Category Archives: Blogs

Terungkapnya Jasad Fir’aun (Part I)

Setelah tenggelamnya Fir’aun (Ramses II) di tengah-tengah peyerangan terhadap bani Israel, anggota istana yang selamat dari tenggelam melakukan pengawetan jasad dan membawa peti mati dengan menggunakan perahu di Sungai Nil menuju kota Tibah (kota historis Mesir) yang disertai perahu-perahu lain yang di dalamnya terhadap para rahib, para Menteri, dan para pembesar kaum Fir’aun. Peti mati itu pun ditarik ke kuburan yang telah dipersiapkan oleh Ramses II untuk dirinya di lembah Raja. Pada beberapa tahapan ini, do’a-do’a pun dibacakan dan upacara-upacara jenazah pun diselenggarakan. Dengan cara seperti itulah kehidupan Ramses II berakhir. Ia merupakan Fir’aun terbesar, meskipun bukan terbesar secara mutlak.

Setelah kematian Fir’aun, segerombolan pencuri pun merajalela. Mereka semakin berani menjarah kuburan para raja. Keberanian mereka didorong banyaknnya harta karun berupa perhiasan dan perabotan jenazah yang tersimpan di kubura itu. Mungkin dalam hati terdalam, mereka ingin mengembalikan apa yang sudah diambil oleh raja-raja itu saat masih hidup dari mereka, dari bapak mereka dan dari nenek moyang mereka. Para pencuri itu memang ditangkap dan dihukum lebih dari sekali. Namun yang mengejutkan, aktivitas ini kemudian menjadi profesi banyak orang. Bahkan kuburan semua raja dari dinasti kesembilan belas, dan kedua puluh, setelah itu juga menjadi sasaran penjarahan. Semua tidak ada yang selamat. Yang selamat hanya kuburan Amenhotep II dan kuburan Tutankhamun yang terkenal. Diantara gejala pelecehan masyarakat terhadap para Fir’aun adalah penggambaran mereka dalam gambar lucu yang jauh sekali dari etika. Salah satu contohnya adalah gambar yang melukiskan Ramses III dalam rupa harimau yang memainkan catur.

Penjarahan kuil dan kuburan terus berlangsung dan kian menjadi-jadi. Banyak tuduhan diarahkan pada Bupati TIbah Barat, kepala kepolisian, dan penanggung jawab keamanan kuburan-kuburan itu. Para penanunggung jawab itu pun dihukum. Informasi ini dikodifikasikan di papyrus yang terdapat di Museum Inggris. Namun, pencurian tetap saja terus berlanjut. Kepala rahib Amun memutuskan untuk menjaga jasada para Fir’aun, termasuk jasad Ramses II. Jasadnya dibungkus dengan kafan bagian luar yang baru dan diletakkan di peti dari kayu yang sederhana untuk mengelabui para pencuri. Ia dikuburkan di kuburan ayahnya, Seti I, bersama sekelompok jasad para Fir’aun terdahulu. Peristiwa itu dicatatkan di kafan para Fir’aun. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 15, bulan ketiga, tahun 24 berdasarkan perhitungan tanggal Ramses XI. Bila Ramses XI yang merupakan Fir’aun terakhir dari Dinasti XX dan memerintah selama 27 tahun, maka tahun peristiwa pengafanan dan penguburan kembali Ramses II terjadi pada tahun 1089 SM (127 tahun setelah kematiannya).

Namun, penjarahan terhadap kuburan kerajaan tidak berhenti. Pada masa pemerintahan Dinasti XXI, yang bertepatan dengan sesepuh rahib Amun bernama Binudijm II meninggal, para sejawatnya sesama rahib memutuskan untuk mengakhiri penjarahan terhadap jasad para Fir’aun. Mereka pun mengumpulkan jasad-jasad para Fir’aun. Pemakaman sesepuh rahib itu dijadikan momentum untuk mengelabui masyarakat. Mereka pun menguburkan semua Fir’aun di kuburan Ratu Hatshepsut di Kuil Laut (Dayr Al-Bahri) yang sudah diperluas agar bisa muat untuk semua jasad para Fir’aun mulai dari masa XIX. Mereka pun menutup kuburan dan mencatat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun ke-10 dari pemerintahan Raja Shenhonk tahun 969 SM.Mereka menutup sepenuhnya jalan masuk. Mereka juga menghilangkan simbol-simbol di sekitar kuburan. Tujuannya agar paara pencuri tidak tahu bahwa itu kuburan para Fir’aun. Kuburan yang baru itu pun selamat dari incaran para pencuri selama lebih dari 2800 tahun hingga akhirnya tidak diketahui sama sekali bahwa itu kuburan para Fir’aun. Tempat itu lalu disebut dengan “Kuil Laut Tersembunyi”. Ia memuat semua mumi, termasuk mumi Ramses II.

Posisi Informasi Al-Qur’an

Mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang mengetahui tenggelamnya Fir’aun adalah orang-orang istana dan para rahib yang jumlahnya tidak banyak, meskipun mungkin berita ini bocor juga ke sebagian orang lain di luar istana. Yang terpenting bahwa Ramses II meninggal seperti Fir’aun-fir’aun yang sebelumnya. Secara umum, umur Ramses II (Fir’aun) kala meninggal adalah 90 tahun. Ia memerintah Mesir selama 67 tahun. Oleh karenanya, masyarakat tidak merasa kehilangan atas kepergiannya. Orang yang tahu bahwa dia tenggelam saat menyerang Bani Israel, dan yang menolak melepaskan Bani Israel akan meyakini bahwa Allah sedang bersama bani Israel. Allah menolong mereka. Tenggelamnya Fir’aun ketika menyerang mereka menjadi petunjuk dan bukti yang jelas bahwa pada akhirnya kebenaran pasti menang, meskipun pada mulanya kedzaliman terlihat sangat kuat.

Orang yang mengetahui Fir’aun tenggelam setelah bani Israel, akan meyakini bahwa Musa berada di jalan yang benar, sementara Fir’aun di jalan yang bathil. Setelah tenggelam, orang-orang dan para rahib yang melakukan pemumian terhadap jasadna. Dalam hal ini Allah Swt berfirman:

وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Q.S Al-baqarah: 50)

Sampai di sini, peristiwa tenggelamnya Fir’aun menjadi satu bukti kekuasaan Allah, bahkan jika jasadnya pun tidak ditemukan. Fir’aun yang sombong, angkuh, suka menyiksa, dan suka merendahkan itu telah tenggelam. Kita pun menjadi tahu maka firman Allah Swt berikut:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (Q.S Yunus: 92)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Pemeriksaan Kesehatan Semester Ganjil 2019

Diriwayatkan oleh  at-Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda: ‘Barangsiapa bangun di pagi hari dengan badan sehat dan jiwa sehat pula, dan rezekinya dijamin, maka dia seperti orang yang memiliki dunia seluruhnya.”

