Category Archives: Blogs

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part V)

Fakta keenam adalah bahwa teks Taurat menjadikan Musa As sebagai seorang criminal professional yang terlihat dari caranya membunuh lelaki Mesir ketika ia mendapati lelaki itu bersengketa dengan orang Israel. Musa As menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah yakin tidak ada orang yang menyaksikannya, ia pun membunuh lelaki Mesir itu dan menguburkannya di gundukan tanah atau pasir. Itu artinya Musa membunuh lelaki Mesir dengan sepenuh hati, seperti yang mereka katakan. Teks Al-Qur’an justru menyebutkan bahwa Musa As hanya membantu orang Israel dalam sengketanya dengan orang Mesir. Ia hanya memukul orang Mesir itu dengan bogem mentahnya, tanpa berniat untuk membunuhnya. Namu, ternyata bogem mentahnya itu terlalu kuat sehingga menyebabkan kematian lelaki Mesir. Buktinya Musa As segera mengatakan, “Perilaku itu merupakan perilaku setan.” Ia pun memohon ampun kepada Allah atau dosa itu yang dilakukannya tanpa sengaja. Allah pun mengampuninya. Mungkin ada yang mengatakan bahwa paara Fir’aun membunuh anak-anak Bani Israel. Mereka juga mengenakan siksa terpedih pada orang Israel. Karena itu, tidak ada salahnya bila Musa As atau yang lain membunuh orang Mesir yang berada di kekuasaan mereka. Namun, ini omongan manusia, sementara bila merujuk pada petuntuk Tuhan semesta alam, maka orang Mesir yang tidak bersalah itu tidak boleh dibunuh lantaran kejahatan Fir’aun yang zalim. Ia hanya boleh dibunuh bila lelaki Mesir itu bersama Fir’aun di medan perang. Teks Taurat menyebutkan bahwa dua lelaki yang sedang bertikai itu pada hari berikutnya ternyata adalah orang Bani Israel.

Saat berjalan-jalan di hari kedua, Musa As mendapati dua orang lelaki Ibrani yang sedang brkelahi. Ia berkata pada orang yang bersalah, “Mengapa kamu memukul kawanmu?” orang itu menjawab, “Siapa yang menjadikan kamu pemimpin dan hakim bagi kita? Apakah kamu memikirkan pembunuhanu seperti yang kamu lakukan pada orang Mesir?” Sementar itu, teks Al-Qur’an menyebutkan bahwa satunya orang Mesir, apalagi bila melihat tidak ada keuntungan apapun bagi Musa As untuk membantu seorang Israel melawan orang Israel lainnya. Ini seperti yang terdapat dalam firman Allah Swt berikut:

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ ۚ قَالَ لَهُ مُوسَىٰ إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ () فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَا مُوسَىٰ أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ ۖ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ0

Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)”. Karenanya, di dalam kota, Musa menjadi takut kepada Fir’aun, ia mencari tahu tentang berita yang diperbincangkan oleh masyarakat terkait dirinya dan korban yang dibunuhnya. Lalu ia melihat temannya yang kemarin beradu senjata dengan orang lain dari suku Qibthi dan meminta pertolongan darinya, maka Musa berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu itu benar-benar banyak berbuat penyimpangan dan nyata kesesatannya.” Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”. Maka tatkala Musa hendak memukul orang Qibthi itu, ia berkata “Apakah kamu akan membunuhku sebagaimana kamu telah membunuh seseorang kemarin? Kamu itu tidak ingin kecuali menjadi seorang yang melampaui batas di muka bumi. Kamu tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mendamaikan di anatara manusia.” (Q.S AL-Qashash: 18-19)

Fakta ketujuh adalah bahwa teks Taurat menyebut bahwa tokoh Madyan mempunyai tujuh putri. Ketujuh putrinya itu pergi semua ke Sumur Madyan untuk menimba minuman kambing ayahnya. Setelah mereka memnuhi timba dengan air, para penggembala datang untuk mendusir mereka. Musa As yang sedang duduk-duduk di dekat sumur itu menolong mereka dan memberikan minuman pada kambing mereka. Kerancuan – kerancuan yang terdapat di Taurat sangat jelas sekali. Sangat tidak masuk akal bila semua putri tokoh Madyan untuk memberi minum kambing ayah mereka. Semestinya cukup satu, dua, atau maksimal tiga putrinya yang melakukan kegiatan itu. Sisanya membantu ayah mereka yang sudah tua renta, dan mengurus keperluan rumah. Teks ini juga menunjukkan bahwa putri-putri sang tokoh itu benar-benar asing (dengan situasi sumur). Padahal, ini bukanlah kali pertama mereka melakukan kegiatan itu.

Seharusnya para penggembala itu mengusir mereka sebelumnya. aneh bila putri-putri itu mengulangi kesalahan seiap hari. Mereka memenuhi timba, kemudian para penggembala mengusir mereka, kemudian mereka baru mengisi timba itu setelah para penggembala keluar dari sumur.di sisi lain, teks Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika sampai di Sumur Madyan, Musa As mendapati para penggembala sedang memberi minum kambing mereka. Ia melihat dua orang gadis di dekat sumur itu yang sedang berusaha keras menahan kambing mereka agar tidak sampai di sumur. Kambing yang kehausan setelah sehari digembalakan tidak terkontrol lagi dan tidak bisa dilarang mendekati air. Pemandangan dua gadis yang kesullitan menghadapi kambing agar tidak mendekati air, telah menarik perhatian Musa As. Ia pun menanyakan apa yang sedang terjadi. Keduanya menjawab bahwa mereka tidak bisa memberi minum pada kambing mereka, sebelum para penggembala itu pergi dari sumur.

Mereka juga menceritakan bahwa yang menyuruh mereka untuk menggembalakan kambing adalah ayah mereka yang sudah renta. Sang ayah tidak mungkin bisa menggembalakan dan memberi minum kambing sendiri. Nabi Musa As pun memberikan minum kambing-kambing ituuntuk membantu kedua gadis tersebut. Faktor yang menyebabkan dua gadis itu tidak mau memberi minum pada kambing saat masih ada para penggembala bukan lantaran keduanya takut kalau-kalau akan diusir. Tidak ada untungnya bagi para penggembala itu mengusir keduanya dari sumr, karena semua kambing di Madyan minum dari tempat itu.

Namun, yang menjadi faktor adalah kedua gadis itu tidak menyukai berama-sama dan berselisih pendapat dengan para penggembala yang berlainan jenis kelamin. Semua itu demi kebaikan keduanya. Keduanya juga malu pada para penggembala. Rasa malu ini bisa dilihat saat salah satu di antara keduana memanggil Musa As untuk diajak ke rumah ayahnya yang akan memberi upah untuk apa yang sudah dilakukan Musa As. Wanita itu berjalan dengan malu saat menuju kea rah nabi Musa. Fakta kedelapan adalah bahwa teks Taurat berlawanan dengan teks Al-Qur’an. Taurat tidak memberikan Batasan waktu tinggal Musa As di Madyan. Teks Taurat juga tidak menyebutkan bahwa Musa As telah menceritakan pada tokoh Madyan ihwal apa yang terjadi padanya saat di Mesir. Taurat juga tidak menceritakan bahwa ia daang ke Madyan karena melarikan diri dari acaman Fir’aun, lalu sang tokkoh Madyan ini menenangkannya bahwa dia sekarang di tempat yang aman.

