Author Archives: Lati Larasati

Khataman dan Imtihan Metode Ummi SD Exiss Abata

Ada yang istimewa di tanggal 1 Desember  2018 lalu, pasalnya pada hari itu telah diselenggarakan Khataman dan Imtihan Metode Ummi SD Exiss Abata yang bertempat di Ruang Ali Sadikin Kantor Walikota Jakarta Barat. Acara ini menjadi pembuktian hasil dari penerapan metode Ummi dalam pembelajaran Al-quran siswa dan siswi SD Exiss Abata. Pada acara ini para siswa dan siswi perwakilan dari kelas 3 sampai dngan kelas 6 yang menjadi peserta ini mengkhatamkan (menuntaskan) pembelajaraan Al Quran dengan metode Ummi dan memperlihatkan kepiawaiannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ang diajuakan, pertanyaannya terdiri dari tartil (kelancaran), fashohah (kefasihan), gharib (bacaan-bacaan asing dalam Al Quran yang kadang cara membacanya berbeda dengan tulisannya), tajwid (ilmu terkait hukum-hukum bacaan di dalam Al Quran) serta hafalan juz ‘amma.

Acara berlangsung sangat meriah dan menantang saat acara imtihan (uji publik) dimana seluruh peserta harus siap menerima dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar materi pembelajaran Al Quran metode Ummi tanpa ada skenario sebelumnya. Alhamdulillaah, berkat latihan dan persiapan yang matang dengan dibimbing para ustadz dan Ustadazah pengajar pelajaran Al-qur’an yang ikhlas dan profesional, ketegangan yang menghantui seluruh peserta sebelum acara dimulai berubah menjadi senyum kebahagiaan saat mereka mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengalir dengan lancar baik yang dilontarkan oleh tim dari Ummi. Seluruh hadirin yang mengikuti acara ini berdecak kagum dan tanpa sadar meneteskan air mata karena terharu kemampuan para peserta dalam menguasai materi-materi Al Quran di usia mereka yang masih belia.

Khotaman dan Imtihan sendiri merupakan program lanjutan dari rangkaian program KBM Ummi setelah sebelumnya para siswa lulus munaqosyah (ujian akhir siswa) Al Quran metode Ummi yang telah dilaksanakan sebulan sebelumnya. Semoga cita-cita SD Exiss Abata untuk Membentuk dan melahirkan anak didik yang mencintai dan menjunjung tinggi Islam dan Al-Qur’an untuk masa depannya dapat terwujud sehingga menjadi umat terbaik sebagaimana sabda Rasulullaah, “Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Aamiin.

Nabi Luth As : Al-qur’an dan Kehancuran Kaum Luth (Part I)

Terkait kaum Luth As, Allah Swt berfirman:

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ () إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ () نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ () وَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ

“Kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.” (Al-Qamar: 33-36)

Luth As hidup pada masa yang sama dengan Nabi Ibrahim As. Ia diutus pada kaum yang tinggal berdampingan dengan kaum Nabi Ibrahim. Seperti diinformasikan Al-qur’an, kaum-kaum itu menyukai hal menyimpang yang sebelumnya belum pernah dikenal. Penyimpangan itu berupa perilaku sodomi. Ketika Nabi Luth menasihati kaumnya untuk meninggalkan perilaku menyimpang itu dan mengancam mereka dengan hukuman dan siksa Tuhan, mereka tidak mempercayainya bahkan mengingkari kenabian dan kerasulannya. Mereka justru semakin berani dalam melakukan perilaku sesat dan menyimpang itu. Akhirnya, kau mini pun mengalami kehancuran setelah mengalami bencana yang mengerikan.

Pada kitab Perjanjian Lama, disebutkan bahwa tempat yang ditinggali kaum Luth adalah Sodom. Tempat ini terletak di sebelah kiri Laut Merah. Beberapa penelitian telah mengungkap bahwa kehancuran memang ditemukan di sana, seperti yang disinggung Al-qur’an. Namun, penelitian kepurbakalaan menunjukkan bahwa kota yang menjadi lokasi tinggal kaum Luth terletak di satu wilayah di Laut Mati yang memanjang sampai batas antara Yordania dan Palestina.

Sebelum kita mengungkap sisa-sisa bencana ini, akan baik bila kita merenungkan apa yang mejadi penyebab hukuman yang diterima oleh kaum Luth. Al-qur’an menginformasikan kepada kita bagaiman Luth As telah memperingatkan kaumnya dan bagaimana cara mereka menjawabnya.

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ () إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ () إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ () فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ  وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ () أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ () وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ () قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ () قَالَ إِنِّي لِعَمَلِكُمْ مِنَ الْقَالِينَ

“Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir” Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”. (Asy-Syu’ara: 160-168)

Kaum ini justru mengancam Luth As ketika ia mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka justru marah pada Luth As karena telah mengajak ke jalan yang benar dan kesucian diri. Mereka berencana mengusir Luth As dan orang-orang yang beriman. Ini seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikut:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ () إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ () وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. Al’A’raf: 80-82)

Luth As menyampaikan kebenaran dengan sangat jelas kepada kaumnya. Ia juga mengancam mereka dengan cara yang tegas dan lugas. Hanya saja mereka sudah tidak mempan dengan berbagai ancaman. Mereka justru terus ingkar dan tidak mempercayai ancaman yang disampaikan Luth As.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ () أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Al-Ankabut : 28-29)

Setelah Luth As mendapat jawaban seperti itu, ia pun mengahdap pada Allah Swt untuk memohon pertolongan.

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. (Al-Ankabut: 30)

رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ

(Luth berdoa): “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan”. (Asy-Syu’ara: 169)

Beginilah cara Tuhan mengabulkan permohonan Rasul-Nya. Dia pun mengirim dua malaikat dengan berwujud seperti dua orang laki-laki. Sebellum menemui Luth As dua malaikat ini menemui Ibrahim As. Saat itu kedua malaikat ini menyampaikan kabar gembira bahwa istrinya akan mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki. Di samping itu, kedua malaikat ini menjelaskan pada Ibrahim As alasan megapa keduanya diutus ke kaum Luth. Allah memutuskan untuk menghancurkan kaum Luth yang sombong.

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ () قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمٍ مُجْرِمِينَ () لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ طِينٍ () مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

“Ibrahim bertanya: “Apakah urusanmu hai para utusan?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas”. (Adz-Dzariyat: 31-34)

Setelah meninggalkan tempat tinggal Ibrahim As, kedua malaikat sebagai utusan Tuhan  yang menyamar ini menuju ke rumah Luth As. Mulanya, Luth sangat bersedih mengetahui kedatangan utusan Tuhan karena ia belum pernah melihat mereka sebelumnya. namun, setelah keduanya berbicara, Luth pun tenang.

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

”Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit”. (Qs Hud : 77)

قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ () قَالُوا بَلْ جِئْنَاكَ بِمَا كَانُوا فِيهِ يَمْتَرُونَ () وَأَتَيْنَاكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ () فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ وَامْضُوا حَيْثُ تُؤْمَرُونَ () وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ  () وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ

“ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu”. ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (Qs Al Hijr: 62-66)

Saat itu kaumnya tahu bahwa Luth As sedang mendapatkan tamu. Mereka tidak ragu untuk menyakiti tamu-tamu Luth As dengan kebiasaan mereka yang memalukan itu. Mereka pun berkumpul di rumah Luth As menunggu tamu-tamunya keluar. Lut As mengkhawatirkan keselamatan tamu-tamunya jangan-jangan kaumnya akan menyakiti mereka. Ia pun berkata pada kaumnya, seperti dikutip ayat berikut:

قَالَ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ ضَيْفِي فَلَا تَفْضَحُونِ () وَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ

“Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. (Qs Al Hijr: 68-69)

Kaumnya menjawab:

قَالُوا أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (Qs Al Hijr: 70)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Ka’bah: Ka’bah Pada Manuskrip Modern

Setiap tahun jama’ah haji berangkat ke Baitullah dengan hati berdebar-debar demi melihat Ka’bah, bertawaf di sana, memegang tira-tirai Ka’bah, dan membersihkan diri dari kotoran ambisi dengan berbagai ungkapan yang terucap saat berada di pintunya. Begitu banyak jiwa yang merindukan bisa menyandarkan diri di Baitus Salam ini dan terus bisa memandang sudut-sudut terindah Ka’bah. Di sanalah kita bisa melihat Hijir Ismail, Multazam, dan Hajar Aswad. Begitu banyak hati yang ingin meminum air zamzam. Begitu banyak hati yan gtersentuh dengan suara muazin yang syahdu. Suara yang memenuhi langit Mekah dan memasuki pendengaran kita agar tubuh terpuaskan.

Betapa banyak kita yang membutuhkan saat-saat intropeksi dan  perenungan diri di Mina, dan berharap rahmat Allah yang diturunkan di Arafah, juga menghadirkan keagungan Allah pada hamba-Nya yang membutuhkan-Nya. Hamba yang selalu merendahkan diri dan mencari perantara untuk menghilangkan kesedihan umat, yang pergi dengan mengumandangkan talbiah. Hamba yang kembali dengan bertakbir dan bertahmid atas nikmat pertolongan bisa menunaikan ibadah, dan nikmatmenyucikan diri dari semua dosa dan kotoran atas izin Allah.

