Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part I)

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ () فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (Q.S Sabaa : 15-16)

Masyarakat Saba merupakan salah satu empat peradaban terbesar yang hidup di sebelah selatan Jazirah Arab. Diyakini bahwa kau mini telah mendirikan peradabannya antara tahun 750-1000 SM. Peradaban mereka runtuh pada sekitar 550 M disebabkan srangan yang terus menerus selama dua abad yang dilakukan tantara Persia dan Arab. Kapan peradaban Sabamulai tumbuh, masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Orang-orang Saba tidak pernah menuliskan keputusan pemerintahan mereka hingga tahun 600 SM. Oleh karenanya, tidak ditemukan catatan klasik apa pun hingga tahun itu.

Sumber paling tua yang memberi petunjuk terkait kaum Saba merujuk pada catatan perang Raja Srgon II (722-705 SM). Di catatan itu, disebutkan daftar orang-orang yang membayar pajak pada Raja Saba yang bernama It Imara. Ini merupakan sumber tertua yang menjelaskan tentang peradaban Saba. Hanya tidak benar bila kemudian berkesimpulan bahwa peradaban ini telah dibangun pada tahun 700 SM dengan hanya bersandar pada sumber astu-sarunya itu. Karena sangat mungkin peradaban ini telah  terbentuk sebelum itu. Ini berarti sejrah Saba mungkin sekali sudah ada sebelum tahun itu. Dalam pahatan Arad Nanar (Aanepadda), salah satu raja kota Ur yang mengacu pada kota Saba.[1] Jika benar interprets bahwa kata ini mengacu pada Saba, maka sejarah Saba sudah ada pada 2500 SM.

Sumber-sumber sejarah yang berbicara tentang peradaban ini menyebutkan bahwa peradaban Saba sangat mirip dengan peradaban Phoenix. Mayoritas aktivitasnya perdagangan. Kaum ini berkuasa melalui jalr perdagangan yang melewati sebelah utara kepulauan itu. Para pedagang Saba harus mendapat izin dari Raja Sargon II, yang berkuasa atas wilayah yang berada di sebelah utara kepulauan itu. Jika ingin dagangan mereka bisa sampai ke Gaza dan Laut Tengah, mereka harus membayar pajak atas dagangan mereka. Setiap kali para pedagang Raja Sargon II, nama mereka dicatat dalam laporan tahunan wilayah itu.

Dalam sejarah, kaum Saba dikenal sebagai orang yang berperadaban. Kata-kata yang punya arti seperti menarik kembali, penetapam, bangunan, muncul di sana secara berulang pada pahatan para raja mereka. Bendungan Ma’rib yang merupakan salah satu peninggalan terpenting peradaban ini menjad bukti yang jelas tingkat keahlian yang telah dicapai oleh kaum ini. Hal ini  tidak berarti bahwa mereka lemah dalam kekuatan militernya. Tantara Saba merupakan unsur terpenting yang menjamin keberlangsugan peradaban ini berdiri tegak hingga dalam waktu lama.

Tantara Saba diketahui sebagai tantara terkat pada masa itu. Mereka membantu para raja untuk melakukan perluasan wilaya. Mereka berhasil menyerbu wilayah Qatabiyin.mereka juga berhasil menguasai wilayah di benua Afrika. Kira-kira pada tahun 24 SM ketika mereka melakukan salah satu penyerangan ke wilayah barat, tantara Saba memukul mundur tantara Romawi di bawah panglima Markus Elius Golus. Panglima inilah yang telah memerintah Mesir menjadi bagian dari kekaisaran Romawi yang merupakan negara adikuasa saat itu tanpa tanding. Dapat digamparkan bahwa Saba merupakan negara kondusif secara politik. Meski demikian, mereka tidak pernah ketinggalan dala menggunakan kekatan militier jika diperlukan. Dengan kekuatan militer dan peradabannya, Saba lalu menjadi kekuatan adikuasa pada waktu itu.