Islam adalah agama yang purna, segala hal telah dirumuskan secara tertata. Tak ada yang terlewat sedikit pun dalam setiap kegiatan kita dari bangun tidur sampai tidur kembali. Ada tuntunan di setiap lini kehidupan kita. Begitu pula dengan kesehatan. Islam sangat concern terhadap kesehatan. Jika kita perhatikan hadits di atas, maka kita setidaknya dapat menyimpulkan bahwa kesehatan juga menjadi prioritas dalam tuntunan ajaran Islam. Pengertian kesehatan dalam hadits di atas sejalan dengan pengertian Kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948  menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”

Kesehatan jadi modal utama kita sebagai manusia untuk menunaikan aktifitas. Bayangkan berapa banyak hal terlewat jika sakit menyerang tubuh kita? Berapa banyak pula kegiatan akan terhambat karena kondisi badan yang kurang sehat? Benar, kenyataannya tidak sedikit dari kita yang seringkali melupakan tentang pentingnya kesehatan bagi kehidupan kita.

“Ada dua anugerah yang karenanya banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan yang baik dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Begitu penting dan perlunya kesehatan, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita manusia beriman untuk senantiasa menjaga kesehatan sebagai bentuk rasa syukur kita akan anugerah kesehatan. Hal ini juga menjadi alasan utama SD Exiss Abata dalam program Pemeriksaan Kesehatan yang rutin dilaksanakan setiap semester. Bertempat di ruang UKS SD Exiss Abata, kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Semester Ganjil berlangsung denan lancar tanpa kendala suatu apapun.

                

                 

SD Exiss Abata Juara III Lomba Budaya Mutu Sekolah Tingkat Kota Administrasi Jakarta Barat

Akhir Agustus lalu merupakan pekan yang sangat sibuk bagi civitas akademika SD Exiss Abata, pasalnya SD Exiss Abata ditunjuk sebagai peserta Lomba Budaya Mutu Sekolah (LBMS) tingkat kota administrasi Jakarta Barat. LBMS adalah program tahunan Kemendikbud bertujuan untuk memotivasi semua pihak khususnya satuan pendidikan dalam menumbuh kembangkan budaya mutu dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Ada empat komponen yang dinilai dalam LBMS ini, yakni Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Ekstrakulikuler, Kurikulum dan Pembelajaran serta Perpustakaan.

Ikut sertanya SD Exiss Abata sebagai peserta LBMS menjadi motivasi tersendiri, bukan tentang menang atau kalah. LBMS adalah pembuktian tentang sejauh mana kualitas budaya mutu dalam SD Exiss Abata sebagai bagian Lembaga pendidikan. LBMS layaknya tempat me-review kembali tentang keadaan SD Exiss Abata. Tentang pembiasaan-pembiasaan apa saja yang telah dilakukan di sekolah? Tentang sejauh mana penanaman karakter pada siswa-siswa? Program apa saja yang telah dibuat untuk menunjang budaya mutu sekolah? Tentang sejauh mana fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar?

Pada akhirnya tak ada usaha yang sia-sia, tak ada pekerjaan yang tak berguna, dengan segala kesyukuran SD Exiss Abata meraih juara ke-3 Lomba Budaya Mutu Sekolah Tingkat Kota Administrasi Jakarta Barat. Hasil ini setidaknya menjadi catatan bagi SD Exiss Abata untuk terus memperbaiki diri.

                  

Tak lupa kami ucapkan Jazakallah Khairan Katsiran kepada seluruh pihak yang telah ikut menjadi bagian dari suksesnya SD Exiss Abata hingga sampai ke titik ini.

Wallahu A’lam bish shawaab

Belajar dan Bermain Mengenai Profesi

Minggu ini kami belajar tentang mengenal berbagai macam profesi. Awalnya kami ditanya oleh ustadzah apa saja cita-cita kami, ada yang menjawab dokter ingin menjadi dokter, pilot, guru, dan bahkan ada yang mau menjadi petugas pemadam kebakaran. Berbagai macam jenis cita-cita kami, tentunya masing-masing kami memiliki cita-cita yang berbeda-beda, namun ada beberapa yang sama. Sebenernya apa sih cita-cita? Mungkin sering sekali seorang anak ketika ketemu orang ditanya “Cita-cita kamu mau jadi apa?”.

Ustadzah menjelaskan dikelas bahwa cita-cita adalah seseuatu yang mau kita raih dimasa depan. Contoh : jika kita mau menjadi seorang dokter, maka kita harus kuliah mengambil jurusan kedokteran. Dan jika kita mau menjadi guru maka kita harus kuliah mengambil jurusan pendidikan agar ilmu yang di dapat lebih spesifik. Tapi untuk mencapai cita-cita kami bukan berarti hanya dengan  berpangku tangan. Untuk masa ekarang yang harus kami lakukan untuk menggapai cita-cita adlah dengan cara belajar dengan giat agar apa yang kami inginkan bisa tercapai.

Pada hari selasa tanggal 30 Juli 2019 kami pergi ke Kidzania, Pacific Place untuk belajar sambal bermain mengenai macam-macam profesi yang ada. Disana ada berbagai macam simulasi profesi yang ada. Mulai dari menjadi seorang kontraktor, baker, pegawai supermarket, pegawai hotel, penyiar radio, polisi dan masih banyak profesi lainnya. Kami senang karena kami bisa mencoba berbagai macam profesi dengan cara yang asyik. Kami disana juga dibimbing oleh kakak pemandu yang ramah dan baik hati. Kami senang sekali bisa belajar sambal bermain di Kidzania.

Bani Israel Membuat Keonaran Dua Kali (Part II)

Dalam surat Al-Isra ayat kedelapan tersebut sebelumnya, terkadang Allah kembali memberi kehancuran baru bagi mereka (Yahudi), bukan dua kehancuran seperti disebutkan dalam pembahasan sebelumnya. dalam ayat tersebut juga terdapat penjelasan “mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepada kalian”. Mungkin Allah hendak mengatakan pada mereka, “jika kalian tidak beriman pada Nabi yang dinanti dan sudah tertulis di kitab suci kalian, yang nabi ini akan keluar setelah dua kehancuran (seperti yang disebutkan dalam The Testament of Moses), maka kami akan kembali menyiksa kalian. Yang luar biasa Al-qur’an juga menyebutkan, “Kami telah tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu. Kemudian penulis membaca di buku The Testament of Moses bahwa Musa As sengaja menyampaikan prediksi itu dan membiarkan Yosua menulisnya dalam suatu buku. Jadi, ayat 4-8 surah Al-Isra hampir mirip dengan The Testament of Moses yang baru ditemukan pada abad ke-19.

Prediksi kemunculan Nabi yang dinanti

Terkait dengan penyebutan waktu munculnya Nabi yang dinanti, buku The Testament of Moses pertama kalli menyebut bahwa Nabi yang dinanti itu tidak akan pernah keluar sebelum kehancuran yang kedua. Seperti sudah disinggung, ini terjadi pada tahun 135 M.[7] Bahkan buku The Testament of Moses membatasi masa tujuh tahun yang nabi ini dilahirkan pada tahun itu ketika nabi Musa berkata kepada Yosua bahwa nabi akhir zaman itu tidak akan pernah muncul sebelum lewat 250 minggu dari waktu wafat nabi Musa. Dalam kitab-kitab prediksi orang Yahudi itu, seminggu itu maksudnya tujuh tahun.[8]

Prediksi itu juga menyebutkan bahwa setelah 250 minggu (baca: tujuh tahun) setelah wafatnya Nabi Musa hingga munculnya nabi akhir zaman. Maksudnya, nabi akhir zaman itu akan terlahir pada minggu ke-251 antara tahun 1750-1757 setelah wafatnya nabi Musa As. Penulis sendiri berusaha menemukan tanggal wafatnya nabi Musa berdasarkan perhitungan dari kelahiran nabi Isa, tetapi sempat kesulian menghitungnya. Namun, akhirnya penulis menemukan kunci untuk menghitungnya. Kuncinya dengan menghitungnya menggunakan pedoman tanggal meninggalnya Fir’aun (Ramses II) yang hampir tidak ada perbedaan pendapat antara ahli sejarah Nasrani dan orang yahudi bahwa Ramses II-lah yang hidup sezaman dengan nabi Musa. Ini seperti yang bisa ditemukan dalam Encyclophedia Judaica pda tema “Ramses II” bahwa tahun meninggalnya Fir’aun itu pada tahun 1223 SM.

Nabi Musa sendiri wafat minimal empat puluh tahun setelah itu, yaitu pada masa Tih (Labyrinth) seperti disebut Al-qur’an pada surah Al-Maidah : 26, juga pada kitab bilangan Taurat (33:14). Jadi, kalau 1223 dikurangi 40 tahun, maka jumlahnya adalah 1183. Jadi, nabi Musa wafat pada tahun 1183 SM atau tidak lama setelah itu. kalau kita ingin menghitung tanggal kelahiran nabi yang dinanti dari kelairan nabi Isa, kita mengurangi tahun wafatnya nabi Musa (tahun 1183) dengan kelahiran nabi yang dinanti dari prediksi itu (yaitu pada tahun antara 1750-1757). Dengan cara penghitungan seperti itu, maka kita mendapatkan hasilnya sebagai berikut:

1750 – 1183 = 567 M

1757 – 1183 = 574 M

Jadi, antara tahun 567 M sampai 574 M. Seperti diketahui bahwa nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun 570 M, yang masih dalam rentang waktu sesuai dengan prediksi itu.

Terjemahan teks bahasa Inggris prediksi kemunculan nabi yang dinanti

Kemudian nabi Musa berkata kepada Yosua, “ Ambil kitab ini hingga kalian mengingatnya setelah ini bagaimana kalian memelihara kitab-kitab yang aku serahkan pada kalian (bab 1: 10, 16). Mereka akan mempersembahkan anak-anak mereka sebagai kurban untuk tuhan-tuhan yang aneh. Mereka akan memasang berhala-berhala di sinagoge (bab 2:8). Pada hari-hari itu, aka nada raja dari timur yang akan memerintah mereka. Bala tentaranya akan memporak porandakan bumi mereka. Dengan api, raja itu membakar kota berikut sinagoge untuk Tuhan yang disucikan. Raja itu membawa bejana-bejana suci. Ia membuang semua bangsa dan memimpin semua bangsa untuk menuju tanahnya. Dua kabilah yang akan dia bawa bersamanya. (Bab 31: 1-3) kemudian Tuhan mengingat mereka lantaran perjanjian-Nya dengan kakek-moyang mereka. Pada hari-hari itu, Tuhan akan mengilhami sang raja untuk mengasihi mereka dan mengembalikan mereka ke tanah kelahiran mereka. Namun, kesepuluh kabilah berkembang dan tersebar pada berbagai umat di tengah-tengah waktu penahanan. (Bab 5 4-9) tantara sudah mendekati waktu pembebasan dari mereka danhuuman pun meningkat dari para raja yang bersama mereka dalam kriminalitas yang mereka lakukan. Secara berurutan kata itu terbukti bahwa mereka akan menolak keadilan dan mendekati kedzaliman (bab 5: 1-3). Raja yang kuat akan datang dari barat, yang akan memerangi mereka dan menjadikan mereka tawanan. Ia juga akan membakar sebagian sinagoge mereka. Ia juga akan menyalib sebagian mereka di depan Kabilah mereka sendiri (bab 6: 8-9). Kemudian ada kunjungan kedua dan murka Tuhan menghampiri mereka. Kemudian raja diraja bumi menghasut mereka (8: 1-2). Perhatikanlah! Hukuman kedua akan menimpa bangsa ini, yang akan melampaui hukuman yang pertama (bab 9:2) kemudian kerajaan Allah pun muncul di setiap makhluk-Nya. Kemudian berakhirlah kejahatan (bab 10:1). Karena orang yang ikut mengebumikan nabi Musa hingga kemunculan Nabi akhir zaman akan melewati 250 x tujuh tahun (baca: 1750 tahun) (anotasi ini berasal dari buku Charles sendiri) (bab 11: 10 hlm. 422-423).

Manuskrip laut mati

Penulis menemukan naskah pada buku The Testament of Moses atau wasiat Musa pada manuskrip Laut Mati yang diakses pada tahun 1992 M. teksnya tidak banyak berada dengan manuskrip yang ditemukan di Perpustakaan Ambrosian Milan Italia. Berikut beberapa temuan yang sudah penulis sebutkan sebelumnya:

  1. Pesan nabi Musa yang ditulis pada umur 120 tahun bahwa dengan kemurahan hatimu, sekarang mereka akan masuk ke satu wilayah yang telah ditetapkan dan dijanjikan untuk diberikan pada kakek moyang mereka. Kerajaan dan kekuasaan didirikan untuk mereka. (Selain yang empat) keduanya justru melakukan hal yang berlawanan dengan janji Tuhan. Keduanya menodai bagian yang telah dijanjikan Tuhan bersama keduanya. Keduanya akan mengorbankan anak-anaknya untuk tuhan-tuhan yang aneh. Keduanya juga membangun berhala-berhala di kemah dan keduanya pun melayani berhala-berhala itu.
  2. Pada beberapa waktu ini, akan ada raja dari timur yang akan melawan mereka. Bala tentaranya akan menutup negara mereka. Ia juga membakar semua fasilitas keramaian berikut sinagoge suci. Ia juga akan merampok semua benda-benda suci.
  3. Ketika zaman keputusan tak lama lagi, mereka justru merendahkan diri di belakang tuhan-tuhan yang aneh.
  4. Beberapa wilayah mereka akan membutuhkan beberapa battalion raja yang kuat dari barat yang akan murka dan marah pada mereka di dalam tahanan. Ia akan membakar bagian sinagoge mereka dan akan menyalib sebagian orang dari mereka di tengah-tengah keramaian.
  5. Yosua, kamu harus menjaga beberapa ungkapan dan buku ini setelah aku menghadap Yang kuasa hingga kedatangan nabi akhir zaman memakan 250 waktu. (Penerjemah teks ini, Musa Deib Al-Khuri, mengatakan 250 minggu [baca: dikalikan tujuh] total 1759 tahun.” Hitungan ini dikutip dari kitab manuskrip Dua Buah Laut Mati, j 2).