Salah satu bukti yang ditunjukkan Allah untuk tempat ini adalah tempat disebutkan di dalam kitab suci Allah Kitab dengan jelas. Al-qur’an juga menunjukkan hal itu di dalam firman Allah Swt berikut:

وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ

“Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya” (Qs. Al-baqarah: 144)

Ayat ini berada di tengah-tengah pembahasan pengalihan kiblat yang dimulai dari firman Allah Swt berikut:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

 

“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (Qs. Al-baqarah: 142)

Jadi, kebenaran yang diketahui Ahli Kitab pada ayat 144 Surah Al-baqarah itu terkait pengalihan kiblat ke Ka’bah. Banyak sekali yang menemukan di Injil Yohanes petunjuk terkait hal ini. Ini terkait dengan perkataan Isa kpada wanita SUmeria bahwa tempat sujud itu tidak akan pernah berada di Yerusalem atau Gunung Carmel (Yohanes 91: 4-32).

Pada manuskrip Laut Mati yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20 didapati kalimat yang tidak dapat dibantah terkait dengan Ka’bah. Pada salah satu manuskrip Laut Mati yan gberjudul Adam wa Hawa, kita bisa membaca informasi bahwa Adam berkata pada anaknyaa, Syits, “Allah akan menunjukkan orang-orang yang terpercaya pada tempat yang mereka bangun untuk rumah Allah (Baitullah).” (Adam wa Hawa 29: 5-7). Charles—penerjemah buku itu ke dalam Bahasa Inggris—memberikan catatan[1] bahwa tidak disebutkannya kuil Yerusalem pada bab 29 (yang di dalamnya disebutkan kata Baitullah) menunjukkan bahwa buku ini ditulis di kota di bagian barat. Ia menyimpulkkan bahwa rumah Allah adalah tempat yang dipakai kaum Muslimin belajara membangun sebagai bentuk penghormatan pada Ka’bah.

Professor ini melihat langsung kemiripan antara Ka’bah di dalam Al-quran dengan penjelasan di atas yang terdapat dalam Adam wa Hawa. Ia menuduh kamu Muslimin (dalam hal ini Nabi Muhammad Saw) menyalin bagian tersebut dari buku itu. Padahal yang sebenarnya kemiripan ini benar-benar ada. Ini terlhat jelas pada firman Allah Swt berikut:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (Qs. Al-Hajj: 26)

Maksudnya, Allah Swt menjelaskan kepada Ibrahim tentang tempat yang akan dibangun Ka’bah. Ini hampir mirip degan bagian di atas yang terdapat pada buku Adam wa Hawa. Ada petunjuk lain yang sangat kuat di salah sati buku Pseudepigrapha berjudul The Book of The Jubilees, yang menunjukkan apa yang dikatakan Ibrahim, “Aku telah membangun rumah ini untuk diriku agar aku bisa mengokohkan namaku di atas bumi. Rumah ini akan diberi nama Baitul Ibrahim, (22-24).

Petunjuk terakhir yang bisa kita temukan terkait hal ini adalah dialog yang terjadi antara Nabi Ibrahim dan Namrud. Ibrahim mengajukan dirinya untuk menjadi penjaga Baitullah atau The Steward of God’s House (lih. The Legends of Jews). Kia tidak usah pergi jauh-jauh. Taurat sendiri menyebut Mekah, tetapi dengan menggunakan kata yang juga dipergunakan di Al-qur’an : Bakah. Mungkin Al-qur’an memilih kata ini (Bakah), bukan kata yang pertama (mekah), supaya Ahli Kitab mengingatka. Karena, Taurat (Mazmur 84: -6) berbicara tentang kebahagiaan seorang haji yang telah menunikan manasik hajinya (ini terkait tafsir mereka tentang Daud) ke Baitullah.

Bagaimana di sana juga ada mata air untuk minuman jamaah haji (yang mengingatkan kita kepada SUmur Zamzam yang terdapat di Masjidil Haram.

“Kebahagiaan bagi orang-orang yang Engkau menjadi kekuatan mereka, yang sangat rindu untuk mengikuti jalan-jalan-Mu yang dikosongkan ke Rumah Suci-Mu. Ketika melewati Lembah Tangisan (Wadi Al Baka’) yang kering, mereka menjadikannya mata air. Hujan musim gugur menyelimuti mereka dengan bermacam berkah,” (Mazmur 84: 5-6)

Kata Lembah Tangisan tersebut merupakan terjemah nama tempat. Kaidah dalam penerjemahan, nama tiidak diterjemahkan. Ilmuwan popular Einsten tidak kita terjemahkan menjadi ‘satu batu cadas’. Namun, kita tetap menuliskannya dengan Einsten. Oleh karenanya, terjemahan dalam bahasa Inggris untuk kata itu adalah The Valley of Baca (Lembaha Baca). Ini lebih mendekati pada pertimbangan ilmiah dalam penerjamahan. Sayangnya, penerjemah Arab tidak menjamin kemiripan seperti ini, bahkan kesesuaian antara kita itu dengan kota suci umat Islam. Anehnya, kita sampai sekarang tidak mengetahui di Yerusalem (kota yang menjadi tujuan haji Ahli Kitab) ada satu lembah yang disebut Lembah Tangisan atau Lembah Bakah, seperti yang disebutkan di rujukan berikut:

Baca : weeping valley near Jerusalem, and the valley of Rephaim whose axzct locality is uncertain (Young’s Concordance, h. 67)

Begitu juga kita mendapati petunjuk yang jelas tentang Ka’abah di salah satu buku penting kaum Nasrani. Buku itu ditulis Pastor Hermes yang mendapat sukses besar dan respons yang luar biasa. Sukses ini setelah Irenaeus, Athanasius, dan Origenes menyebut buku Hermes itu sebagai tingkat kitab suci. Pada awal-awal abad ke-4, Uskup Eusebius menyebut buku itu dibaca pastor dan digunakan untuk bahan pengajaran dan nasihat. Hermes menyebutkan bagaimana Ka’bah diambil oleh malaikat di atas gunung dan terlihat batu besar di sekitarnya berjumlah 12 gunung.

Di tengah-tengah batu besar berwarna putih, Ka’bah itu berdiri tegak. Bangunannya lebih tinggi daripada gunung dan berbentuk persegi empat. Bangunan ini memungkinkan untk memat seluruh semesta. Ia berada di padang tandus itu sudah sejak dulu. Ada pintu yang terkbur. Yang terlihat itu baru digali. Ia bisa bersinar lebih besar daripada matahari. Saya terheran-heran dengan cahayanya. Di sekitar  pintunya, ada 12 gadis mengenakan pakaian yang terbuat dari pohon rami biznar yang bagus sekali. Wanita-wanita itu memperlihatkan lengan-lengan mereka yang bagian kanan, seperti saat mereka mengangkat beban yang berat.

Bangunan persegi empat di tengah-tengah gunung. Ia berpintu dan di sekitarnya banyak orang yang bertawaf dengan membuka salah satu lengannya. Bukankah ini mengingatkan kita pada Ka’bah? Pembicaraan tentang Baitullah menyeret pada pemicaraan tentang Baitul Makmur yang dalam teologi Islam berada di langit ke tujuh. Baitul Makmur sendiri posisinya sama dengan Ka’bah di bumi. Dalam hadis Nabi Muhammad aw terkait dengan Mikraj Nabi ada informasi sebagai berikut:

“Kemdian kami naikkan ke langit ke tujuh. Jibril pun meminta dibkakab pintu. Ada yang bertanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ditanyai lagi, ‘ Siapa yang bersama Anda?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Ada yang bertanya, ‘Apa ia diutus kesini?’ Ia menjawab, ‘Ia memang diutus ke sini’. Kami pun lalu dibukakan pintu. Saat itu kami melihat Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Makmur. Setiap harinya ada 70 ribu malaikat yang memasuki tempat itu. Malaikat sebanyak itu tidak akan kembali lagi ke tempat itu.” (HR Ahmad dan Muslim).

Pada buku Apocalypse 21 (Perjanjian Baru), juga tertulis ciri Yerusalem baru, meskipun buku itu membicarakan satu kota dan tidak tentan rumah ibadah. Namun pada saat membaca, akan terasa bahwa seharusnya pembicaraan dalam buku ini adalah tentang Baitul Makmur. Mimpi Yohanes bahwa kota baru itu tinggi, luas, dan panjangnya sama (21:16), sungguh mengejutkan kita, karena ini hanya ssuai dengan bangunan kubus, bukan tentang kota.

Pada salah satu buku Pseudepigrapha yang berjudul Enoch, juga disebutkan ciri rumah ibadah dari langit yang hampir sesuai dengan ciri rumah ibadah umat Islam. Pada saat yang sama, penjelasannya mempunyai kesamaan dengan Yerusale baru yang terdapat pada buku Apocalypse. Buku ini menjelaskan Mikraj nabi Enoch (mungkin nabi Idris As). Ketika sampai di langit ke tujuh, ia menemukan bangunan dari kristal. Rumah ini mempunyai empat tiang yang malaikat masuk dan bertawaf di sana (Enoch LXXT 71: 5-9).

Bagian ini berbeda dengan informasi yang mengungkap mimpi Yohanes dalam memberikanciri terhadap runah (bangunan). Disebutkan bahwa mimpi Yohanes itu tidak ditemukan pada altar di Yerusalem Baru (21:20). Ini sesuai dengan pandangan Islam, di rumah (baca: langit ke tujuh) di sana. Para malaikatlah yang memasuki rumah itu ddan bertawaf di sekitarnya. Apalagi bila melihat praktik ibadah tawaf hanya ada di dalam Islam. Hal yang tidak disebutkan oleh buku Akhnukh  terkait dengan bentuk bangunan ini, justru disebutkan oleh mimpi Yohanes (yaitu bangunan brbentuk kubus). Jadi, ciri Islam terkait bangunan itu terambil dari dua buku itu. Terkait dengan tempat ibadah dari langit ini (Heavenly Temple) disebutkan oleh beberapa kitab yahudi klasik lain dalam Apocalypse, yang bisa dirujuk pada buku  The Legend of The Jews.

