuk mengahcurkan bendunga itu. para ahli tafsir Al-Qur’an coba memecahkan masalah sputar tema waktu dan tempat yang ada dalam kata-kata yang terdapat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan banjir Arim. Dalam tafsirnya, Al-Maududi berkomentar terkait hal ini sebagai berikut:

“Kata arim pada frasa sailil arim merupakan pecahan dari kata arimiyyin yang dipergunakan dalam dialek penduduk sebelah selatan kepulauan ini. Kata arim bermakna “bendungan dan penghalang”. Kata ini didapatkan di sela-sela panggilan yang dilakukan di sebelah selatan Yaman terkait banyaknya penggunaan kata ini yang memberi penjelasan makna tersebut. Sebagai contoh, kata ini dipergunakan dalam tulisan yang didiktekan Raja Yaman yang berasal dari Etiopia yang bernama Abrahah, setelah membangun dan memperbaiki Bendungan Ma’rib pada tahun 542-543 M. Di situ ditemukan bahwa arti kata ini sekali lagi adalah “bendungan”. Jadi, frasa sailil arim  bermakna “bencana banjir yang terjadi setelah kehancuran bendungan”

وَبَدَّلۡنٰهُمۡ بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَىۡ اُكُلٍ خَمۡطٍ وَّاَثۡلٍ وَّشَىۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِيۡلٍ

Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr” (Q.S Saba: 16)

Tafsir ayat ini adalah negeri dengan segala kesempurnaanya telah tenggelam seteah runtuhnya bendungan akibat banjir. Semua saluran irigasi yang digali kaum Saba hancur. Begitu juga tembok yang dibangun dalam proyek pembangunan mereka, yang difungsikan sebagai penyekat dengan gunung. Sistem irigasi pun kacau. Kebun-kebun pun beralih menjadi hutan. Tidak ada buah-buahan yang tersisa. Hanya buah-buahan yang mirip ceri dan pohon-pohon pendek yang banyak ditemui dimana-mana, yang tersisa.[4]

[4] Al-Maududi, Tafhim Al-Qur’an, h. 517

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *