Author Archives: Lati Larasati

Wisuda dan Tasyakuran Daring Angkatan Infinity

Waktu sepertinya berlalu dengan cepat sampai kita lupa berapa denting jarum jam telah bergerak dari satu angka ke angka yang lain. Waktu memang selalu konsisten sampai kita tak mampu menghitung berapa cerita yang telah kita temui. Banyak sekali hal yang ternyata sudah kita lalui dalam rentang tahun tertentu, hingga kita baru menyadari bahwa beberapa pertemuan harus menemui perpisahan. Maka, pada setiap pertemuan di dunia ini pasti akan berujung pada perpisahan. Siapa mengira bahwa enam tahun akan terasa begitu cepat? Tapi bukankah begitulah cara kerja waktu? Tak ada kata mundur, apalagi reset. Adalah manusia hanya bisa melakukan yang terbaik dalam hidupnya, karena kehidupan di dunia sesungguhnya adalah ujian untuk terus naik pada level terbaik.

Purna sudah pendidikan dasar yang ditempuh bagi murid-murid kelas 6 angkatan Infinity. Pendidikan selama 6 tahun yang awalnya dikira akan terasa sangat lama, ternyata terasa sangat singkat. Masa-masa ujian di kelas 6 yang awalnya menyebalkan, kini mungkin akan jadi sangat dirindukan. Hal-hal yang dulu kita anggap menyebalkan akan jadi sangat istimewa. Karena ternyata 6 tahun yang terasa singkat di dalamnya terlalu banyak cerita.

Selayaknya Angkatan-angkatan terdahulu, rencana awal tasyakuran tahun ini adalah momentum berkumpul dengan teman-teman, keluarga, dan seluruh asatidz asatidzah SD Exiss Abata sebelum akhirnya akan berpisah untuk melanjutkan pendidikan masing-masing. Namn siapa yang bisa mengetahui rencana Allah? Rencana yang mungkin kita pikir adalah rencana terbaik. Benar, Allah adalah sebaik perencana maka pandemi Covid-19 adalah bukti tentang lemahnya rencana manusia.

Setelah rencana tasyakuran yang normalnya diselenggarakan dalam gedung yang otomatis akan berpotensi mengumpulkan banyak orang maka diputuskan untuk menggelar tasyakuran secara daring. Hal ini diputuskan untuk mengikuti aturan pemerintah tentang Social Distancing. Maka pada hari Sabtu, 20 Juni 2020 SD Exiss Abata sukses menggelar kegiatan Tasyakuran dan Wisuda secara daring dengan dibantu aplikasi Zoom.

Bertindak sebagai Master of Cerremony Ust. Muhamad

Acara dibuka dengan penampilan apik dari tim marawis,

dilanjutkan dengan pembacaan tasmi oleh perwakilan kelas 6 peserta wisuda, ananda rahma, ananda hisyamm, ananda naya, ananda kizza dan ananda amira dzakiyya

disusul dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Abata bersama-sama. Acara kembali dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur LPI Abata, Bapak H. M Ismed Fassah, M. Pi

Selepas sambutan adalah prosesi pengalungan medali yang dilakukan oleh orangtua kepada para wisudawan/i di rumah masing-masing. Kemudian diikuti dengan sambutan dari Kepala SD Exiss Abata, Bapak Encep Sopyan Sori M.Pd.I

Acara selanjutnya adalah penampilan dari para wisudawan/i yang telah dipersiapkan sebelum acara tasyakuran. Penampilan mereka ditampilkan dalam bentuk video, disusul dengan pemberian coklat dan surat untuk kedua orang tua masing-masing wisudawan/i. selepas penampilan, ada kesan dan pesan yang disampaikan oleh perwakilan orang tua murid.

Berikutnya adalah pengumuman penerima penhargaan dari tiap-tiap kelas yang dibacakan oleh Kepala sekolah

                                                     

                  

Penghargaan dibagi menjadi 3 kategori, bidang akademik, bidang Al-qur’an, dan bidang akhlaq. Selepas pembacaan penghargaan adalah pemutaran kaleidoskop siswa. Kemudian disusul dengan do’a yang dibacakan oleh Ustadz Muhammad Alwi

Penampilan puncak dan juga sebagai penutup acara adalah persembahan para guru untuk wisudawan/i

                 

Wallahu A’lam bish Shawab

SANRAM Daring Pegawai LPI Abata

Ramadhan ibarat sekolah tempat kita menempa diri, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki kekurangan-kekurangan yang seringkali kita lakukan sebelum ramadhan. Ramadhan adalah pintu untuk membuka segala bentuk kebaikan yang tidak kita temui di bulan-bulan lain. Dijaminkannya rahmat, pahala berlipat dan diampuninya dosa-dosa. Ramadhan adalah momen untuk merenungi nikmat yang telah kita terima sehingga belajar bagaimana caranya berempati. Bahwa setidaknya ramadhan mampu membekaskan setidaknya satu pelajaran yang akan terus kita bawa bahkan setelah ramadhan pergi meninggalkan kita.

Meski ramadhan tahun ini berbeda dengan ramadhan tahun-tahun sebelumnya, tak lantas semangat kita jadi kendor. Karena sesungguhnya kemuliaan ramadhan tetap terjaga dengan atau tanpa hiruk pikuk kita saat menyambutnya. Allah tetap menjaminkan rahmat, pahala berlipat, dan ampunan walaupun ramadhan kita dibarengi dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia.