 

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] Kata pengantar pada Adam wa hawa; apocrypha and pseudepigrapha of The Old Testament, h. 152.

Nabi Ibrahim A.s : Penyembahan Berhala Pada Masa Nabi Ibrahim A.S

Terkait Nabi Ibrahim As Allah Swt berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا () وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ  إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Qs. Ali Imran: 67-68)

Nabi Ibrahim As disebutkan berkalli-kali dalam Al-qur’an dan terkait dengan berbagai peristiwa. Allah Swt menyebutny sebagai panutan umat manusia. Ibrahim As menyampaikan risalah Allah kepada kaumnya yang menyembah berhala dan memperingatkan mereka untuk takut epada Allah Swt. Hanya saja kaumya tidak mau mendengar dakwahnya. Mereka justru cenderung menentangya. Ketika tingkat penentangan kaumnya semakin meningkat, Ibrahim pun memutuskan untuk berhijrah ke tempat  lain bersama dengan istrinya dan Nabi Luth, juga dengan sebagian orang-orang yang beriman.

Nabi Ibrahim sendiri merupakan salah satu keturunan Nabi Nuh. Al-qur’an menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Ibrahim mengikuti jalan Nabi Nuh As, Allah Swt berfirman:

سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ () إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِين () إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ () ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ () وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).” (Qs. Al-Shaaffaat: 79-83)

Pada zaman Nabi Ibrahim, sebagian besar orang yang tinggal di Lembah Rafidin dan Dataran Tinggi Anadhul, meyembah matahari, rembulan, dan bintang. Sin (tuhan bulan) merupakan hutan terpopuler kala itu. Mereka menyimbolkannya seperti manusia dengan jenggot panjang dan berselendang kain. Ia memegang bulan. Mereka melukis dan memahat patung-patung tuhan-tuhan tersebut. Setelah itu, mereka menyembahnya. System penyembahan seperti itu meluas sekali. Sistem ini menemukan tempat subur dan cocok di daerah timur yang menjamin system ini terus berkelanjutan untuk waktu yang lama. Masyarakat kala itu menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga 600 tahun dlam perhitungan tahun Masehi.

Agama yang belum diketahui sebelum penggalian kepurbakalaan modern ini telah lama dibicarakan Al-qur’an. Ibrahim As menolak penyembahan terhadap berhala. Ia hanya beribadah kepada Allah saja. Beberapa ayat berikut memberi penjelasan kepada kita bagaimana sikap dan tindakan Ibrahim terkait keyakinan sesat itu. Allah Swt berfirman sebagai berikut:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ () وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ () فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ () فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّين () فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ () إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs. Al-An’am: 74-79)

Al-qur’an tidak menyebutkan tempat kelahiran dan tempat tinggal Nabi Ibrahim As secaa rinci. Al-qur’an hanya menyebut bahwa Nabi Ibrahim tinggal bersama Nabi Luth di daerah yang berdekatan. Keduanya juga berada di masa yang sama. Hal ini ditunjukkan oleh apa yang disebutkan Al-qur’an terkait dengan perjalanan utusan Tuhan yang melewati daerah Nabi Ibrahim As ketika hendak mendatangi kum Luth. Para utusan Tuhan itu sebelum sampai ke kota Nabi Luth, juga memberi kabar gembira kepada Nabi Ibrahim As bahwa istrinya akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki.

Ada tema penting dalam kisah Nabi Ibrahim yan gtidak disebutkan oleh Kitab Perjanjian Lama, yaitu terkait pembangunan Ka’bah. Di dalam Al-qur’an, kita mendapati bahwa Ka’bah telah dibangun oleh Nabi Ibrahim As dan putranya yang bernama Ismail. Informasi satu-satunya yang diketahui pra sejarawan hari ini sekitar kondisi Ka’bah di masa lalu adalah bahwa tempat itu menjadi tempat suci sudah sejak lama. Keberadaan berhala yang ada di Ka’bah pada masa jahiliah sebelum masa Nabi Muhammad Saw merupakan hasil dari penyimpangan terhadap agama Nabi Ibrahim As yang lurus.

Zakurat (ziggurat) yang dipergunakan sebagai kuil dan tempat observasi bintang dibangun pada suatu waktu dengan Teknik kuno sekali yang lazim pada masa itu. Bintang, bulan, dan matahari menjdi sesembahan utama.oleh karenanya, langit menempati posisi sentral bagi mereka. Zakurat menonjolkan Lembah Rafidin ke kiri dan ke bawah.

Nabi Ibrahim As Berdasarkan Informasi Kitab Perjanjian Lama

Kitab Perjanjian Lama merupakan sumber satu-satunya yang memuat banyak sekali riwayat hidup Nabi Ibrahim As hanya saja banyak diantaranya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Berdasarkan informasi Taurat, Nabi Ibrahim As dilahirkan pada tahun 1900 SM di Kota Ur, salah satu kota terpenting pada masa itu.kota ini terletak di sebelah selatan dan timur daratan Lembah Rafidin. Ketika dilahirkan, Namanya bukan Ibrahim, tapi Abram. Kemudian setelah itu Tuhan Yahweh menggantinya. Suatu hari, Tuhan meminta Abram untuk meninggalkan kotanya dan kaumnya. Ia pun pergi ke kota lain, tanpa ditentukan kota mana yang yang harus dituju. Ia juga diminta untuk membangun masyarakat baru. Abram mendengar seruan ini pada umur 75 tahun. Bersama istrinya, Saray-yang nanti Namanya diganti menjadi Sarah (yang artinya ‘ratu’)—ia pergi. Selain itu, ia juga ditemani keponakannya, Luth.

Ketika menuju daerah yang ditentukan, mereka berhenti di Haran. Kemudian mereka mengikuti ke mana arah jalan mengarah. Ketika sampai di daerah Kanaan yang dijanjikan Allah, mereka mendapat  brita bahwa bumi telah dipilihkan dan diberikan khusus kepada mereka. Ketika berusia 99 tahun, abram mengikatkan diri kepada Allah. Namanya pun diganti menjadi Ibrahim. Ia meninggal pada umur 17 tahun. Ia dikebumikan di Madaba, dekat kota Hebron di Tepi Barat yang ditinggali orang Israel. Tanah ini dibeli Ibrahim As dengan sejumlah uang. Tanah ini merupakan harta pertama yang dimilikinya bersama keluarganya di tanah yang dijanjikan.

Penggalian kepurbakalaan mengungkap bahwa kaum Ibrahim As menyembah matahari, bulan dan bintang.  Ini terlihat jelas pada pahatan purbakala yang ditemukan oleh penelitian kepurbakalaan di Kota Ur. Di pahatan itu terlihat trilogy berhala yang diagungkan (matahari, bulan dan bintang).

Tempat Kelahiran Ibrahim As Berdasarkan Informasi Kitab Perjanjian Lama

Tema ini asih menjadi perdebatan anjang. Orang Yahudi dan Nasrani mengatakan bahwa Ibrahim As dilahirkan di sebelah selatan Lembah Rafidin. Orang Yahudi dan Nasrani memegang informasi yang mereka peroleh dari Kitab Perjanjian Lama. Di sana disebutkan bahwa Ibrahim dilahirkan di Kota Ur yang berada di sebelah selatan daerah yang terletak diantara dua sungai. Setelah Ibrahim renta dan lama bermukim di tempat itu, ia berhijrah ke Mesir dalam perjalanan yang panjang. Ia melewati Kawasan Haran yang berada.

Perubahan Kitab Perjanjian Lama

Kitab Perjanjian Lama dan Al-qur’an solah-olah menginformasikan kidah dua orang yang berbeda. Yang satu Abraham, dan yang satunya lagi Ibrahim. Di dalam Al-qur’an, Ibrahim As diutus sebagai rasul untuk kaum penyembah berhala. Ia membawa risalah dari langit.kaumnya menyembah langit, bintang, bulan dan berhala yang bermacam-macam. Ibrahim As berada di hadapan kaumnya untuk berusaha mengembalikan mereka dari kesesatan menuju jalan yang benar. Hasilnya, ia justru memancing kebencian dan sikap permusuhan mereka diantaranya adalah ayahnya sendiri.

Pada kenyataannya, tidak ada informasi sedikit pun terkait hal ini dalam Kitab Perjanjian Lama. Begitu juga dengan kisah ketika Ibrahim As harus dilembarkan ke dalam api. Bagaimana Ibrahim As menghancurkan berhala kaumnya, juga tidak disebutkan. Di dalam Kitab Perjanjian Lama digambarkan bahwa Ibrahim As itu kakek-moyang orang Yahudi. Sudah jelas bahwa pemikiran ini diadopsi dari para pemimpin orang Yahudi yang berusaha untuk menetapkan konsep keturunan.

Orang Yahudi meyakini bahwa mereka itu bangsa yang dipilih Allah, bukan bangsa yang lain. Mereka dengan sengaja dan sepenuh hati mengubah kitab suci mereka. Mereka tidak segan-segan menambahinya agar sesuai dengan konsep itu. Atas dasar faktor ini pula, mereka menggambarkan Ibrahim itu kakek moyang mereka. Ini bisa ditemukan di Taurat yang mereka buat. Orang Nasrani  yang mempercayai Taurat, ikut meyakini bahwa Ibrahim as itu kakek orang Yahudi. Hanya saja orang Nasrani menganggap Ibrahim As itu Nasrani, bukan Yahudi.

