Author Archives: Lati Larasati

Nabi Adam A.S di Alqur’an, Taurat, dan Kitab Kuno Yahudi-Sambungan (Part 2)

 

  1. Adam Diajarkan Semua Nama

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

“Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” (Al-Baqarah:31)

Taurat (Kejadian 2:9) menyebutkan informasi yang mendekati apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Informasi itu sebagai berikut:

“Tuhan menciptakan dari tanah semua hewan liar dan burung bertebangan. Tuhan lalu meunjukkan semua itu kepada semua itu kepada Adam dengan menunjukkan Namanya masing-masing”.

Semua nama yang telah disebut Adam untuk satu benda kemudian menjadi menjadi nama benda itu. Salah satu buku Pseudepigrapha, Midrash dan Al-Sabiqah lil Islam menyebutkan bahwa Allah mengumpulkan semua hewan ternak yang ada di dunia di hadapan Adam a.s dan para malaikat. Lalu, para malaikat diminta untuk menyebutkan nama-nama hewan-hewan yang ada di hadapan mereka, tetapi mereka tidak sanggup. Ketika diminta melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan para malaikat, Adam berhasil menyelesaikan tugasnya tanpa canggung. “Tuhan semesta, nama hewan ini kerbau….,” begitu kata Adam.

  1. Perintah Sujud Kepada Adam

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ

 

“Ketika kami berfirman kepada para malaikat,, ‘Bersujudlah kepada Adam,’” (Q.S Al-Baqarah)

Taurat tidak menyebut sama sekali informasi perihal perintah Allah kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam dan penolakan iblis. Buku Adam wa Hawa’ menyebutkan bahwa Mikail memanggil para malaikat yang kemudian atas seizin Allah, memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Buku-buku itu juga menyebutkan penolakan iblis dan antek-anteknya yang beralasan bahwa mereka lebih dulu diciptakan. Atas penolakan itu, Allah murka dan menolak mereka bersanding dengan-Nya.

Pada buku Moses Hadarschan disebutkan bahwa ketika menciptakan Adam, Allah berkata pada malaikat, ”Bersujudlah pada Adam.” Hal yang sama juga bisa ditemukan pada sebagian buku pegangan sekte-sekte baik yang Yahudi maupun Nasrani, seperti buku Codex Nazarene. Di buku itu disebutkan bahwa raja-raja api untuk bersujud pada Adam. Salah satu raja api menolak. Allah pun kemudian melemparkannya dalam keadaan terikat.

Informasi ini sangat mendekati dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Dalam teologi Islam, malaikat itu diciptakan dari cahaya, sementara setan diciptakan dari api. Dalam buku Beskati Rabbati, disebutkan alasan lain mengapa iblis tidak mau bersujud kepada Adam. Hal itu bukan terkait dengan bahwa iblis diciptakan lebih dulu, tetapi justru terkait dengan bahan dasar penciptaan Adam yang murni tanah liat, yang juga disebutkan dalam Al-Qur’an. Padahal, iblis—seperti para malaikat—diciptakan dari kilau cahaya.

  1. Asal-Muasal Iblis

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ

“Kecuali Iblis. Dia dari golongan jin.” (Q.S Al-Kahfi ; 50)

Tidak ada batasan yang jelas dalam Taurat. Sementara itu, informasi kitab Yahudi yang lain berbeda dengan informasi yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa iblis diciptakan dari api seperti bahan dasar jin. Menurut Al-Qur’an, iblis juga bukan golongan malaikat. Padahal, sebagian besar kitab suci Ahli Kitab menganggap iblis itu pada mulanya termasuk malaikat. Al-Qur’an bahwa menolak anggapan seperti itu. Dalam Al-Qur’an disebutkan sebagai berikut:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ

“Ketika kami berkata pada para malaikat, ‘Bersujudlah pada Adam,’ mereka bersujud kecali iblis. Dia adalah dari golongan jin.” (Q.S Al-Kahfi ; 50)

Allah tampaknya sengaja menyebutkan ayat  terkait asal-muasal iblis di surah Al-Kahf bukan di surah yang lain, karena surah ini memuat banyak kisah Ahli Kitab. Allah sengaja menghendaki untuk menangkis anggapan mereka yang salah bahwa iblis itu termasuk dalam kelompok masyarakat malaikat. Bahkan buku Besakti Rabbati menyebutkan bahwa iblis itu merupakan malaikat yang paling terhormat. Ia punya 12 sayap.

  1. Ada Wanita Sebelum Hawa

Tidak ada informasi apa pun terkait ini di Al-Qur’an. Begitu juga di Taurat. Ada beberapa literatur orang Yahudi klasik menyebutkan ada istri pertama Adam sebelum Hawa. Namanya Lilith. Sumber-sumber itu menyebutkan baha malaikat dan makhluk lain yang ada pada saat itu pada mulanya tidak bisa membedakan antara Tuhan dan Adam. Mereka pun beribadah kepada Adam. Tuhan berkehendak untuk membuat Batasan terkait hal itu supaya tidak terjadi kerancuan dalam ibadah.

Allah lalu menciptakan dua hal yang nanti bisa membedakan antara Tuhan dan Adam.

Pertama, : Adam tidur, sementara Tuhan tidak tidur.

Kedua, : Allah mejadikan Adam mempunyai istri dan anak, sementaa Allah tidak mempunyai istri dan anak.