Anjuran untuk tetap #dirumahsaja setidaknya memberikan ruang dan waktu untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Merekatkan kembali tali yang mungkin sudah mulai rapuh antara hamba dengan Penciptanya. Menyambung kembali hubungan yang mungkin pernah retak dalam keluarga. Seorang ayah akan kembali belajar untuk mendekatkan dirinya pada anak-anaknya, disebabkan kesibukan pekerjaannya sebelum pandemi melanda dirinya tak punya cukup untuk sekedar melemparkan lelucon pada anak-anaknya. Seorang ibu yang mungkin dulunya sibuk menghadiri arisan kesana kemari hingga sedikit waktunya untuk sekedar mencium kening anak-anaknya karena keperluan sang anak sudah beres dengan bantuan PRT. Atau pun seorang anak yang merantau dan tinggal terpisah dengan orang tuanya, disebabkan kesibukannya sampai lupa kapan terakhir bertukar kabar.

Ramadhan 1441 H memang sangatlah memorable. Bagaimana tidak? Semua kegiatan mau tidak mau kita kerjakan dari rumah. Dari bangun sahur sampai berbuka kita kerjakan #dirumahsaja. Anjuran pemerintah tentang social distancing memang harus kita jalankan untuk meminimalisir penularan Covid-19. Mematuhi anjuran tersebut, LPI ABATA akhirnya memutuskan untuk mengadakan SANRAM Pegawai secara daring. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini tetap berlangsung secara khidmat dan lancar. Acara berlangsung pada hari Kamis tanggal 14 Mei 2020 dari pukul 06.00 WIB s/d pukul 17.45 WIB. Materi disampaikan dengan dua sesi. Sesi pertama bertajuk Lailatul Qadar oleh Ustadz Ade Cholifah, sedangkan sesi kedua bertajuk Pendidikan Sebagai Pembentukan Akhlaq oleh Ustadz Farid Obakh, MA. Untuk mengakomodir kegiatan SANRAM Pegawai secara daring menggunakan aplikasi Google Meet.

Akhir kata, meskipun ramadhan telah pergi semoga tetap meninggalkan beberapa pelajaran dan semangat beribadah kita semakin bertambah setiap harinya.

Wallahu A’lam bish shawab

Pesantren Ramadhan 1441 H Online SD Exiss Abata

Selamat tinggal ramadhan, sampai jumpa kembali insyaAllah. Selamat datang syawal, semoga semangat Ramadhan senantiasa membersamai hari-hari kita. Meski ramadhan telah pergi meninggalkan kita, tak lantas jadi melupakannya begitu saja. Misalnya saja kegiatan menarik  pada ramadhan kemarin, berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Spesial karena Kegiatan Pesantren Ramadhan (SANRAM) SD Exiss Abata digelar secara online atau daring. Benar, kenyataanya keterbatasan bukan alasan untuk tetap menyemarakkan gelaran rutin tiap tahun ini. Memenuhi anjuran dari pemerintah untuk tetap #dirumahsaja membuat panitia membuat alternatif ini, karena aturan social distancing tidak memungkinkan untuk mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang.

SANRAM online SD Exiss Abata dibagi menjadi dua sesi, sesi kelas rendah yang diikuti oleh siswa dan siswi kelas 1 s/d kelas 3 sedangkan sesi kelas tinggi yang diikuti oleh siswa dan siswi kelas 4 s/d kelas 6. Dimeriahkan dengan lomba-lomba yang membuat ramadhan #dirumahsaja tetap keren.

Lomba-lomba SANRAM online tahun 1441 H meliputi:

Lomba Membuat poster kelas rendah dengan peserta dari kelas 1

Lomba membuat video dengan peserta dari kelas 2

Lomba membuat komik islami kelas rendah dengan peserta dari kelas 3

Lomba membuat poster kelas tinggi dengan peserta dari kelas 4 s/d kelas 6

Lomba membuat komik kelas tinggi dengan peserta dari kelas 4 s/d kelas 6

Lomba azan dengan peserta dari kelas 4 s/d kelas 6

Lomba tahfiz kelas rendah dengan peserta dari kelas 1 s/d kelas 3

Lomba tahfiz kelas tinggi dengan peserta dari kelas 4 s/d kelas 6

Perlombaan dalam sesi kelas rendah dilaksanakan pada tanggal 11-12 Mei 2020, sedangkan untuk sesi kelas tinggi dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2020. Acara puncak SANRAM online dimulai dengan pengumuman pemenang lomba dilanjutkan pengiriman hadiah kepada para pemenang dan diakhir acara semakin meriah dengan tausiyah dari pendongeng via aplikasi zoom dan live instagram.

  

 

 

Meneladani empati Rasullullah dengan Kegiatan Baksos

Belakangan mungkin ada banyak diantara kita yang merasa bosan karena harus tetap berada di rumah. Membatasi kegiatan di luar, menjauhkan diri sementara dari keramaian, tidak lagi bisa ngopi-ngopi dengan teman, atau berlama-lama ngobrol dengan mereka. Benar, pandemi yang tengah mewabah membuat dunia kita seakan jungkir balik. Semua kegiatan yang dulu terlihat sepele sekarang jadi amat kita rindukan. Tak ada salahnya bosan karena rutinitas memang terkadang membosankan. Namun yang tak boleh kita lakukan adalah berlama-lama dalam keadaan bosan. Ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar merasa bosan yang berakhir keluh kesah. Seharusnya pandemi menjadi jalan bagi kita untuk intropeksi diri. Setidaknya pandemi membuat kita lebih dekat dengan keluarga. Dengan orang tua, saudara, atau dengan anak-anak kita. Pandemi semestinya membuat hati kita jadi peka terhadap lingkungan sekitar.