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[7] Ini juga bisa dipahami dari injil Matius 15:24-35 yang menginformasikan bahwa Nabi Isa memprekdisikan kehancuran lain sinagoge Yahudi, kemudian diletakkan kotoran-kotoran itu berupa berhala romawi di dalam sinagoge (John Worsley’s Interpretation), dan kemudian munculnya anak manusia (baca: Nabi yang dinanti seperti yang disebutkan di Taurat). Namun, orang Nasrani menafsirkannya bahwa yang dimaksudkan adalah kedatangan Nabi Isa untuk kedua kali (berdasarkan pendapat mereka). Padahal, noda kehancuran sudah disebutkan dalam Taurat (Daniel 9) pada topik pembicaraan zaman munculnya Nabi yang dinanti.

[8] The Apocrypha and Pseudepigrapha of The Old Testament, h. 423.

Bani Israel Membuat Keonaran Dua Kali (Part I)

Presiksi yang telah disebutkan di bagianlain ensiklopedia ini bukanlah kabar kabar gembira satu-satunyaakan kelahiran atau kemunculan Nabi yang ditunggu-tunggu. Namun, ada prediksi himpunan Pseudepigrapha, yaitu buku The Testament of Moses. Buku ini menceritakan bahwa Musa memberikan sat kitab pada pengikutnya yang bernama Yosua bin Nun sebelum ia wafat. Di dalam buku itu diwartakan apa yang akan terjadi pada orang Yahudi di masa-masa mendatang. Buku itu bercerita tentang kehancuran pertma orang Yahudi yang akan dilakukan seorang raja dari timur yang membakar sinagoge terbesar mereka dan menahan mereka di wilayah sang raja.

Kemudian Allah mengembalikan bumi yang dijanjikan itu pada seorang raja yang mengasishi mereka. Bangunan sinagoge pun dikembalikan lagi. Mereka diberikan anugerah oleh Allah berupa anak dan kawan. Namun, orang Israel kembali bermaksiat kepada Allah. Dia lalu mengutus seorang raja dari barat untuk mereka. Raja kedua ini kembali memporak-porandakan Baitul Maqdis untuk kedua kalinya. Ia membakar bagian-bagian sinagoge yang suci itu. Kehancuran yang kedua ini lebih parah darpada kehancuran yang pertama. Kemudian berlalu beberapa kejadian, sebelum akhirnya muncullah Nabi yang ditunggu-tunggu bersama kekuasaan yang diberikan Tuhan padanay setelah 250 minggu[1] wafatnya Musa As.

Buku itu terkuak pada tahun 1861 M di kota Milan Italia di Perpstakaan Ambrosian. Manuskrip tersebut ditulis pada abad keenam Masehi. Jadi, manuskrip itu tidak diketahui oleh para penganutnya lebih dari 13 abad. Hingga saat ini kita belum mendapati naskah lain selain manuskrip itu. Naskahnya ditulis dalam bahasa Latin yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani atau Armenia yang ditulis pada abad pertama masehi. Para ahli memutuskan bahwa naskah itu ditulis oleh salah satu kelompok umat Yahudi Isin (dikutip dari pendahuluan buku The Old Testament Pseudepigrapha).

Dari sejarah buku ini dapat dipahami bahwa mustahil Muhammad membaca manuskrip satu-satunya itu yang penganut teologinya saja kehilangan naskah tersebut selama 13 hingga 18 abad. Muhammad tidak mungkin membacanya dengan bahasa naskah itu, atau naskah itu dibacakan padanya. Lalu, keajaiban yang luar biasa dan tanda kerahiban itu terkuak pada zaman munculnya Nabi ii di tengah-tengah Ahli Kitab. Ia lalu mengklaim kenabian dan menceritakan kepada orang Yahudi dan Nasrani bahwa semua itu tertulis di kitab mereka. Ada banyak pembahasan dalam nubuwat (prediksi ini). Sebelum memasuki ayat yang merinci kabar gembira yang ada, kita akan menyebutkan secara lengkap bagian awal surah Al-Isra berikut:

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا () فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا () ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا ()  إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا  ()  عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ ۚ وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا ۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا ()

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. Dan Kami telah mengabarkan kepada bani israil di dalam kitab taurat yang diturunkan atas mereka bahwa sesungguhnya pasti akan terjadi kerusakan yang timbul dari mereka dua kali di wilayah baitul maqdis dan tempat-tempat sekitarnya dengan melakukan tindak kezhaliman, membunuhi para nabi, sombong, dan tindakan melampaui batas serta permusuhan.  Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. maka ketika terjadi kerusakan pertama yang mereka timbulkan, Kami datangkan kepada mereka hamba-hamba kami yang memiliki keberanian dan kekuatan luarbiasa untuk menguasai mereka, lalu mempencundangi mereka, membunuhi mereka serta mengusir mereka. Orang-orang itu berkeliling di perkampungan-perkampungan mereka dengan merusak. Itu merupakan suatu ketetapan yang mesti terjadi, karena ada faktor penyebabnya dari kalian. untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Kemudian kami kembalikan bagi kalian (wahai bani israil), kekuasaan dan kemenangan atas para musuh kalain yang dahulu di kuasakan atas kalian. Dan kami tambah rizki dan jumlah anak-anak kalain, serta menguatkan kalian dan menjadikan kalain berjumlah lebih banyak dari pada jumlah musuh kalian. Kondisi demikian disebabkan perbuatan baik dan ketundukan kalian kepada Allah.Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Jika kalian baik dalam perbuatan-perbuatan dan uacapan-ucapan kalian, Sesungguhnya kalian berarti telah berbuat baik terhadap diri kalian sendiri. Sebab pahalanya kembali kepada kalian. Bila kalain bertindak buruk, maka hukumannya(juga) berbalik mengenai kalian sendiri. Jika nanti telah tiba ketetapan terjadinya kerusakan kedua (yang kalian perbuat), maka Kami akan menjadikan musuh kalian berkuasa atas kalain kembali, untuk menghinakan dan mengalahkan kalian, sehingga tampaklah bekas-bekas penghinaan dan penistaan pada wajah-wajah kalian dan lalu merangsek masuk menghadapi kalain ke dalam baitul maqdis untuk menghancurkannya sebagaimana mereka dahulu pernah menghancurkannya, dan kemudian meluluhlantahkan semua yang mereka miliki sehabis-habisnya secara total. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S Al-Isra : 4-8)

Para ahli tafsir berbeda pendapat terkait beberapa ayat di atas. Sebagian menafsirkan dengan sangat futuristic. Menurut kelompok ini, kaum Muslimin lah yang nanti menjadi hamba Allah yang memasuki Baitul Maqdis untuk pertama kali dan memasukinya lagi nanti mendekati akhirat. Kelompok lainnya menafsirkannya bahwa apa yang disebutkan dalam ayat itu merupakan kejadian atau peristiwa yang sudah berlalu. Mereka juga berbeda pendapat terkait kelompok yang mengalahkan orang Yahudi.