Al-qur’an juga menyebutkan kekuata tantara Saba. Kepercayaan diri tentara ini juga terlihat melali komentar para panglima tentara Saba kepada ratu mereka, seperti yang dilukiskan dalam Surah Al-Naml berikut:

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

“Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. (Al Naml; 33)

Ma’rib merupakan ibukota Saba. Kota ini sangat kaya. Kelebihan ini merupakan imbas dari letak geografisnya. Ibuota ini dekat sekali dengan Sungai Dunha, yang titik pertemuannya dengan Gunung Bulaq sangat sesuai untuk pembangunan bendungan. Orang Saba menganggap keistimewaan ini sebagai hal yang mahal. Mereka pun membangun benndungan di tempat itu, yang menjadi tepat pertumbuhan peradaban mereka. Setelah itu, mereka mulai menjalankan irigasi dan pertanian. Begitulah mereka bisa mencapai tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi. Ma’rib sndiri merupakan ibukota yang paling pesat pertumbuhannya saat itu. Penulis Yunani, Pliny, yang telah mengunjungi dan memuji tempat ini menyebutkan bahwa Ma’rib merupakan wilayah yang luas dan hijau.[2]

Lukisan yang Ditulis dengan Bahasa Orang Saba

Tinggi bendungnan Ma’rib mecpai 16 meter. Lebarnya 600 meter. Panjangnya hingga 630 meter. Secara statistik, ini memakan 9600 hektar tanah. Seluas 5300 di antaranya berada di dataran bagian selatan, sementara sisanya berada di utara. Dua dataran ini juga disinggung dalam paatan orang Saba yang diberi nama Ma’rib dan dua dataran. Al-qur’an menyebutkan hal ini dengan sangat baik pada ayat berikut:

جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ

“dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri” (Q.S Sabaa: 15)

Ini menunjukkan bahwa ada kebun dan pohon anggur di kedua lembah atau dua dataran ini. Tempat itu menjadi tempat di Yaman yang paling banyak kekayaan dan hasil buminya berkat air bendungan itu. Jean Francois Chapolion dan Glazer menebutkan bahwa sudah sagat lama Bendungan Ma’rib membantu orang-orang di sekitarnya. Beberapa dokumen yang ditulis dalam bahasa Himyar menginformasikan bahwa bendungan ini telah menjadikan Kawasan di sekitarnya sangat subur dan produktif.[3]

Perbaikan bendungan ini selesai antara abad 5 dan 6 M. Hanya saja perbaikan-perbaikan itu tidak bisa mencegah bendungan ini runtuh pada tahun 542 M. bendungan ini runtuh akibat banjir Arim yang disinggung Al-qu’ran. Banjir Arim inilah yang mennyebabkan masalah luar biasa. Musibah ini telah mengahncurkan semua perkebunan, pohon anggur, dan taman-taman yang telah dijaga seuruh kaum  Saba selama puluhan abad. Setelah runtuhnya bendungan ini, kaum Saba mengalami stagnasi yang cukup lama. Tidak ada lagi penopang kehidupan bagi mereka setelah itu. Ini yang menjadi akhir sejarah kau mini setelah runtuhnya bendungan.

Banjir Arim Yang Meluluhlantahkan Saba

Ketika kita mau merenungkan ayat Al-qur’an melalui informasi sejarah yang bisa kita dapatka, tentu kita menemukan keseuaian yang luar bisa antara informasi Al-qur’an dan data sejarah. Semua temuan geologis dan kepurbakalaan membenarkan informasi yang disebutkan Al-qur’an. Seperti diseutkan Al-qur’an, kaum tidak mau mendengar nasihat rasul mereka dan mendustakan kebenaran yang dibawa sang rasul serta tidak mau beriman kepada utusan Tuhan itu memang berhak mendapatakan hukuman sengan banjir Arm. Al-qur’an menggambarkan banjir ini dala Surah Saba berikut:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ () فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (Q.S Sabaa : 15-16)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

[1] Al Mausu’ah Al Islamiyah; Al A’lam Al islami, Tarikh Jughrafiyah Intsughrsfiys, wa Qamus Bibliografiya j. 10, h. 268, lema “Saba”.

[2] Humile, Al Muktasyafat fi Ardh Al Injil, 1903

[3] Al Mausu’ah Al Islamiyah; Al A’lam Al islami, Tarikh Jughrafiyah Intsughrsfiys, wa Qamus Bibliografiya j. 10, h. 323-339, lema “Ma’rib”.