Dengan bahan dasar tanah, Allah lalu menciptakan Lilith untuk Adam. Ketika Lilith tahu ada makhluk yang sama dengan dirinya (baca:Adam), ia pun lari meniggalkan Adam. Tuhan pun memerintahkan malaikat mencari pasangan Adam itu. Setelah dicari Lilith pun ditemukan di Laut Merah. Tuhan lalu memberi sanksi. Lilith kehilangan seratus anak berjenis jin ifrit yang biasanya menemani setiap harinya. Sanksi ini kemudian dicabut setelah Lilith kembali ke Adam.

  1. Perayaan Pernikahan Adam dan Hawa.

Tidak ada informasi apapun terkait ini di Al-Qur’an. Begitu juga di Taurat. Dalam literatur orang yahudi klasik dikatakan bahwa tuhan sendiri yang menawarkan Hawa untuk Adam. Bahkan, Tuhan juga mendandani sendiri Hawa sebagai pengantin. Dia juga mengumumkan pemberkatan pernikahan.

Sesuatu yang mustahil dilakukan Allah. Bahkan, di buku itu dijelaskan bahwa setelah itu, diadakan pesta pernikahan. Di pesta itulah para malaikat menari. Mereka memainkan alat-alat music di hadapan Adam dan Hawa di sepuluh ruang pestapernikahan yang terbuat dari emas, Mutiara, dan batu mulia.

  1. Adam dan Hawa Tinggal di Surga

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana sajayang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang zalim’,”

(Al-Baqarah:35)

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Allah berfirman, ‘Hai Adam bertempat tinggalah kamu dan istrimu di surge serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang zalim,” (Q.S Al’A’raf:19)

Selain Al-Qur’an, hadis juga menginformasikan hal ini. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan satu hadis tentang Isra dan Mikraj dari Abu Dzar r.a. dan Ibnu Abbas r.a. yang menyebutkan bahwa Adam berada di langit pertama. Dari konteks kisah Adam di buku Kejadian dapat dipahami bahwa surga yang ditinggali Adam dan Hawa itu ada di bumi. Ini bisa dilihat pada bagian akhir kisah ini. Berikut terjemahan dari kutipannya:

“Manusia itu berasal dari Surga Eden, sementara para malaikat Karumbim dengan membawa pedang dan api. Mereka juga terus mondar-mandir ke bagian timur surga untuk menjaga jalan yang dikosongkan sampai pohon kehidupan,” (Kejadian 3:24)

Semua kitab yang membicarakan permasalahan Adam dan Hawa tinggal di surga, kebetulan menginformasikan sesuatu yang kurang lebih sama, meskipun tempatnya berbeda-beda. Beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Adam dan Hawa tinggal di surga diperkuat oleh kitab-kitab itu, sebagiannya merupakan naskah langka, seperti Apocrypha, dan sebagiannya lagi dalam kitab Yahudi klasik, seperti Zohar Hadosh dan Recanati. Kitab-kitab it menyebutkan bahwa surga yang didiami Adam itu berrada di langit pertama.

Informasi ini sangat berdekatan sekali dengan apa yang disebutkan oleh hadis Nabi Muhammad Saw, ketika dimikrajkan ke langit, Nabi bertemu dengan Adam di langit pertama. Dalam buku Adam wa Hawa ada informasi yang menyebutkan bahwa Adan dan Hawa tinggal di langit ketiga. Adam tinggal di situ setelah wafat. Pada literatur yang lain dari Armenia disebutkan bahwa Adam tinggal di langit kedua.

  1. Waktu Adam dan Hawa Masuk Surga

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

“Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini,” (Al-Baqarah:35)

Terkait dengan waktu Adam dan Hawa masuk surga, Taurat (Kejadian) menyebutkan bahwa Adam memasuki surga sebelum Hawa ada. Bahkan ia sudah berada  di surga sebelum diajari nama-nama semua makhluk. Ini berlawanan dengan apa yang disebutkan Al-Qur’an bahwa penciptaan Adam langsung diikuti dengan pemberian pengetahuan tentang nama, yang dilanjutkan dengan penciptaan Hawa. Terkait hal ini, kitab-kitab Yahudi, seperti Apocrypha[5] dan kitab yang lain, mempunyai kesamaan informasi dengan Al-Qur’an dan justru berbeda dengan informasi yang ada di Taurat. Beginilah cara Al-Qur’an meluruskan kesalahan yang ada di Taurat saat ini. Ini merupakan bukti kekuatan Al-Qur’an atas dua kitab suci pendulunya (baca: Taurat dan Injil).

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[5] Apocrypha atau Apokrifa merupakan naskan Yahudi yang berasal dari sekitar tahun 250 SM hingga 100 M (peny.)

Adam A.S di Alqur’an, Taurat, dan Kitab Kuno Yahudi (Part 1)

Kisah adam a.s dalam Alqur’an sama seperti kissah-kisah yang lain, kecuali kisah Yusuf a.s. Kisah Adam tersebar di banyak tempat. Sebagiannya berulang dan sebagiannya lagi tidak berulang. Pengulangan ini menjadi mukjizat tersendiri. Di setiap tempat, kisah disajikan dengan gaya Bahasa yang sesuai dengan tema besar surah dimaksud, terutama terkait dengan subtem yang disebutkan. Pada masing-masing pengulangan diberikan tambahan informasi untuk melengkapi kisah di tempat lain. Sementara itu, kisah yang tidak diulang biasanya hanya sesusai dengan  topik pada lokasi kisah itu berada.