Sebelum menyimpulkan tafsiran mana dari keduanya yang paling mendekati kebenaran, kita harus menafsirkan prediksi buku pertama yang berjudul The Testament of Moses yang berasal dari Taurat. Kehancuran pertama yang terjadi pada masa raja dari timur tidak akan pernah melampaui kehancuran kerajaan Israel Utara yang dilakukan oeh Raja Assyiri Shalmaneser II (Raja-raja: 17). Maksudnya, kehancuran kerajaan Yahuda Selatan di tangan Raja Babilonia Nebuchadnezzar II (Raja-raja: 21). Kedua raja ini berasal dari timur (timur Palestina). Namun, pendapat yang diunggulkan adalah raja Baabilonia, karena peristwa itu lebih dahsyat dan lebih populer. Pada peristiewa itulah, sinagoge Yahudi dihancurkan, seperti yang diramalkan.

Dalam kesimpulan terhadap buku The Testament of Moses, penulis memang tidak menyebutkan bahwa orang yang tertawan itu berasal dari keturunan Yahudi. Ini semakin menguatkan bahwa raja Babilonialah yang dimaksud. Kehancuran yang kedua terjadi setelah kehancuran yang pernah terjadi dilakukan oleh para kaisar Romawi, seperti Kaisar Titus pada tahun 70 M dan Kaisar Hadrian[2] pada tahun 135 M. Mereka ini raja-raja dari barat, seperti yang disebutkan oleh prediksi itu. Mereka telah menghancurkan sinagoge pada beberapa kesempatan.

Sekarang kita kembali pada penafsiran ayat Al-Qur’an yang telah disinggung sebelumnya. kita melihat Taurat dan buku-buku sejarah menyebutkan bahwa kehancuran pertama dilakukan oleh orang orang Babilonia. Kehancuran kedua dilakukan oleh orang Romawi yang luar biasa Taurat memberikan gelah Abdullah[3] pada penakluk yang berasal dari Babilonia. Ini sesuai dengan sifat yang diberikan Al-Qur’an pada orang-orang yang pertama kali mengalahkan orang Yahudi “Hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang dahsyat”. Bahkan Nabi Musa As meminta orang Yahudi Yeremia untuk tidak melawan penakluk dari Babilonia itu,[4] karena Allah-lah sebetulnya yang mengirimnya.mungkin justru ini menangkis pendapat sebagian ahli tafsir yang melihat bahwa frasa “hamba Kami”, menurut mereka maksudnya adalah hamba Allah. Lebih lanjut, mereka menganggap bahwa orang yang pertama kali mengalahkan orang Yahudi adalah kaum Muslimin. Karena, frasa hamba Allah atau frasa hamba Yang Maha Pengasih hanya ditujukan pada orang-orang yang patuh pada perintah Allah.[5] Juga , kata lain dalam Al-Qur’an juga  mengacu pada orang-orang kafir di akhirat nanti.[6] Alasannya memang karena saat itu mereka hanya bisa patuh kepada Allah. Lalu, adakah penghalang bila Nebuchadnezzar memerangi orang Yahudi karena memenuhi perintah Allah untuk memberi hukuman pada orang Yahudi, meskipun ia orang kafir. Karena itulah penyebutan frasa hamba Allah menjadi sah-sah saja mengacu pada Nebuchadnezzar berikut bala tentaranya.ini terkait dengan penggunaan frasa hamba Kami (hamba Allah) untuk orang-orang yang mengalahkan orang Yahudi pertama kali.

Yang mengherankan pada ayat Al-Qur’an di atas, disebutkan bahwa orang Yahudi setelah mengalami kekalahan dari musuh-musuh mereka pertama kali justru punya lebih banyak kawan. Taurat menyebutkan bahwa orang Yahudi bisa kembali dari tahanan Babilonia atas bantuan dari Raja Persia Keosrau.[7] Inilah yang membuat penulis lebih memilih tafsir yang menyebutkan bahwa dua malapetaka itu telah berlalu. Yang membuat kehancuran pertama kali adalah orang-orang Babilonia, sementara orang yang menghancurkan kedua adalah orang Romaawi pada tahun 70 Masehi.[8] Hal ini diperkuat oleh firman Allah Swt setelah menyajikan kisah itu.

اَوْ يُلْقٰىٓ اِلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ تَكُوْنُ لَهٗ جَنَّةٌ يَّأْكُلُ مِنْهَاۗ وَقَالَ الظّٰلِمُوْنَ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسْحُوْرًا

atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya harta kekayaan atau (mengapa tidak ada) kebun baginya, sehingga dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang zalim itu berkata, “Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (QS Al-Furqon: 8)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] Data angka ini, bisa ditemukan pada kitab Tahud (97) dan The Asumptions of Moses (12: 11)

[2] Penghancuran yang dilakukan Hadrian lebih diunggulkan, karena lebih parah. Saat itu orang yahudi juga menjadi tawanan.pendapat ini juga disampaikan oleh Dr. Ali Abdul Wahid Wafi dalam buku Al-Yahudiyyah wa Al Yahud. Dia berpendapat bahwa penghancuran pertama yang dimaksudkan Al-Qur’an penghamcuran

[3] Oleh karenanya, Tuhan berkata, “Karena kalian memaksiati firman-Ku. Sekarang aku menggerakkan semua kabilah dari utara yang dipimpin Nebuchadnezzar, hambaku (Yeremia 25:9)

[4] Yeremia, 27

[5] Lih. QS Al-Furqon (25): 63.

[6] Lih. QS Al-Furqon (25): 17 berikut: “(Ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah), “Apakah kamuu yang menyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)””

[7] Taurat 36: 22-23

[8] Ini sesuai dengan pendapat Dr. Ali Abdul Wahid Wafi di atas.

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part V)

Fakta keenam adalah bahwa teks Taurat menjadikan Musa As sebagai seorang criminal professional yang terlihat dari caranya membunuh lelaki Mesir ketika ia mendapati lelaki itu bersengketa dengan orang Israel. Musa As menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah yakin tidak ada orang yang menyaksikannya, ia pun membunuh lelaki Mesir itu dan menguburkannya di gundukan tanah atau pasir. Itu artinya Musa membunuh lelaki Mesir dengan sepenuh hati, seperti yang mereka katakan. Teks Al-Qur’an justru menyebutkan bahwa Musa As hanya membantu orang Israel dalam sengketanya dengan orang Mesir. Ia hanya memukul orang Mesir itu dengan bogem mentahnya, tanpa berniat untuk membunuhnya. Namu, ternyata bogem mentahnya itu terlalu kuat sehingga menyebabkan kematian lelaki Mesir. Buktinya Musa As segera mengatakan, “Perilaku itu merupakan perilaku setan.” Ia pun memohon ampun kepada Allah atau dosa itu yang dilakukannya tanpa sengaja. Allah pun mengampuninya. Mungkin ada yang mengatakan bahwa paara Fir’aun membunuh anak-anak Bani Israel. Mereka juga mengenakan siksa terpedih pada orang Israel. Karena itu, tidak ada salahnya bila Musa As atau yang lain membunuh orang Mesir yang berada di kekuasaan mereka. Namun, ini omongan manusia, sementara bila merujuk pada petuntuk Tuhan semesta alam, maka orang Mesir yang tidak bersalah itu tidak boleh dibunuh lantaran kejahatan Fir’aun yang zalim. Ia hanya boleh dibunuh bila lelaki Mesir itu bersama Fir’aun di medan perang. Teks Taurat menyebutkan bahwa dua lelaki yang sedang bertikai itu pada hari berikutnya ternyata adalah orang Bani Israel.

Saat berjalan-jalan di hari kedua, Musa As mendapati dua orang lelaki Ibrani yang sedang brkelahi. Ia berkata pada orang yang bersalah, “Mengapa kamu memukul kawanmu?” orang itu menjawab, “Siapa yang menjadikan kamu pemimpin dan hakim bagi kita? Apakah kamu memikirkan pembunuhanu seperti yang kamu lakukan pada orang Mesir?” Sementar itu, teks Al-Qur’an menyebutkan bahwa satunya orang Mesir, apalagi bila melihat tidak ada keuntungan apapun bagi Musa As untuk membantu seorang Israel melawan orang Israel lainnya. Ini seperti yang terdapat dalam firman Allah Swt berikut:

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ ۚ قَالَ لَهُ مُوسَىٰ إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ () فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَا مُوسَىٰ أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ ۖ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ0

Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)”. Karenanya, di dalam kota, Musa menjadi takut kepada Fir’aun, ia mencari tahu tentang berita yang diperbincangkan oleh masyarakat terkait dirinya dan korban yang dibunuhnya. Lalu ia melihat temannya yang kemarin beradu senjata dengan orang lain dari suku Qibthi dan meminta pertolongan darinya, maka Musa berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu itu benar-benar banyak berbuat penyimpangan dan nyata kesesatannya.” Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”. Maka tatkala Musa hendak memukul orang Qibthi itu, ia berkata “Apakah kamu akan membunuhku sebagaimana kamu telah membunuh seseorang kemarin? Kamu itu tidak ingin kecuali menjadi seorang yang melampaui batas di muka bumi. Kamu tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mendamaikan di anatara manusia.” (Q.S AL-Qashash: 18-19)

Fakta ketujuh adalah bahwa teks Taurat menyebut bahwa tokoh Madyan mempunyai tujuh putri. Ketujuh putrinya itu pergi semua ke Sumur Madyan untuk menimba minuman kambing ayahnya. Setelah mereka memnuhi timba dengan air, para penggembala datang untuk mendusir mereka. Musa As yang sedang duduk-duduk di dekat sumur itu menolong mereka dan memberikan minuman pada kambing mereka. Kerancuan – kerancuan yang terdapat di Taurat sangat jelas sekali. Sangat tidak masuk akal bila semua putri tokoh Madyan untuk memberi minum kambing ayah mereka. Semestinya cukup satu, dua, atau maksimal tiga putrinya yang melakukan kegiatan itu. Sisanya membantu ayah mereka yang sudah tua renta, dan mengurus keperluan rumah. Teks ini juga menunjukkan bahwa putri-putri sang tokoh itu benar-benar asing (dengan situasi sumur). Padahal, ini bukanlah kali pertama mereka melakukan kegiatan itu.

Seharusnya para penggembala itu mengusir mereka sebelumnya. aneh bila putri-putri itu mengulangi kesalahan seiap hari. Mereka memenuhi timba, kemudian para penggembala mengusir mereka, kemudian mereka baru mengisi timba itu setelah para penggembala keluar dari sumur.di sisi lain, teks Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika sampai di Sumur Madyan, Musa As mendapati para penggembala sedang memberi minum kambing mereka. Ia melihat dua orang gadis di dekat sumur itu yang sedang berusaha keras menahan kambing mereka agar tidak sampai di sumur. Kambing yang kehausan setelah sehari digembalakan tidak terkontrol lagi dan tidak bisa dilarang mendekati air. Pemandangan dua gadis yang kesullitan menghadapi kambing agar tidak mendekati air, telah menarik perhatian Musa As. Ia pun menanyakan apa yang sedang terjadi. Keduanya menjawab bahwa mereka tidak bisa memberi minum pada kambing mereka, sebelum para penggembala itu pergi dari sumur.

Mereka juga menceritakan bahwa yang menyuruh mereka untuk menggembalakan kambing adalah ayah mereka yang sudah renta. Sang ayah tidak mungkin bisa menggembalakan dan memberi minum kambing sendiri. Nabi Musa As pun memberikan minum kambing-kambing ituuntuk membantu kedua gadis tersebut. Faktor yang menyebabkan dua gadis itu tidak mau memberi minum pada kambing saat masih ada para penggembala bukan lantaran keduanya takut kalau-kalau akan diusir. Tidak ada untungnya bagi para penggembala itu mengusir keduanya dari sumr, karena semua kambing di Madyan minum dari tempat itu.

Namun, yang menjadi faktor adalah kedua gadis itu tidak menyukai berama-sama dan berselisih pendapat dengan para penggembala yang berlainan jenis kelamin. Semua itu demi kebaikan keduanya. Keduanya juga malu pada para penggembala. Rasa malu ini bisa dilihat saat salah satu di antara keduana memanggil Musa As untuk diajak ke rumah ayahnya yang akan memberi upah untuk apa yang sudah dilakukan Musa As. Wanita itu berjalan dengan malu saat menuju kea rah nabi Musa. Fakta kedelapan adalah bahwa teks Taurat berlawanan dengan teks Al-Qur’an. Taurat tidak memberikan Batasan waktu tinggal Musa As di Madyan. Teks Taurat juga tidak menyebutkan bahwa Musa As telah menceritakan pada tokoh Madyan ihwal apa yang terjadi padanya saat di Mesir. Taurat juga tidak menceritakan bahwa ia daang ke Madyan karena melarikan diri dari acaman Fir’aun, lalu sang tokkoh Madyan ini menenangkannya bahwa dia sekarang di tempat yang aman.