Bahwa rutinitas yang menurut kita membosankan ternyata jadi hal yang mewah bagi orang lain. Bagi mereka yang harus bekerja di luar rumah disaat kita diberi fasilitas bekerja dari rumah atau mereka yang harus dirumahkan karena perusahaan tempat mereka bekerja tak mampu lagi membayar gajinya.
Dalam satu riwayat bagi Baihaqi, (Aisyah) berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut. Seandainya kami menghendaki, kami bisa makan sampai kenyang, tetapi beliau suka mendahulukan orang lain atas diri beliau.”

Belajarlah dari tingginya level empati Rasulullah, yang tanpa ragu mendahulukan orang lain di atas kepentingan dirinya. Rasullah menghormati orang kaya dan berkemampuan, sekaligus mencintai mereka yang dhu’afa agar keduanya saling berbagi empati. Sebagai bentuk peneladan kita pada empati Rasulullah, baru-baru ini Yayasan LPI Abata mengadakan acara baksos yang rutin setiap tahunnya diselenggarkan. Namun berbeda dengan tahun sebelumnya, bantuan baksos berupa paket kebutuhan sembako diantarkan langsung ke rumah penerima baksos sesuai arahan pemerintah dalam upaya social distancing selama pandemi ini.

Mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat, serta menjadi pengasah rasa empati diantara kita. Teriring ucapan terimakasih banyak kepada para panitia yang telah menyempatkan diri terjun langsung ke lapangan demi kelancaran dan kesuksesan kegiatan baksos tahun ini.
Jazakumullah khairul jazaa

Ujian Sekolah Daring SD Exiss Abata di Tengah Pandemi

Ujian adalah hal pasti yang akan dialami oleh manusia yang hidup dunia, karena hakikatnya kehidupan adalah rangkaian ujian. Tak ada seorang mukmin pun yang hidup di dunia ini akan lepas dari ujian. Semakin kuat iman seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh Allah akan semakin besar. Ingatlah kisah masa kecil Rasulullah yang terlahir tanpa seorang ayah, diasuh ibunya hanya sampai masa kanak-kanak karena ibunya pun menyusul ayahnya meninggal dunia. Masa kecilnya jauh dari hiruk pikuk permainan selayaknya teman-teman sebayanya. Juga bagaimana beliau diuji saat wahyu telah sampai padanya, dicaci maki sebagian besar penduduk Quraisy, dilempar batu dan kotoran, hingga diboikot 3,5 tahun lamanya. Begitu pula dengan nabi yang lain, mereka semua mendapat ujian yang berat dari-Nya.

Kisah ujian para nabi mengajarkan pada kita bahwa semakin tinggi tingkat keshalehan seseorang maka semakin tinggi pula ujian yang akan dihadapinya. Semakin tinggi level pendidikan seseorang maka semakin susah level yang akan dihadapinya.

Firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 20:

“Dan kami jadikan sebagian kamu ujian bagi sebagian yang lain. (Demikian untuk membuktikan, apakah) kamu mau bersabar? dan adalah Rabbmu Maha Melihat.”

Ujian melatih kita bagaimana untuk sabar, semakin sering ujian yang kita hadapi akan semakin kuat pula diri kita. Hari-hari ini kita semua mungkin merasa sangat lelah disebabkan pandemi yang sedang menjangkiti sebagian besar penduduk bumi yang tengah kita tinggali. Ada banyak kegiatan yang dahulunya dapat kita lakukan, sementara harus kita tinggalkan demi mencegah penyebaran virus Covid-19. Dampaknya saat ini segala kegiatan sebisa mungkin dilakukan dari rumah. Tak terkecuali sekolah. Alternatif sekolah daring dipilih sebagai solusi meminimalisir penyebaran virus. Kembali lagi pada firman Allah di atas maka, semestinya sebagai mukmin untuk senantiasa bersabar dalam meghadapi ujian ini. Di tengah pandemi yang melanda saat ini, para siswa/siswi kelas VI SD Exiss Abata dengan sabar mengikuti ujian sekolah. Ujian daring dilakukan di rumah masing-masing tetap dengan bimbingan para guru dan pengawasan dari para orang tua. Semoga ujian ini menjadikan para Ananda peserta ujian sekolah senantiasa lebih baik lagi dan bermanfaat kelak di masa depan.

Wallahu A’lam bish Shawab

Khataman & Imtihan Al Quran SD Exiss ABATA

SD Exiss Abata kembali mengadakan Khataman & Imtihan Al Qur’an meluluskan siswa Tartil,Turjuman &  Tahfidz jus 30, 29 & 28, dibawah bimbingan langsung Tim Ummi Foundation Surabaya di Ballrom Hotel Mega Anggrek Jakarta Barat, Sabtu 18 Januari 2020.

Khataman merupakan kegiatan membaca Al Qur’an secara bersama-sama dimulai dari Al Fatihah, dilanjutkan Surat At Takatsur sampai dengan An Naas, kemudian Al Fatihah dan Surat Al Baqarah ayat 1-5, dan At Taubah ayat 1- 3 , dan ditutup dengan doa Khotmil Qur’an.