Orang Nasrani – yang tidak mementingkan konsep keturunan seperti Yahudi – berkukuh dengan pendapat mereka. Ini yangmenyebabka perselisihan dan perdebatan antara Nasrani dan Yahudi. Al-qur’an menjelaskan kepada kita terkait perselisihan ini dalam firman-Nya:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ () هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ () مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ () إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Qs. Ali-Imran: 65-68)

Ada perbedaan yang mencolok antara Al-qur’an dan Taurat. Di dalam Al-qur’an, Ibrahim itu rasul yang diutus Allah kepada kaumnya untuk memperingatkan mereka dan mengajak mereka untuk memperingatkan mereka dan mengajal merek untuk menuju-Nya. Karena itulah, Ibrahim berani berkonflik dan berkonfrontasi dengan mereka semenjak remaja. Ia memperingatkan kaumnya yang menyembah berhala dan menasihati mereka untuk meninggalkan peribadatan pada berhala. Namun, kaumnya justru menjawabdengan tekad untu membunuhnya. Setelah selamat kedengkin dan kejahatan kaumnya, hijrah menjadi solusi terakhir bagi Nabi Ibrahim.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Kaum Tsamud: Tsamud Mendustakan Ancaman Tuhan

Terkait kaum Tsamud, Allah Swt berfirman:

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ () فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ () أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ () سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ

“Kaum Tsamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?” Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila”. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (Qs. Al-Qamar: 23-26)

Al-qur’an menginformasikan pada kita bahwa kaum Tsamud mendustakan dan meremehkan ancaman yang dikirimkan Tuhan kepada mereka. Seperti kaum Ad, akhirnya mereka pun mendapat tempat kembali yang sama (baca: kehancuran) Berkat penelitian dan pengkajian sejarah geologis, banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui menjadi terbuka, seperti lokasi pemukiman kaum Tsamud, rumah-rumah yang mereka bangun, dan pola hidup mereka. Kaum Tsamud yang disebutkan Al-qur’an merupakan fakta sejarah yang dibuktikan oleh banyak sekali penemuan kepurbakalaan.

Sebelum melihat hasil penemuan kepurbakalaan yang terkait dengan kaum Tsamud, akan baik bila terlebih dulu kembali kepada kisah kaum yang diceritakan dalam Al-qur’an. Ini penting agar kita bisa melihat bagaimana cara mereka dalam menghadapi rasul mereka. Al-qur’an itu kitab yang berbicara kepada semua zaman. Oleh karenanya, pendustaan kaum Tsamud terhadap rasul mereka merupakan kejadian yang diangkat oleh Al-qur’an agar setiap insan sepanjang masa bisa mengambil pelajaran.

Allah Swt mengutus Nabi Saleh As kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh sendiri merupakan salah satu warga kaum itu. Hanya saja kaumnya tidak mengharapkan adanya agama yang benar datang dalam kehidupan mereka. Tak aneh bila kemudian mereka heran saat mendengar dakwah Nabi Saleh. Sang Nabi ini mengajak mereka untuk meninggalkan penyimpangan dan kesesatan yang mereka lakukan. Hal pertama yang mereka lakukan dalam merespon ajakan Nabi Saleh adalah mereka akan mengusir dan mencaci-caci Nabi ini. Allah Swt berfirman:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ () قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

 “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”. Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami”. (Qs. Hud: 61-62)

Memang ada sebagian kecil kaum ini yang mau mendengar dakwah Nabi Saleh. Hanya saja mayoritas kaum ini tidak mau menerima dakwahnya. Yang paling sengit perlawanannya terhadap dakwah Nabi Saleh adalah para pemuka da pemimin kaum itu. Mereka marah pada Saleh As yang telah mengajak untuk beribadah pada Allah. Mereka mendustakannya dan berusaha untuk menghalangi orang-orang yang beriman kepada Saleh As. Mereka bahkan tak segan untuk menghukum orang-orang yang beriman itu. Kaum Tsamud bukanlah yang pertama melakukan itu semua. Mereka mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh kaum Nuh dan kaum Ad yang hidup sebelumnya. Oleh karenanya, kita mendapati Al-qur’an menyejajarkan ketiga kelompok ini. Allah Swt berfirman:

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ ۛ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۛ لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ ۚ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِي أَفْوَاهِهِمْ وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ وَإِنَّا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

“Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya”. (Qs. Ibrahim: 9)

Meskipun Nabi Saleh sudah memperingatkan kaumya, tetap saja kaumnnya meragukan kerasulannya. Hanya sedikit yang mau beriman kepada Nabi Saleh. Yang sedikit inilah yang akan diselamatkan Allah bersama Nabi Saleh dari kehancuran yang menimpa kaum yang mendustakan. Para pemuka kau mini terus saja menghalangi kelompok yang beriman. Terkait ini, Allah Swt berfirman:

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ
قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. (Al-A’raf: 75-76)

Kaum ini terus saja mengingkari dan meragukan kenabian Nabi Saleh dan terang-terangan mengafiri ajaran yang dibawa Nabi Saleh. Merekalah orang-orang yang berembuk untuk melakukan pembunuhan pada Saleh As.

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ ()وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ ()قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ ()وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”. Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”. Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (Qs. Annaml: 47-50)

Nabi Saleh datang dengan membawa bukti berupa unta agar bisa melihat apakah unta itu diperlakukan oleh kaumya sesuai dengan permintaanya atau tidak? Ia meminta kaumnya tidak menggabungkan giliran minum untanya dengan giliran minum unta mereka. Mereka pun tidak diperbolehkan menyakiti unta itu. Lalu, apa yang dilakukan kaumnya? Mereka justru membunuh unta Nabi Saleh. Surah Al-Syu’ara menginformasikan kisah ini sebagai berikut:

كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ ()إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ ()إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ ()فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ ()وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ ()أَتُتْرَكُونَ فِي مَا هَاهُنَا آمِنِينَ ()فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ()وَزُرُوعٍ وَنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيمٌ ()وَتَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا فَارِهِينَ ()فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ ()وَلَا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ ()الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ ()قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ ()مَا أَنْتَ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ ()قَالَ هَٰذِهِ نَاقَةٌ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ ()وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيمٍ ()فَعَقَرُوهَا فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ

“Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,  maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.  Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”. Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir; Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar”. Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar”. Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi menyesal,” (Q.s Asy-Syu’ara: 141-157)

Terkait dengan konflik antara Nabi Saleh dengan kaumya, Surah Al-Qamar menginformasikan sebagai berikut:

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ () فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ () أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ () سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ() إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْ فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْ () وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ ۖ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ () فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَ

“Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? Kaum Tsamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?” Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila”. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran)  Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.” (Qs. Al-Qamar: 21-29)

Mereka ini kaum yang tidak langsung mendapatkan hukuman setalah melakukan sesuatu yang melampaui batas. Ini yang menyebabkan mereka semakin ingkar dan takabur. Mereka pun berani menentang Nabi Saleh As, mereka mengingkari dakwahnya dan menuduhnya berdusta. Allah Swt berfirman:

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. (Qs. AL-A’raf: 77)

Allah menggagalkan semua upaya dan rekayasa kaum yang kafir itu. Dia menyelamatkan Nabi Saleh As dari hadapan orang yan gmenghendaki kematiannya. Setelah Nabi Saleh As melakukan segala upaya dan metode dalam menyampaikan risalahnya, sementara kaumnya tetap berpaling dan tidak menerima seruannya, Nabi Saleh menginformasikan kepada mereka ihwal kehancuran kepada mereka dalam waktu tiga hari setelah disampaikannya informasi itu. Allah Swt menyebutkan hal ini:

فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ

“Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan”. (Qs. Hud: 65)

Setelah tiga hari, siksa pun turun, kaum Tsamud pun hancur. Allah Swt berfirman:

وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ () كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِثَمُودَ

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (Qs. Hud: 67-68)

Salah satu kam yag disebutkan Al-qur’an adalah skelompok orang (baca: kaum Tsamud) yang banyak sekali infromasi kita dapatkan terkait kelompok ini. Data kepurbakalaan menunjukkan bahwa kaum Tsamud memang benar pernah ada pada suatu masa. Diyakini bhwa kaum yang tinggal di Hir seerti disingggung Al-qur’an adalah kaum Tsamud. Al-qur’an menyebut mereka dengan nama penduduk Hijr. Karena ini merupakan salah satu kota yang dibabat oleh kaum itu. Ini sesuai dengan penjelasan seorang ahli geologi Yunani, Pliny. Menurutnya, Dumasa dan Hijra merupakan tempat tinggal kaum Tsamud. Hijra sndiri merupakan anak kota Hijr yang popular sekarang.[1]

Sumber klasik menyebutkan tertua yang menyebutkan tentang kaum Tsamud adalah catatan sejarah kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang menghancurkan kaum ini dalam salah satu ekspedisinya di sebelah utara Jazirah Arab. Ini seperti yang dirujuk orang Yunani saat menyebut mereka Tamudi, yang dimaksudkan adalah kaum Tsamud dalam penulisan Arisstoteles, Ptolemy, dan Pilny.[2] Selama rentang 400-600 M, sebelum masa Nabi Muhammad Saw,kau mini sempat tidak terdeteksi. Hingga kemudian Al-qur’an meyebut kaum Ad dan kaum tsamud secara bersamaan.

Bahka Al-qur’an memperingatkan kam Tsamud dengan kaum Ad. Kitab suci ini memerintahkan mereka untuk mengambil pelajaran dari kaum Ad. Ini memberi informasi bahwa kaum Tsamud sebetulnya memiliki banyak informasi terkait kaum Ad. Allah Swt berfirman:

 

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”. (Qs. Al-A’raf: 73)

Allah Swt juga berfirman:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (Qs. Al-A’raf: 74)

Sebagaiman dipahami dari ayat di atas bahwa kaum Tsamud mempunyai hubungan dengan kaum Ad. Kaum Ad terkdang menjadi bagian dari sejarah dan peradaban kaum Tsamud. Nabi Saleh As menasehati kaumnya agar mengambl peajaran dari kaum Ad. Rasul yang diutus pada kaum Ad juga menginformasikan kepadda kaumnya entang kaum Nabi Nuh As yang hidup sebelum mereka. Ini menunjukkan adanya hubungan histoeis yang penting antara kaum Ad dan kaum Tsamud. Hubungan historis yang sama juga terjadi antara kaum Nuh dan kam Ad. Ketiga kau mini sebetulnya saling mengenal. Sangat mungkin ketiganya berasal dari keturunan yang sama.

Hanya saja secara geografis Ad dan Tsamud berjauhan. Oleh karenanya, tidak heran saat pertama kali tidak ditemukan adanya hubungan langsung antara keduanya. Lalu, mengapa Al-qur’anmenyebut Tsamud dan Ad bersamaan pada beberapa ayat? Dengan sedikit perenungan, jawaban untuk pertanyaan ini akan menjadi jelas. Jarak geografis antara dua kau mini memang sangat jauh. Namun secara historis, sumber-sumber sejarah menunjukkan hubungan yang erat sekali antara kaum Tsamud dan kaum Ad. Kaum Tsamud mengetahui kaum Ad karena kuat dugaan kedua kaum berasal dari keturunan yang sama. Ini bisa dilihat pada Britannica Micropaedia pada entri “Tsamud”. Di buku itu dituliskan bahwa Tsamud merupakan salah satu kabilah di Jazirah Arab klasik yang diketahui sebagai kabilah yang terkenal. Meskipun temat tinggal kam Tsamud berada di sebelah selatan jazirah Arab, tetapi pada sejarah primitive sebagian besar dari kau mini pindah ke utara.

Mereka tinggal di lereng Gunung Atslab. Kaum Tsamud yang tinggal di Kawasan antara Syam dan Hijaz lebih dikenal dengan nama Ashabul Hijr (penduduk Hijr). Penggalian kepurbakalaan menuliskan tulisan orang HIjr dan gambar orang Tsamud yang besar sekali. Penemuan ini tidak hanya di Kawasan lereng Gunung Atslab saja, bahkan penemuan yang sama juga didapat pada Kawasan yang melewati bagian tengah jazirah Arab.[3] Manuskrip yang mirip dengan huruf abjad kaum Tsamud juga ditemukan di sebelah selatan Jazirah Arab, diantara Hijaz dan di sebelah utara Hadramaut.[4] Maunuskripini membuktikan bahwa kaum Tsamud tinggal di daerah kaum Ad, terutama di kawasan Hadramaut, juga wilayah anak-cucu kaum Ad dan ibukota mereka. Hubungan antara kaum Ad dan kaum tsamud ini dijelaskan Al-qur’an saat menjelaskan apa yang dikatakan Nabi Saleh As pada kaumnya bahwa mereka telah mengambil tempat mereka. Allah Swt berfirman:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”. (Qs. Al-A’raf: 73)

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (Qs. Al-A’raf: 74)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] Al Mausu’ah Al Islamiyah : Al-A’lam Al-Islami, Tarikh, Jugrafiyah Intusughrafiya, wa Qamus Bibliografiya, j. 1/5, h. 475, lema “Hikr”.

[2] Philip Hitti, Tarikh Al-Arab, 1979, h. 37.

[3] Britannica Micropaedia

[4] Brian Doo, Janub Al-Jazirah Al-Arabiyya, 1971, h. 21-22

Penemuan Kepurbakalaan di Kota Iran

Pada awal tahun 1990, koran-koran besar internasional di penuhi dengan laporan jurnalistik yang mewartakan “Penemuan Kota Khayalan Arab yang Hilang”, “Penemuan Kota Dongeng arab”, “Dongeng Pasir”. Hal yang menjadikan penemuan itu menarikk perhatian adalah kota itu dibicarakn oleh Al-qur’an. Semenjak tu, banyak orang yang sebelumnyameyakini bahwa Ad yang diinformasikan Al-qur’an sebagai dongeng belaka dan tempatnya tidak mungkin ditemukan, justru tidak bisa lagi menyembunyikan kekaguman mereka saat mengetahui penemuan itu. Penemuan kota itu yang hanya disebutkan oleh lisan-lisan orang pedesaan telah menarik perhatian yang besar.

Nicholas Clapp, seorang ahli kepurbakalaan terkemuka, yang menemukan kota dongeng yang disebutkan Al-qur’an itu.[1] Ia juga dikenal sangat gandrung dengan segala hal yang berasal dari Arab, meskipun dia juga dikenal sebagai produser film-film dokumenter yang menarik. Ia mendapatkan informasinya dari buku yang sangat menarik ketika dia meneliti sejarah Arab. Judul buku itu itu Arabia Felix karya Bartram Thomas, seorang peneliti berkewarganegaraan Inggris, yang menulisnya pada tahun 1932. Arabia Felix merupakan nama Romawi untuk daerah bagian selatan Semenanjung Arabia meliputi Yaman dan sebagian besar Oman. Orang Yunani daerah ini dengan nama Arab Said (Happyy Arab, Arab Bahagia).[2] Pada abad pertengahan, para ahli Arab menyebut daerah ini dngana “Yaman Saidah”. Penamaan ini didasarkan pada fakta bahwa penduduk klasik tempat itu menjadi warga yang paling banyak keuntungannya di masa mereka. Dari satu segi, ini semua disebabkan oleh letak strategis daerah mereka. Mereka menjadi perantara perdagangan hasil bumi antara India dan daerah yang berada di utara Semenanjung Arabia. Dari segi yang lain, penduduk daerah ini terkenal dengan hasil parfum yang dihasilkan dari pohon jenis langka. Nilai tanaman in tidak kalah dengan emas. Masyarakat klasik sangat menaruh perhatian pada komoditi ini.

Thomas memberikan penjelasan panjang lebar soal kabilah yang mendapat bagian yang menyenangkan itu.[3] Dia berhasil mengungkap peninggalan kota klasik yang dibangun oleh salah satu kabilah yang oleh Arab-badui disebut Ubar. Dalam salah satu perjalanannya ke daerah ini, penduduk Arab-Badui di kawasan itu menunjukkan padanya peninggalan yang sangat klasik tersebut. Menurut mereka, peninggalan-peninggalan itu berasal dari kota kuno Ubar. Sayangnya, Thomas yang sangat tertarik terhadap tema ini, lebih dulu meninggal sebelum menyelesaikan penelitiannya.

Setelah meninjau apa yang sudah ditulis peneliti Inggris itu, Clapp bisa menerima keberadaan kota yang hilang ini, yang sudah digambarkan oleh buku itu. Tanpa buang-buang waktu, Ia pun mulai meneliti. Clapp menggunakan dua metode untuk memastikan Kota Ubar.

Pertama, ketika menemukan bahwa peninggalan yang disebutkan oleh orang Arab-Badui benar-benar ada, ia pun mengajukan permintaan pada perwakilan NASA (National Aeronautics Space Administration) agar bisa memperoleh gambar tempat itu dari satelit.[4] Setelah cukup lama berusaha, akhirya ia berhasil meyakinkan pemerintah untuk mendapatkan gambar itu dari satelit.

Kedua, Clapp melakukan kajian manuskrip dan peta kuno di Perpustakaan Huntington California untuk mendapatkan hasil peta daerah ini. Setelah beberapa waktu meneliti, ia menemukan peta yang ditulis oleh Ptolemy—ahli geografi Yunani pernah tinggal di Mesir—pada tahun 200 M. Peta itu menjelaskan lokasi kota kuno yang berhasil ditemukan dan jalan-jalan yang mengarah ke kota tersebut. Clapp awalnya mengalami kesulitan melihatnya dengan mata telanjang. Tapi kemudian, ia mendapat berita bahwa NASA memperoleh gambar yang memperlihatkan sebagian peninggalan kafilah ini. Semuanya ternyata bisa dilihat dari langit.

Dengan membandingkan gambar citra satelit dengan peta klasik yang didapatnya, akhirnya Clapp menyimpulkan bahwa peninggalan yang ada di peta kuno itu sesuai dengan fakta yang didapat dari gambar yang diambil dari citra satelit. Petunjuk terakhir kabilah-kabilah itu adalah tempat besar, yang bisa dipahami bahwa pada satu waktu, tempat itu merupakan suatu kota. Akhirnya, penemuan itu pun berhasil menguak lokasi kota dongeng yang sudah lama menjadi topik cerita orang-orang Badui. Tak lama berselang, penggalian pun dimulai. Pasir itu mulai mengungkap peninggalan kota kuno yang dikenal dengan istilah “Dongeng Pasir ubar”.

Bukti Addanya Kota Kaum Ad

Apa bukti bahwa kota itu merupakan kota kaum Ad yang diseebutkan di Al-qur’an? Smenjak pertama kali mulai terlihat sisa-sisa kota itu, sangat jelas bahwa kota yang sudah hancur itu berkaitan dengan kaum Ad dan tiang kota Iram yang disebut di Al-qur’an. Tiang-tiang besar yang disebutkan dalam Al-qur’an dengan cara khusus adalah bagian dari bangunan yang terbuat dari pasir tersebut.

Dr. Zarins, salah satu anggota tim peneliti dan ketua proses penggalian, menyebut bahwa tiang-tiang tersebut sebagai tanda istimewa Kota Ubar. Ciri tiang besar yang dijelaskan Al-qur’an, menjadi petujuk terbaik bahwa kota yang ditemuuka itu adalah Kota Iram yang disebutkan Al-qur’an.