Topik kisah tentang Adam yang berada di surah Al-baqarah berkaian dengan pengangkatan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Ini terkait dengaan tema surah yang secara umum berkaitan dengan persoalan khilafah (kepemimpinan), mulai dari kekhilafahan Adam, kekhilafahan Bani Israel, dan kekhilafahan kaum Muslimin (yang diwujudkan dengan dialihkannya kiblat dari Baitul Makdis ke Ka’bah).

Di surah Al-A’raf, kisah Adam berkaitan dengan kisah kemanusiaan yang menapaki jalan panjang dari dan menuju surga, juga peran Iblis di sana. Sekelompok orang memang akan kembali ke surga, tempat yang dulu ditinggali nenek-moyangnya (baca: Adam dan Hawa). Sekelompok lainnya Justru malah terjerumus ke neraka.[1]

Sementara itu, di surah Al-isra, topik yang melatari dituturkannya kisah Adam adalah pemberian peringatan. Sebelum ayat yang menceritakan kisah Adam, ada bagian ayat yag menginformasikan aya titu. Hal itu terdapat pada ayat berikut:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Kami tidak meberi tanda-tanda itu melainkan untuk memberi peringatan”

(Q.S. Al-Isra : 59)

Karenanya, kisah ini sanga tepat sekali terutama ketika disajikan dalam dialog antara Allah ﷻdengan Iblis berikut:

وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“Kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak. Beri janjilah mereka. Tidak ada yang dijanjikan oleh syetan kepada mereka melainkan hana tipuan belaka”

(Q.S. Al-Isra:64)

Degan analogi seperti itu, kisah Nabi Adam yang berada di surah lain dalam Al-Qur’an dapat dikaji.[2] Meski demikian, ada corak kemukjizatan lain dalam kisah ini, yang hanya bisa ditemukan setelah melakukan perbandingan secara menyeluruh terhadap kisah yang terdapat dalam A_Qur’an ini dengan isah yang sama dalam kitab suci Ahli Kitab yang lain. Melalui perbandingan seperti itu, keistimewaan Al-Qur’an akan terlihat. Cara seperti ini berlaku untuk perbandingan kualitas dan keistimewaan Al-Qur’a dengan kitab suci seperti Taurat atau informasi yang terdapat pada manuskrip yang ditemukan belakangan. Begitu pula dengan naskah-naskah tersembunyi (Pseudepigrapha),[3] seperti buku Adam wa Hawa (Adam dan Hawa) yang hanya bisa dikaji oleh agamawan Yahudi atau orang-orang yang menekuni teks-teks klasik seperti pada kitab-kitab beriktu:

  1. Talmud, yang secara harfiah bermakna ‘ajaran’. Kitab ini berisi ajaran-ajaran para nabi ketika Nabi Muhammad ﷺ belum diutus.
  2. Targum, yang merupakan terjemahan Taurat ke dalam bahasa Armenia.
  3. Midrash, yang berisi kajian seputar para Nabi yang berkaitan dengan Tuhan yang terdapat di Taurat. Untuk diketahui, kitab ini merupakan buku berseri besar yang terdiri dari beberapa buku. Isinya berbeda jauh dengan Taurat. [4]

Kajian yang akan kita lakukan adalah memperbandingkan apa yang diinformasikan Al-Qur’an terkait kisah ini dengan informasi yang dituturkan pada kitab-kitab yang telah disebutkan di atas. Bagian berikut akan memberikan gambaran perbandingan tersebut pertema:

  1. Informasi kepada Malaikat Terkait Penciptaan Adam sebagai Khalifah di Muka Bumi

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaiakt, ‘sesungguhnya Aku hendk menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Q.S. Al-Baqarah:30)

taurat sama sekali tidak menyebutkan topik ini. Sementara itu dalam Beskati Rabbati yang merupakan salah satu buku dalam seri Midrash disebutkan bahwa Allah menyampaikan rencana penciptaan manusia kepada langit dan bumi. Selain itu, Allah menyampaikan hal itu pada malaikat yang kemudian disambut dengan penolakan dari mereka. Informasi ini sangat mirip sekali dengan informasi Al-Qur’an. Hanya saja pada buku ini ditambahkan informasi bahwa Allah melempar Malaikat Salam dari langit ke bumi karena menolak penciptaan manusia! Lantaran kejadian itu, malaikat yang lain berteriak.

  1. Keheranan para Malaika atas Rencana Allah

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

الُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ

‘Mereka berkata, ‘mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau’’ (Q.S. Al-Baqarah:30)

Sementara itu tidak ada informasi terkait hal ini dalam Taurat dan kitab orang Yahudi yang lain.

  1. Penolakan Allah terhadap Keberatan Malaikat

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Tuhan berfirman , ‘Sesungghuhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahu’.”

(Q.S. Al-Baqarah:30)

Sementara itu tidak ada informasi terkait hal ini dalam Taurat dan kitab orang Yahudi yang lain.

  1. Bahan Dasar Penciptaan Adam

Al-Qur’an menginformasikan sebagai berikut:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوم

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Q.S. Al-Hijr: 26-27)

Informasi Taurat (kejadian 2:4) sama dengan informasi yang terdapat dalam Al-Qur’an terkait bahan dasar penciptaan Adam dari tanah liat. Seentara itu buku Adam wa Hawa menyebut kata Ath-Thin (tanah liat) seperti kata yang digunakan dalam Al-Qur’an. Lalu roh Adam ditiupkan ke dalam tanah itu. Namun, tidak menyebutkan bahwa Allah menciptakan sendiri Adam, seperti yang disebutkan Al-Qur’an.