Imtihan merupakan proses tanya jawab seputar tartil (perlahan dan jelas), fashohah (kefasihan ucapan), ghorib (bacaan yang tidak seperti biasanya), tajwid (hukum dalam membaca Al Qur’an), turjuman (terjemah ayat) dan hafalan oleh publik yang dipandu oleh Ummi Foundation Surabaya.

 

 

Setelah sesi tanya jawab diberikan waktu prosesi anak-anak menemui kedua orang tua dan guru selama 5 menit untuk meminta doa restu agar menjadi anak yang sholeh dan sholihah, sukses, dan berguna bagi agama. Lima menit yang berarti, mendadak seisi ruangan menjadi suasana yang mengharu biru. Para peserta imtihan menangis dalam pelukan orang tuanya masing-masing. Permohonan doa restu anak-anak kemudian disambut para orang tua dengan pelukan kasih sayang dan pesan-pesan motivasi agar ilmu yang telah diperoleh menjadi manfaat bagi umat di kemudian hari.

Dilanjutkan beberapa sambutan dari para pejabat sekolah serta tamu kedinasan perwakilan Kota Jakarta barat. Banyak motivasi yang diberikan khusus untuk para peserta Khataman & Imtihan Al Qur,an juga rasa bangga yang tak terkira atas kesuksesan para asatidz dan asatidzah Al Qur’an yang tanpa kenal lelah mengantarkan para siswa hingga ke tingkat ini.

Akhirnya, semoga imtihan kali bukanlah akhir dalam mempelajari Al qur’an melainkan awal untuk memotivasi diri untuk lebih baik lagi.

Wallahu a’lam bish shawab

Terungkapnya Jasad Fir’aun (Part III)

 

Sekarang mari kita membicarakan fenomena satu-satunya yang tidak ditemukan pada mumi fir’aun-fir’aun yang lain. Tidak seorang ahli kepurbakalaan yang bisa menjelaskannya. Ilmu kedokteran juga tidak mampu mengungkap mengapa pengenduran kedua terjadi di tangan kiri itu. Mereka pun tidak bisa menjelaskan bagaiman otot-otot itu tetap keras, atau bagaimana fungsi elastisnya bisa bekerja, sehingga ia bisa mengembalikan tangan ke posisi semula selama tidak kurang dari 3000 tahun. Padahal, sepotong karet bila terikat selama serratus tahun, maka sudah dipastikan bahwa ia akan kehilangan fungsi elastisnya dan tidak akan pernah bisa lagi mengerut.

Lalu bagaimana dengan pendapat kita dengan otot yang normalnya hanya bisa mengeras setelah mendapat perintah yang dikeluarkan dari otak? Otot yang mengalami kejang dan diikuti kekakuan, yang sebagaimana lazimnya setelah itu tidak terjadi pengerutan kedua. Urat tebal dan dan tinggi juga menjaga susunan dan fungsinya selama ribuan tahun. Jika lapisan mayat itu tidak dilepaskan dari tangan hingga urat tebal meluncur di tengah-tengah urat tinggi, maka akibatnya panjang otot pun mengecil dan tangan pun naik. Bukankah ini sudah di luar kebiasaan normal, yang berlaku dalam hokum alam? Bila mukjizat didefinisikan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam, maka yang bisa kita lakukan terkait dengan kasus tangan kiri Ramses II ini hsnys pasrah bahwa ini adalah bukti kebesaran Tuhan. Kebesaran bagi orang-orang setelah Fir’aun, semenjak permulaan abad ini, tepatnya pada tahun 1902 ketik tangan Ramses II ini dibiarkan dalam posisi aslinya, setelah lapisan pembungkus jasad dibuka. Meskipun sudah banyak orang yang lupa apa yang menjadi tujuan itu semua, hingga akhirnya semua mata tertuju dan mencermati fenomena ini.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami. (Q.S Yunus: 92)

Masih ada ayat yang lain, yaitu firman Allah Swt berikut:

اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚوَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!” (Q.S Al-Mukmin: 46)

Semua mufasir berpendapat kejadian itu berlangsung di alam barzakh, selain azab yang sangat keras yang akan diterima kaum Fir’aun pada hari kiamat kelak. Jadi, kejadian ditampakkannya neraka pada pagi dan petang merupakan bagian dari siksa kubur. Pada hadis yang diriwayatkan Shakhrah bin Juwairah dari Ibn Umar yang menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Ketika orang kafir meninggal dunia, maka rohnya akan diperlihatkan neraka setiap pagi dan petang.” Kemudian beliau membaca ayat di atas.[2]

Kesimpulannya, sebelum kita mengakhiri pembicaraan tentang Ramses II, sebagian orang mengusulkan untuk menganalisis mumi Ramses II dan mengukur kadar garam pada jaringan ototnya untuk mendapatkan petunjuk tenggelamnya Ramses II di air laut yang terkenal kadar garamnya itu. Namun seperti sudah disinggung di atas terkait dengan pengawetan Ramses II, diketahui bahwa jasad Ramses II – setelah menggosongkannya dari citoplasma—dipenuhi dengan garan nitrat yang menyebabkan usulan analisis ini tidak penting. Terkait dengan Fir’aun dan antek-anteknya, Allah Swt berfirman:

كَمْ تَرَكُوْا مِنْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ () وَّزُرُوْعٍ وَّمَقَامٍ كَرِيْمٍۙ ()  وَّنَعْمَةٍ كَانُوْا فِيْهَا فٰكِهِيْنَۙ () كَذٰلِكَ ۗوَاَوْرَثْنٰهَا قَوْمًا اٰخَرِيْنَۚ

Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan, juga kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah, dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana, demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain (Q.S Ad-Dukhan: 25-28)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[2] Lih. Tafsir Al-Qurthubi, j. 15, h. 319.