Allah Swt berfirman sebagai berikut:

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ ()إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ () أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad? (Mereka) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” (QS. Al Fajr : 6-8)

Kota dongeng yang disebutkan dalam Al-qur’an dengan nama Iram itu diciptakan agar menjadi kota satu-satunya. Kota in bundar dengan serrambi bertiang bulat. Padahal, tempat-tempat lain yang ada di Yaman yang bisa diungkap hingga sekarang, bangunannya mempunyai tiang segi empat. Ada yang mengatakan bahwa penduduk kota Iram membangun banyak tiang yang dilapisi emas atau perak. Tiang-tiang ini menarik untuk dilihat. Terkait hal ini, Allah Swt berfirman sebagai berikut:

أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ ()وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُون

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (Q.S Al-Syua’ara: 128-129)

Orang yang berpergian ke Jazirah Arab akan melihat banyak padang pasir di semua tempat, dan hanya sedikit tempat yang ada tanamannya. Namun, Al-qur’an menyebutkan padang pasir ini suatu hari dahulu pernah menjadi kebun dan mata air.

Nabi Hud berkata pada mereka:

 أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ ()وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُون ()وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ () فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ () وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا  تَعْلَمُونَ () أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ () وجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ () إنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيم () قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِين

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air,  sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat,” (Q.S Al-Syua’ara:128-136)

Data sejarah mengungkap bahwa daerah ini mengalami perubahan iklim yang mengubahnya menjadi padang pasir, padahal sebelum itu daerah ini merupakan daerah yang subur dan produktif. Daerah itu menghampar luas dengan dominasi hijau-hijauan. Ini seperti yang juga diinformasikan Al-qur’an 1400-an tahun lalu.

Citra satelit dari salah satu satelit NASA pada tahun 1990 mengungkap sistem bendungan dan dam kuno yang dipergunakan untuk irigasi di daerah kaum Ad yang diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan air 200.000 orang.[5] Ini seperti terlhat pada gambar aliran dua sungai kering di dekat pemukian kaum Ad yang dibuat oleh salah satu peneliti yang meneliti tempat ini.

Meurutnya, daerah-daerah yang berada di sekitar kotaMa’rib itu sangat subur. Diyakini bahwa tempat-tempat itu memanjang antara Ma’rib dan Hadramaut yang semuanya dipenuhi oleh tanaman. Ini juga seperti yang dijelaskan salah satu penulis Yunani klasik, Pliny, terkait tempat ini. Menurutnya, tempat ini memiliki tanah yang sangat subur. Gunung-gunugnya diselimuti hutan meghijau. Sungai-sungai juga mengalir di bawahnya.

Ada beberapa pahatan ditemukan di salah satu kuil kuno yang dekat dengan Hadramaut. Lukisan itu menggambarkan hewan-hewan seperti harimau yang tidak mungkin hidup di daerah gurun. Ini jelas menunjukkan bahwa tempat itu berupa perkebunan. Ini sesuai dengan informasi pada firman Allah Swt berikut:

وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا  تَعْلَمُونَ () أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ () وجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ () إنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيم () قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِين

“Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air,  sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat,” (Q.S Al-Syua’ara:128-136)

Penyebab keruntuhan peradaban Ad dijelaskan oleh majalah Perancis A M’ Interesse yang menyebut bahwa kota Iram atau Ubar mengalami angina disertai pasir yang mengerikan. Angina inilah yang menyebabkan kota ini tertimbun lapisan pasir yang ketebalannya mencapai 12 meter.[6] Ini sama persis dengan informasi seperti firman Allah Swt berikut:

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَىٰ ۖ وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ

“Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.” (QS. Fushshilat:16)

Siapa yang menginformasikan kepada Muhammad bin Abdullah tentang kisah kaum Ad? Siapa pula yang menginformasikan padanya tentang tempat kaum Ad secara tepat bahwa tempat itu kawasan Ahqaf, yang merupakan Tanah Berpasir dan Tempat Tinggal Kosong (Rub’ al-Khali; Empty Quarter), yang memiliki keistimewaan pasirnya bergemuruh sepanjang mata memandang? Siapa yang menginformasikan bahwa kaum Ad membangun kota besar bernama Iram yang banyak istana dan benteng besar, yang dilengkapi dengan tiang-tiang besar? Ketahuilah bahwa informasi itu dari Allah Swt, yang menurunkan Al-qur’an pada kekasih hati-Nya, Muhammad bin Abdullah. Allah Swt berfirman sebagai berikut:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ

يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?” Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud : 50-53)

Allah Swt juga berfirman:

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۖ قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَىٰ ۖ وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ

”Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”. Ketika para rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah”. Mereka menjawab: “Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya”. Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.” (QS. Fushshilat: 13-16)

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] “Tim Los Angeles Menguak Ubar, Kota Dongeng yang Hilang”, karya Thomas Maugh, Los Angeles Times, 5 Februari 1992.

[2] Kamal Salibi, A History of Arabia, 1980.

[3] Bertram Thomas, Arabia Felix . 1932, h. 161.

[4] Charlene Crabb, “Frakincens” pada Discover, 1993.

[5] Joachim Chwaszeza, 1992

[6] Am’Interesse, Januari 1993.

Penemuan Pemukiman Kaum Ad

Allah Swt menyebut kaum Ad dalam konteks pembicaraan tentang Nabi Hud. Allah Swt berfirman:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.” (Hud : 50)

Allah menjelaskan kaum Ad di Ahqaf, yang maknanya ‘padang pasir’. Namun, Al-qur’an tidak menjelaskan lokasinya dimana. Hanya para informan menjelaskan bahwa lokasinya berada di antara Yaman dan Oman. Allah Swt berfirman:

وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (Al-Ahqaf : 21)

Al-qur’an menginformasikan bahwa kaum Ad membangun kota yang berwarna Iram. Al-qur’an menjelaskan kota ini besar dan tidak ada tandingannya di negeri itu. Allah Swt berfirman:

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ ()إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ () أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad? (Mereka) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” (QS. Al Fajr : 6-8)

Para sejarawan menyebut bahwa kaum Ad menyembah tiga berhala : Shuda’, Shamud, dan Haba’. Informasi ini dikutip dari Tarikh Al-Thabari.

Nabi Hud sendiri sudah mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah Swt saja dan meninggalkan penyembahan kepada berhala. Karena hanya itu jalan yang bisa dipergunakan untuk menjaga mereka dari siksa pada Hari Kiamat.

Namun, apakah pengaruh dakwah ini pada Kabilah Ad?mereka justru melecehkan Hud. Mereka bahkan berani menyebut Nabi Hud gila, sembrono, dan berdusta. Tentu saja Nabi Hud menolak anggapan tak benar itu. Sang nabi justru menegaskan bahwa dirinya adalah utusan Tuhan semesta alam, yang hanya ingin menasihati mereka. Allah Swt beriman:

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta”. (Al’A’raf : 66)

Mengingatkan pada Kenikmatan Allah

Nabi Hud berulang kali mengajak kaumnya untuk kembali pada jalan yang benar. Ia berusaha mengingatkan kaumnya akan kenikmatan-kenikmatan  Allah kepada mereka. Ia berkata, “Apakah kesombongan dan sikap memandang aneh kalian telah menyebabkan Tuhan mengirimkan petunjuk-Nya melalui lisan seseorang di antara kalian yang memperingatkan kepada kalian akibat buruk karena ketersesatan yang kalian lakukan?” Tidakkah kalian mengingat bahwa Allah telah menjadikan kalian sebagai pewaris bumi setelah kaum Nuh, yang juga tlah dihancurkan Allah akibat dosa mereka. Allah juga menambahkan kalian kekuatan di badan dan kekuatan dalam berkuasa. Kenikmatan itu ditujukkan agar kalian beriman dan bersyukur kepada Allah, bukan untuk mengafiri-Nya.

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al-A’raf:69)

Al-qur’an menceritakan bahwa kaum Hud tidak melaksanakan hak bersyukur atas kenikmatan Allah kepada mereka. Mereka justru berlumur dosa dan berlaku sombong di muka bumi. Hud berkata kepada mereka:

 أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ ()وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُون ()وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ () فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ () وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا  تَعْلَمُونَ () أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ () وجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ () إنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيم () قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِين

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air,  sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat,” (Q.S Al-Syua’ara:128-136)

Kita bisa memperhatikan bahwa ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa kaum Ad terkenal dalam pembuatan bangunan yang megah dan istana yang mewah nan membanggakan. Pada saat kaum Ad bermaksiat kepada Rasul mereka, Allah Swt menurunkan siksa kepada mereka. Siksa itu berupa angin yang berhembus kencang yang dipenuhi debu dan tanah liat. Angina inilah yang akan mengubur mereka hidup-hidup dan menghabisi riwayat hidup mereka. Allah Swt berfirman:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

“Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang,” (Q.S Al Haaqqah : 6)

Beberapa catatan terpenting yang disebutkan Al-qur’an dalam kisah Hud sebagai berikut:

  1. Kaum Hud tinggal di Ahqaf. Ahqaf sendiri merupakan daerah berpasir. Para sejarawan menjelaskan bahwa Kawasan itu berada di antara Yaman dan Oman.
  2. Kaum Ad mempunyai kebun, hewan ternak, dan mata air. Allah Swt berfirman:

وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ () وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ () وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ

Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, (Q.S Al-Syua’ara : 132-134)

  1. Kaum Ad membangn kota besar yang bernama Iram yang mempunyai istana-istana mewah bertiang besar, yang tidak ada tandingannya di negeri itu. Oleh karenanya, Allah Swt berfirman:

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ ()إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ () أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad? (Mereka) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” (QS. Al Fajr : 6-8)

  1. Mereka membangun istana-istana mewah dan bangunan yang megah. Allah Swt berfirman:

 

وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ () أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (Q.S Al-Syua’ara: 128-129)

  1. Pada saat mereka mendustakan Hud, Allah Swt mengirimkan angina kencang yang disertai tanah liat. Angin itu menghabisi dan mengubur kekuasaan mereka di negeri pasir itu.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

Simulasi Gempa SD Exiss Abata

Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi.
Berdasarkan fakta tersebut tidak heran jika gempa seringkali terjadi di negara kita Indonesia.
Lanjutan dari peristiwa gempa juga biasanya diikuti dengan bencana alam yang lainnya seperti tsunami dan erupsi gunung merapi. Mengingat kemungkinan terjadinya gempa dan bencana lain akan lebih sering terjadi di wilayah Indonesia dibanding negara lain. Pengetahuan dasar tentang penyelamatan diri saat bencana terjadi inilah yang seharusnya diperkenalkan pada anak-anak sejak dini.