Pada sebagian kitab-kitab orang Yahudi klasik ditemukan informasi ini. Ini seperti ditemukan pada Yerahmel 15:9. Informasi yang disebutkan pada buku-buku itu juga sama dengan informasi yang terdapat pada hadis Nabi Muhammad ﷺ bahwa Adam diciptakan dari semua jenis tanah yang ada di bumi, termasuk jenis warnanya. Jibrillah yang membawa semua tanah itu. Informaasi ini juga terdapat dalam buku-buku kaum Sabian, hal yang sama juga ditemukan pada ajaran orang Amnubi yang hidup di Mesir zaman dahulu. Ajaran itu menyebut bahwa manusia itu tercipta dari tanah liat.

Terkait dengan kata shalshal (tanah liat kering) yang terdapat dalam sebagian ayat di dalam Al-Qur’an. Hal sama juga ditemukan dalam buku sastra Yunani kuno yang menyebutkan bahwa manusia pertama diciptakan dari tanah liat kering.

Informasi yang kurang lebih sama ditemuka pada kitab Weda (kitab suci umat Hindu). Sementara itu, cerita-cerita orang Akkad menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan cara membunuh salah satu tuhan yang darahnya dicampur dengan sedikit tanah liat.

Di beberapa sumber yang lain disebutkan bahwa manusia dikeluarkan dari perut bumi sebagaimana tumbuh-tumbuhan. Di bagian lain, disebutkan bahwa asal-muasal Adam berikut karakeristik fisiknya tidak bisa dilepaskan dari informasi yang berasal dari salah satu itab Talmud, seperti Tanhuma dan yang lainnya yang kebetulan bersesuaian dengan informasi pada hadis Muhammad ﷺ yang menyebutkan tinggi Adam itu antara langit dan bumi. Hadis dimaksud menyebut tinggi Nabi Adam itu sekitar 60 dzira (sekitar 27,5 meter).

Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih Muslim Menyebut bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah menciptakan Adam dengan tinggi 60 dzira. Setelah itu, tinggi manusia terus menurun sampai sekarang.

  1. Dua Wajah Adam

Tidak ada informasi terkait hal ini di dalam Al-Qur’an. Begitu juga dalam Taurat. Padahal beberapa sumber Yahudi klasik ada informasi lain terkait dengan penciptaan istri Adam yang tidak bisa kita temukan dalam Al-Qur’an sumber dari para penyembah berhala di Babilonia kuno menyebutkkan bahwa Adam pada mulanya diciptakan dengan dua wajah yang kenudian dipecah menjadi dua ketika Hawa diciptakan. Informasi sejenis juga ditemukan pada cerita turun-menurun secara lisan yang sebetulnya tidak ditemukan di Taurat.

**Diambil dari Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis Jilid 1 : Kemukjizatan fakta sejarah

[1] Dirangkum dari tafsir fi Zhilalil Al-Qur’an, h. 2137

[2] Untuk mendapatkan informasi tambahan seputar hal ini dapat dirujuk buku Khasha ‘ish al-Ta’bir Al-Qur’ani karya Dr.  Abdul Azhim Al-Math’ani.

 

[3] Muhammad fi Al-Targum wa Al-Talmud wa Al-Taurat wa Ghairiha min Kutub Ahl Al Kitab wa Ashhabi Al-Dinayat karya Hisyam Muhammad Thalabah, h. 10-12. Pseudepigrapha atau pseudepigrafa merupakan naskah Yahudi yang berasal dari sekitar tahun 250 SM hingga 100 SM (peny.)

[4] Untuk mendapatkan informasi tambahan, silahkan rujuk beberapa literatur berikut: (1) The International Standard Bible Encyclopedia ; (2) Introduction to The Talmud and Midrash ; (3) Encyclopedia Judaica ; (4) Al-Kitab Al-Muqaddas, terbitan Dar Al-Masyriq, 1989; (5) Anajil Al-Thufulah karya Pastor Jean Danilo; (6) Al-Kanza Al-Marshud fi Fadha’ih Al-Talmud karya Muhammad Abdullah Al-Syarqawi.

Peringatan Kemerdekaan ke-73 SD Exiss Abata

Tanggal 17 Agustus bisa dikatakan sebagai peringatan akan sejarah terbesar dan tak terlupakan bagi kita rakyat Indonesia. Hari ditandainya kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Kemerdekaan Indonesia saat itu bertepatan dengan bulan istimewa bagi para pahlawan yang mayoritas beragama islam. Bulan Ramadhan. Benar, tepat di hari ini  sejarah mencatat 73 tahun yang lalu pada Jum’at, 9 Ramadhan 1364 H/17 Agustus 1945 Indonesia mempoklamirkan kemerdekannya setelah melalui perjuangan dan perjalanan yang panjang dan penuh rintangan. Maka dari sini kita tahu para pahlawan bergerilya mengatur siasat dan berperang melawan penjajah pada saat mereka sedang berpuasa. Allahu Akbar!!!