Diklat Penguataan kepala Sekolah

“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, tempat orang-orang beperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”(H.R Bukhari).

Pemimpin ibarat petunjuk arah. Maju mundurnya sebuah kaum sangat bergantung pada kebijakan pimpinannya. Begitu pula kebangkitan sebuah peradaban. Pemimpin punya andil besar mengarahkan dalam meraih kebangkitan. Pemimpin adalah tonggak kebangkitan peradaban. Sosok pemimpin panutan kita sebagai umat islam adalah Rasulullah SAW. Darinya kita belajar jiwa kepemimpinan yang nyaris sempurna tanpa cela. Pemimpin jika dikaitkan dengan Islam adalah mereka pembawa misi yang sangat besar dengan membawa nilai-nilai ajaran Islam, agar bisa diimplementasikan dalam pelbagai bidang dan dapat dirasakan kebaikannya bagi alam semesta.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21, yang artinya :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Adapun kita semua, setiap manusia adalah pemimpin. Dan seiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Hal ini di tegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya sebagai berikut :

“Ingatlah, Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah, Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya,” (H.R Bukhari).

Setiap manusia bertanggung jawab atas kehidupannya, atas keputusan yang diambilnya. Maka, kebangkitan sebuah peradaban sangat berkaitan erat dengan kondisi manusianya. Sejauh mana mereka belajar, sejauh mana mereka mampu mengambil pelajaran dari seluruh peristiwa yang telah dialaminya.

Sebagai pribadi-pribadi yang sadar akan tugasnya sebagai pemimpin, bertempat di Wisma Hijau kota Depok telah dilangsungkan Diklat Penguataan kepala Sekolah dari tanggal 18 s/d 25 Oktober 2019.

Begitu pentingnya peran pemimpin dalam peradaban menjadi alasan kuat LPI Abata  untuk ikut serta dalam diklat ini. Adapun materi yang dibahas antara lain:

  1. Literasi digital
  2. Pengembangan RKS dan pelaporan
  3. Pengelolaan keuangan
  4. Pengelolaan kurikulum
  5. Pengelolaan PTK
  6. Pengelolaan peserta didik
  7. Pengelolaan sapras
  8. supervivi dan PK guru
  9. Supervisi dan PK tendik
  10. Rencana PKB
  11. Kepemimpinan Perubahan
  12. Pengembangan kewirausahaan
  13. Pengembangan sekolah berdasarkan 8 SNP

Wallahu a’lam bishshawaab

Terungkapnya Jasad Fir’aun (Part II)

Kita harus tahu pelajaran yang ditujukan kepada kita. Kita pun harus bisa mengambil pelajaran dari apa yang menimpa badan Fir’aun yang diselamatkan Allah itu. Supaya jelas, mari kita cermati bersama, mengapa semua itu bisa terjadi. Mumi para Fir’aun kemballi dimakamkan di Kuil Laut Tersembunyi pada tahun 696 SM. Pasir juga telah menimbun tempat masuk kuburan dan tidak ada yang tahu kalau itu kuburan.  Ini berlangsung hingga berabad-abad. Pada tahun 1872 M seorang petani Mesir bersama saudara-saudaranya secara tak terduga menemukan jalan masuk kuil Laut tersebut. Mereka menyembunyikan penemuan mereka. Mereka pun mondar-mandir ke kuburan itu secara sembunyi-sembunyi untuk mengambil barang yang ringan timbangannya, tetapi mahal harganya, seperti Mutiara, perhiasan, perabotan yang digunakan untuk memumikan keluarga kerajaan, dan lainnya. Mereka menjualnya dan membagi uang hasil menjual barang curian itu. Nah, seperti ada pameo, “Kalau pencuri berbeda pendapat, pencurian pun terbongkar”, pencuri bersaudara itu berselisih. Salah satu diantara mereka melaporkan kepada polisi. Ia mengakui apa yang sebenarnya terjadi setelah 10 tahun berlalu setelah menemukan tempat bersejarah itu.

Pada 6 Juli 1881, para petugas Lembaga Kepurbakalaan Mesir pergi ke kuburan dengan menurunkan 300 pekerja. Selama dua hari mereka melakukan pemindahan semua yang tersimpan dalam Kuil Laut Tersembunyi itu, termasuk semua mumi para fir’aun dan perabotan jenazah ke dalam kapal untuk kemudian diangkut ke Kairo, lalu disimpan di Museum Mesir di Bulaq (pinggiran Kairo). Menurut seorang ahli Kepurbakalaan Mesir, Ibrahim Al-Nawawi, peristiwa itu terjadi pada tahun 1902. Setelah pemindahan mumi Ramses II, ia membuka lapisan-lapisan untuk melihat secara kasat mata mumi itu dan untuk mengetahui apa yang terdapat di dalam lapisan itu. Apakah ada perhiasan, jimat, atau yang lain. Yang terlihat adalah tangann kiri Ramses II terangkat ke atas setelah lapisan yang menutupi jasadnya dibuka. Ini langsung menarik perhatian, karena tidak seperti pada mumi-mumi yang lainnya.[1]

