Nabi Luth As : Al-qur’an dan Kehancuran Kaum Luth (Part II)

Nabi Luth As menduga bahwa ia dan tamu-tamunya akan menjadi korban kebiasaan setan itu.

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ

Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)”. (Qs Hud : 80)

Hanya saja para tamunya kemudian mengingatkannya bahwa mereka adalah utusan Allah. Mereka lalu berkata:

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. (Qs Hud : 81)

Ketika penyimpangan kaum Luth itu sudah mencapai pucaknya, Allah Swt menyelamatkan Nabi Luth As dengan bantuan dua malaikat itu. Pada waktu subuh, kaum Luth pun dihancurkan dengan bencana yang dahsyat, seperti yanf telah dijanjikan pada Luth sebelumnya.

وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ () وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ

“Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.” (Qs. Al-Qamar: 37-38)

Beberapa ayat menggambarkan pada kita bagaimana kehancuran kaum Luth itu terjadi.

وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ () فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ

“dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi,” (Qs. Hud: 82-83)

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ () وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ () إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ () وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

“Then We destroyed the others. And We rained upon them a rain [of stones], and evil was the rain of those who were warned. Indeed in that is a sign, but most of them were not to be believers. And indeed, your Lord – He is the Exalted in Might, the Merciful.” (Qs. Al Syua’ara: 172-175)

Ketika kaum Luth dihancurkan, yang selamat hanya Luth dan orang yang beriman saja. Namun, jumlah keseluruhan tidak mencapai jumlah anggota satu keluarga. Bahkan, istri Nabi Luth sendiri juga termasuk yang tidak selamat karena tidak termasuk orang yang beriman.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ () إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ () وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ () فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ () وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِين

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.’ (Qs. Al-A’raf: 80-84)

Begitulah Luth dan orang-orang beriman yang bersamanya, juga keluarganya, bisa selamat dari malapetaka itu, kecuali istrinya yang termasuk orang yang dibinasakan. Di Taurat dijelaskan bahwa Luth berhijrah bersama Ibrahim, setelah kaumnya yang tersesat dihancurkan. Tempat tinggal mereka pun juga dihapuskan dari wajah bumi. Ayat berikut menjelaskan karakter siksa yang menimpa kaum Luth:

وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ

“dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. (Qs. Hud: 82)

Kalimat “Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan)” memberi petunjuk bahwa tempat yang terkena goncangan keras adalah wilayah yang kuat. Kita mendapati kaum Luth –yang menjadi tempat yang terkena siksa – memberi beberapa petunjuk jelas ihwal petaka itu. Ahli kepurbakalaan Wenner Keller mengatakan, “Suatu kali seluruh Lembah Sadim yang mencakup wilayah Sodom dan Gomorrah amblas hingga mencapai kedalaman yang mengerikan. Kehancuran ini terjadi dengan gempa bumi dahsyat yang disertai beberapa kali letusan, juga perciksn cahayayang muncul dari gas alam dan kebakaran yang hebat.[1]

Faktanya, Laut Mati dan Danau Luth memang termasuk daerah gempa aktif. Laut itu terletak di rekahan tektonik (plate tectonics) aktif, yakni sejauh 300 km sepanjang sisi yang menghubungkannya dengan Danau Tiberias di utara hingga pertengahan Lembah Irba di sebelah selatan.[2]

Kalimat terakhir di ayat itu “Kami hujani mereka dengan bau dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi”  mungkin dimaksudkan untuk mengacu terjadinya ledakan gunung berapi di dua tepi pantai Danau Luth. Oleh karenanya, gambaran terkait batu yang dilepaskan dari tanah yang terbakar itu disebutkan juga pada ayat berikut:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (Qs. Asy Syu’ara: 173)

Terkait hal ini, Werner Keller mengatakan, “Kekuatan gunung berapi yang tenang tiba-tiba aktif di kedalaman laut sepanjang lempengan dari lembah itu. Kawah berapi yang semula tenang terus-menerus tampak bergejolak di bagian atas lembah tepi pantai bagian barat. Ketika itulah uap gunung berapi mengendap dan lapisn dalam batu gunung berapi turun sejah wilayah yang luas pada permukaan kapur.”[3]

Uang yang berbatu dan lapisan dalam batu gunung berapi menunjukkan bahwa tempat ini mendpat gempa yang dahsyat dan gunungg berapi yang luar biasa pada suatu waktu. Malapetaka ini sesuai gambaran Al-qur’an pada ayat berikut:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

“dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (Qs. Hud: 82)

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا

Al-qur’an membei isyarat bahwa dugaan yang paling tepat adalah gempa gunung berapi. Sementara itu, firman Allah Swt berikut:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan),” (Qs. Hud: 82)

Firman ini memberi petunjuk terjadinya gempa berdampak pada gunung berapi sehingga ia meletus di atas permukaan bumi agar bisa meninggalkan jejak kehancuran, rekahan, dan uap. Wallahua’lam.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

[1] Werner Keller, Al-Injil ka Tarikh, 1964, h. 75-76.

[2] “Alam Injil” pada Historical Archeology Times (Arkeologi dan Sejarah), 1993

[3] Werner Keller, Al-Injil ka Tarikh, 1964, h. 76.