Nampaknya Ramadhan menjadi semacam kekuatan yang membuat para pahlawan  semakin bersemangat meruncingkan bambu-bambu mereka, senjata yang mengantarkan kita pada kemenangan. Bambu runcing adalah simbol semangat tanpa menyerah sedikitpun pada keterbatasan. Sangat sederhana dan tidak ada apa-apanya di banding dengan senjata para penjajah. Namun ternyata dalam peperangan yang paling penting adalah bagaimana menghidupkan kekuatan dalam diri bukan kekuatan dari apa yang dimiliki orang lain. Dan tentu saja keyakinan bahwa Allah akan selalu menolong hambaNya yang senantiasa berjuang di jalanNya

” Jika Allah menolong kamu maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) makasiapakah yang dapat menolong kamu(selain dari Allah) setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang mukmin bertawakkal.”

(QS. Ali Imron : 160)

Maka pada hari ini adalah kesyukuran bagi kita atas kemerdekan yang telah menikmati kemerdekaan yang cukup lama. 73 tahun. Waktu yang tidak sebentar untuk merenungi seberapa banyak kita mensyukuri nikmat kemerdekaan ini. Pada kemerdekaan ini seharusnya kita mampu mengambil semangat dari para syuhada yang telah mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan ini.

Terinspirasi dari semangat para pahlawan, peringatan kemerdekaan SD Exiss Abata kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini jadi tahun sejarah bagi tim Paskibra Abata. Benar, upacara kemerdekaan kali ini semakin semarak dengan kehadiran tim Paskibra Abata yang merupakan tahun pertama bagi mereka tampil dalam perhelatan peringatan keerdekaan SD Exiss Abata.

Upacara semakin meriah dengan sambutan dari Kepala Sekolah, Bapak Encep Sopyan Sori yang menggelorakan semangat tentang pentingnya mensyukuri kemerdekaan dengan terus menghidupkan semangat mereka dalam kehidupan.

Selepas upacara dilanjutkan dengan perlombaan-perlombaan yang diikuti oleh seluruh warga SD Exiss Abata. Alhamdulillah ala kulli hal peringatan kemerdekaan tahun ini sungguh meriah.

Sosialisasi Building Learning Power & Learning Style bersama TIM SMP Model Ar-Riyadh

“Ilmu itu cahaya yang terang yang menerangi dengannya orang yang bahagia dan orang yang bodoh dalam kegelapan Ilmu itu puncak kehidupan bagi para hamba sebagaimana orang-orang yang bodoh itu mati karena kebodohan mereka” -Al-Imam Al-Hafizh Al-Hakamy-

Adalah ilmu yang membedakan seseorang dengan lainnya, bagai cahaya yang benderang menerangi. Maka apakah sama rumah yang penuh cahaya dengan rumah yang gelap gulita? Pada cahaya kita mampu mendefinisikan objek dengan tepat, dengannya cahaya kita diarahkan pada arah tujuan yang jelas. Maka dengan ilmu kita mampu mendefinisikan kehidupan sesuai dengan arah tujuan yang benar. Maka hidup adalah tentang belajar. Segalanya dimulai dengan ilmu. Ilmu yang memudahkan seseorang dalam segala kegiatannya. Ilmu yang mengarahkan seseorang pada jalurnya. Kemudian pada ilmu akan kita sadari bahwa kehidupan ini penuh dengan hal yang patut disyukuri.

“Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”

QS Az Zumar: 9

Dari sini jelaslah bahwa agama islam memberi arahan kepada kita untuk senantiasa menuntut ilmu sebagai intrepretasi dari manusia berakal. Benar, akal adalah pembeda manusia dengan makhluk yang lain. Sebagai manusia dengan anugerah berupa akal, sudah sewajarnya kita terus menerus belajar. Maka alhamdulillah pada tanggal 05 – 06 JULI 2018 LPI Abata memberi fasilitas pada para asatidz dan asatidzah untuk terus mengembangkan diri dengan pelatihan bertajuk Sosialisasi Building Learning Power & Learning Style bekerjasama dengan TIM SMP Model Ar-Riyadh.

Adalah BLP suatu gagasan, konsep, model, kerangka, penyelidikan untuk meningkatkan kemampuan pelajar (siswa) untuk dapat belajar dengan baik secara nyata. Gagasan ini memberi Pengertian bahwa belajar adalah penyesuaian diri terhadap situasi baru dimanapun pelajar (siswa) berada.

Dalam praktik BLP tugas mendasar bagi pendidik diantaranya:

  • Menjelaskan

Menyampaikan BLP pada siswa secara langsung dan tegas.

  • Mengomentari

Menyampaikan pesan tentang BLP melalui pembicaraan informal dan evaluasi informal dan formal.

  • Mengorkrestra

Memilih aktivitas dan mengatur lingkungan

  • Modeling

Menunjukkan makna menjadi seorang pelajar yang efektif

 

Visi sekolah dalam prinsip BLP

Memiliki SDM Berakhlaq, Kreatif, dan Berprestasi

Misi sekolah

Menjadikan Sekolah Unggul dan Kompetitif

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini Alhamdulillah berjalan lancar dan mudah-mudahan kita semua senantiasa terus dapat mengambil pelajaran.