Setelah dibuka lapisan penutup tubuhnya, tanan-tangan mumi yang lain masih melingkar di atas dada mereka, seperti terlihat pada mumi Mrinbtah. Hal ini juga dibuktikan oleh salah satu ahli kepurbakalaan yang menyaksikan langsung mumi Fir’aun ini. “Aneh sekali apa yang terlihat dari Fir’aun yang mengangkat tangan ke atas. Ia seperti sedang menolak bahaya dari dirinya.” Orang yang berkomentar dalam bentuk majaz ironi ini, mungkin tidak pernah tahu dia sedang kaget. Padahal ia telah menjelaskan terkait fenomena yang langka pada tangan kiri mumi Ramses II ini. Kita pun lalu bisa merekonstruksi apa yang terjadi sejak lebih dari 3000 tahun, tepatnya sebelum 3233 yang  (yang dihasilakn dari 1225 SM [tahun Ramses II meninggal] ditambah 2008 M [masa kita sekarang]) sebagai berikut:

Fir’aun dan tantara yang mengikutinya sampai di pantai. Ia mendapati ada jalanyang terbelah di tengah-tengah laut, Fir’aun pun memutuskan untuk menjalani jalan itu, yang kemudian diikuti bala tentaranya dengan segala perbekalannya. Saat itu senyum kemenangan tampak di wajah mereka. Hanya butuh beberapa saat saja mereka bisa menyusul Bani Israel yang melarikan diri untuk kemudian dibawa kembali lagi ke Mesir. Pada saat hendak menyusul, tiba-tiba kaki-kaki kuda dan kereta pengangkut perbekalan terjerembab di dalam lumpur. Bala tantara pun turun untuk menyingkirkan kereta yang terbelah agar kereta lain bisa lewat. Senyum Ramses II seketika itu hilang. Kepanikan menguasainya. Ia heran mengapa tempat itu tiba-tiba penuh lumpur? Padahal, rombongan Bani Israel lewat di tempat itu juga. Bahkan, sapi dan binatang ternak mereka pun bisa lewat.

Adapula kerbau di sana yang jelas lebih berat daripada kuda pengangkut mereka. Namun, kaki mereka tidak tenggelam ke dasar laut. Tidak selang berapa lama menunggu, sampai bala tentaranya selesai melepaskan kuda pengngkut mereka dari lumpur, ia melihat dengan rasa tidak percaya apa yang ada di hadapannya. Ombak besar datang menuju ke arahnya. Betapa mengerikannya, lautan seperti seperti menjadi satu. Air ombak datang ke arahnya dengan bergemuruh hebat. Dengan Gerakan reflek, ia mengangkat tangan kirinya sambil memegang perisainya untuk berlindung dengan ombak yang menggulung ke arahnya. Begitu kuatnya hempasan ombak itu dan begitu kuat pula genggaman tangannya, berakibat pada mengerutnya otot-otot lengannya yang sebelah kiri. Lengan dan tangannya pun tetap seperti itu. ketika air menenggelamkannya dan maut menghampirinya, tangannya masih seperti itu.

Akan baik kalo kita berhenti sejenak untuk mengingat perubahan yang terjadi di jasadnya setelah meniggal. Seperti diketahui, ototlah yang menjadi penyebab benda hidup bisa bergerak. Otot sendiri terdiri dari sel otot. Sel otot terdiri dari urat yang terbagi menjadi dua macam: ada urat yang tebal dan ada yang tinggi. Urat ini tersusun untuk menyuplai terus menerus otot. Jika diperlukan untuk menggerakkan sendi tertentu, ada perintah dari otak kiri di saraf untuk kemudian disampaikan ke otot yang bertanggungjawab untuk menggerakkan sendi. Aliran listrik yang keluar dari otak memproses reaksi kimiawi yang berkali-kali pada posisi hubungan saraf otot yang berakhir dengan mengaktifkan enzim khusus yang menyebabkan pemecahan protein tertentu bernama ATP (Adesnosine Tri Phospate). Protein inilah yang memberikan kemampuan yang diperlukan unutk bergerak. Benang otot yang tebal saling berjalinan dengan benang otot panjang. Panjang syaraf otot pun menjadi pendek. Ada penyempitan otot sehingga gerkan yang diinginkan bisa terjadi.

Setelah mati, di dalam tubuh terjadi tahapan-tahapan sebagai berikut:

Setelah roh meninggalkan jasad, semua isyarat apapun yang keluar dari otak berhenti. Semua otak tubuh juga mengendur. Ini yang disebut dengan pengenduran pertama. Setelah dua jam, semua otot mulai mengerut. Ini yang di dalam kedokteran disebut rigor mortis (kekakuan mayat). Secara bertahap akan terjadi kekakuan pada mayat, yang dimulai dari kepala, otot wajah, lutu, dada, kedua lengan, kedua paha, betis, dan berakhir telapak tangan. Kekakuan ini berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Pada titik ini, sudah tidak mudah menggerakkan anggota tubuh pada bagian manapun. Oleh karenanya, orang-orang yang menghadiri prosesi jenazah, menutup pelupuk mata jenazah saat pengenduran pertama, sehingga kedua matanya tidak bisa lagi terbuka.