Setelah tokoh Madyan itu tahu bahwa Musa As adalah lelaki yang baik, disamping kuat dan terpercaya seerti yang disaksikan oleh putrinya, ia menawarkan Musa As untuk menikahi salah satu putrinya sebagai pengganti Musa yang sudah bekerja selama delapan tahun. Bahwa akhirnya Musa As bekerja selama sepuluh tahun , itu merupakan budi baik Musa As. Seperti kita sudah singgung sebelumnya, teks Taurat menampilkan urutan peristiwa tanpa menyelipkan karakteristik keimanan pada masing-masing tokohnya. Padahal teks Al-Qur’an menunjukkan kebaikan dua gadis itu yang tidak mau bergaul bersama-sama dengan para penggrmbala, juga kebaikan ayah keduanya.

Sang ayah mengutus putrinya di belakang Musa As agar terlihat kebaikan yang dilakukan Musa pada dua orang putrinya, juga wibawa Musa As ketika membantu dua gadis itu untuk memberi minum kambing keduanya, meskipun Musa kala itu orang asing bgi penduduk Madyan. Hal lainnya adalah bagaimana Musa As selalu bergantung padanya ketika megatakan:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

 “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Q.S AL-Qashash: 24)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Pemotongan Hewan Idul Adha di ABATA

Dalam rangka memperingati Idul Adha, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya SD Exiss Abata rutin melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan kurban. Tahun ini hewan yang dikurbankan sebanyak 5 sapi dan 2 1 kambing sumbangsih dari para donatur. Ada pelajaran penting yang perlu diingat tentang ibadah kurban. Benar, Idul Adha adalah penghargaan Allah atas kisah pengorbanan seorang ayah untuk merelakan anaknya sebagai bentuk penghambaannya kepada Rabbnya. Karena sejatinya keimanan tidak lagi diukur dari logika manusia. Bahwa perintah Rabbnya adalah satu hal yang prioritasnya didahulukan sebelum yang lainnya. Nabi Ibrahim adalah ayah yang berhati besar, direlakannya sang anak Ismail untuk dikurbankan sebagaimana wahyu yang diperoleh Ibrahim lewat mimpinya.

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (99) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)

Keteguhan seorang Ibrahim rupanya diikuti sang anak, Ismail dengan sukarela menyerahkan dirinya untuk dikurbankan sebagaimana perintah Allah kepada ayahnya. Ayah dan anak ini membuktikan bahwa ada cinta yang lebih tinggi dari kasih sayang seorang ayah kepada anaknya yakni cinta keduanya kepada Rabbnya. Bahwa keikhlasan keduanya diabayar tunai oleh Allah Swt dengan menghadiahkan hewan kurban sebagai ganti dari nyawa Ismail. Tidak hanya sampai disitu, Allah jadikan kisah keduanya sebagai syariat yang rutin dilakukan setiap tahun bagi umat islam di seluruh penjuru negeri sebagai pengingat kita betapa besar ujian yang harus dijalankan Nabi Ibrahim dan betapa relanya seorang Ismail mengikuti perintah wahyu ayahnya.

     

Bertempat di lapangan SD Exiss Abata pemotongan hewan kurban tahun ini yang diikuti oleh seluruh pegawai LPI Abata berjalan dengan lancar. Kupon yang dibagikan kepada masyarakat sekitar Abata berjumlah 1000 kupon, dengan harapan keberadaan LPI Abata mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Akhirnya Idul Adha mengajarkan kita bahwa keikhlasan artinya merelakan segala hal dengan hanya mengharap ridho Allah tanpa perlu pertimbangan akal dan hawa nafsu. Bahwa ada balasan yang setimpal dari Allah atas setiap keikhlasan.

Selamat Idul Adha

Peningkatan kualitas diri melalui kegiatan pelatihan pegawai

Kualitas diri seseorang dapat terlihat ada pikiran, tutur kata dan tindakannya. Kualitas diri juga berkaitan dengan kesungguhan seseorang serta tidak mudah meremehkan sesuatu. Hal yang menurutnya kecil, bisa berarti besar bagi orang lain. Kualitas diri bukan hanya tentang seberapa tinggi gelar seseorang namun juga tentang manfaat apa yang di dapat orang lain dengan keberadaan diri kita. Kualitas diri adalah tentang memanfaatkan potensi diri secara optimal sehingga menghasilkan kemanfaatan bagi sekitar. Kesadaran akan peningkatan kualitas diri adalah bentuk rasa syukur kita sebagai seorang muslim yang sejatinya dituntut untuk melakukan segala hal secara optimal. Bukan tentang banyak sedikitnya namun kebermanfaatannya. Bukan tentang kuantitas namun kualitasnya.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Q.S Al-Mulk:2)

Menyadari akan pentingnya peningkatan potensi diri inilah Manajemen LPI Abata rutin menyelenggarakan acara pelatihan setiap tahunnya. Tahun ajaran baru 2019/2020 ini diselenggarakan beberapa pelatihan selama sepekan diantaranya:

  • Pelatihan Bahasa Indonesia
  • Pelatihan Ummi Foundation
  • Pelatihan 5R
  • Pelatihan penanganan anak

Pelatihan penanganan anak ini diselenggarakan selama dua hari dengan fokus penanganan masalah yang berbeda. Tema pelatihan yang pertama adalah “Kelas berbagi dan edukasi tahapan belajar dan penanganan anak spesial di sekolah” dengan pemateri Bapak Imam Setiawan, ST, S.Pd. Pelatihan ini membahas tentang bagaimana mengajar, mendidika dan menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Hal pertama kali yang dilakukan ketika menangani siswa ABK adalah dengan mengidentifikasi ciri, karakteristik dan penyebabnya sehingga memudahkan guru untuk membuat rencana pendidikan yang sesuai bagi siswa ABK tersebut. Perencanaan pendidikan bagi siswa ABK berguna untuk menentukan metode belajar serta media pembelajaran yang cocok untuknya.

Pelatihan kedua bertema “How to be a good shadow teacher” dengan pemateri Ibu Asih Nur Imda. Membahas tentang shadow teacher (guru pendamping). Guru pendamping yang dimaksudkan disini adalah pendidik yang bekerja di bawah arahan guru untuk membantu pemberian layanan bagi siswa berkebutuhan khusus. Tugas dan tanggung jawab guru pendamping. Dijelaskan pula tentang ABK yang biasanya ditemui di sekolah diantaranya: ASD (AUtism Spectrum Disorder), ADHD (Attention Deficit Hypractive Disorder), ID (Intelectual & Developmet Disability), SLD (Specific Learning Disorder). Setelah proses identifikasi maka setidaknya dapat  mempermudah menentukan penanganan akademik dan perilaku yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan siswa ABK.

 

 

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part IV)

Bila Al-Qur’an itu karya Muhammad Saw seperti yang dituduhkan orang-orang Yahudi, tentu Al-Qur’a tidak akan menyebutakan bahwa Allah telah menjadikan mereka sebagai pemimpin umat manusia dan merekalah yang akan mewarisi bumi, karena mereka yang jelas-jelas memperlihatkan permusuhan semenjak munculnya dakwah Nabi Muhammad Saw. Fakta ketiga adalah bahwa teks Taurat tidak menyebutkan faktor yang menyebabkan Fir’aun membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan dari Bani Israel dan membiarkan bayi perempuan. Padahal, di sisi lain, Al-Qur’an justru menyebutkan faktor ini dalam firman-Nya:

الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

“Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu” (Q.S Al-Qashash: 6)

Nabi Saw menjelaskan pada para sahabatnya ihwal apa yang ditakutkan Fir’aun dan kaumnya. Ini bermula ketika rahib dan ahli nujum menginformasikan kepada Fir’aun bahwa kerajaannya akan hilang di tangan seorang pemuda dari Bani Israel. Ia pun memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang terlahir. Ayat di atas juga memperkuat fakta bahwa meskipun manusia sudah berusaha mati-matian untuk menolak sesuatu yang tidak diinginkannya, tetapi takdir Allah Swt tetap terlaksana. Meskipun mereka berupaya sedemikian rupa, tetap saja upaya Allah jauh lebih hebat.