Wallahua’lam bisshawab

 

 

 

Tarhib Ramadhan1439 H

“مَرْحَبًا يَا رَمَضَان”

Dalam hitungan tidak lebih dari 24 jam kita akan kembali diberikan kesempatan untuk kembali bertemu tamu agung bernama Ramadhan. Diantara 12 bulan yang ada, Allah jadikan Ramadhan Bulan istimewa yang di dalamnya terdapat banyak keutaman yang tidak dapat kita temui di bulan lainnya. Bulan yang oleh nabi disabdakan di dalamnya terdapat rahmat, maghfirah, dan penghindaran dari api neraka. 10 hari pertama adalah rahmat, disusul 10 hari kemudian maghfirah (pengampunan), dan 10 hari terakhirnya adalah penghindaran dari api neraka. Tidak cukup pada tiga hal di atas, ada satu hari diantara 10 hari terakhir Allah janjikan kita malam lailatul qadar. Malam yang Allah jadikan amalan kita beribu kali lipat pahalanya. Ini seperti waktu tambahan dalam permainan yang memberikan kita kesempatan untuk meraih bonus sebanyak-banyaknya. Benar, sangatlah merugi bagi kita yang masih tidak peduli akan keutamaan bulan suci ini.
Atas keutamaannya Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Permisalan bulan sya’ban bagaikan  bulan persiapan. Di bulan ini, kita dianjurkan untuk melatih diri dengan berbagai amalan. Sebagai bentuk kesiapan diri kita menyambut bulan Ramadhan. Dengan pembiasaan-pembiasaan ini dimaksudkan agar kita mampu melewati Ramadhan dengan baik. Karena sejatinya Ramadhan layaknya rangkaian ujian bagi hambaNya yang beriman, Allah gelarkan taqwa bagi mereka yang mampu melewatinya. Karenanya, sebagai orang yang mengaku beriman mempersiapkan diri menyambut Ramadhan adalah keniscayaan. Menyambutnya dengan persiapan-persiapan jasmani maupun ruhaniyah kita.
Maka kegiatan Tarhib Ramadhan adalah perwujudan lain bagi LPI Abata dalam menyambut bulan istimewa ini. Sebagaimana keistimewaan Ramadhan, Tarhib Ramadhan kali ini kita kedatangan tamu istimewa yang datang dari tanah para anbiya negeri Palestina.

               

Adalah Mu’adz Nabîl Ahmad Khaththâb, imam muda dari Palestina menyempatkan diri hadir dalam Tarhib Ramadhan tahun ini. Bertempat di musola SD exiss Abata kegiatan berjalan sesuai rencana. Melalui bantuan penerjemah beberapa wejangan disampaikan, menambahkan semangat dalam menyambut Ramadhan esok hari. Di penghujung acara, donasi dari seluruh keluarga besar LPI Abata untuk warga Palestina  diserahkan. Tak lupa kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi, semoga Allah ganjarkan pahala di hari pembalasan kelak.

JazakumullahKhairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza

Seminar Matematika Nalaria SDIT Exiss Abata

 

 

Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk merencanakan kegiatan kita di masa depan, merincinya serta mengevaluasi kegiatan kita di masa lalu. Sebagai bentuk pengembangan diri dalam mewujudkan perencanaan awal tahun yang baik pada tanggal 9-11 Januari 2018 SDIT Exiss Abata mengadakan seminar bagi para asatidz dan asatidzah bertajuk “Seminar Matematika Nalaria”. Materi disampaikan oleh tim dari klinik MIPA KPM  yang diawali dengan Seminar Rahasia Sukses Hidup Dengan Berfikir Supra-Rasional di hari pertama dilanjutkan metodologi Pembelajaran Matematika Nalaria Realistik (MNR), Eksplorasi Matematika di hari kedua dan ketiga. Matematika Nalaria Realistik (MNR) merupakan suatu terobosan baru dalam pembelajaran matematika. MNR lebih menekankan penggunaan nalar dalam memahami matematika, sehingga pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran matematika di sekolah. Dengan MNR, siswa diajarkan untuk menganalisis masalah, menarik kesimpulan, dan menyelesaikan masalah dengan berbagai metode pemecahan masalah yang berlogika.  Matematika Nalaria Realistik mempunyai ciri-ciri berikut :

  1. Pemberian Masalah Nyata

Dalam MNR siswa diberikan masalah nyata terlebih dahulu pada saat memulai materi pelajaran. Pemberian masalah nyata tersebut untuk menghantar siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan untuk menemukan pengetahuan baru. Masalah nyata tersebut harus memenuhi kriteria :

  • Sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki anak
  • Menyesuaikan dengan cara berpikir anak
  • Melibatkan sebanyak-banyaknya panca indra anak
  • Menggunakan benda-benda di sekitar sebagai peraga matematika
  • Mengembangkan otak kiri dan otak kanan secara seimbang
  1. Pemahaman Konsep

Dalam MNR, konsep matematika diajarkan melalui matematika non formal yang sesuai dengan pengetahuan siswa. Kemudian siswa dihantarkan untuk menyimpulkan konsep tersebut dan menuliskan dalam bentuk matematika formal. Proses pengambilan kesimpulan tersebut merupakan sarana untuk melatih penalaran siswa.

  1. Penalaran dan Komunikasi

Dalam MNR soal dibuat untuk melatih siswa dalam bernalar dan mengkomunikasikan jawaban dalam bentuk uraian dengan baik, sehingga siswa terlatih untuk mengungkapkan idenya dengan sistematis.