Diantara program kegiatan yang Ada di SD Exiss Abata adalah program pengenalan dini mengenai Tim SAR. Beberapa kegiatan dalam ini antara lain, simulasi gempa, praktek membuat tandu penyelamatan, praktek pengobatan bagi yang terluka, serta simulasi penyelamatan dalam air. Tepat pada hari Kamis tanggal 25 Oktober SD Exiss Abata menggelar kegiatan simulasi gempa.

Nabi Nuh A.S : Banjir Topan Pada Masa Nabi Nuh A.S (Part 2)

Bukti Kepurbakalaan di Irak

Sebagian ahli sejarah dan ahli tafsir berpendapat bahwa banjir topan yang menimpa kaum Nuh tidak megenai seluruh bumi, tetapi hanya mengenai wilayah tertentu, yaitu Lembah Rafidin. Sudah banyak delegasi kepurbakalaan yang melakukan penelitian di Dataran Rafidin untuk menguji peninggalan yang tersimpan di sana yang bisa membuktikan berbagai peradaban. Hasil penelitian itu mengungkap bahwa daerah tersebut mengalami banjir topan dahsyat yang juga memusnahkan peradaban Sumeria yang sebagian besar penduduknya tinggal di Dataran Rafidin.

Sisa-sisa banjir topan terlihat jelas di empat kota utama di Rafidin: Ur, Erech, Shuruppak, dan Kish. Penelitian-penelitian kepurbakalaan mengungkap bahwa kota-kota itu disapu banjir topan pada sekitar 3000 SM.

Hasil Penelitian di Ur

Peradaban ermaju yang tersisa adalah kota Ur yang sekarang lebih dikenal dengan Tall al Muqayyar (Tell al-Obied). Sejarah kota ii merujuk pada tahun 7000 SM. Kota ini dihuni oleh peradaban yang bergantian. Suatu kali ditinggali peradaban yang porak poranda. Di antara penemuan kepurbakalaan pada kota Ur dijelaskan bahwa peradaban itu disapu banjir topan yang mengerikan. Berbagai peradaban mengembalikan tempat ini secara bertahap.

Ahli kepurbakalaan Sir Leonard Woolley memimpin rombongan penelitian yang dibiayai oleh Museum Inggris (British Museum) dan Universitas Pennsylvania pada tahun 1928. Penelitianitu dilakukan di tempat yang bergurun antara Bagdad dan Teluk  Persia. Ahl kepurbakaan dari Jerman Werner Keller menjelaskan penelitian Sir Leonard Woolley sebagai berikut:

Pada saat rombongan ahli kepurbakalaan ini sampai di Tall al Muqayyar yang tingginnya 50 kaki sebelah selatan kuil. Setelah dilakukan penelitian, mereka menemukan garis panjang kuburan yang menumpuk, juga jembatan batu yang indah, dan Gudang penyimpanan yang dipenuhi dengan gelas mahal, guci mewah, vas bunga, meja perunggu, mozaik, dan perak yang tertutup debu. Setelah beberapa hari penggalian dan peelitian, salah satu pekerja yang bernama Woolley berteriak, “Kita berada di atas permukaan tanah.” Ia pun meletakkan dirinya di lubang yang akan digali. Woolley mengira apa yang ditemukan sudah segalanya. Benda yang sudah ditemukan, ada juga batu mulia, yang hanya terendam dengan air saja.

Mereka lalu memutuskan untuk melanjutkan penggalian. Mereka lalu memutuskan untuk melanjutkan penggalian. Mereka menggali lebih dalam, dan lebih dalam lagi. Rombongan itu masuk ke dalam perut bumi sjauh tiga kaki, dan sepuluh kaki. Semuanya masih tanah liat.

Secara mengejutkan, pada kedalaman sepuluh kaki mereka mendapati petunjuk yang jelas adanya pemukiman manusia. MacMillan mengutip pendapat Sir Leonard Woolley yang menyebut bahwa banjir topan merupakan bukti satu-satunya yang memungkinkan terjadinya timbunan luar biasa yan gterletak di bawah anak bukit di kota Ur, yang memisahkan antara dua peradaban Kota Ur Sumeria dan Kota Ubaid Assyiria.[1]

Penelitian mikroskopis pada timmbunan batu mulia yang berada di bawah anak bukit di kota Ur dalam kondisi tertimbun sebagai akibat banjir topan.

Hasil Penelitian di Kish

Sisa-sisa banjir topan yang sama juga ditemukan di kota lain wilaah Rafidin. Kota itu adalah Kish Sumeria yang sekarang lebih dikenal sebagai Tall al Uhaimar. Sejarah orang Sumeria kuno menyebut kota ini sebagai lokasi pertama keluarga Hakimah.[2]

Hasil Penelitian di Shuruppak

Kota yang beradda di sebelah selatan Rafidin yang sekarang ini lebih dikenal dengan Tall al Farah. Kota ini juga menyimpan bukti sangat jelas adanya banjir topan saat penelitian kepurbakalaan yang dilakukan oleh Henri de Genouillac dari Universitas Pennsylvania di kota ini pada tahun 1920-1930. Penelitian kepurbakalaan ini menguak misteri tiga tingkat pemukiman yang memanjang pada masa prasejarah hingga keluarga Hakimah III seperti Kota Ur (2112-2004 SM). Penemuan yang tergolong luar biasa, yakni berupa rumah yang dibangun dengan sangat indah, sesuai dengan tulisan Mismariah, serta penemuan tentang kota yang menunjukkkan perkembangan tinggi yang sudah ada pada akhir abad keempat sebelum Masehi.[3] Selain itu, ada pula peninggalan kepurbakalaan banjir topan yang terdapat di Kota Erech.

Petunjuk Adanya Kehidupan Sebelum Banjir Topan

Laporan NASA, Whasington, menyebut bahwa para peneliti dari Amerika mendapatkan peninggalan daerah pemukiman pada kedalaman ratusan meter di bawah permukaan Laut Hitam, di satu tempat yang menjadi lokasi banjir yang luar biasa 7500 tahun silam, yang urgensiya menyamai penemuan kota Romawi kuno yang dihancurkan oleh hujan batu lava gunung berapi, yang tidak diketahui selama berabad-abad.

Terkait ini, Reuters melaporkan bahwa Robbert Ballard, salah satu penemu dan peneliti, menjelaskan bahwa timnya dari National Geographic menemukan kuil yang berbentuk empat persegi panjang yang mungkin merupakan pada kedalaman sekitar 310 meter di bawah permukaan laut. Kuil itu menunjukkan adanya sekelompok orang yang hidup di sana sebelum banjir topan dahsyat pada kawasan itu. Penemuan ini dianggap sebagai bukti adanya pemukiman manusia.

Dalam pembicaraan telepon dari salah satu kapal penjelajah pada jarak 20 km, yang menghadap Pantai Turki, Ballard menyebutkan bahwa penemuan luar biasa itu menunjukkan arsitektur dan bagian seninya mengacu pada masa perunggu modern yang dimulai sekitar sebelum 7000 tahun. Penelitian ini juga berhasil menghimpun volume hujan dalam jumlah besar di bawah permukaan air yang menunjukkan banyak orang yang hidup di sana. Urgensi penemuan ini melampaui hasil penemuan pada reruntuhan Titanic pada tahun 1985.

Lebih lanjut, Robbert Ballard menyebutkan bahwa timnya berhasil mengungkap penemuan ini kurang dari tiga hari pada minggu kedua dari total waktu penelitian yang akan dihabiskan selama lima minggu. Anggota tim berharap bisa mengungkap penemuan-penemuan lain dalam kurun waktu itu. Mereka akan melakukan proses pengeringan, penggambaran dan verifikasi, sebelum mengangkat apa pun ke permukaan. Pengenalan pada bagian-bagian yang berhasil ditemukan dilakukan dengan menggunakan alat pengukur kedalaman dengan teknologi cahaya (sonar). Penggambarannya juga dilakukan dengan perantara alat pengangkut praktis Argus, yang seukuran mesin cuci. Alat ini berhubungan dengan kapal penjelajah melalui kabel serat optik. Setelah diteliti, ukuran kuil ini lebarnya mencapai 4 meter dan panjangnya mencapai 15 meter.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] Werner Keller, Und die Biebel hat doch recht (The Bible as History ; a Confirmation of the Book of Books).

[2] Britanica Micropedia, j. 6, h. 893, lema “Kish”.

[3] Britanica Micropedia, j. 10, h. 722, lema “Shuruppak”.