Setelah itu, protein-protein yang membentuk otot pun mulai melemah. Selanjutnya, otot-otot pun mengendur. Inilah yang disebut dengan pengenduran kedua. Ini juga dimulai dari kepala hingga kaki. Peristiwa ini diakhiri dengan tahapan yang disebut proses pembusukan. Inilah tahapan yang dilalui oleh tubuh pada kondisi kematian normal. Pada kondisi kematian normal, seperti kematian melalui proses bunuh diri mengalami ketegangan syaraf luar biasa yang akhirnya bisa mencapai pada tahapan hilangnya roh. Dan, seketika itu juga terjadi penyempitan pada semua otot tubuh. Inilah yang disebut dengan cadaveric spasm (kejang otot pada mayat).  Kejang ini menggantikan pengenduran pertama pada kematian normal. Setelah kejang, dilanjutkan dengan kekakuan mayat. Otot-otot pun menjadi menyempit. Seringkali para dokter forensic yang menangani kasus bunuh diri menemukan tangan orang yang bunuh diri menggeggam kain yang dililitkan di kepala. Dalam kondisi seperti itu, orang yang bunuh diri tidak bisa dilepaskan dari sesuatu yang digenggamnya sebelum terjadi pengenduran kedua.

Hal yang sama juga ditemukan para dokter forensic pada tangan orang yang terbunuh. Pada beberapa kasus, tangannya memegang bagian baju atau bagian rambut pembunuhnya. Ini biasanya menjadi langkah pertama yang akan dilakukan oleh para penyidik untuk mengungkap siapa pembunuhnya. Selanjutnya, sang pembunuh pun bisa ditangkap dan mendapatkan hukumannya. Ini pula yang dialami seseorang dalam kondisi tenggelam. Dalam kondisi seperti itu, kejang otot terjadi pada saat-saat akhir. Sering kali ditemukan tangan orang yang tenggelam sedang menggenggam potongan kayu kecil atau segenggam tanah dari dasar laut.

Inilah yang terjadi dengan Ramses II pada saat tenggelam. Saat itu, syarafnya mengalami ketegangan luar biasa, yang dilanjutkan dengan kejang otot. Tangan kirinya kaku. Posisi tangannya kala itu sedang emegang lengan yang dipergunakannya untuk menangkis air. Mungkin hempasan air terlalu dahsyat sehingga perisainya terlepas dari genggaman tangannya. Namun, tangannya sudah terlanjur dalam kondisi seperti itu. padahal, ototnya kejang, lalu kaku. Normalnya, pengenduran kedua akan terjadi setelah 12 atau 20 jam. Mngkin pengenduran itu terjadi pada semua anggota tubuhnyakecuali pada tangan kirinya. Otot-ototnya masih tertekan, persis seperti saat tenggelam.

Orang-orang yang mengawetkan melihat semua itu. Ketika meletakkan lengan Ramses II ke lambung atau mendekapkan ke dadanya, lengan itu kembali terangkat lagi ke posisi semula. Setelah pengawetan selesai, jasadnya diminyaki dengan minyak kelapa, balsam dan obat gosok. Sebagiannya menyerap ke otot dan persendian. Ototnya seperti karet, sementara persendiannya menjaga kelenturan otot-ototnya. Setiap kali mereka mengembalikan tangan ke dada, tangannya kembali terangkat. Mereka pun memutuskan mengikatnya ke dada dengan kain yang menyelimuti tubuhnya. Tanannya pun terikat ke dada. Abad demi abad berlalu hingga tidak kurang dari tiga ribu tahun. Pada saat jasad ini ditemukan di Kuil Laut Tersembunyi dan dipindahkan ke Museum Bulaq tahun 1902, ahli kepurbakalaan membuka ikatan itu untuk dikembalikan ke posisi saat Ramses II tenggelam. Saat itu ia sedang memegang perisai untuk menjaga dirinya dar hempasan ombak yang datang ke arahnya.

[1] Said Abu Al-Ainain, Al-Fir’aun Al-ladzi Yutharidzuhu Al-Yahudi, h.6.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Terungkapnya Jasad Fir’aun (Part I)

Setelah tenggelamnya Fir’aun (Ramses II) di tengah-tengah peyerangan terhadap bani Israel, anggota istana yang selamat dari tenggelam melakukan pengawetan jasad dan membawa peti mati dengan menggunakan perahu di Sungai Nil menuju kota Tibah (kota historis Mesir) yang disertai perahu-perahu lain yang di dalamnya terhadap para rahib, para Menteri, dan para pembesar kaum Fir’aun. Peti mati itu pun ditarik ke kuburan yang telah dipersiapkan oleh Ramses II untuk dirinya di lembah Raja. Pada beberapa tahapan ini, do’a-do’a pun dibacakan dan upacara-upacara jenazah pun diselenggarakan. Dengan cara seperti itulah kehidupan Ramses II berakhir. Ia merupakan Fir’aun terbesar, meskipun bukan terbesar secara mutlak.