Setelah tokoh Madyan itu tahu bahwa Musa As adalah lelaki yang baik, disamping kuat dan terpercaya seerti yang disaksikan oleh putrinya, ia menawarkan Musa As untuk menikahi salah satu putrinya sebagai pengganti Musa yang sudah bekerja selama delapan tahun. Bahwa akhirnya Musa As bekerja selama sepuluh tahun , itu merupakan budi baik Musa As. Seperti kita sudah singgung sebelumnya, teks Taurat menampilkan urutan peristiwa tanpa menyelipkan karakteristik keimanan pada masing-masing tokohnya. Padahal teks Al-Qur’an menunjukkan kebaikan dua gadis itu yang tidak mau bergaul bersama-sama dengan para penggrmbala, juga kebaikan ayah keduanya.

Sang ayah mengutus putrinya di belakang Musa As agar terlihat kebaikan yang dilakukan Musa pada dua orang putrinya, juga wibawa Musa As ketika membantu dua gadis itu untuk memberi minum kambing keduanya, meskipun Musa kala itu orang asing bgi penduduk Madyan. Hal lainnya adalah bagaimana Musa As selalu bergantung padanya ketika megatakan:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

 “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Q.S AL-Qashash: 24)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Pemotongan Hewan Idul Adha di ABATA

Dalam rangka memperingati Idul Adha, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya SD Exiss Abata rutin melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan kurban. Tahun ini hewan yang dikurbankan sebanyak 5 sapi dan 2 1 kambing sumbangsih dari para donatur. Ada pelajaran penting yang perlu diingat tentang ibadah kurban. Benar, Idul Adha adalah penghargaan Allah atas kisah pengorbanan seorang ayah untuk merelakan anaknya sebagai bentuk penghambaannya kepada Rabbnya. Karena sejatinya keimanan tidak lagi diukur dari logika manusia. Bahwa perintah Rabbnya adalah satu hal yang prioritasnya didahulukan sebelum yang lainnya. Nabi Ibrahim adalah ayah yang berhati besar, direlakannya sang anak Ismail untuk dikurbankan sebagaimana wahyu yang diperoleh Ibrahim lewat mimpinya.

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (99) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)

Keteguhan seorang Ibrahim rupanya diikuti sang anak, Ismail dengan sukarela menyerahkan dirinya untuk dikurbankan sebagaimana perintah Allah kepada ayahnya. Ayah dan anak ini membuktikan bahwa ada cinta yang lebih tinggi dari kasih sayang seorang ayah kepada anaknya yakni cinta keduanya kepada Rabbnya. Bahwa keikhlasan keduanya diabayar tunai oleh Allah Swt dengan menghadiahkan hewan kurban sebagai ganti dari nyawa Ismail. Tidak hanya sampai disitu, Allah jadikan kisah keduanya sebagai syariat yang rutin dilakukan setiap tahun bagi umat islam di seluruh penjuru negeri sebagai pengingat kita betapa besar ujian yang harus dijalankan Nabi Ibrahim dan betapa relanya seorang Ismail mengikuti perintah wahyu ayahnya.

     

Bertempat di lapangan SD Exiss Abata pemotongan hewan kurban tahun ini yang diikuti oleh seluruh pegawai LPI Abata berjalan dengan lancar. Kupon yang dibagikan kepada masyarakat sekitar Abata berjumlah 1000 kupon, dengan harapan keberadaan LPI Abata mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Akhirnya Idul Adha mengajarkan kita bahwa keikhlasan artinya merelakan segala hal dengan hanya mengharap ridho Allah tanpa perlu pertimbangan akal dan hawa nafsu. Bahwa ada balasan yang setimpal dari Allah atas setiap keikhlasan.

Selamat Idul Adha

Peningkatan kualitas diri melalui kegiatan pelatihan pegawai

Kualitas diri seseorang dapat terlihat ada pikiran, tutur kata dan tindakannya. Kualitas diri juga berkaitan dengan kesungguhan seseorang serta tidak mudah meremehkan sesuatu. Hal yang menurutnya kecil, bisa berarti besar bagi orang lain. Kualitas diri bukan hanya tentang seberapa tinggi gelar seseorang namun juga tentang manfaat apa yang di dapat orang lain dengan keberadaan diri kita. Kualitas diri adalah tentang memanfaatkan potensi diri secara optimal sehingga menghasilkan kemanfaatan bagi sekitar. Kesadaran akan peningkatan kualitas diri adalah bentuk rasa syukur kita sebagai seorang muslim yang sejatinya dituntut untuk melakukan segala hal secara optimal. Bukan tentang banyak sedikitnya namun kebermanfaatannya. Bukan tentang kuantitas namun kualitasnya.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Q.S Al-Mulk:2)

Menyadari akan pentingnya peningkatan potensi diri inilah Manajemen LPI Abata rutin menyelenggarakan acara pelatihan setiap tahunnya. Tahun ajaran baru 2019/2020 ini diselenggarakan beberapa pelatihan selama sepekan diantaranya:

  • Pelatihan Bahasa Indonesia
  • Pelatihan Ummi Foundation
  • Pelatihan 5R
  • Pelatihan penanganan anak

Pelatihan penanganan anak ini diselenggarakan selama dua hari dengan fokus penanganan masalah yang berbeda. Tema pelatihan yang pertama adalah “Kelas berbagi dan edukasi tahapan belajar dan penanganan anak spesial di sekolah” dengan pemateri Bapak Imam Setiawan, ST, S.Pd. Pelatihan ini membahas tentang bagaimana mengajar, mendidika dan menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Hal pertama kali yang dilakukan ketika menangani siswa ABK adalah dengan mengidentifikasi ciri, karakteristik dan penyebabnya sehingga memudahkan guru untuk membuat rencana pendidikan yang sesuai bagi siswa ABK tersebut. Perencanaan pendidikan bagi siswa ABK berguna untuk menentukan metode belajar serta media pembelajaran yang cocok untuknya.

Pelatihan kedua bertema “How to be a good shadow teacher” dengan pemateri Ibu Asih Nur Imda. Membahas tentang shadow teacher (guru pendamping). Guru pendamping yang dimaksudkan disini adalah pendidik yang bekerja di bawah arahan guru untuk membantu pemberian layanan bagi siswa berkebutuhan khusus. Tugas dan tanggung jawab guru pendamping. Dijelaskan pula tentang ABK yang biasanya ditemui di sekolah diantaranya: ASD (AUtism Spectrum Disorder), ADHD (Attention Deficit Hypractive Disorder), ID (Intelectual & Developmet Disability), SLD (Specific Learning Disorder). Setelah proses identifikasi maka setidaknya dapat  mempermudah menentukan penanganan akademik dan perilaku yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan siswa ABK.