Allah Swt berfirman:

فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ

.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (Q.S Al-Qashash: 8)

Fakta keempata adalah kerancuan yang sanagat jelas yang terdapat pada teks Taurat terkait dengan cara prosesi penyelamatan Musa As dari kematian ketika ibunya memutuskan untuk menyembunyikan si bayi di rumahnya pada saat melihat bayinya itu berwajah tampan. Setelah mengkhawatirkan bayinya, sang ibu memerintahkan saudara perempuan Musa untuk meletakkan Musa ke dalam peti di antara pepohonan Alfa di tepi sungai yang mengarah ke istana Fir’aun. Saudara Musa itu mengawasi dari jauh. Setelah putri Fir’aun menemukan dan membuka peti itu, ternyata di dalamnya terdapat seorang anak kecil, saudara perempuan Musa menawarkan diri untuk menunjukkan pada wanita yang bisa menyusui bayi itu. Putri Fir’aun pun langsung setuju, padahal belum dikomunikasikan dengan ayahnya, Fir’aun.

Kita mungkin bisa menguak kerancuan pada skenario ini dengan mudah. Kerancuan pertama, bahwa seorang ibu pasti akan mengkhawatirkan anaknya, baik bayinya itu tampan atau tidak. Kerancuan kedua adalah bahwa saudara perempuan Musa As yang meletakkan sendiri saudaranya di samping istana Sang pembunuh terbesar, Fir’aun. Yang palng mungkin adalah saudara Musa meletakkan Musa di letak yang jauh dari istana Fir’aun. Mungkin saja anak lelaki itu jatuh ke tangan orang yang hatinya lebih lembut dari Fir’aun.

Kerancuan ketiga adalah tidak seharusnya peti dicat dan di aspal, sementara saudaranya meletakkannya di dataran di sampig isana, bila dia mampu menjangkau tanah terlarang istana semudah itu. Kerancuan yang keempat adalah bahwa saudara Musa yang terus mengawasi peti itu dari jauh. Namun, teks secara tiba-tiba memunculkannya sedang berdiri di hadapan putri Fir’aun. Sesaat setelah ditemukannya anak lelaki itu, ia segera mengajukan wanita yang bisa menyusui anak itu. Ini mengundang kecurigaan bahwa saudara perempuan Musalah yang meletakkan bayi Musa di tempat itu. Bayi itulah yang menghendaki saudara perempuannya itu ketika Fir’aun akan membunuh bayi itu. Skenario kisah yang terdapat pada Al-Qur’an sudah bisa dipastikan bahwa kita tidak mungkin bisa menemukan cacat apapun. Di Al-Qur’an ibu Musalah yang meletakkan bayinya di peti dan melemparkannya ke sungai setelah ia mengkhawatikan anaknya akan dibunuh. Ini sesuai dengan firman Allah Swt:

اِذۡ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اُمِّكَ مَا يُوۡحٰٓى ۙ‏ ﴿۳۸﴾ اَنِ اقۡذِفِيۡهِ فِى التَّابُوۡتِ فَاقۡذِفِيۡهِ فِى الۡيَمِّ فَلۡيُلۡقِهِ الۡيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَاۡخُذۡهُ عَدُوٌّ لِّىۡ وَعَدُوٌّ لَّهٗ‌ ؕ وَاَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَـبَّةً مِّنِّىۡ وَلِتُصۡنَعَ عَلٰى عَيۡنِىۡ ۘ‏ ﴿۳۹﴾

“yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku” (Q.S Thaha; 38-39)

Ibu Musa memang yang meminta anak perempuannya untuk mengawasi dari jauh tanpa ada seorang pun yang tahu pergerakan peti di sungai, agar ia tahu apa yang akan terjadi pada anaknya. Anak perempuan ini mengetahui bahwa peti itu tertambat dan tetap berada di tepi sungai di depan istana Fir’aaun. Keluarga Fir’aun pun menemukannya dan membawanya ke istana agar mereka menemukan anak asuhan yang dipastikan merupakan anak keturunan Bani Israel. Allah Swt juga telah menumbuhkan cinta pada Musa, sehingga istri Fir’aun juga menyukai bayi itu. jadi, istri Fir’aun bukan anak perempuannya seperti yang disebutkan dalam Taurat.

Karena tidak rasional anak perempuan mengadopsi anak laki-laki, sementara dia masih tinggal di rumah ayahnya (belum menikah). Istri Fir’aun membujuk suaminya untuk tidak membunuh anak lelaki Ibrani ini setelah ia menggendongnya.si permaisuri juga membujuk suaminya agar mau mengngkat Musa menjadi anak, tanpa diketahui bahwa ia orang Ibrani. Fir’aun menyetujui meskipun terpaksa. Padahal, sang tiran merasa mungkin aja anak inilah yang akan memusnahkan kerajaannya. Namun pasti Allah akan memenangkan apa yang dikehendaki-Nya. Meski banya orang tidak mengetahuinya.

Agar Allah bisa mengembalikan bayi ini pada ibunya, seperti yang sudah dijanjikan-Nya, bayi ini menolak disusui wanita-wanita penyusu yang didatangkan istri Fir’aun. Setelah keluarga Fir’aun melakukan pencarian yang melelahkan keluarga ihwal wanita penyusu yang baru, saudara perempuan Musa menunjukkan pada mereka ibu yang bisa menyusui Musa. Bayi itu mau disusui wanita yang merupakan ibunya sendiri, mereka pun mengembalikannya pada ibu Musaagar ia menjadi wanita yang bertugas menyusuinya.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part III)

Orang yang membaca teks Taurat dan teks Al-Qur’an akan segera melihat perbedaan yang mencolok antara kedua teks ini bila di titik dari penyampai teks ini dan tingkat ketinggian bahwa teks. Ketika membaca teks Taurat, maka akan ditemukan bahwa yang menulis teks itu adalah manusia. Kelemahan maknanya sangat jelas terlihat mulai dari kalimat pertama: “Ada seorang lelaki yang pergi dari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki.” Kalimat ini sangat lucu. Sedikit sekali kandungan makna di dalamnya. Padahal, sebagian buku yang ditulis oleh manusia biasa tak jarang lebih bisa menampilkan teks lebih mendalam daripada teks di atas dalam kekuatan kandungan dan ketinggian bahasanya. Ketika membaca teks Al-Qur’an, kita akan tahu bahwa penyampainya bukan manusia. Kita juga bisa membandingkan firman Allah Swt berikut dengan awal teks di atas:

طٰسۤمّۤ ( ) تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ ( ) نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَّبَاِ مُوْسٰى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ( ) اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ( ) وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( )

“Tha Sin Mim. Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” (Q.S Al-Qashash: 1-5)

Berikut kita juga akan membandingkan fakta yang disampaikan pada kedua teks tersebut agar Pembaca semakin jelas bahwa teks Al-Qur’an lebih sesuai teks Taurat. Allah Swt Maha benar ketika berfirman sebagai berikut:

وَمَنْ اَصْدَقُ مِنَ اللّٰهِ قِيْلًا

“Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (Q.S An-Nisa: 122)

Fakta pertama terkait bahwa kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada umat manusia berfungsi untuk menunjukkan keberadaanNya. Kitab-kitab itu juga berfungsi untuk mengenalkan mereka akan sifat-sifat Tuhan, juga bahwa segala bagian di ala mini hanya bisa terjadi dengan kehendak-Nya saja. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seizinNya saja.tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seizin-Nya. Saat mengkaji teks kisah ini di Taurat, kita akan menemukan bahwa kisah itu sama sekali tidak menyebut nama Allah. Kisah itu hanya meyajikan urutan peristiwa yang dipenuhi kerancuan, di samping ditulis dengan bahasa yang rendahan.

Bandingkan dengan kisah ini yang terdapat dalam Al-qur’an yang selalu menyebut nama Allah. Menjadi jelas kiranya bahwa tangan Allah lah yang menggerakkan peristiwa dalam kisah ini. Dengan begitu, kisah ini semakin mengokohkan prinsip keimanan pada pembacanaya. Allah lah yang mewahyukan kepada ibu Nabi Musa As untuk melemparkan Musa ke sungai. Allah Swt pula yang menjanjikan pada sang ibu. Dia juga yang menjadikan peti yang menjadi tempat Musa As tetap bisa mengalir di tepi sungai yang menghampiri istana Fir’aun.

Dia juga yang menumbuhkan rasa cinta istri Fir’aun pada Musa agar Fir’aun tidak membunuhnya. Dia pula yang mengharamkan padanya susuan yang lain. Tujuannya agar hanya ibunya saja yang meyusuinya. Kelebihan lain juga bisa dilihat pada urutan manusia yang lain. Teks Taurat tidak pernah memberi catatan terkait peristiwa-peristiwa yang ada, padahal kita mendapat teks Al-qur’an membangun jalinan peristiwa dalam kisah itu. Al-qur’an memuji amal soleh dan mencela amal buruk. Ketika Musa As membunuh lelaki Mesir, teks Taurat tidak menyebut bahwa tindakan itu adalah perilaku salah. Padahal, kita mendapati teks Al-qur’an tidak mengakui perilaku seperti itu. Ini bisa dilihat dari peristiwa Musa As atas perilakunya dan permintaanya atas ampunan Allah.

Fakta kedua terkait dengan orang yang menulis teks Taurat itu. Ia pastilah seorang manusia, karena fokus perhatiannya tercurah pada penyebutan ayah Musa dan ibunya yang berasal dari kabilah Lawi yang menganut agama Yahudi.”Ada seorang lelaki yang pergidari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki.” Ia juga menjelaskan ciri-ciri peti yang menjadi temat Musa As. “Pada saat ia tahu tidak mungkin lagi untuk menyembunyikannya setelah itu, ia mengambil keranjang dari papyrus untuk anaknya. Ia pun mencat keranjang itu dengan aspal dan tir. Ia pun meletakkan anaknya di dalam keranjang itu.”

Sementara itu, teks kisah yang ada di Al-qur’an pasti ditulis oleh Dzat yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu. Dia memulai kisah dengan menyebut atmosfir umum dan situasi yang mendukung kisah ini. Dia menyebut kondisi yang melingkupi Bani Israil sebelum kelahiran tokoh utama kisah ini Musa As, Fir’aun berkuasa atas mereka dan berusaha untuk merendahkan mereka. Ia membunuh semua anak lai-laki dan membiarkan anak perempuan. Allah Swt berfirman:

اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

“Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S Al-Qashash:4)

Teks itu menyebut bahwa Allah hendak menganugerahi Bani Israil. Allah menyelamatkan mereka dari kehinaan ini dan menjadikan mereka sebagai pemimpin umat manusia. Allah Swt berfirman:

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( ) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka.” (Q.S Al-Qashash: 5-6)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part II)

Pada saat ia tahu tidak mungkin lagi untuk menembunyikannya. Setelah itu, ia mengambil keranjang dari papirus untuk anaknya. Ia pun mencat keranajng itu dengan aspal. Ia pun meletakkan anaknya di dalam keranjang itu. Ia meletakkan anaknya di antara alfa di tepi sungai. Saudara anaknya melihat dari jauh untuk mengetahui apa yang akan dilakukan pada anak itu. Putri Fir’aun turun ke sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai. Sang putri lalu melihat keranjang di antara alfa. Ia pun menyuruh budaknya untuk mengambil keranjang itu. Putri Fir’aun turun ke sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai. Sang putri lalu melihat keranjang di antara alfa. Ia pun menyuruh budaknya untuk mengambil kranjang itu. Ketika ia membuka keranjang itu, ia melihat bayi laki-laki yang menangis. Melihat itu, ia pun iba. Ia berkata, “Ini pasti anak orang Ibrani”. Saudara perempuan bayi itu berkata pada putri Fir’aun, “Apakah saya diizinkan mencari wanita Ibrani yang bisa menyusui anak kecil itu.” Putri Fir’aun pun berkata padanya, “Pergilah!” Saudara bayi itu pun pergi untuk memanggil ibu bayi itu. Putri Fir’aun pun berkata  pada wanita itu, “Bawa anak ini dan susuilah. Aku akan memberikan upah untukmu.” Wanita itu membawa anak itu dan menyusuinya. Ketika bayi itu sudah besar, wanita itu membawa sang bayi untuk menemui putri.

Anak itu pun mnjadi anak dari putri Fir’aun. Ia memanggil anak itu dengan sebutan “Musa”. Putri Fir’aun berkata “Aku memungutnya dari air”. Itu erjadi pada beberapa hari. Ketika semakin besar, Musa pun pergi untuk menemui saudara-saudaranya untuk melihat beban yang ditanggung mereka. Ia melihat seorang lelaki Mesir memukul lelaki Ibrani, yang termasuk saudaranya. Ia pun menoleh ke semua arah dan ia dapati tidak ada seorang pun di sana. Ia pun membunuh orang Mesir dan menguurkannya di gundukan pasir. Kemudian ia pergi di hari kedua. Kala itu ia mendapati dua orang lelaki Ibrani yang sedang berkelahi. Ia berkata pada orang yang bersalah, “Mengapa kamu memukulsaudaramu?” Orang itu menjawab “Siapa yang yang menjadikan kamu pemimpin dan hakimbagi kita? Apakah kamu memikirkan pembunuhanku seperti yang kamu lakukan pada orang Mesir?” Musa pun ketakutan. Ia berkata, “Wah, masalahku sudah diketahui.” Fir’aun pun mendengar masalah ini. Ia pun meminta Musa untuk dibunuh. Musa pun melarikan diri dari Fir’aun dan tinggal di tanah Midyan. Ia duduk di epi sumur.

Tokoh di Midyan mempunyai tujuh putri. Ketika putri ini datang (ke sumur itu) untuk menimba dan memenuhi timba unutk memberi minum kmbing ayah mereka. Lalu, para penggembala datang untuk mengusir mereka. Musa pun bangkit dan menolong mereka dan menolong dengan dengan memberi minum kambing mereka. Saat mereka sampai di kuil ayah mereka, sang ayah berkata “Apa yang terjadi pada kalian sehingga bisa pulang lebih cepat hari ini?” Mereka menjawab, “Ada seorang lelaki Mesir yang menyelamatkan kami dari tangan-tangan jahat para penggembala. Ia menimbakan kami dan memberi minum kambing”. Sang ayah berkata pada anak-anaknya, “Sekarang dia di mana? Mengapa kalian justru meninggalkan lelaki itu? Ajak dia untuk makan di sini”. Musa pun setuju untuk tinggal bersama dengan lelaki itu. Musa pin memberi burung elang untuk putri tokoh Midyan itu. Wanita itu pun melahirkan anak lelaki yang biasa dipanggil dengan nama “Jursyum”. Karena, ia berkata, “Aku tinggal di daerah yang asing.” Kisah Musa sendiri disebutkan terpisah-pisah di beberapa surah Al-Qur’an. Namun, bagian dari kisah yang disebutkan di awal surah Al-Qashash:

طٰسۤمّۤ ( ) تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ ( ) نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَّبَاِ مُوْسٰى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ( ) اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ( ) وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( ) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ ( ) وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ ( ) فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ ( ) وَقَالَتِ امْرَاَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّيْ وَلَكَۗ لَا تَقْتُلُوْهُ ۖعَسٰٓى اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ( ) وَاَصْبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوْسٰى فٰرِغًاۗ اِنْ كَادَتْ لَتُبْدِيْ بِهٖ لَوْلَآ اَنْ رَّبَطْنَا عَلٰى قَلْبِهَا لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ( ) وَقَالَتْ لِاُخْتِهٖ قُصِّيْهِۗ فَبَصُرَتْ بِهٖ عَنْ جُنُبٍ وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ (۞ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰٓى اَهْلِ بَيْتٍ يَّكْفُلُوْنَهٗ لَكُمْ وَهُمْ لَهٗ نَاصِحُوْنَ ( ) فَرَدَدْنٰهُ اِلٰٓى اُمِّهٖ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ اَنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ( ) وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَاسْتَوٰىٓ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًاۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ( ) وَدَخَلَ الْمَدِيْنَةَ عَلٰى حِيْنِ غَفْلَةٍ مِّنْ اَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيْهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلٰنِۖ هٰذَا مِنْ شِيْعَتِهٖ وَهٰذَا مِنْ عَدُوِّهٖۚ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِيْ مِنْ شِيْعَتِهٖ عَلَى الَّذِيْ مِنْ عَدُوِّهٖ ۙفَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ قَالَ هٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِيْنٌ ( ) قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ( ) قَالَ رَبِّ بِمَآ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ اَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِّلْمُجْرِمِيْنَ ( ) فَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ فَاِذَا الَّذِى اسْتَنْصَرَهٗ بِالْاَمْسِ يَسْتَصْرِخُهٗ ۗقَالَ لَهٗ مُوْسٰٓى اِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُّبِيْنٌ ( ) فَلَمَّآ اَنْ اَرَادَ اَنْ يَّبْطِشَ بِالَّذِيْ هُوَ عَدُوٌّ لَّهُمَاۙ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اَتُرِيْدُ اَنْ تَقْتُلَنِيْ كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًاۢ بِالْاَمْسِۖ اِنْ تُرِيْدُ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ جَبَّارًا فِى الْاَرْضِ وَمَا تُرِيْدُ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ ( ) وَجَاۤءَ رَجُلٌ مِّنْ اَقْصَى الْمَدِيْنَةِ يَسْعٰىۖ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنَّ الْمَلَاَ يَأْتَمِرُوْنَ بِكَ لِيَقْتُلُوْكَ فَاخْرُجْ اِنِّيْ لَكَ مِنَ النّٰصِحِيْنَ ( ) فَخَرَجَ مِنْهَا خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖقَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ( ) وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ( ) وَلَمَّا وَرَدَ مَاۤءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ ەۖ وَوَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَاَتَيْنِ تَذُوْدٰنِۚ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۗقَالَتَا لَا نَسْقِيْ حَتّٰى يُصْدِرَ الرِّعَاۤءُ وَاَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ ( ) فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ( ) فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ ۖقَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ فَلَمَّا جَاۤءَهٗ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَۙ قَالَ لَا تَخَفْۗ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ( ) قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ( )  قَالَ اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ اُنْكِحَكَ اِحْدَى ابْنَتَيَّ هٰتَيْنِ عَلٰٓى اَنْ تَأْجُرَنِيْ ثَمٰنِيَ حِجَجٍۚ فَاِنْ اَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَۚ وَمَآ اُرِيْدُ اَنْ اَشُقَّ عَلَيْكَۗ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ( ) قَالَ ذٰلِكَ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَۗ اَيَّمَا الْاَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّۗ وَاللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ

“Tha Sin Mim. Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka. Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyadari. Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya. Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudaranya Musa), “Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?” Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir‘aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, “Ini adalah perbuatan setan. Sungguh, dia (setan itu) adalah musuh yang jelas menyesatkan.” Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku! Demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, maka aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya), tiba-tiba orang yang kemarin meminta pertolongan berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya, “Engkau sungguh, orang yang nyata-nyata sesat.” Maka ketika dia (Musa) hendak memukul dengan keras orang yang menjadi musuh mereka berdua, dia (musuhnya) berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau bermaksud membunuhku, sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” Dan seorang laki-laki datang bergegas dari ujung kota seraya berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.” Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.” Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatangi ayahnya dan dia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” Dia (Syekh Madyan) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” Dia (Musa) berkata, “Itu (perjanjian) antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan.” (Q.S Al-Qashash: 1-28)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part I)

Nilai sesuatu akan terlihat jelas bila dibandingkan degan pembandingnya yang tidak memiliki nilai yang sama. Ini seperti dalam pantun Arab Al-dhidhdh yudhhiru husnahu al-dhidhdhu yang terjemahannya, “Nilai sesuatu itu diperlihatkan pembandingnya”. Apa yang disebutkan dalam pantun di atas sesuai dengan kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Penjelasannya yang apik dan keakuratan fakta yang diturunkan Al-Qur’an akan terlihat sangat jelas bila kita membandingkannya dengan kisah sejenis yang terdapat pada sumber lain, seperti Taurat. Allah Swt memastikan bahwa kisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah kisah terbaik dan merupakan kisah yang fakual. Ini seperti terdapat dalam firman Allah Swt berikut:

نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik” (Q.S Yusuf: 3)

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الۡقَصَصُ الۡحَـقُّ

“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar” (Q.S Ali Imron: 62)

Ketika membandingkan kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan kisah sejenis yang terdapat dalam Taurat, kita akan mendapati bahwa kisah yang terdapat pada Al-Qur’an akan sama dengan sebagian fakta yang terdapat dalam Taurat. Selain itu, kisah dalam Al-Qur’an juga berfungsi untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada bagian lain dari Taurat. Seringkali kisah itu menghadirkan fakta baru yang yang sama sekali tidak disebutkan dalam kisah di Taurat. Kita juga kan menemukan bahwa kisah dalam Al-Qur’an mampu menyebutkan rincian rumit yang tidak mungkin diceritakan dan diperhatikan oleh seseorang pendongeng, seperti kekhawatiran yang berkecamuk dalam hati para tokoh dalam kisah itu, juga kejadian yang yang terjadi di luar jangkauan pemantauan seorang manusia. Ini seperti saat Allah Swt berfirman dalam ayat berikut:

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِمۡ بِعِلۡمٍ وَّمَا كُنَّا غَآٮِٕبِيۡنَ‏ ﴿۷﴾

“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)”. (Q.S Al’A’raf: 7)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya”. (Q.S Al-Kahfi: 13)

Dalam tulisan ini, kita akan membandingkan kisah Nabi musa As pada masa yang panjang antara kelahiran hingga hijrahnya ke Madyan dan hidup berdampingan dengan tokoh Madyan setelah ia dinikahkan dengan anak sang tokoh. Hal ini disebutkan oleh Taurat dan Al-Qur’an. Kita akan menjelaskan bahwa ada perbedaan yang lebar antara dua teks ini pada tingkat ketinggian bahasa dan keakuratan fakta yang terdapat di dalamnya. Pembaca disarankan untuk lebih membaca teks Taurat. Tujuannya untuk merenungkannnya agar dengan sendirinya bacaan itu bisa meungkap kontradiksi yang terdapat pada sebagian fakta yang terdapat di Al-Qur’an dengan fakta yang terdapat pada teks Taurat. Kita pasti akan menemukan bahwa fakta Al-Qur’an lan fakta yang benar. Bila Al-Qur’an itu karya Muhammad Saw dan beliau merangkum isi Al-Qur’an dari kitab-kitab para rasul sebelumnya, seperti tuduhan orang yang tak bertanggung jawab, tentu fakta di Al-Qur’an akan sama dengan fakta yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya. Di samping itu, Al-Qur’an juga tidak akan melakukan pelurusan fakta yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang lain. Namun, Al-Qur’an diturunkan oleh Tuhan semesta alam yang berfirman sebagai berikut:

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ اِذْ قَضَيْنَآ اِلٰى مُوْسَى الْاَمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشّٰهِدِيْنَ  ( )وَلٰكِنَّآ اَنْشَأْنَا قُرُوْنًا فَتَطَاوَلَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُۚ وَمَا كُنْتَ ثَاوِيًا فِيْٓ اَهْلِ مَدْيَنَ تَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِنَاۙ وَلٰكِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ  ( )وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّوْرِ اِذْ نَادَيْنَا وَلٰكِنْ رَّحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اَتٰىهُمْ مِّنْ نَّذِيْرٍ مِّنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

“Dan engkau (Muhammad) tidak berada di sebelah barat (lembah suci Tuwa) ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan engkau tidak (pula) termasuk orang-orang yang menyaksikan (kejadian itu). Tetapi Kami telah menciptakan beberapa umat, dan telah berlalu atas mereka masa yang panjang, dan engkau (Muhammad) tidak tinggal bersama-sama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul. Dan engkau (Muhammad) tidak berada di dekat Tur (gunung) ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami utus engkau) sebagai rahmat dari Tuhanmu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang tidak didatangi oleh pemberi peringatan sebelum engkau agar mereka mendapat pelajaran”. (Q.S Al-Qashash: 44-46)

Kisah Musa As semenjak kelahirannya hingga ia sampai di Madyan terdapat dalam Ishah II pada kitab Keluaran yang teksnya sebagai berikut:

“Ada seorang lelaki yang pergi dari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perrempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki. Ketika melihat anaknya itu tampan, wanita itu pun menyembunyikannya selama tiga bulan.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part III)

Ahli kepurbakalaan Werner Keller, yang beragama Nasrani yang juga penulis buku Kitab Al-Muqaddas Kana Shahihan, menyimpulkan bahwa sailil arim terjadi seperti yang digambarkan dalam Al-qur’an. Banjir itu juga terjadi di lokasi itu. Kehancuran tempat itu secara menyeluruh disebabkan oleh runtuhnya bendungan. Ia juga membuktikan bahwa perumpamaan yang disebutkan di dalam Al-qur’an tentang kaum yang mendiami dua kebun, benar-benar ada.[5] Setelah terjadinya bencana bendungan ini, tanah di wilayah ini menjadi gurun. Kaum Saba kehilangan sumber pemasukan terpetting mereka. Begitulah hukuman bagi kaum yang berpaling dari Allah dan merasa sombong tidak mau bersyukur pada Allah. Seelah bencana ini, kaum ini pun berpecah-belah. Mereka lalu meninggalkan tanah mereka berhijrah ke bagian utara kepulauan ini, Mekah dan Suriah.[6]

Posisi waktu kejadian bencana ini setelah masa kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan kitab Perjanjian Baru (Injil). Oleh karenanya, kejadian ini hanya diinformasikan oleah Al-Qur’an. Sisa peninggalan Ma’rib yang ditinggalkan, yang dulunya menjadi tempat tinggal kaum Saba, menjadi salah satu tanda siksaan, yang sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang mengulangi kesalahan yang sama. Kaum Saba bukan satu-satunya kaum yang dihancurkan oleh banjir bandang. Pada surah Al-Kahf, Al-Qur’an menginformasikan kepada kita seorang pemilik dua kebun. Lelaki ini memiliki dua kebun subur dan indah yang mirip dengan kebun kaum Saba. Hanya saja orang ini melakukan kesalahan yang pernah dilakukan kaum Saba. Kesalahan itu adalah berpaling dari Allah. Ia mengira kenikmatan itu merupakan hasil kerjanya sendiri, tanpa peran serta pihak lain. Meskipun, kebun itu memnag haknya.

وَاضۡرِبۡ لَهُمۡ مَّثَلًا رَّجُلَيۡنِ جَعَلۡنَا لِاَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ مِنۡ اَعۡنَابٍ وَّحَفَفۡنٰهُمَا بِنَخۡلٍ وَّجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمَا زَرۡعًا ؕ‏ ﴿۳۲﴾ كِلۡتَا الۡجَـنَّتَيۡنِ اٰتَتۡ اُكُلَهَا وَلَمۡ تَظۡلِمۡ مِّنۡهُ شَيۡــًٔـا‌ ۙ وَّفَجَّرۡنَا خِلٰـلَهُمَا نَهَرًا ۙ‏ ﴿۳۳﴾ وَكَانَ لَهٗ ثَمَرٌ‌ ۚ فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ اَنَا اَكۡثَرُ مِنۡكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا‏ ﴿۳۴﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِهٖ‌ ۚ قَالَ مَاۤ اَظُنُّ اَنۡ تَبِيۡدَ هٰذِهٖۤ اَبَدًا ۙ‏ ﴿۳۵﴾ وَّمَاۤ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَآٮِٕمَةً  ۙ وَّلَٮِٕنۡ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّىۡ لَاَجِدَنَّ خَيۡرًا مِّنۡهَا مُنۡقَلَبًا‏ ﴿۳۶﴾ قَالَ لَهٗ صَاحِبُهٗ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ اَكَفَرۡتَ بِالَّذِىۡ خَلَقَكَ مِنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّـطۡفَةٍ ثُمَّ سَوّٰٮكَ رَجُلًاؕ‏ ﴿۳۷﴾ لّٰـكِنَّا۟ هُوَ اللّٰهُ رَبِّىۡ وَلَاۤ اُشۡرِكُ بِرَبِّىۡۤ اَحَدًا‏ ﴿۳۸﴾ وَلَوۡلَاۤ اِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ‌ ۚ اِنۡ تَرَنِ اَنَا اَقَلَّ مِنۡكَ مَالًا وَّوَلَدًا‌ ۚ‏ ﴿۳۹﴾ فَعَسٰى رَبِّىۡۤ اَنۡ يُّؤۡتِيَنِ خَيۡرًا مِّنۡ جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا حُسۡبَانًا مِّنَ السَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِيۡدًا زَلَـقًا ۙ‏ ﴿۴۰﴾ اَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا غَوۡرًا فَلَنۡ تَسۡتَطِيۡعَ لَهٗ طَلَبًا‏ ﴿۴۱﴾ وَاُحِيۡطَ بِثَمَرِهٖ فَاَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَاۤ اَنۡفَقَ فِيۡهَا وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا وَيَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِىۡ لَمۡ اُشۡرِكۡ بِرَبِّىۡۤ اَحَدًا‏ ﴿۴۲﴾ وَلَمۡ تَكُنۡ لَّهٗ فِئَةٌ يَّـنۡصُرُوۡنَهٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَمَا كَانَ مُنۡتَصِرًا ؕ‏ ﴿۴۳﴾ هُنَالِكَ الۡوَلَايَةُ لِلّٰهِ الۡحَـقِّ‌ؕ هُوَ خَيۡرٌ ثَوَابًا وَّخَيۡرٌ عُقۡبًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki. Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.”

Dari beberapa ayat di atas, kita menjadi paham bahwa pemilik kebun tidak mengingkari keberadaan Allah. Bahkan sebaliknya, ia menggambarkan bila kembali kepada Tuhannya, maka dia akan mendapatkan kebaikan dari kebun. Hanya saja ia menisbatkan segala kenikmatan yang diperolehnya merupakan hasil dari kerja keras yang dilakukannya sendiri sehingga menuai kesuksesan. Sangat jelas sekali bahwa berusaha menisbatkan semua yang menjadi hak Allah pada pihak lain merupakan perangkap syirik. Sikap seperti itu menyebabkan hilangnya rasa takut kepada Allah. Itu sama dengan meyakini bahwa ada tandingan yang mempunyai kehebatan dan kelebihan mengalahkan Allah.

Inilah yang dilakukan kaum Saba. Akibatnya, negeri dan kebun mereka tenggelam. Bencana itu memberi pesan agar mereka paham bahwa bukan mereka yang meempunyai kekuatan itu. Semua itu hanya nikmat yang dicurahkan kepada mereka. Kaum Saba dulunya memang menjadi pemilik peradaban yang termaju yang bergantung pada irigasi, setelah mereka membangun Bendungan Ma’rib dengan menggunakan sarana teknis yang yang paling maju. Mereka mendapat keuntungan dari bumi yang subur. Itu semua bisa mereka milliki berkat penguasaan atas jalur perdagangan. Keuntungan itu membuat mereak bisa hidup layak dan tumbuh pesat, yang kemudian menjadi karakter gaya hidup mereka.

Dengan segala kenikmatan yang didapatkan, mereka jusru berpaling pada Allah. Padahal Allah-lah yang seharusnya menjadi tempat bersyukur atas segala kenikmatan-Nya, disamping karena mereka diberkati-Nya sengan banyak kenikmatan. Oleh karenanya, bendungan mereka pun runtuh. Banjir di bendungan itu menghancurkan semua yang telah mereka bangun. Meskipun sekarang Bendungan Saba yang populer itu kembali menjadi sarana irigsi seperti di masa dulu. Al-Qur’an juga menginformasikan kepada kita bahwa Ratu Saba dan kaumnya selain mmenyembah Allah, juga menyembah matahari, sebelum tunduk pada Sulaiman. Kaum Saba juga menyembah matahari dan bulan di kuil mereka, seperti sudah diinformasikan sebelumnya.

[5] Werner Keller, Al Injil ka Tarikh, 1964, h. 207

[6] Al Dalil Al Hadits li Al Musafirin ila Al Yaman, h. 43

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part II)

Seperti ditunjukkan oleh ayat di atas, kaum Saba tinggal di daerah yang dikenal indah, juga kebun, dan pohon-pohon anggurya. Mereka juga tinggal di jalur perdagangan, yang terbilang sangat maju bila dibandingkan dengan kota-kota lain pada masa itu. Tingkat kehidupan di wilayah ini sangat istimewa. Tidak ada kerja keras yang mereka lakukan selain “makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya”, seperti yang disebutkan ayat di atas. Hanya saja mereka tidak mau melakukan itu. Mereka merasa apa yang yang mereka miliki itu merupakan hasil dari ushanya. Mereka mengira, merekalah yang mewujudkan kemewahan dan pertumbuhan yang mereka peroleh. Mereka lebih memilih tinggi hati, juga merasa tidak perlu bersyukur dan tunduk pada Allah. Ini seperti yang diinformasikan ayat “tetapi mereka berpaling”.

Karena mereka menisbatkan semua nikmat yang diberikan Allah sebagai hasil dari kerja mereka sendiri. Mereka ngotot semua itu buah dari usaha mereka. Mereka pun merasakan akibat dari sikap sombong itu. Banjir Arim menghancurkan semua yang sudah mereka kerjakan. AL-qur’an menyebut bahwa hukuman Tuhan berupa dikirimkannya banjir Arim. Ungkapan Al-Qur’an ini memberikan informasi pada kita bahwa peristiwa itu terjadi. Kata arim itu sebetulnya bermakna “bendungan”. Frasa sailil arim (banjir arim) menggambarkaan banjir yang datang untuk mengahcurkan bendunga itu. para ahli tafsir Al-Qur’an coba memecahkan masalah sputar tema waktu dan tempat yang ada dalam kata-kata yang terdapat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan banjir Arim. Dalam tafsirnya, Al-Maududi berkomentar terkait hal ini sebagai berikut:

“Kata arim pada frasa sailil arim merupakan pecahan dari kata arimiyyin yang dipergunakan dalam dialek penduduk sebelah selatan kepulauan ini. Kata arim bermakna “bendungan dan penghalang”. Kata ini didapatkan di sela-sela panggilan yang dilakukan di sebelah selatan Yaman terkait banyaknya penggunaan kata ini yang memberi penjelasan makna tersebut. Sebagai contoh, kata ini dipergunakan dalam tulisan yang didiktekan Raja Yaman yang berasal dari Etiopia yang bernama Abrahah, setelah membangun dan memperbaiki Bendungan Ma’rib pada tahun 542-543 M. Di situ ditemukan bahwa arti kata ini sekali lagi adalah “bendungan”. Jadi, frasa sailil arim  bermakna “bencana banjir yang terjadi setelah kehancuran bendungan”

وَبَدَّلۡنٰهُمۡ بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَىۡ اُكُلٍ خَمۡطٍ وَّاَثۡلٍ وَّشَىۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِيۡلٍ

Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr” (Q.S Saba: 16)

Tafsir ayat ini adalah negeri dengan segala kesempurnaanya telah tenggelam seteah runtuhnya bendungan akibat banjir. Semua saluran irigasi yang digali kaum Saba hancur. Begitu juga tembok yang dibangun dalam proyek pembangunan mereka, yang difungsikan sebagai penyekat dengan gunung. Sistem irigasi pun kacau. Kebun-kebun pun beralih menjadi hutan. Tidak ada buah-buahan yang tersisa. Hanya buah-buahan yang mirip ceri dan pohon-pohon pendek yang banyak ditemui dimana-mana, yang tersisa.[4]

[4] Al-Maududi, Tafhim Al-Qur’an, h. 517

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part I)

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ () فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (Q.S Sabaa : 15-16)

Masyarakat Saba merupakan salah satu empat peradaban terbesar yang hidup di sebelah selatan Jazirah Arab. Diyakini bahwa kau mini telah mendirikan peradabannya antara tahun 750-1000 SM. Peradaban mereka runtuh pada sekitar 550 M disebabkan srangan yang terus menerus selama dua abad yang dilakukan tantara Persia dan Arab. Kapan peradaban Sabamulai tumbuh, masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Orang-orang Saba tidak pernah menuliskan keputusan pemerintahan mereka hingga tahun 600 SM. Oleh karenanya, tidak ditemukan catatan klasik apa pun hingga tahun itu.

Sumber paling tua yang memberi petunjuk terkait kaum Saba merujuk pada catatan perang Raja Srgon II (722-705 SM). Di catatan itu, disebutkan daftar orang-orang yang membayar pajak pada Raja Saba yang bernama It Imara. Ini merupakan sumber tertua yang menjelaskan tentang peradaban Saba. Hanya tidak benar bila kemudian berkesimpulan bahwa peradaban ini telah dibangun pada tahun 700 SM dengan hanya bersandar pada sumber astu-sarunya itu. Karena sangat mungkin peradaban ini telah  terbentuk sebelum itu. Ini berarti sejrah Saba mungkin sekali sudah ada sebelum tahun itu. Dalam pahatan Arad Nanar (Aanepadda), salah satu raja kota Ur yang mengacu pada kota Saba.[1] Jika benar interprets bahwa kata ini mengacu pada Saba, maka sejarah Saba sudah ada pada 2500 SM.

Sumber-sumber sejarah yang berbicara tentang peradaban ini menyebutkan bahwa peradaban Saba sangat mirip dengan peradaban Phoenix. Mayoritas aktivitasnya perdagangan. Kaum ini berkuasa melalui jalr perdagangan yang melewati sebelah utara kepulauan itu. Para pedagang Saba harus mendapat izin dari Raja Sargon II, yang berkuasa atas wilayah yang berada di sebelah utara kepulauan itu. Jika ingin dagangan mereka bisa sampai ke Gaza dan Laut Tengah, mereka harus membayar pajak atas dagangan mereka. Setiap kali para pedagang Raja Sargon II, nama mereka dicatat dalam laporan tahunan wilayah itu.

Dalam sejarah, kaum Saba dikenal sebagai orang yang berperadaban. Kata-kata yang punya arti seperti menarik kembali, penetapam, bangunan, muncul di sana secara berulang pada pahatan para raja mereka. Bendungan Ma’rib yang merupakan salah satu peninggalan terpenting peradaban ini menjad bukti yang jelas tingkat keahlian yang telah dicapai oleh kaum ini. Hal ini  tidak berarti bahwa mereka lemah dalam kekuatan militernya. Tantara Saba merupakan unsur terpenting yang menjamin keberlangsugan peradaban ini berdiri tegak hingga dalam waktu lama.

Tantara Saba diketahui sebagai tantara terkat pada masa itu. Mereka membantu para raja untuk melakukan perluasan wilaya. Mereka berhasil menyerbu wilayah Qatabiyin.mereka juga berhasil menguasai wilayah di benua Afrika. Kira-kira pada tahun 24 SM ketika mereka melakukan salah satu penyerangan ke wilayah barat, tantara Saba memukul mundur tantara Romawi di bawah panglima Markus Elius Golus. Panglima inilah yang telah memerintah Mesir menjadi bagian dari kekaisaran Romawi yang merupakan negara adikuasa saat itu tanpa tanding. Dapat digamparkan bahwa Saba merupakan negara kondusif secara politik. Meski demikian, mereka tidak pernah ketinggalan dala menggunakan kekatan militier jika diperlukan. Dengan kekuatan militer dan peradabannya, Saba lalu menjadi kekuatan adikuasa pada waktu itu.

Al-qur’an juga menyebutkan kekuata tantara Saba. Kepercayaan diri tentara ini juga terlihat melali komentar para panglima tentara Saba kepada ratu mereka, seperti yang dilukiskan dalam Surah Al-Naml berikut:

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

“Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. (Al Naml; 33)

Ma’rib merupakan ibukota Saba. Kota ini sangat kaya. Kelebihan ini merupakan imbas dari letak geografisnya. Ibuota ini dekat sekali dengan Sungai Dunha, yang titik pertemuannya dengan Gunung Bulaq sangat sesuai untuk pembangunan bendungan. Orang Saba menganggap keistimewaan ini sebagai hal yang mahal. Mereka pun membangun benndungan di tempat itu, yang menjadi tepat pertumbuhan peradaban mereka. Setelah itu, mereka mulai menjalankan irigasi dan pertanian. Begitulah mereka bisa mencapai tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi. Ma’rib sndiri merupakan ibukota yang paling pesat pertumbuhannya saat itu. Penulis Yunani, Pliny, yang telah mengunjungi dan memuji tempat ini menyebutkan bahwa Ma’rib merupakan wilayah yang luas dan hijau.[2]

Lukisan yang Ditulis dengan Bahasa Orang Saba

Tinggi bendungnan Ma’rib mecpai 16 meter. Lebarnya 600 meter. Panjangnya hingga 630 meter. Secara statistik, ini memakan 9600 hektar tanah. Seluas 5300 di antaranya berada di dataran bagian selatan, sementara sisanya berada di utara. Dua dataran ini juga disinggung dalam paatan orang Saba yang diberi nama Ma’rib dan dua dataran. Al-qur’an menyebutkan hal ini dengan sangat baik pada ayat berikut:

جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ

“dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri” (Q.S Sabaa: 15)

Ini menunjukkan bahwa ada kebun dan pohon anggur di kedua lembah atau dua dataran ini. Tempat itu menjadi tempat di Yaman yang paling banyak kekayaan dan hasil buminya berkat air bendungan itu. Jean Francois Chapolion dan Glazer menebutkan bahwa sudah sagat lama Bendungan Ma’rib membantu orang-orang di sekitarnya. Beberapa dokumen yang ditulis dalam bahasa Himyar menginformasikan bahwa bendungan ini telah menjadikan Kawasan di sekitarnya sangat subur dan produktif.[3]

Perbaikan bendungan ini selesai antara abad 5 dan 6 M. Hanya saja perbaikan-perbaikan itu tidak bisa mencegah bendungan ini runtuh pada tahun 542 M. bendungan ini runtuh akibat banjir Arim yang disinggung Al-qu’ran. Banjir Arim inilah yang mennyebabkan masalah luar biasa. Musibah ini telah mengahncurkan semua perkebunan, pohon anggur, dan taman-taman yang telah dijaga seuruh kaum  Saba selama puluhan abad. Setelah runtuhnya bendungan ini, kaum Saba mengalami stagnasi yang cukup lama. Tidak ada lagi penopang kehidupan bagi mereka setelah itu. Ini yang menjadi akhir sejarah kau mini setelah runtuhnya bendungan.

Banjir Arim Yang Meluluhlantahkan Saba

Ketika kita mau merenungkan ayat Al-qur’an melalui informasi sejarah yang bisa kita dapatka, tentu kita menemukan keseuaian yang luar bisa antara informasi Al-qur’an dan data sejarah. Semua temuan geologis dan kepurbakalaan membenarkan informasi yang disebutkan Al-qur’an. Seperti diseutkan Al-qur’an, kaum tidak mau mendengar nasihat rasul mereka dan mendustakan kebenaran yang dibawa sang rasul serta tidak mau beriman kepada utusan Tuhan itu memang berhak mendapatakan hukuman sengan banjir Arm. Al-qur’an menggambarkan banjir ini dala Surah Saba berikut:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ () فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (Q.S Sabaa : 15-16)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

[1] Al Mausu’ah Al Islamiyah; Al A’lam Al islami, Tarikh Jughrafiyah Intsughrsfiys, wa Qamus Bibliografiya j. 10, h. 268, lema “Saba”.

[2] Humile, Al Muktasyafat fi Ardh Al Injil, 1903

[3] Al Mausu’ah Al Islamiyah; Al A’lam Al islami, Tarikh Jughrafiyah Intsughrsfiys, wa Qamus Bibliografiya j. 10, h. 323-339, lema “Ma’rib”.

1 2 3 8