Setelah kematian Fir’aun, segerombolan pencuri pun merajalela. Mereka semakin berani menjarah kuburan para raja. Keberanian mereka didorong banyaknnya harta karun berupa perhiasan dan perabotan jenazah yang tersimpan di kubura itu. Mungkin dalam hati terdalam, mereka ingin mengembalikan apa yang sudah diambil oleh raja-raja itu saat masih hidup dari mereka, dari bapak mereka dan dari nenek moyang mereka. Para pencuri itu memang ditangkap dan dihukum lebih dari sekali. Namun yang mengejutkan, aktivitas ini kemudian menjadi profesi banyak orang. Bahkan kuburan semua raja dari dinasti kesembilan belas, dan kedua puluh, setelah itu juga menjadi sasaran penjarahan. Semua tidak ada yang selamat. Yang selamat hanya kuburan Amenhotep II dan kuburan Tutankhamun yang terkenal. Diantara gejala pelecehan masyarakat terhadap para Fir’aun adalah penggambaran mereka dalam gambar lucu yang jauh sekali dari etika. Salah satu contohnya adalah gambar yang melukiskan Ramses III dalam rupa harimau yang memainkan catur.

Penjarahan kuil dan kuburan terus berlangsung dan kian menjadi-jadi. Banyak tuduhan diarahkan pada Bupati TIbah Barat, kepala kepolisian, dan penanggung jawab keamanan kuburan-kuburan itu. Para penanunggung jawab itu pun dihukum. Informasi ini dikodifikasikan di papyrus yang terdapat di Museum Inggris. Namun, pencurian tetap saja terus berlanjut. Kepala rahib Amun memutuskan untuk menjaga jasada para Fir’aun, termasuk jasad Ramses II. Jasadnya dibungkus dengan kafan bagian luar yang baru dan diletakkan di peti dari kayu yang sederhana untuk mengelabui para pencuri. Ia dikuburkan di kuburan ayahnya, Seti I, bersama sekelompok jasad para Fir’aun terdahulu. Peristiwa itu dicatatkan di kafan para Fir’aun. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 15, bulan ketiga, tahun 24 berdasarkan perhitungan tanggal Ramses XI. Bila Ramses XI yang merupakan Fir’aun terakhir dari Dinasti XX dan memerintah selama 27 tahun, maka tahun peristiwa pengafanan dan penguburan kembali Ramses II terjadi pada tahun 1089 SM (127 tahun setelah kematiannya).

Namun, penjarahan terhadap kuburan kerajaan tidak berhenti. Pada masa pemerintahan Dinasti XXI, yang bertepatan dengan sesepuh rahib Amun bernama Binudijm II meninggal, para sejawatnya sesama rahib memutuskan untuk mengakhiri penjarahan terhadap jasad para Fir’aun. Mereka pun mengumpulkan jasad-jasad para Fir’aun. Pemakaman sesepuh rahib itu dijadikan momentum untuk mengelabui masyarakat. Mereka pun menguburkan semua Fir’aun di kuburan Ratu Hatshepsut di Kuil Laut (Dayr Al-Bahri) yang sudah diperluas agar bisa muat untuk semua jasad para Fir’aun mulai dari masa XIX. Mereka pun menutup kuburan dan mencatat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun ke-10 dari pemerintahan Raja Shenhonk tahun 969 SM.Mereka menutup sepenuhnya jalan masuk. Mereka juga menghilangkan simbol-simbol di sekitar kuburan. Tujuannya agar paara pencuri tidak tahu bahwa itu kuburan para Fir’aun. Kuburan yang baru itu pun selamat dari incaran para pencuri selama lebih dari 2800 tahun hingga akhirnya tidak diketahui sama sekali bahwa itu kuburan para Fir’aun. Tempat itu lalu disebut dengan “Kuil Laut Tersembunyi”. Ia memuat semua mumi, termasuk mumi Ramses II.

Posisi Informasi Al-Qur’an

Mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang mengetahui tenggelamnya Fir’aun adalah orang-orang istana dan para rahib yang jumlahnya tidak banyak, meskipun mungkin berita ini bocor juga ke sebagian orang lain di luar istana. Yang terpenting bahwa Ramses II meninggal seperti Fir’aun-fir’aun yang sebelumnya. Secara umum, umur Ramses II (Fir’aun) kala meninggal adalah 90 tahun. Ia memerintah Mesir selama 67 tahun. Oleh karenanya, masyarakat tidak merasa kehilangan atas kepergiannya. Orang yang tahu bahwa dia tenggelam saat menyerang Bani Israel, dan yang menolak melepaskan Bani Israel akan meyakini bahwa Allah sedang bersama bani Israel. Allah menolong mereka. Tenggelamnya Fir’aun ketika menyerang mereka menjadi petunjuk dan bukti yang jelas bahwa pada akhirnya kebenaran pasti menang, meskipun pada mulanya kedzaliman terlihat sangat kuat.

Orang yang mengetahui Fir’aun tenggelam setelah bani Israel, akan meyakini bahwa Musa berada di jalan yang benar, sementara Fir’aun di jalan yang bathil. Setelah tenggelam, orang-orang dan para rahib yang melakukan pemumian terhadap jasadna. Dalam hal ini Allah Swt berfirman:

وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Q.S Al-baqarah: 50)

Sampai di sini, peristiwa tenggelamnya Fir’aun menjadi satu bukti kekuasaan Allah, bahkan jika jasadnya pun tidak ditemukan. Fir’aun yang sombong, angkuh, suka menyiksa, dan suka merendahkan itu telah tenggelam. Kita pun menjadi tahu maka firman Allah Swt berikut:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (Q.S Yunus: 92)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

1 2 3 5