 

Nabi Nuh A.S : Banjir Topan Pada Masa Nabi Nuh A.S (Part 1)

Al-qur’an berbicara tentang umat-umat dahulu yang primitif dan bagaimana sikap mereka meghadapi para utusan Allah. Salah satu kisah yang diinformasikan Al-qur’an adalah kisah Nabi Nuh a.s dan banjir topan. Allah Swt berfirman:

 كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ (١٠٥) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلا تَتَّقُونَ (١٠٦) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٠٧) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ    (١٠٨) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٠٩) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (١١٠) قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣) وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤) إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ مُبِينٌ (١١٥) قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ (١١٦) قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ     (١١٧) فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَنْ مَعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (١١٨) فَأَنْجَيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (١١٩)ثُمَّ أَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِينَ (١٢٠) إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (١٢١) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (١٢٢

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam, maka bertakwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepadaku.” Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu adalah orang-orang yang hina?” Dia (Nuh) menjawab, “Tidak ada pengetahuanku tentang apa yang mereka kerjakan. Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, jika kamu menyadari. Dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) hanyalah pemberi peringatan yang jelas.” Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, jika engkau tidak (mau) berhenti, niscaya engkau termasuk orang yang dirajam (dilempari batu sampai mati).” Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah mendustakan aku; maka berilah keputusan antara aku dengan mereka, dan selamatkanlah aku dan mereka yang beriman bersamaku.” Kemudian Kami menyelamatkannya (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Q.S Asy-Syu’ara 105-122

Allah Swt juga berfirman dalam Surah Nuh berikut:

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١) قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (٢)

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih. Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu (Q.S Nuh : 1-2)

KEMUKJIZATAN TERKAIT HAL GAIB

Mungkin kisah ini merupakan bentuk kemukjizatanterkait hal gaib terbesar di Al-qur’an yang kemudian dibktikan oleh penemuan kepurbakalan modern.

Kisah Banjir Topan di Peradaban Kuno

Seperti diketahui sejak lama bahwa kisah tentang banjir topan tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Ada juga kisah tentang banjir topan di sebagian masyarakat Timur Dekat, kisah klasik, India, Burma, Cina, Melayu, Australia, kepulauan Samudera India dan di seluruh masyarakat Indian. Mungkin kisah terpenting adalah kisah banjir topan Sumeria, kisah banjir topan Babilonia, dan kisah banjir topan Yahudi seperti yang diinformasikan oleh Taurat. Meskipun ada penyimpangan yang disusupkan pada sebagian kisah itu. Hanya saja kisah-kisah itu sepakat bhwa banjir topan besar itu memang ada adan terjadi. Diceritakan, ada seorang lelaki saleh yang membuat perahu. Ia membawa semua hewan yang berpasangan, di samping keluarga dan orang-orang beriman kepada Allah yang mengikutinya di perahu itu. Bagian terpenting dari kisah itu adalah sebagai berikut:

Pertama, kisah banjir topan versi Sumeria. Hingga akhir abad lalu, masyarakat meyakini bahwa Taurat merupakan sumber paling awal yang menginformasikan kisah tentang Fir’aun. Namun, penemuan-penemuan modern berhasil membuktikan bahwa itu ilusi belaka. Ini terjadi setelah tahun1852 terungkap naskah berbahasa Babilonia yang menginformasikan badai banjir topan. Pada rentang waktu antara tahun 1889 sampai 1900, delegasi kepurbakalaan Amerika pertama yang melakukan penelitian di Irak, mengungkap lembar tanah liat yang memuat kisah Sumeria tentang banjir topan di kota Nippur (Nufur di Irak). Kemudian kisah ini diikuti oleh orang lain. Yang terlihat dari stempel pada tulisan tentang kisah Sumeria bahwa kisah ini berasal dari masa yang mendekati masa Hammurabi, raja Babilonia yang terkenal. Meskipun bisa diyakini bahwa kisah itu sebelum masa Hammurabi.

Berdasarkan riwayat Sumeria, secara ringkas kisah ini menceritakan seorang raja yang bernama Ziusudra yang digambarkan bertakwa dan takut kepada Allah. Ia juga megabdi ada Allah dengan tawaduk serta khusyuk. Ia mendengar brita soal keputusan yang persiapkan para dewa. Keputusan itu terkait pengiriman banjir topan disertai badai dan hujan terus-menerus selama tujuh hari dan tujuh malam. Banjir ini jug diputuskan menyabu bersih bumi. Ziusudra sendiri digambarkan sebagai seseorang yang menjaga spesies umat manusia dengan cara membuat kapal.

Kedua, kisah banjir topan versi Babilonia, yag bisa didapat dalam beberapa sumber berikut:

  1. Epos Gilgamesh (Gilgamesh pic)

Pada tanggal 3 Desember 1872, Sydeny Smith mengumumkan keberhasilannya dalam menghimpun serpihan yang tersebar dari Epos Gilgamesh bagian per bagian, yang tertulis dalam 12 puisi, atau lebih tepatnya 12 lembar. Pada lembar kesebelas memuat kisah banjir topan. Secara ringkas diceritakan, bahwa ada seorang lelaki yang bernama Gilgamesh yang diperintah oleh para dewa untuk membuat kapal dan meninggalkan semua harta yang harta yang dimiliki. Ia membawa kea as kapal semua yang bernyawa. Luas kapal yang dibangun itu sama dengan panjangnya. Hujan juga turun terus menerus. Kapalnya terdampar di atas Gunung Nisir (gunung yang terletak diantara DIljahdan Eufrat, Irak).

  1. Kisah Berosus

Pada pertengahan pertama abad ketiga SM pada masa pemerintahan Raja Antigonus I (280 SM-260 SM), ada salah satu rahib Tuhan Marduk yang bernama Berosus yang berasal dari Babilonia. Berosus mengaku telah menulis sejarah negaranya dengan menggunkan bahasa Yunani dengan tiga bagian. Buku ini memuat kisah banjir topan sebagai berikut:

Dulu hiduplah seorang raja yang bernama Xisutrhas. Raja ini bermimpi bahwa Tuhan memperingatkannya aka nada banjir topan yang menutupi bumi, menghancurkan tanaman dan getah tanaman. Tuhan memerintahkan padanya untuk membuat kapal yang bisa digunakan untuk banjir topan terjadi.

Raja ini membuat kapal yang panjangnya 1000 yard[1]. Di kapal itu, ia mengumpulkan semua kerabat dan sahabatnya, juga makhluk hidup seperti burung dan hewan-hewan yang berkaki empat. Ia membekali diri dengan daging dan minuman.

Banjir topan ini menenggelamkan bumi. Kapalnya pun akhirnya terdampar di atas gunung, yang memungkinkan XIsuthras, istri, anak, dan pemegang kemudi kapal untuk turun. Sang raja pun sujud pada Tuhan. Ia lalu mengajukan kurban.

  1. Kisah Banjir Topan Dalam Taurat

Kisah ini terdapat pada Kitab Ishah mulai dari Kitab Kejadian keenam hingga kesembilan. Kejadian banjir itu sebagai berikut:

“Tuhan melihat bahwa orang jahat sudah banyak di bumi. Dia bersedih karena itu dilakukan oleh manusia di bumi. Dia menyimpan kesedihan-Nya di dalam hati. Dia bertekad untuk memusnahkan manusia., hwan ternak, hewan melata, dan burung dari permukaan bumi. Dia mengecualikan Nuh dari kelompok yang akan dimusnahkan, karena Nuh adalah lelaki yang baik dan sempurna di tengah-tengah maasyarakatnya. Nuh pun pergi bersama Allah.

Kejahatan manusia pun semakin merajalela. Bumi juga semakin dipenuhi kegelapan. Tuhan memutuskan untuk mengakhiri sejarah umat manusia. Nuh mengetahui apa yang diniatkan oleh Tuhan yang kemudian memerintahkan kepadanya untuk membuat kapal yang besar. Kapal itu dilapisi dengan tir dan aspal dari dalam dan luar, sehingga air tidak bisa terserap ke dalam kapal. Yang ikut ke dalam kapal itu tiap makhluk sepasang yang bernyawa, laki-laki dan perempuan, terutama istri, anak-anak, dan para wanita yang ada di rumahnya. Persediaan makanan pun disesuaikan dengan jumlah orang yang ada di kapal itu,” (Kejadian 6: 1-22).

Tuhan mengulangi kembali perintahnya dalam Ishah sebagai berikut:

“Tuhan memerintahkan padanya dan orang-orang yang bersamanya untuk memasuki kapal karena Tuhan telah memutuskan untuk menenggelamkan bumi seisinya selama tujuh hari setelah hujan terus-menerus turun ke bumi selama empat uluh hari dan empat puluh malam. Atas perintah Tuhan, Nuh naik ke kapal. Ia, keluarga, dan orang-orang yang bersamanya berada di kapal. Kemudian semua mata air memancarkan banjir besar. Semua energi langit juga terbuka. Banjir topan di bumi ini berlangsung selama empat puluh hari.

Air pun melimpah. Kapal pun naik ke atas bumi. Air menutupi semua yang ada di atas bumi. Semua makhluk melata yang di atas bumi, baik manusia, burung, hewan ternak, maupun hewan liar, mti. Nuh dan orang-orang yang bersamanya di kapal selamat, hingga kapal itu bertengger di atas Gunung Ararat.”

Kisah-kisah di atas meskipun memuat juga penyimpangan, tetap saja secara keseluruhan memperkuat terjadinya kisah banjir topan. Secara umum, kisah-kisah itu sesuai dengan informasi yang terdapat dalam Al-qur’an. Pertanyaanya, siapa yang menginformasikan pada Muhammad terkait kisah ini secara terinci, yang peristiwanyaterjadi ribuan tahun sebelum kelahirannya.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

 

[1] 1 yard sama dengan 3 kaki atau 0,914 meter.

 

1 2 3