 

 

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part IV)

Bila Al-Qur’an itu karya Muhammad Saw seperti yang dituduhkan orang-orang Yahudi, tentu Al-Qur’a tidak akan menyebutakan bahwa Allah telah menjadikan mereka sebagai pemimpin umat manusia dan merekalah yang akan mewarisi bumi, karena mereka yang jelas-jelas memperlihatkan permusuhan semenjak munculnya dakwah Nabi Muhammad Saw. Fakta ketiga adalah bahwa teks Taurat tidak menyebutkan faktor yang menyebabkan Fir’aun membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan dari Bani Israel dan membiarkan bayi perempuan. Padahal, di sisi lain, Al-Qur’an justru menyebutkan faktor ini dalam firman-Nya:

الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

“Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu” (Q.S Al-Qashash: 6)

Nabi Saw menjelaskan pada para sahabatnya ihwal apa yang ditakutkan Fir’aun dan kaumnya. Ini bermula ketika rahib dan ahli nujum menginformasikan kepada Fir’aun bahwa kerajaannya akan hilang di tangan seorang pemuda dari Bani Israel. Ia pun memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang terlahir. Ayat di atas juga memperkuat fakta bahwa meskipun manusia sudah berusaha mati-matian untuk menolak sesuatu yang tidak diinginkannya, tetapi takdir Allah Swt tetap terlaksana. Meskipun mereka berupaya sedemikian rupa, tetap saja upaya Allah jauh lebih hebat.

Allah Swt berfirman:

فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ

.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (Q.S Al-Qashash: 8)

Fakta keempata adalah kerancuan yang sanagat jelas yang terdapat pada teks Taurat terkait dengan cara prosesi penyelamatan Musa As dari kematian ketika ibunya memutuskan untuk menyembunyikan si bayi di rumahnya pada saat melihat bayinya itu berwajah tampan. Setelah mengkhawatirkan bayinya, sang ibu memerintahkan saudara perempuan Musa untuk meletakkan Musa ke dalam peti di antara pepohonan Alfa di tepi sungai yang mengarah ke istana Fir’aun. Saudara Musa itu mengawasi dari jauh. Setelah putri Fir’aun menemukan dan membuka peti itu, ternyata di dalamnya terdapat seorang anak kecil, saudara perempuan Musa menawarkan diri untuk menunjukkan pada wanita yang bisa menyusui bayi itu. Putri Fir’aun pun langsung setuju, padahal belum dikomunikasikan dengan ayahnya, Fir’aun.

Kita mungkin bisa menguak kerancuan pada skenario ini dengan mudah. Kerancuan pertama, bahwa seorang ibu pasti akan mengkhawatirkan anaknya, baik bayinya itu tampan atau tidak. Kerancuan kedua adalah bahwa saudara perempuan Musa As yang meletakkan sendiri saudaranya di samping istana Sang pembunuh terbesar, Fir’aun. Yang palng mungkin adalah saudara Musa meletakkan Musa di letak yang jauh dari istana Fir’aun. Mungkin saja anak lelaki itu jatuh ke tangan orang yang hatinya lebih lembut dari Fir’aun.

Kerancuan ketiga adalah tidak seharusnya peti dicat dan di aspal, sementara saudaranya meletakkannya di dataran di sampig isana, bila dia mampu menjangkau tanah terlarang istana semudah itu. Kerancuan yang keempat adalah bahwa saudara Musa yang terus mengawasi peti itu dari jauh. Namun, teks secara tiba-tiba memunculkannya sedang berdiri di hadapan putri Fir’aun. Sesaat setelah ditemukannya anak lelaki itu, ia segera mengajukan wanita yang bisa menyusui anak itu. Ini mengundang kecurigaan bahwa saudara perempuan Musalah yang meletakkan bayi Musa di tempat itu. Bayi itulah yang menghendaki saudara perempuannya itu ketika Fir’aun akan membunuh bayi itu. Skenario kisah yang terdapat pada Al-Qur’an sudah bisa dipastikan bahwa kita tidak mungkin bisa menemukan cacat apapun. Di Al-Qur’an ibu Musalah yang meletakkan bayinya di peti dan melemparkannya ke sungai setelah ia mengkhawatikan anaknya akan dibunuh. Ini sesuai dengan firman Allah Swt:

اِذۡ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اُمِّكَ مَا يُوۡحٰٓى ۙ‏ ﴿۳۸﴾ اَنِ اقۡذِفِيۡهِ فِى التَّابُوۡتِ فَاقۡذِفِيۡهِ فِى الۡيَمِّ فَلۡيُلۡقِهِ الۡيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَاۡخُذۡهُ عَدُوٌّ لِّىۡ وَعَدُوٌّ لَّهٗ‌ ؕ وَاَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَـبَّةً مِّنِّىۡ وَلِتُصۡنَعَ عَلٰى عَيۡنِىۡ ۘ‏ ﴿۳۹﴾

“yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku” (Q.S Thaha; 38-39)

Ibu Musa memang yang meminta anak perempuannya untuk mengawasi dari jauh tanpa ada seorang pun yang tahu pergerakan peti di sungai, agar ia tahu apa yang akan terjadi pada anaknya. Anak perempuan ini mengetahui bahwa peti itu tertambat dan tetap berada di tepi sungai di depan istana Fir’aaun. Keluarga Fir’aun pun menemukannya dan membawanya ke istana agar mereka menemukan anak asuhan yang dipastikan merupakan anak keturunan Bani Israel. Allah Swt juga telah menumbuhkan cinta pada Musa, sehingga istri Fir’aun juga menyukai bayi itu. jadi, istri Fir’aun bukan anak perempuannya seperti yang disebutkan dalam Taurat.

Karena tidak rasional anak perempuan mengadopsi anak laki-laki, sementara dia masih tinggal di rumah ayahnya (belum menikah). Istri Fir’aun membujuk suaminya untuk tidak membunuh anak lelaki Ibrani ini setelah ia menggendongnya.si permaisuri juga membujuk suaminya agar mau mengngkat Musa menjadi anak, tanpa diketahui bahwa ia orang Ibrani. Fir’aun menyetujui meskipun terpaksa. Padahal, sang tiran merasa mungkin aja anak inilah yang akan memusnahkan kerajaannya. Namun pasti Allah akan memenangkan apa yang dikehendaki-Nya. Meski banya orang tidak mengetahuinya.

Agar Allah bisa mengembalikan bayi ini pada ibunya, seperti yang sudah dijanjikan-Nya, bayi ini menolak disusui wanita-wanita penyusu yang didatangkan istri Fir’aun. Setelah keluarga Fir’aun melakukan pencarian yang melelahkan keluarga ihwal wanita penyusu yang baru, saudara perempuan Musa menunjukkan pada mereka ibu yang bisa menyusui Musa. Bayi itu mau disusui wanita yang merupakan ibunya sendiri, mereka pun mengembalikannya pada ibu Musaagar ia menjadi wanita yang bertugas menyusuinya.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

1 2 3 9