  1. Pemecahan Masalah

Dalam MNR diajarkan soal-soal non-rutin yang dibuat untuk melatih kemampuan siswa berpikir kreatif serta melatih siswa untuk menggunakan berbagai strategi untuk memecahkan masalah dengan merekonstruksi materi-materi yang sudah dipelajari sebelumnya

  1. Aplikasi dalam Kehidupan

Dalam MNR siswa dilatih untuk mengetahui aplikasi konsep matematika yang dipelajari dalam kehidupan, sehingga siswa dapat mengetahui maksud dan tujuan belajar suatu konsep matematika dan semakin tertarik untuk mempelajari materi berikutnya

  1. Eksplorasi Matematika

Dalam MNR siswa dilatih bereksplorasi. Selain bertujuan untuk melatih ketrampilan psikomotorik, siswa juga dilatih untuk memiliki semangat pantang menyerah dan berpikir kreatif.

  1. Permainan Matematika

Dalam MNR terdapat permainan matematika yang bertujuan untuk membuat siswa merasa senang belajar matematika dan mempermahir pemahaman konsep matematika yang sudah dipahami dengan permainan tersebut.

SD EXISS ABATA Juara 1 lagi, Olimpiade Matematika.

Sungguh Islam menempatkan posisi spesial bagi orang-orang yang berilmu, dengan ditinggikannya derajat mereka para pemburu ilmu di sisi Allah SWT. Ini berbanding lurus dengan anugerah yang diberikan kepada kita manusia berupa akal. Dengan akalnya manusia mempunyai tanggung jawab lebih atasnya. Akal bukankah aksesoris semata yang diletakkan ke dalam kepala kita, sadar ataau tidak segala fasilitas yang diberikan oleh Allah nantinya akan dimintai pertanggungjawabnya di hari pembalasan. Dengan akal kita mestinya tahu mana yang disyariatkan dan mana yang harusnya kita tinggalkan.

Produk sukses dari sebuah akal adalah lahirnya manusia-manusia pembelajar yang selalu haus akan ilmu. Produk yang seharusnya ditanamkan oleh kita umat muslim sejak dini, jelas dalam ajaran kita posisi ilmu adalah sebelum amal. Ia merupakan syarat sahnya sebuah amalan.

Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan:

بَابٌ العِلمُ قَبلَ القَولِ وَالعَمَلِ

“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”

Begitu pentingya arti ilmu bagi islam sehingga menempatkannya bahkan sebelum kita beramal. Dengan ilmu pula menyadarkan kita betapa kerdilnya kita di mata Allah SWT. Betapa tak ada artinya kita tanpa kemahakuasaaNya. Maka dari sini kita ambil kesimpulan bahwa satu-satunya tujuan penciptaan manusia tidak lain agar kita patuh dan tunduk kepadanya. Beribadah hanya kepadaNya. Beramal hanya karenaNya. Lalu amalan yang seperti apa yang lebih dicintai oleh Allah?

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalannya. “

Benar, Allah tidak menuntut kita untuk melakukan banyak hal. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik dari usaha kita. Bahkan nabi Muhammad SAW selalu mencontohkan kepada kita tentang pentingnya amalan terbaik. Usaha terbaik. Prestasi terbaik. Ibadah terbaik. Sebuah riwayat menceritakan, bahwa kaki Nabi Saw sampai bengkak karena lamanya beliau melaksanakan shalat malam. Konsep ihsan yang dinyatakan Nabi Saw sebagai “engkau mengabdi kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau”, mengisyaratkan bahwa umat Islam harus berbuat yang terbaik dalam pengabdiannya kepada Allah. Sebab ihsân, yang secara harfiah berarti “berbuat baik”, mengandung ajaran tentang penghayatan akan ke-Mahahadiran Allah dalam hidup, melalui penghayatan diri sebagai sedang menghadap dan berada di depan hadirat-Nya ketika beribadah. Pada saat demikian, maka ibadah (dalam arti sempit maupun dalam arti luas) akan diupayakan sebaik mungkin, bahkan bila perlu yang terbaik. Ini berarti, ihsân mengajarkan tentang hidup yang berkualitas dan memiliki nilai keunggulan (prestasi).

Konsep ihsan dan ahsanu amalaa inilah yang menjadi landasan SD Exiss Abata dalam mewujudkan cita-citanya melahirkan generasi yang sholeh, cerdas, terampil dan sehat. Kesadaran akan pentingnya generasi terbaik cukup beralasan jika SD Exiss Abata melakukan usaha terbaiknya pula. Tak bisa dipungkiri bahwa bimbingan ikhlas para pendidik SD Exiss Abata tanpa henti merupakan harga mutlak yang harus ditempuh demi menghasilkan potensi-potensi terbaik siswa.

Alhamdulillah atas kesabaran dan konsistensi para guru tepat tanggal 25 November 2017 lalu, siswa dan siswi SD Exiss Abata berkesempatan mengasah kemampuan mereka di bidang Matematika. Adalah rayhan, Bunga, dan Fahrana siswa kelas 6 serta Reifan dan Aiman perwakilan dari kelas 5. unjuk kemampuan pada perlombaan bertajuk “Olimpiade Matematika III (Odema III) 2017 Tingkat SD/MI Rekanan” bertempat di Ponpes Fathan Mubina.

Atas izin Allah dari perwakilan SD Exiss Abata, dua diantaranaya meraih juara. Ananda Rahyan yang menduduki juara 1 dan Ananda Farhana yang meraih juara harapan 1. Merupakan sebuah kebahagiaan karena dari sini kita dapat melihat kesungguhan civitas akademika SD Exiss Abata dalam mewujudkan visi dan misinya.

