Nabi Luth As : Al-qur’an dan Kehancuran Kaum Luth (Part I)

Terkait kaum Luth As, Allah Swt berfirman:

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ () إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ () نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ () وَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ

“Kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.” (Al-Qamar: 33-36)

Luth As hidup pada masa yang sama dengan Nabi Ibrahim As. Ia diutus pada kaum yang tinggal berdampingan dengan kaum Nabi Ibrahim. Seperti diinformasikan Al-qur’an, kaum-kaum itu menyukai hal menyimpang yang sebelumnya belum pernah dikenal. Penyimpangan itu berupa perilaku sodomi. Ketika Nabi Luth menasihati kaumnya untuk meninggalkan perilaku menyimpang itu dan mengancam mereka dengan hukuman dan siksa Tuhan, mereka tidak mempercayainya bahkan mengingkari kenabian dan kerasulannya. Mereka justru semakin berani dalam melakukan perilaku sesat dan menyimpang itu. Akhirnya, kau mini pun mengalami kehancuran setelah mengalami bencana yang mengerikan.

Pada kitab Perjanjian Lama, disebutkan bahwa tempat yang ditinggali kaum Luth adalah Sodom. Tempat ini terletak di sebelah kiri Laut Merah. Beberapa penelitian telah mengungkap bahwa kehancuran memang ditemukan di sana, seperti yang disinggung Al-qur’an. Namun, penelitian kepurbakalaan menunjukkan bahwa kota yang menjadi lokasi tinggal kaum Luth terletak di satu wilayah di Laut Mati yang memanjang sampai batas antara Yordania dan Palestina.

Sebelum kita mengungkap sisa-sisa bencana ini, akan baik bila kita merenungkan apa yang mejadi penyebab hukuman yang diterima oleh kaum Luth. Al-qur’an menginformasikan kepada kita bagaiman Luth As telah memperingatkan kaumnya dan bagaimana cara mereka menjawabnya.

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ () إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ () إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ () فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ  وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ () أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ () وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ () قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ () قَالَ إِنِّي لِعَمَلِكُمْ مِنَ الْقَالِينَ

“Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir” Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”. (Asy-Syu’ara: 160-168)

Kaum ini justru mengancam Luth As ketika ia mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka justru marah pada Luth As karena telah mengajak ke jalan yang benar dan kesucian diri. Mereka berencana mengusir Luth As dan orang-orang yang beriman. Ini seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikut:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ () إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ () وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. Al’A’raf: 80-82)

Luth As menyampaikan kebenaran dengan sangat jelas kepada kaumnya. Ia juga mengancam mereka dengan cara yang tegas dan lugas. Hanya saja mereka sudah tidak mempan dengan berbagai ancaman. Mereka justru terus ingkar dan tidak mempercayai ancaman yang disampaikan Luth As.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ () أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Al-Ankabut : 28-29)

Setelah Luth As mendapat jawaban seperti itu, ia pun mengahdap pada Allah Swt untuk memohon pertolongan.

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. (Al-Ankabut: 30)

رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ

(Luth berdoa): “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan”. (Asy-Syu’ara: 169)

Beginilah cara Tuhan mengabulkan permohonan Rasul-Nya. Dia pun mengirim dua malaikat dengan berwujud seperti dua orang laki-laki. Sebellum menemui Luth As dua malaikat ini menemui Ibrahim As. Saat itu kedua malaikat ini menyampaikan kabar gembira bahwa istrinya akan mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki. Di samping itu, kedua malaikat ini menjelaskan pada Ibrahim As alasan megapa keduanya diutus ke kaum Luth. Allah memutuskan untuk menghancurkan kaum Luth yang sombong.

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ () قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمٍ مُجْرِمِينَ () لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ طِينٍ () مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

“Ibrahim bertanya: “Apakah urusanmu hai para utusan?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas”. (Adz-Dzariyat: 31-34)

Setelah meninggalkan tempat tinggal Ibrahim As, kedua malaikat sebagai utusan Tuhan  yang menyamar ini menuju ke rumah Luth As. Mulanya, Luth sangat bersedih mengetahui kedatangan utusan Tuhan karena ia belum pernah melihat mereka sebelumnya. namun, setelah keduanya berbicara, Luth pun tenang.

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

”Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit”. (Qs Hud : 77)

قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ () قَالُوا بَلْ جِئْنَاكَ بِمَا كَانُوا فِيهِ يَمْتَرُونَ () وَأَتَيْنَاكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ () فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ وَامْضُوا حَيْثُ تُؤْمَرُونَ () وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ  () وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ

“ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu”. ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (Qs Al Hijr: 62-66)

Saat itu kaumnya tahu bahwa Luth As sedang mendapatkan tamu. Mereka tidak ragu untuk menyakiti tamu-tamu Luth As dengan kebiasaan mereka yang memalukan itu. Mereka pun berkumpul di rumah Luth As menunggu tamu-tamunya keluar. Lut As mengkhawatirkan keselamatan tamu-tamunya jangan-jangan kaumnya akan menyakiti mereka. Ia pun berkata pada kaumnya, seperti dikutip ayat berikut:

قَالَ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ ضَيْفِي فَلَا تَفْضَحُونِ () وَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ

“Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. (Qs Al Hijr: 68-69)

Kaumnya menjawab:

قَالُوا أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (Qs Al Hijr: 70)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah