Author Archives: Lati Larasati

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part II)

Pada saat ia tahu tidak mungkin lagi untuk menembunyikannya. Setelah itu, ia mengambil keranjang dari papirus untuk anaknya. Ia pun mencat keranajng itu dengan aspal. Ia pun meletakkan anaknya di dalam keranjang itu. Ia meletakkan anaknya di antara alfa di tepi sungai. Saudara anaknya melihat dari jauh untuk mengetahui apa yang akan dilakukan pada anak itu. Putri Fir’aun turun ke sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai. Sang putri lalu melihat keranjang di antara alfa. Ia pun menyuruh budaknya untuk mengambil keranjang itu. Putri Fir’aun turun ke sungai untuk mandi. Dayang-dayangnya berjalan di tepi sungai. Sang putri lalu melihat keranjang di antara alfa. Ia pun menyuruh budaknya untuk mengambil kranjang itu. Ketika ia membuka keranjang itu, ia melihat bayi laki-laki yang menangis. Melihat itu, ia pun iba. Ia berkata, “Ini pasti anak orang Ibrani”. Saudara perempuan bayi itu berkata pada putri Fir’aun, “Apakah saya diizinkan mencari wanita Ibrani yang bisa menyusui anak kecil itu.” Putri Fir’aun pun berkata padanya, “Pergilah!” Saudara bayi itu pun pergi untuk memanggil ibu bayi itu. Putri Fir’aun pun berkata  pada wanita itu, “Bawa anak ini dan susuilah. Aku akan memberikan upah untukmu.” Wanita itu membawa anak itu dan menyusuinya. Ketika bayi itu sudah besar, wanita itu membawa sang bayi untuk menemui putri.

Anak itu pun mnjadi anak dari putri Fir’aun. Ia memanggil anak itu dengan sebutan “Musa”. Putri Fir’aun berkata “Aku memungutnya dari air”. Itu erjadi pada beberapa hari. Ketika semakin besar, Musa pun pergi untuk menemui saudara-saudaranya untuk melihat beban yang ditanggung mereka. Ia melihat seorang lelaki Mesir memukul lelaki Ibrani, yang termasuk saudaranya. Ia pun menoleh ke semua arah dan ia dapati tidak ada seorang pun di sana. Ia pun membunuh orang Mesir dan menguurkannya di gundukan pasir. Kemudian ia pergi di hari kedua. Kala itu ia mendapati dua orang lelaki Ibrani yang sedang berkelahi. Ia berkata pada orang yang bersalah, “Mengapa kamu memukulsaudaramu?” Orang itu menjawab “Siapa yang yang menjadikan kamu pemimpin dan hakimbagi kita? Apakah kamu memikirkan pembunuhanku seperti yang kamu lakukan pada orang Mesir?” Musa pun ketakutan. Ia berkata, “Wah, masalahku sudah diketahui.” Fir’aun pun mendengar masalah ini. Ia pun meminta Musa untuk dibunuh. Musa pun melarikan diri dari Fir’aun dan tinggal di tanah Midyan. Ia duduk di epi sumur.

Tokoh di Midyan mempunyai tujuh putri. Ketika putri ini datang (ke sumur itu) untuk menimba dan memenuhi timba unutk memberi minum kmbing ayah mereka. Lalu, para penggembala datang untuk mengusir mereka. Musa pun bangkit dan menolong mereka dan menolong dengan dengan memberi minum kambing mereka. Saat mereka sampai di kuil ayah mereka, sang ayah berkata “Apa yang terjadi pada kalian sehingga bisa pulang lebih cepat hari ini?” Mereka menjawab, “Ada seorang lelaki Mesir yang menyelamatkan kami dari tangan-tangan jahat para penggembala. Ia menimbakan kami dan memberi minum kambing”. Sang ayah berkata pada anak-anaknya, “Sekarang dia di mana? Mengapa kalian justru meninggalkan lelaki itu? Ajak dia untuk makan di sini”. Musa pun setuju untuk tinggal bersama dengan lelaki itu. Musa pin memberi burung elang untuk putri tokoh Midyan itu. Wanita itu pun melahirkan anak lelaki yang biasa dipanggil dengan nama “Jursyum”. Karena, ia berkata, “Aku tinggal di daerah yang asing.” Kisah Musa sendiri disebutkan terpisah-pisah di beberapa surah Al-Qur’an. Namun, bagian dari kisah yang disebutkan di awal surah Al-Qashash:

طٰسۤمّۤ ( ) تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ ( ) نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَّبَاِ مُوْسٰى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ( ) اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ( ) وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ( ) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ ( ) وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ ( ) فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ ( ) وَقَالَتِ امْرَاَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّيْ وَلَكَۗ لَا تَقْتُلُوْهُ ۖعَسٰٓى اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ( ) وَاَصْبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوْسٰى فٰرِغًاۗ اِنْ كَادَتْ لَتُبْدِيْ بِهٖ لَوْلَآ اَنْ رَّبَطْنَا عَلٰى قَلْبِهَا لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ( ) وَقَالَتْ لِاُخْتِهٖ قُصِّيْهِۗ فَبَصُرَتْ بِهٖ عَنْ جُنُبٍ وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ (۞ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰٓى اَهْلِ بَيْتٍ يَّكْفُلُوْنَهٗ لَكُمْ وَهُمْ لَهٗ نَاصِحُوْنَ ( ) فَرَدَدْنٰهُ اِلٰٓى اُمِّهٖ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ اَنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ( ) وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَاسْتَوٰىٓ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًاۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ( ) وَدَخَلَ الْمَدِيْنَةَ عَلٰى حِيْنِ غَفْلَةٍ مِّنْ اَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيْهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلٰنِۖ هٰذَا مِنْ شِيْعَتِهٖ وَهٰذَا مِنْ عَدُوِّهٖۚ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِيْ مِنْ شِيْعَتِهٖ عَلَى الَّذِيْ مِنْ عَدُوِّهٖ ۙفَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ قَالَ هٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِيْنٌ ( ) قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ( ) قَالَ رَبِّ بِمَآ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ اَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِّلْمُجْرِمِيْنَ ( ) فَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ فَاِذَا الَّذِى اسْتَنْصَرَهٗ بِالْاَمْسِ يَسْتَصْرِخُهٗ ۗقَالَ لَهٗ مُوْسٰٓى اِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُّبِيْنٌ ( ) فَلَمَّآ اَنْ اَرَادَ اَنْ يَّبْطِشَ بِالَّذِيْ هُوَ عَدُوٌّ لَّهُمَاۙ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اَتُرِيْدُ اَنْ تَقْتُلَنِيْ كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًاۢ بِالْاَمْسِۖ اِنْ تُرِيْدُ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ جَبَّارًا فِى الْاَرْضِ وَمَا تُرِيْدُ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ ( ) وَجَاۤءَ رَجُلٌ مِّنْ اَقْصَى الْمَدِيْنَةِ يَسْعٰىۖ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنَّ الْمَلَاَ يَأْتَمِرُوْنَ بِكَ لِيَقْتُلُوْكَ فَاخْرُجْ اِنِّيْ لَكَ مِنَ النّٰصِحِيْنَ ( ) فَخَرَجَ مِنْهَا خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖقَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ( ) وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ( ) وَلَمَّا وَرَدَ مَاۤءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ ەۖ وَوَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَاَتَيْنِ تَذُوْدٰنِۚ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۗقَالَتَا لَا نَسْقِيْ حَتّٰى يُصْدِرَ الرِّعَاۤءُ وَاَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ ( ) فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ( ) فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ ۖقَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ فَلَمَّا جَاۤءَهٗ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَۙ قَالَ لَا تَخَفْۗ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ( ) قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ( )  قَالَ اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ اُنْكِحَكَ اِحْدَى ابْنَتَيَّ هٰتَيْنِ عَلٰٓى اَنْ تَأْجُرَنِيْ ثَمٰنِيَ حِجَجٍۚ فَاِنْ اَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَۚ وَمَآ اُرِيْدُ اَنْ اَشُقَّ عَلَيْكَۗ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ( ) قَالَ ذٰلِكَ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَۗ اَيَّمَا الْاَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّۗ وَاللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ

“Tha Sin Mim. Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka. Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyadari. Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya. Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudaranya Musa), “Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?” Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir‘aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, “Ini adalah perbuatan setan. Sungguh, dia (setan itu) adalah musuh yang jelas menyesatkan.” Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku! Demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, maka aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya), tiba-tiba orang yang kemarin meminta pertolongan berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya, “Engkau sungguh, orang yang nyata-nyata sesat.” Maka ketika dia (Musa) hendak memukul dengan keras orang yang menjadi musuh mereka berdua, dia (musuhnya) berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau bermaksud membunuhku, sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” Dan seorang laki-laki datang bergegas dari ujung kota seraya berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.” Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.” Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatangi ayahnya dan dia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” Dia (Syekh Madyan) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” Dia (Musa) berkata, “Itu (perjanjian) antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan.” (Q.S Al-Qashash: 1-28)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kisah Nabi Musa A.S di Taurat dan Al-Qur’an (Part I)

Nilai sesuatu akan terlihat jelas bila dibandingkan degan pembandingnya yang tidak memiliki nilai yang sama. Ini seperti dalam pantun Arab Al-dhidhdh yudhhiru husnahu al-dhidhdhu yang terjemahannya, “Nilai sesuatu itu diperlihatkan pembandingnya”. Apa yang disebutkan dalam pantun di atas sesuai dengan kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Penjelasannya yang apik dan keakuratan fakta yang diturunkan Al-Qur’an akan terlihat sangat jelas bila kita membandingkannya dengan kisah sejenis yang terdapat pada sumber lain, seperti Taurat. Allah Swt memastikan bahwa kisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah kisah terbaik dan merupakan kisah yang fakual. Ini seperti terdapat dalam firman Allah Swt berikut:

نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik” (Q.S Yusuf: 3)

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الۡقَصَصُ الۡحَـقُّ

“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar” (Q.S Ali Imron: 62)

Ketika membandingkan kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan kisah sejenis yang terdapat dalam Taurat, kita akan mendapati bahwa kisah yang terdapat pada Al-Qur’an akan sama dengan sebagian fakta yang terdapat dalam Taurat. Selain itu, kisah dalam Al-Qur’an juga berfungsi untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada bagian lain dari Taurat. Seringkali kisah itu menghadirkan fakta baru yang yang sama sekali tidak disebutkan dalam kisah di Taurat. Kita juga kan menemukan bahwa kisah dalam Al-Qur’an mampu menyebutkan rincian rumit yang tidak mungkin diceritakan dan diperhatikan oleh seseorang pendongeng, seperti kekhawatiran yang berkecamuk dalam hati para tokoh dalam kisah itu, juga kejadian yang yang terjadi di luar jangkauan pemantauan seorang manusia. Ini seperti saat Allah Swt berfirman dalam ayat berikut:

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِمۡ بِعِلۡمٍ وَّمَا كُنَّا غَآٮِٕبِيۡنَ‏ ﴿۷﴾

“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)”. (Q.S Al’A’raf: 7)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya”. (Q.S Al-Kahfi: 13)

Dalam tulisan ini, kita akan membandingkan kisah Nabi musa As pada masa yang panjang antara kelahiran hingga hijrahnya ke Madyan dan hidup berdampingan dengan tokoh Madyan setelah ia dinikahkan dengan anak sang tokoh. Hal ini disebutkan oleh Taurat dan Al-Qur’an. Kita akan menjelaskan bahwa ada perbedaan yang lebar antara dua teks ini pada tingkat ketinggian bahasa dan keakuratan fakta yang terdapat di dalamnya. Pembaca disarankan untuk lebih membaca teks Taurat. Tujuannya untuk merenungkannnya agar dengan sendirinya bacaan itu bisa meungkap kontradiksi yang terdapat pada sebagian fakta yang terdapat di Al-Qur’an dengan fakta yang terdapat pada teks Taurat. Kita pasti akan menemukan bahwa fakta Al-Qur’an lan fakta yang benar. Bila Al-Qur’an itu karya Muhammad Saw dan beliau merangkum isi Al-Qur’an dari kitab-kitab para rasul sebelumnya, seperti tuduhan orang yang tak bertanggung jawab, tentu fakta di Al-Qur’an akan sama dengan fakta yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya. Di samping itu, Al-Qur’an juga tidak akan melakukan pelurusan fakta yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang lain. Namun, Al-Qur’an diturunkan oleh Tuhan semesta alam yang berfirman sebagai berikut:

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ اِذْ قَضَيْنَآ اِلٰى مُوْسَى الْاَمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشّٰهِدِيْنَ  ( )وَلٰكِنَّآ اَنْشَأْنَا قُرُوْنًا فَتَطَاوَلَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُۚ وَمَا كُنْتَ ثَاوِيًا فِيْٓ اَهْلِ مَدْيَنَ تَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِنَاۙ وَلٰكِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ  ( )وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّوْرِ اِذْ نَادَيْنَا وَلٰكِنْ رَّحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اَتٰىهُمْ مِّنْ نَّذِيْرٍ مِّنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

“Dan engkau (Muhammad) tidak berada di sebelah barat (lembah suci Tuwa) ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan engkau tidak (pula) termasuk orang-orang yang menyaksikan (kejadian itu). Tetapi Kami telah menciptakan beberapa umat, dan telah berlalu atas mereka masa yang panjang, dan engkau (Muhammad) tidak tinggal bersama-sama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul. Dan engkau (Muhammad) tidak berada di dekat Tur (gunung) ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami utus engkau) sebagai rahmat dari Tuhanmu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang tidak didatangi oleh pemberi peringatan sebelum engkau agar mereka mendapat pelajaran”. (Q.S Al-Qashash: 44-46)

Kisah Musa As semenjak kelahirannya hingga ia sampai di Madyan terdapat dalam Ishah II pada kitab Keluaran yang teksnya sebagai berikut:

“Ada seorang lelaki yang pergi dari rumah Lawi. Ia pun mengambil anak perempuan Lawi. Perrempuan itu pun hamil dan melahirkan seorang anak lelaki. Ketika melihat anaknya itu tampan, wanita itu pun menyembunyikannya selama tiga bulan.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part III)

Ahli kepurbakalaan Werner Keller, yang beragama Nasrani yang juga penulis buku Kitab Al-Muqaddas Kana Shahihan, menyimpulkan bahwa sailil arim terjadi seperti yang digambarkan dalam Al-qur’an. Banjir itu juga terjadi di lokasi itu. Kehancuran tempat itu secara menyeluruh disebabkan oleh runtuhnya bendungan. Ia juga membuktikan bahwa perumpamaan yang disebutkan di dalam Al-qur’an tentang kaum yang mendiami dua kebun, benar-benar ada.[5] Setelah terjadinya bencana bendungan ini, tanah di wilayah ini menjadi gurun. Kaum Saba kehilangan sumber pemasukan terpetting mereka. Begitulah hukuman bagi kaum yang berpaling dari Allah dan merasa sombong tidak mau bersyukur pada Allah. Seelah bencana ini, kaum ini pun berpecah-belah. Mereka lalu meninggalkan tanah mereka berhijrah ke bagian utara kepulauan ini, Mekah dan Suriah.[6]

Posisi waktu kejadian bencana ini setelah masa kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan kitab Perjanjian Baru (Injil). Oleh karenanya, kejadian ini hanya diinformasikan oleah Al-Qur’an. Sisa peninggalan Ma’rib yang ditinggalkan, yang dulunya menjadi tempat tinggal kaum Saba, menjadi salah satu tanda siksaan, yang sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang mengulangi kesalahan yang sama. Kaum Saba bukan satu-satunya kaum yang dihancurkan oleh banjir bandang. Pada surah Al-Kahf, Al-Qur’an menginformasikan kepada kita seorang pemilik dua kebun. Lelaki ini memiliki dua kebun subur dan indah yang mirip dengan kebun kaum Saba. Hanya saja orang ini melakukan kesalahan yang pernah dilakukan kaum Saba. Kesalahan itu adalah berpaling dari Allah. Ia mengira kenikmatan itu merupakan hasil kerjanya sendiri, tanpa peran serta pihak lain. Meskipun, kebun itu memnag haknya.

وَاضۡرِبۡ لَهُمۡ مَّثَلًا رَّجُلَيۡنِ جَعَلۡنَا لِاَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ مِنۡ اَعۡنَابٍ وَّحَفَفۡنٰهُمَا بِنَخۡلٍ وَّجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمَا زَرۡعًا ؕ‏ ﴿۳۲﴾ كِلۡتَا الۡجَـنَّتَيۡنِ اٰتَتۡ اُكُلَهَا وَلَمۡ تَظۡلِمۡ مِّنۡهُ شَيۡــًٔـا‌ ۙ وَّفَجَّرۡنَا خِلٰـلَهُمَا نَهَرًا ۙ‏ ﴿۳۳﴾ وَكَانَ لَهٗ ثَمَرٌ‌ ۚ فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ اَنَا اَكۡثَرُ مِنۡكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا‏ ﴿۳۴﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِهٖ‌ ۚ قَالَ مَاۤ اَظُنُّ اَنۡ تَبِيۡدَ هٰذِهٖۤ اَبَدًا ۙ‏ ﴿۳۵﴾ وَّمَاۤ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَآٮِٕمَةً  ۙ وَّلَٮِٕنۡ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّىۡ لَاَجِدَنَّ خَيۡرًا مِّنۡهَا مُنۡقَلَبًا‏ ﴿۳۶﴾ قَالَ لَهٗ صَاحِبُهٗ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ اَكَفَرۡتَ بِالَّذِىۡ خَلَقَكَ مِنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّـطۡفَةٍ ثُمَّ سَوّٰٮكَ رَجُلًاؕ‏ ﴿۳۷﴾ لّٰـكِنَّا۟ هُوَ اللّٰهُ رَبِّىۡ وَلَاۤ اُشۡرِكُ بِرَبِّىۡۤ اَحَدًا‏ ﴿۳۸﴾ وَلَوۡلَاۤ اِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ‌ ۚ اِنۡ تَرَنِ اَنَا اَقَلَّ مِنۡكَ مَالًا وَّوَلَدًا‌ ۚ‏ ﴿۳۹﴾ فَعَسٰى رَبِّىۡۤ اَنۡ يُّؤۡتِيَنِ خَيۡرًا مِّنۡ جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا حُسۡبَانًا مِّنَ السَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِيۡدًا زَلَـقًا ۙ‏ ﴿۴۰﴾ اَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا غَوۡرًا فَلَنۡ تَسۡتَطِيۡعَ لَهٗ طَلَبًا‏ ﴿۴۱﴾ وَاُحِيۡطَ بِثَمَرِهٖ فَاَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَاۤ اَنۡفَقَ فِيۡهَا وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا وَيَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِىۡ لَمۡ اُشۡرِكۡ بِرَبِّىۡۤ اَحَدًا‏ ﴿۴۲﴾ وَلَمۡ تَكُنۡ لَّهٗ فِئَةٌ يَّـنۡصُرُوۡنَهٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَمَا كَانَ مُنۡتَصِرًا ؕ‏ ﴿۴۳﴾ هُنَالِكَ الۡوَلَايَةُ لِلّٰهِ الۡحَـقِّ‌ؕ هُوَ خَيۡرٌ ثَوَابًا وَّخَيۡرٌ عُقۡبًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki. Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.”

Dari beberapa ayat di atas, kita menjadi paham bahwa pemilik kebun tidak mengingkari keberadaan Allah. Bahkan sebaliknya, ia menggambarkan bila kembali kepada Tuhannya, maka dia akan mendapatkan kebaikan dari kebun. Hanya saja ia menisbatkan segala kenikmatan yang diperolehnya merupakan hasil dari kerja keras yang dilakukannya sendiri sehingga menuai kesuksesan. Sangat jelas sekali bahwa berusaha menisbatkan semua yang menjadi hak Allah pada pihak lain merupakan perangkap syirik. Sikap seperti itu menyebabkan hilangnya rasa takut kepada Allah. Itu sama dengan meyakini bahwa ada tandingan yang mempunyai kehebatan dan kelebihan mengalahkan Allah.

Inilah yang dilakukan kaum Saba. Akibatnya, negeri dan kebun mereka tenggelam. Bencana itu memberi pesan agar mereka paham bahwa bukan mereka yang meempunyai kekuatan itu. Semua itu hanya nikmat yang dicurahkan kepada mereka. Kaum Saba dulunya memang menjadi pemilik peradaban yang termaju yang bergantung pada irigasi, setelah mereka membangun Bendungan Ma’rib dengan menggunakan sarana teknis yang yang paling maju. Mereka mendapat keuntungan dari bumi yang subur. Itu semua bisa mereka milliki berkat penguasaan atas jalur perdagangan. Keuntungan itu membuat mereak bisa hidup layak dan tumbuh pesat, yang kemudian menjadi karakter gaya hidup mereka.

Dengan segala kenikmatan yang didapatkan, mereka jusru berpaling pada Allah. Padahal Allah-lah yang seharusnya menjadi tempat bersyukur atas segala kenikmatan-Nya, disamping karena mereka diberkati-Nya sengan banyak kenikmatan. Oleh karenanya, bendungan mereka pun runtuh. Banjir di bendungan itu menghancurkan semua yang telah mereka bangun. Meskipun sekarang Bendungan Saba yang populer itu kembali menjadi sarana irigsi seperti di masa dulu. Al-Qur’an juga menginformasikan kepada kita bahwa Ratu Saba dan kaumnya selain mmenyembah Allah, juga menyembah matahari, sebelum tunduk pada Sulaiman. Kaum Saba juga menyembah matahari dan bulan di kuil mereka, seperti sudah diinformasikan sebelumnya.

[5] Werner Keller, Al Injil ka Tarikh, 1964, h. 207

[6] Al Dalil Al Hadits li Al Musafirin ila Al Yaman, h. 43

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part II)

Seperti ditunjukkan oleh ayat di atas, kaum Saba tinggal di daerah yang dikenal indah, juga kebun, dan pohon-pohon anggurya. Mereka juga tinggal di jalur perdagangan, yang terbilang sangat maju bila dibandingkan dengan kota-kota lain pada masa itu. Tingkat kehidupan di wilayah ini sangat istimewa. Tidak ada kerja keras yang mereka lakukan selain “makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya”, seperti yang disebutkan ayat di atas. Hanya saja mereka tidak mau melakukan itu. Mereka merasa apa yang yang mereka miliki itu merupakan hasil dari ushanya. Mereka mengira, merekalah yang mewujudkan kemewahan dan pertumbuhan yang mereka peroleh. Mereka lebih memilih tinggi hati, juga merasa tidak perlu bersyukur dan tunduk pada Allah. Ini seperti yang diinformasikan ayat “tetapi mereka berpaling”.

Karena mereka menisbatkan semua nikmat yang diberikan Allah sebagai hasil dari kerja mereka sendiri. Mereka ngotot semua itu buah dari usaha mereka. Mereka pun merasakan akibat dari sikap sombong itu. Banjir Arim menghancurkan semua yang sudah mereka kerjakan. AL-qur’an menyebut bahwa hukuman Tuhan berupa dikirimkannya banjir Arim. Ungkapan Al-Qur’an ini memberikan informasi pada kita bahwa peristiwa itu terjadi. Kata arim itu sebetulnya bermakna “bendungan”. Frasa sailil arim (banjir arim) menggambarkaan banjir yang datang untuk mengahcurkan bendunga itu. para ahli tafsir Al-Qur’an coba memecahkan masalah sputar tema waktu dan tempat yang ada dalam kata-kata yang terdapat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan banjir Arim. Dalam tafsirnya, Al-Maududi berkomentar terkait hal ini sebagai berikut:

“Kata arim pada frasa sailil arim merupakan pecahan dari kata arimiyyin yang dipergunakan dalam dialek penduduk sebelah selatan kepulauan ini. Kata arim bermakna “bendungan dan penghalang”. Kata ini didapatkan di sela-sela panggilan yang dilakukan di sebelah selatan Yaman terkait banyaknya penggunaan kata ini yang memberi penjelasan makna tersebut. Sebagai contoh, kata ini dipergunakan dalam tulisan yang didiktekan Raja Yaman yang berasal dari Etiopia yang bernama Abrahah, setelah membangun dan memperbaiki Bendungan Ma’rib pada tahun 542-543 M. Di situ ditemukan bahwa arti kata ini sekali lagi adalah “bendungan”. Jadi, frasa sailil arim  bermakna “bencana banjir yang terjadi setelah kehancuran bendungan”

وَبَدَّلۡنٰهُمۡ بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَىۡ اُكُلٍ خَمۡطٍ وَّاَثۡلٍ وَّشَىۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِيۡلٍ

Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr” (Q.S Saba: 16)

Tafsir ayat ini adalah negeri dengan segala kesempurnaanya telah tenggelam seteah runtuhnya bendungan akibat banjir. Semua saluran irigasi yang digali kaum Saba hancur. Begitu juga tembok yang dibangun dalam proyek pembangunan mereka, yang difungsikan sebagai penyekat dengan gunung. Sistem irigasi pun kacau. Kebun-kebun pun beralih menjadi hutan. Tidak ada buah-buahan yang tersisa. Hanya buah-buahan yang mirip ceri dan pohon-pohon pendek yang banyak ditemui dimana-mana, yang tersisa.[4]

[4] Al-Maududi, Tafhim Al-Qur’an, h. 517

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Saba Dan Banjir Arim (Part I)

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ () فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (Q.S Sabaa : 15-16)

Masyarakat Saba merupakan salah satu empat peradaban terbesar yang hidup di sebelah selatan Jazirah Arab. Diyakini bahwa kau mini telah mendirikan peradabannya antara tahun 750-1000 SM. Peradaban mereka runtuh pada sekitar 550 M disebabkan srangan yang terus menerus selama dua abad yang dilakukan tantara Persia dan Arab. Kapan peradaban Sabamulai tumbuh, masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Orang-orang Saba tidak pernah menuliskan keputusan pemerintahan mereka hingga tahun 600 SM. Oleh karenanya, tidak ditemukan catatan klasik apa pun hingga tahun itu.

Sumber paling tua yang memberi petunjuk terkait kaum Saba merujuk pada catatan perang Raja Srgon II (722-705 SM). Di catatan itu, disebutkan daftar orang-orang yang membayar pajak pada Raja Saba yang bernama It Imara. Ini merupakan sumber tertua yang menjelaskan tentang peradaban Saba. Hanya tidak benar bila kemudian berkesimpulan bahwa peradaban ini telah dibangun pada tahun 700 SM dengan hanya bersandar pada sumber astu-sarunya itu. Karena sangat mungkin peradaban ini telah  terbentuk sebelum itu. Ini berarti sejrah Saba mungkin sekali sudah ada sebelum tahun itu. Dalam pahatan Arad Nanar (Aanepadda), salah satu raja kota Ur yang mengacu pada kota Saba.[1] Jika benar interprets bahwa kata ini mengacu pada Saba, maka sejarah Saba sudah ada pada 2500 SM.

Sumber-sumber sejarah yang berbicara tentang peradaban ini menyebutkan bahwa peradaban Saba sangat mirip dengan peradaban Phoenix. Mayoritas aktivitasnya perdagangan. Kaum ini berkuasa melalui jalr perdagangan yang melewati sebelah utara kepulauan itu. Para pedagang Saba harus mendapat izin dari Raja Sargon II, yang berkuasa atas wilayah yang berada di sebelah utara kepulauan itu. Jika ingin dagangan mereka bisa sampai ke Gaza dan Laut Tengah, mereka harus membayar pajak atas dagangan mereka. Setiap kali para pedagang Raja Sargon II, nama mereka dicatat dalam laporan tahunan wilayah itu.

Dalam sejarah, kaum Saba dikenal sebagai orang yang berperadaban. Kata-kata yang punya arti seperti menarik kembali, penetapam, bangunan, muncul di sana secara berulang pada pahatan para raja mereka. Bendungan Ma’rib yang merupakan salah satu peninggalan terpenting peradaban ini menjad bukti yang jelas tingkat keahlian yang telah dicapai oleh kaum ini. Hal ini  tidak berarti bahwa mereka lemah dalam kekuatan militernya. Tantara Saba merupakan unsur terpenting yang menjamin keberlangsugan peradaban ini berdiri tegak hingga dalam waktu lama.

Tantara Saba diketahui sebagai tantara terkat pada masa itu. Mereka membantu para raja untuk melakukan perluasan wilaya. Mereka berhasil menyerbu wilayah Qatabiyin.mereka juga berhasil menguasai wilayah di benua Afrika. Kira-kira pada tahun 24 SM ketika mereka melakukan salah satu penyerangan ke wilayah barat, tantara Saba memukul mundur tantara Romawi di bawah panglima Markus Elius Golus. Panglima inilah yang telah memerintah Mesir menjadi bagian dari kekaisaran Romawi yang merupakan negara adikuasa saat itu tanpa tanding. Dapat digamparkan bahwa Saba merupakan negara kondusif secara politik. Meski demikian, mereka tidak pernah ketinggalan dala menggunakan kekatan militier jika diperlukan. Dengan kekuatan militer dan peradabannya, Saba lalu menjadi kekuatan adikuasa pada waktu itu.

Al-qur’an juga menyebutkan kekuata tantara Saba. Kepercayaan diri tentara ini juga terlihat melali komentar para panglima tentara Saba kepada ratu mereka, seperti yang dilukiskan dalam Surah Al-Naml berikut:

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

“Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. (Al Naml; 33)

Ma’rib merupakan ibukota Saba. Kota ini sangat kaya. Kelebihan ini merupakan imbas dari letak geografisnya. Ibuota ini dekat sekali dengan Sungai Dunha, yang titik pertemuannya dengan Gunung Bulaq sangat sesuai untuk pembangunan bendungan. Orang Saba menganggap keistimewaan ini sebagai hal yang mahal. Mereka pun membangun benndungan di tempat itu, yang menjadi tepat pertumbuhan peradaban mereka. Setelah itu, mereka mulai menjalankan irigasi dan pertanian. Begitulah mereka bisa mencapai tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi. Ma’rib sndiri merupakan ibukota yang paling pesat pertumbuhannya saat itu. Penulis Yunani, Pliny, yang telah mengunjungi dan memuji tempat ini menyebutkan bahwa Ma’rib merupakan wilayah yang luas dan hijau.[2]

Lukisan yang Ditulis dengan Bahasa Orang Saba

Tinggi bendungnan Ma’rib mecpai 16 meter. Lebarnya 600 meter. Panjangnya hingga 630 meter. Secara statistik, ini memakan 9600 hektar tanah. Seluas 5300 di antaranya berada di dataran bagian selatan, sementara sisanya berada di utara. Dua dataran ini juga disinggung dalam paatan orang Saba yang diberi nama Ma’rib dan dua dataran. Al-qur’an menyebutkan hal ini dengan sangat baik pada ayat berikut:

جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ

“dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri” (Q.S Sabaa: 15)

Ini menunjukkan bahwa ada kebun dan pohon anggur di kedua lembah atau dua dataran ini. Tempat itu menjadi tempat di Yaman yang paling banyak kekayaan dan hasil buminya berkat air bendungan itu. Jean Francois Chapolion dan Glazer menebutkan bahwa sudah sagat lama Bendungan Ma’rib membantu orang-orang di sekitarnya. Beberapa dokumen yang ditulis dalam bahasa Himyar menginformasikan bahwa bendungan ini telah menjadikan Kawasan di sekitarnya sangat subur dan produktif.[3]

Perbaikan bendungan ini selesai antara abad 5 dan 6 M. Hanya saja perbaikan-perbaikan itu tidak bisa mencegah bendungan ini runtuh pada tahun 542 M. bendungan ini runtuh akibat banjir Arim yang disinggung Al-qu’ran. Banjir Arim inilah yang mennyebabkan masalah luar biasa. Musibah ini telah mengahncurkan semua perkebunan, pohon anggur, dan taman-taman yang telah dijaga seuruh kaum  Saba selama puluhan abad. Setelah runtuhnya bendungan ini, kaum Saba mengalami stagnasi yang cukup lama. Tidak ada lagi penopang kehidupan bagi mereka setelah itu. Ini yang menjadi akhir sejarah kau mini setelah runtuhnya bendungan.

Banjir Arim Yang Meluluhlantahkan Saba

Ketika kita mau merenungkan ayat Al-qur’an melalui informasi sejarah yang bisa kita dapatka, tentu kita menemukan keseuaian yang luar bisa antara informasi Al-qur’an dan data sejarah. Semua temuan geologis dan kepurbakalaan membenarkan informasi yang disebutkan Al-qur’an. Seperti diseutkan Al-qur’an, kaum tidak mau mendengar nasihat rasul mereka dan mendustakan kebenaran yang dibawa sang rasul serta tidak mau beriman kepada utusan Tuhan itu memang berhak mendapatakan hukuman sengan banjir Arm. Al-qur’an menggambarkan banjir ini dala Surah Saba berikut:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ () فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (Q.S Sabaa : 15-16)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

[1] Al Mausu’ah Al Islamiyah; Al A’lam Al islami, Tarikh Jughrafiyah Intsughrsfiys, wa Qamus Bibliografiya j. 10, h. 268, lema “Saba”.

[2] Humile, Al Muktasyafat fi Ardh Al Injil, 1903

[3] Al Mausu’ah Al Islamiyah; Al A’lam Al islami, Tarikh Jughrafiyah Intsughrsfiys, wa Qamus Bibliografiya j. 10, h. 323-339, lema “Ma’rib”.

Nabi Luth As : Al-qur’an dan Kehancuran Kaum Luth (Part III)

Beberapa petunjuk yang jelas, juga tanda-tanda kasat mata, yang terlihat di Danau Luth, memberikan pesan bahwa ada maksud dibalik semua itu. Dengan pola yang sama, semua peristiwa yang diinformasikan oleh Alqur’an terjadi di Timur Tengah, Jazirah Arab, dan Mesir. Tepat di tengah-tengah beberapa wilayah inilah Danau Luth berada. Danau Luth dan beberapa wilayah di sekitarnya menjadi pusat perhatian para ahli Geologi. Karena, laut ini mengalami penurunan 400 meter dari permukaan Lut Tengah. Padahal, titik terendah di laut itu mempunyai kedalaman 400 meter dari permukaan laut.jadi, dasar laut di tempat itu telah mengalami penurunan 800 meter dari permukaan laut. Ini mejadi titik terendah di muka bumi.

Kedalaman tempat yang berada di Kawasan rendah di daerah laut tidak mencapai lebih dari 100 meter dari permukaan laut. Kekhasan lain yang dimiliki laut itu yang tidak terdapat di tempat lain adalah kadar garam yang mencapai 30%. Dengan kadar seperti itu, biota laut apapun, seperti ikam, rumput laut, tanaman laut, dan lain sebagainya, tidak mungkin bisa hidup di laut tersebut. Oleh karenanya, tempati ini disebut dengan Laut Mati (Dead Sea) di dalam khazanah pengetahuan Barat.

Diperkirakan kisah kehancuran kaum Luth yng diceritakan Al-qur’an terjadi pada tahun 1800 SM. Saat melakukan kajian geologi dan kepurbakalaan, Keller menjelaskan bahwa Sodom dan Gomorrah itu terletak di Lembah Sadim yang menjadi Kawasan paling turun dan sulit diajbkau di Danau Luth.

Padahal, tempat itu dulu paling banyak dihuni di muka bumi, juga paling banyak menonjol dalam strukturnya. Ini menjadi petunjuk yang memperlihatkan peristiwa kehancuran yang diriwayatkan Al-qur’an. Ada lagi bagian yang mirip lidah berbentuk semenanjung di ini sedalam 400 meter, tetapi bagian yang paling kiri dari dasar laut itudangkal sekali. Padahal, hasil penelitian yang didapat selama beberapa tahun memperlihatkan bahwa kedalaman air di tempat ini lebih dari 15-16 meter. Setelah itu, tempat dangkal terbentuk. Ini sebagai akibat dari gempa dan pengendapan yang disebabkan oleh longsor yang menyertainya. Tempat itu bernama Sodom dan Gomorrah, yang ditinggal kaum Luth.[1]

Werner Keller juga membahas soal bagian yang dangkal tersebut, yang diketahui baru terbentuk setelah kejadian dahsyat itu. Pendangkalan itu terjadi sebagai akibat dari gempa bumi dan longsor besar yang disebabkan oleh gempa. Tempat itulah yang memporak prandakan Sodom dan Gomorrah yang menjadi tempat tinggal kaum Luth. Sangat mungkin sekali bila di masa lalu seseorang bisa berpindah dengan berjalan kaki dari tempat it uke tepi pantai lain yang berhadapan. Sekarang, bagian paling bawah Laut Mati telah menutupi Sodon dan Gomorrah yang berada di Lembah Sadim. Sebagai akibat dari longsornya pondasi tanah lantaran dihantam bencana alam berganda yang terjadi pada abad ke-2 SM, air garam terdorong dari kiri semenanjung itu ke tempat kosong dan berlubang itu. Air garam itu pun memenuhi semua tempat tersebut.

Peninggalan kaum Luth sangat jelas ketika kita berlayar menggunakan kapal melewati Danau Luth hingga ke titik terjauh bagian selatan. Ketika matahari mengirimkan cahayanya ke arah kanan, kita akan melihat sesuatu yang mengerikan. Pada jarak tertentu di pantai dan dengan air laut yang bening, akan terlihat jelas batas hutan yang dilindungi oleh kadar garam Laut Mati. Dahan-dahan yang sangat tua dan akar-akar yang terlihat ketuaan berada di bawah air hijau yan gberkilauan.

Lembah Sadim merupakan tempat terindah di Kawasan itu pada masanya. Dahan dan pepohonan hijau tumbuh saat itu. Bunga mawar pu bermekaran di sana. Penelitian geologis dari segi dinamika bencana kaum Luth, mengungkapkan bahwa gempa yang memporak-porandakan kau mini sebagai akibat dari pembentukan rekahan yang panjang di bumi (garis rekahan) sejauh 190 meter. Garis rekahan inilah yang membentuk danau sungai Yordania. Sungai Yordania sendiri mengalami penurunan sekitar 180 m, sementara Laut Mati mengalami penurunan sekitar 400 meter dari permukaan tanah. Fenomena itu menunjukkan adanya peristiwa geologis dahsyat pada periode waktu tertentu.

Struktur Sungai Yordania dan Danau Luth membentuk bagiankecil pecahan dan rekahan bumi yang melewati tempat itu. Tempat dan panjang pecahan ini baru ditemukan pada masa kita saja. Rekahan ini dimulai dari wilayah Gunung Hermon hingga sepanjang bagian selatan, lal Danau Luth, dan terus berlanjut sampai di tengah-tengah pdang sahara Arab, dilanjutkan Teluk Aqabah, kemudian berlanjut melewati Lut Merah ampai ke Afrika. Sepanjang jarak rekahan itu, aktivitas gunung berapi tak pernah berhenti. Ini yang memungkinkan penelitian batu basalt dan gunung berapi yang ada di Gunung Meron (Galilee) Palestina, dataran rendah dan dataran tinggi Yordania, Teluk Aqabah, dan tempat-tempat yang ada di sekitarnya. Peninggalan dan informasi geologi yang dihimpun menunjukkan bahwa Danau Luth mengalami bencana geologis yang mengerikan. Werner Keller menulis sebagai berikut:

“Suatu kali seluruh Lembah Sadim yang mencakup wilayah Sodom dan Gomorrah amblas hingga mencapai kedalaman yang mengerikan. Kehancuran ini terjadi dengan gempa bumi dahsyat disertai beberapa dari gas alam dan kebakaran yang hebat. Kekuatan gunung berapi yang tenang tiba-tiba aktif di kedalaman laut sepanjang lempengan dari lembah itu. Kawah berapi yang bergejolak di bagian atas lembah tepi tepi pantai bagian barat. Ketika itulah uap gunung berapi mengendap dan lapisan dalam batu gunung berapi turun sejauh wilayah yang luas pada permukaan kapur. Uap yang berbatu dan lapisan dalam batu gunung berapi (basalt) menunjukkan bahwa tempat itu memang terkena gempa yang dahsyat dan letusan gunung berapi yang luar biasa pada waktu tertentu.”[2]

Padahal, pada Desember 1957 Majalah National Geographic menurunkan laporan terkait informasi itu sebagai berikut:

“Puncak gunung yang kea rah Laut Mati naik. Sampai sekarang belum ada satupun orang yang berhasil menemukan kota-kota yang hancur: Sodom dan Gomorrah. Hanya saja para peneliti berpendapat dua kota itu berada di Lembah Sadim, yang berhadapan dengan Kawasan padang pasir. Air Laut Mati telang menenggelamkan kedua kota itu setelah gempa yang dahsyat menghancurkannya.”

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] Werner Keller, Al-Injil ka Tarikh, 1964, h. 73-74.

[2] Werner Keller, Al-Injil ka Tarikh, 1964, h. 75-76.

Nabi Luth As : Al-qur’an dan Kehancuran Kaum Luth (Part II)

Nabi Luth As menduga bahwa ia dan tamu-tamunya akan menjadi korban kebiasaan setan itu.

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ

Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)”. (Qs Hud : 80)

Hanya saja para tamunya kemudian mengingatkannya bahwa mereka adalah utusan Allah. Mereka lalu berkata:

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. (Qs Hud : 81)

Ketika penyimpangan kaum Luth itu sudah mencapai pucaknya, Allah Swt menyelamatkan Nabi Luth As dengan bantuan dua malaikat itu. Pada waktu subuh, kaum Luth pun dihancurkan dengan bencana yang dahsyat, seperti yanf telah dijanjikan pada Luth sebelumnya.

وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ () وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ

“Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.” (Qs. Al-Qamar: 37-38)

Beberapa ayat menggambarkan pada kita bagaimana kehancuran kaum Luth itu terjadi.

وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ () فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ

“dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi,” (Qs. Hud: 82-83)

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ () وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ () إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ () وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

“Then We destroyed the others. And We rained upon them a rain [of stones], and evil was the rain of those who were warned. Indeed in that is a sign, but most of them were not to be believers. And indeed, your Lord – He is the Exalted in Might, the Merciful.” (Qs. Al Syua’ara: 172-175)

Ketika kaum Luth dihancurkan, yang selamat hanya Luth dan orang yang beriman saja. Namun, jumlah keseluruhan tidak mencapai jumlah anggota satu keluarga. Bahkan, istri Nabi Luth sendiri juga termasuk yang tidak selamat karena tidak termasuk orang yang beriman.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ () إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ () وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ () فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ () وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِين

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.’ (Qs. Al-A’raf: 80-84)

Begitulah Luth dan orang-orang beriman yang bersamanya, juga keluarganya, bisa selamat dari malapetaka itu, kecuali istrinya yang termasuk orang yang dibinasakan. Di Taurat dijelaskan bahwa Luth berhijrah bersama Ibrahim, setelah kaumnya yang tersesat dihancurkan. Tempat tinggal mereka pun juga dihapuskan dari wajah bumi. Ayat berikut menjelaskan karakter siksa yang menimpa kaum Luth:

وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ

“dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. (Qs. Hud: 82)

Kalimat “Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan)” memberi petunjuk bahwa tempat yang terkena goncangan keras adalah wilayah yang kuat. Kita mendapati kaum Luth –yang menjadi tempat yang terkena siksa – memberi beberapa petunjuk jelas ihwal petaka itu. Ahli kepurbakalaan Wenner Keller mengatakan, “Suatu kali seluruh Lembah Sadim yang mencakup wilayah Sodom dan Gomorrah amblas hingga mencapai kedalaman yang mengerikan. Kehancuran ini terjadi dengan gempa bumi dahsyat yang disertai beberapa kali letusan, juga perciksn cahayayang muncul dari gas alam dan kebakaran yang hebat.[1]

Faktanya, Laut Mati dan Danau Luth memang termasuk daerah gempa aktif. Laut itu terletak di rekahan tektonik (plate tectonics) aktif, yakni sejauh 300 km sepanjang sisi yang menghubungkannya dengan Danau Tiberias di utara hingga pertengahan Lembah Irba di sebelah selatan.[2]

Kalimat terakhir di ayat itu “Kami hujani mereka dengan bau dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi”  mungkin dimaksudkan untuk mengacu terjadinya ledakan gunung berapi di dua tepi pantai Danau Luth. Oleh karenanya, gambaran terkait batu yang dilepaskan dari tanah yang terbakar itu disebutkan juga pada ayat berikut:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (Qs. Asy Syu’ara: 173)

Terkait hal ini, Werner Keller mengatakan, “Kekuatan gunung berapi yang tenang tiba-tiba aktif di kedalaman laut sepanjang lempengan dari lembah itu. Kawah berapi yang semula tenang terus-menerus tampak bergejolak di bagian atas lembah tepi pantai bagian barat. Ketika itulah uap gunung berapi mengendap dan lapisn dalam batu gunung berapi turun sejah wilayah yang luas pada permukaan kapur.”[3]

Uang yang berbatu dan lapisan dalam batu gunung berapi menunjukkan bahwa tempat ini mendpat gempa yang dahsyat dan gunungg berapi yang luar biasa pada suatu waktu. Malapetaka ini sesuai gambaran Al-qur’an pada ayat berikut:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

“dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (Qs. Hud: 82)

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا

Al-qur’an membei isyarat bahwa dugaan yang paling tepat adalah gempa gunung berapi. Sementara itu, firman Allah Swt berikut:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan),” (Qs. Hud: 82)

Firman ini memberi petunjuk terjadinya gempa berdampak pada gunung berapi sehingga ia meletus di atas permukaan bumi agar bisa meninggalkan jejak kehancuran, rekahan, dan uap. Wallahua’lam.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

[1] Werner Keller, Al-Injil ka Tarikh, 1964, h. 75-76.

[2] “Alam Injil” pada Historical Archeology Times (Arkeologi dan Sejarah), 1993

[3] Werner Keller, Al-Injil ka Tarikh, 1964, h. 76.

Peningkatan Keterampilan Mengajar Melalui Pelatihan

Kata keterampilan dapat disamakan dengan kata kecekatan. Orang yang dapat dikatakan sebagai orang terampil adalah orang yang dalam mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaannya secara cepat dan benar. Muzni Ramanto, Soemarjadi, dan Wikdati Zahri (1991:2)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keterampilan merupakan “kecakapan untuk menyelesaikan tugas”,  sedangkan mengajar adalah “melatih”. DeQueliy dan Gazali (Slameto, 2010:30) mendefinisikan mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Definisi yang modern di Negara-negara yang sudah maju bahwa “teaching is the guidance of learning”. Mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Alvin W.Howard (Slameto, 2010:32) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge.

Berdasarkan pengertian tersebut maka yang dimaksud dengan keterampilan mengajar guru adalah seperangkat kemampuan/kecakapan guru dalam melatih/membimbing aktivitas dan pengalaman seseorang serta membantunya berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan. Jadi, persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru adalah penilaian berupa tanggapan/pendapat  siswa terhadap kemampuan/kecakapan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dapat disimpulkan bahwa keterampilan adalah modal penting bagi para guru dalam proses pembelajaran di kelas. Kecakapan guru memilih metode sebagai upaya pemahaman materi bagi para siswa sangat berpengaruh besar dalam penerimaan materi yang disampaikan.

Proses belajar dan mengajar sejalan dengan apa yang diajarkan oleh agama Islam sebagaimana sabda Rasulullah,

“sedekah yang paling utama adalah orang islam yang belajar suatu ilmu kemudian diajarkan ilmu itu kepada orang lain.”(HR. Ibnu Majah)

Maksud hadis diatas adalah lebih utama lagi orang yang mau menuntut ilmu kemudian ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Inilah sedekah yang paling utama dibanding sedekah harta benda. Ini dikarenakan mengajarkan ilmu, khususnya ilmu agama, berarti menenan amal yang muta’adi (dapat berkembang) yang manfaatnya bukan hanya dikenyam orang yang diajarkan itu sendiri, tetapi dapat dinikmati orang lain.

Dalam hadist lain dijelaskan tentang anjuran untuk terus meningkatkan keterampilan diri

“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664).

Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan. ” (Syarh Shahih Muslim, 16: 194).

Peningkatan keterampilan mengajar bagi seorang guru sesuai dengan penjelasan Imam Nawawi tentang hadist di atas, dimana beliau berpendapat bahwa hadist tersebut mengandung anjuran kepada kita ummat Islam untuk senantiasa bersemngat dalam rangka ketaatan kepada Allah. Dalam prosesnya peningkatan keterampilan diri adalah bentuk lain dari ketaatan diri kita kepada Allah. Karena kebutuhan keterampilan pendidikan adalah upaya seorang pendidik untuk terus menyebarkan nilai-nilai luhur pendidikan.

Kesadaran akan pentingnya peningkatan keterampilan pengajaran bagi para guru inilah yang agaknya mendasari LPI Abata mengadakan dua pelatihan sekaligus, “Penggunaan Materi Ajar Yang Bermakna di Kelas Matematika” yang terlaksana di tanggal 7 Januari dan “Learning Style oleh Tim BLP” di tanggal 8-9 Januari. Kedua pelatihan dengan tema berbeda tersebut bertujuan untuk terus meningkatkan potensi diri para guru SDIT Abata. Sehingga diharapkan pembelajaran di kelas akan semakin variatif dan tidak membosankan.

Khataman dan Imtihan Metode Ummi SD Exiss Abata

Ada yang istimewa di tanggal 1 Desember  2018 lalu, pasalnya pada hari itu telah diselenggarakan Khataman dan Imtihan Metode Ummi SD Exiss Abata yang bertempat di Ruang Ali Sadikin Kantor Walikota Jakarta Barat. Acara ini menjadi pembuktian hasil dari penerapan metode Ummi dalam pembelajaran Al-quran siswa dan siswi SD Exiss Abata. Pada acara ini para siswa dan siswi perwakilan dari kelas 3 sampai dngan kelas 6 yang menjadi peserta ini mengkhatamkan (menuntaskan) pembelajaraan Al Quran dengan metode Ummi dan memperlihatkan kepiawaiannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ang diajuakan, pertanyaannya terdiri dari tartil (kelancaran), fashohah (kefasihan), gharib (bacaan-bacaan asing dalam Al Quran yang kadang cara membacanya berbeda dengan tulisannya), tajwid (ilmu terkait hukum-hukum bacaan di dalam Al Quran) serta hafalan juz ‘amma.

Acara berlangsung sangat meriah dan menantang saat acara imtihan (uji publik) dimana seluruh peserta harus siap menerima dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar materi pembelajaran Al Quran metode Ummi tanpa ada skenario sebelumnya. Alhamdulillaah, berkat latihan dan persiapan yang matang dengan dibimbing para ustadz dan Ustadazah pengajar pelajaran Al-qur’an yang ikhlas dan profesional, ketegangan yang menghantui seluruh peserta sebelum acara dimulai berubah menjadi senyum kebahagiaan saat mereka mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengalir dengan lancar baik yang dilontarkan oleh tim dari Ummi. Seluruh hadirin yang mengikuti acara ini berdecak kagum dan tanpa sadar meneteskan air mata karena terharu kemampuan para peserta dalam menguasai materi-materi Al Quran di usia mereka yang masih belia.

Khotaman dan Imtihan sendiri merupakan program lanjutan dari rangkaian program KBM Ummi setelah sebelumnya para siswa lulus munaqosyah (ujian akhir siswa) Al Quran metode Ummi yang telah dilaksanakan sebulan sebelumnya. Semoga cita-cita SD Exiss Abata untuk Membentuk dan melahirkan anak didik yang mencintai dan menjunjung tinggi Islam dan Al-Qur’an untuk masa depannya dapat terwujud sehingga menjadi umat terbaik sebagaimana sabda Rasulullaah, “Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Aamiin.

Nabi Luth As : Al-qur’an dan Kehancuran Kaum Luth (Part I)

Terkait kaum Luth As, Allah Swt berfirman:

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ () إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ () نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ () وَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ

“Kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.” (Al-Qamar: 33-36)

Luth As hidup pada masa yang sama dengan Nabi Ibrahim As. Ia diutus pada kaum yang tinggal berdampingan dengan kaum Nabi Ibrahim. Seperti diinformasikan Al-qur’an, kaum-kaum itu menyukai hal menyimpang yang sebelumnya belum pernah dikenal. Penyimpangan itu berupa perilaku sodomi. Ketika Nabi Luth menasihati kaumnya untuk meninggalkan perilaku menyimpang itu dan mengancam mereka dengan hukuman dan siksa Tuhan, mereka tidak mempercayainya bahkan mengingkari kenabian dan kerasulannya. Mereka justru semakin berani dalam melakukan perilaku sesat dan menyimpang itu. Akhirnya, kau mini pun mengalami kehancuran setelah mengalami bencana yang mengerikan.

Pada kitab Perjanjian Lama, disebutkan bahwa tempat yang ditinggali kaum Luth adalah Sodom. Tempat ini terletak di sebelah kiri Laut Merah. Beberapa penelitian telah mengungkap bahwa kehancuran memang ditemukan di sana, seperti yang disinggung Al-qur’an. Namun, penelitian kepurbakalaan menunjukkan bahwa kota yang menjadi lokasi tinggal kaum Luth terletak di satu wilayah di Laut Mati yang memanjang sampai batas antara Yordania dan Palestina.

Sebelum kita mengungkap sisa-sisa bencana ini, akan baik bila kita merenungkan apa yang mejadi penyebab hukuman yang diterima oleh kaum Luth. Al-qur’an menginformasikan kepada kita bagaiman Luth As telah memperingatkan kaumnya dan bagaimana cara mereka menjawabnya.

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ () إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ () إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ () فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ  وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ () أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ () وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ () قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ () قَالَ إِنِّي لِعَمَلِكُمْ مِنَ الْقَالِينَ

“Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir” Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”. (Asy-Syu’ara: 160-168)

Kaum ini justru mengancam Luth As ketika ia mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka justru marah pada Luth As karena telah mengajak ke jalan yang benar dan kesucian diri. Mereka berencana mengusir Luth As dan orang-orang yang beriman. Ini seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikut:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ () إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ () وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. Al’A’raf: 80-82)

Luth As menyampaikan kebenaran dengan sangat jelas kepada kaumnya. Ia juga mengancam mereka dengan cara yang tegas dan lugas. Hanya saja mereka sudah tidak mempan dengan berbagai ancaman. Mereka justru terus ingkar dan tidak mempercayai ancaman yang disampaikan Luth As.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ () أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Al-Ankabut : 28-29)

Setelah Luth As mendapat jawaban seperti itu, ia pun mengahdap pada Allah Swt untuk memohon pertolongan.

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. (Al-Ankabut: 30)

رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ

(Luth berdoa): “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan”. (Asy-Syu’ara: 169)

Beginilah cara Tuhan mengabulkan permohonan Rasul-Nya. Dia pun mengirim dua malaikat dengan berwujud seperti dua orang laki-laki. Sebellum menemui Luth As dua malaikat ini menemui Ibrahim As. Saat itu kedua malaikat ini menyampaikan kabar gembira bahwa istrinya akan mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki. Di samping itu, kedua malaikat ini menjelaskan pada Ibrahim As alasan megapa keduanya diutus ke kaum Luth. Allah memutuskan untuk menghancurkan kaum Luth yang sombong.

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ () قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمٍ مُجْرِمِينَ () لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ طِينٍ () مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

“Ibrahim bertanya: “Apakah urusanmu hai para utusan?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas”. (Adz-Dzariyat: 31-34)

Setelah meninggalkan tempat tinggal Ibrahim As, kedua malaikat sebagai utusan Tuhan  yang menyamar ini menuju ke rumah Luth As. Mulanya, Luth sangat bersedih mengetahui kedatangan utusan Tuhan karena ia belum pernah melihat mereka sebelumnya. namun, setelah keduanya berbicara, Luth pun tenang.

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

”Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit”. (Qs Hud : 77)

قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ () قَالُوا بَلْ جِئْنَاكَ بِمَا كَانُوا فِيهِ يَمْتَرُونَ () وَأَتَيْنَاكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ () فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ وَامْضُوا حَيْثُ تُؤْمَرُونَ () وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ  () وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ

“ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu”. ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (Qs Al Hijr: 62-66)

Saat itu kaumnya tahu bahwa Luth As sedang mendapatkan tamu. Mereka tidak ragu untuk menyakiti tamu-tamu Luth As dengan kebiasaan mereka yang memalukan itu. Mereka pun berkumpul di rumah Luth As menunggu tamu-tamunya keluar. Lut As mengkhawatirkan keselamatan tamu-tamunya jangan-jangan kaumnya akan menyakiti mereka. Ia pun berkata pada kaumnya, seperti dikutip ayat berikut:

قَالَ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ ضَيْفِي فَلَا تَفْضَحُونِ () وَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ

“Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. (Qs Al Hijr: 68-69)

Kaumnya menjawab:

قَالُوا أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (Qs Al Hijr: 70)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

1 2 3