    

Terakhir, semoga perlombaan ini bukanlah akhir baik bagi SD Exiss Abata maupun Ananda Rayhan, Bunga dan Farhana untuk terus memberikan usaha terbaiknya.

Wallahu A’lam Bishshawab.

 

 

Safa murid SD Abata dan semangatnya menghafal Alquran

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Salah satu yang sifat Al Qur’an adalah dijadikannya mudah bagi kita untuk mempelajarinya. Allah mengulang kalimat di atas sampai dengan empat kali dalam surah Al Qalam. Pengulangan kalimat dalam satu surah menandakan bahwa Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa dijadikannya Al Qur’an benar-benar mudah untuk dipelajari. Imam Jalalain menjelaskan ayat tersebut dalam kitab tafsirnya bahwa ”Kami (Allah SWT) telah memudahkan Al Qur’an dihafal dan telah mempersiapkannya mudah untuk diingat”. Lafazh istifham (fa hal…) mengandung makna perintah, yakni: ”hafalkanlah Al Qur’an itu oleh kalian dan ambillah sebagai nasihat buat kalian” (Tafsir Jalalain hal 383).

Jika kita lihat ke belakang, kita tentu sadar bahwa keterjagaan Al Qur’an hingga saat ini salah satunya adalah karena hafidz dan hafidzah para pendahulu kita. Atas jasa merekalah Al Qur’an sampai kepada kita tanpa berkurang sedikitpun. Penjagaan Allah akan Al Qur’an melalui para hafidz dan hafidzah merupakan bukti kuat dimudahkannya Al Qur’an untuk dipelajari dari sisi bahasa. Kesempurnaan tata Bahasa Al Qur’an tidak dapat kita temui bandngannya dalam karya sastra manapun.

Jaminan Allah akan mudahnya mempelajari Al Qur’an juga dapat dibuktikan dengan fakta semakin banyaknya generasi muda saat ini yang penuh semangat menghafal Al Qur’an. Salah satu misi yang ingin dicapai Yayasan Abacu LPI ABATA adalah “Membentuk dan melahirkan anak didik yang mencintai dan menjunjung tinggi Islam dan Al-Qur’an untuk masa depannya”. Pengenalan sejak dini akan AL Quran merupakan langkah untuk mewujudkan misi tersebut.

Semangat konsistensi pembelajaran AL Qur’an di SD EXISS Abata yang juga masih dalam lingkup Yayasan Abacu LPI ABATA dapat kita lihat pada acara Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) cabang kotamadya pada 28-29 November 2017 kemarin. Adalah Safa Khansa farrelya siswi kelas 6 SD EXISS Abata yang mengikuti perlombaan dibidang tahfidz Al Qur’an. Ini merupakan lanjutan dari perlombaan tingkat kecamatan sebelumnya, yang Alhamdulillah khansa meraih juara kedua.

Dalam wawancaranya dengan beritakotanews.com khansa meyebutkan jika dirinya siap menghafal hingga 30 juz. Dari sini, mudah-mudahan ke depan akan banyak lagi perwakilan-perwakilan dari siswa/I dari SD EXISS Abata yang ikut serta menyemarakkan perlombaan serupa MTQ baik tahsin maupun tahfidz. Semangat khansa untuk terus melanjutkan hafalan merupakan motivasi bagi SD EXISS Abata menjadi lebih baik lagi. Sehingga bertambah khansa-khansa yang lain di masa yang akan datang.

Wallahu A’lam Bishshawab

 

Employee Gathering LPI ABATA 2017

Hijau, Semangat, Berani……!!!

Gemuruh gelora semangat memenuhi mushola SD Exiss Abata malam pada saat briefing kegiatan employee gathering. Memberi suntikan energi baru bagi para peserta yang tidak lain adalah seluruh pegawai Yayasan Abacu LPI ABATA. Malam itu menandai dimulainya acara, dilanjutkan dengan pemilihan slogan Employee Gathering 2017. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya terpilihlah slogan “Hijau, Semangat, Berani….!!!

Akan lebih baik jika kita ketahui lebih dalam makna slogan tersebut, let’s see

  

Hijau,

Seperti kita tahu, warna hijau identik dengan warnanya agama Islam. Warna hijau juga merupakan salah satu warna favorit Rasulullah. Annas bin Malik r.a mengatakan, “Warna yang paling disukai Rasulullah saw adalah hijau”. Begitupula meurut Ibnu Hajjar dalam Tanbih Al Akhbar mengatakan “Pada hari raya kami disuruh meakai pakaian berwarna hijau karena warna hijau lebih utama. Adapun warna hijau adalah lebih utama dari warna lainnya,sesudah putih.”

Maka pemilihan warna hijau sangatlah tepat mengingat warna ini adalah warna favorit nabi Muhammad saw. Meskipun kenyataan di lapangan, orang akan lebih familiar warna hijau ini dengan warna moda tranportasi online berinisial G. Terlepas dari kemiripan warna, hijau jika diartikan menurut sisi psikologi merupakan warna yang melambangkan satu keinginan yang kuat, ketabahan dalam menghadapi persoalan hidup, dan juga memiliki kepribadian yang teguh. Para pakar psikologi juga berpendapat bahwa warna hijau dapat membangkitkan kebahagiaan, rasa gembira serta gairah hidup. Semangat itulah yang agaknya  ingin ditumbuhkan oleh para panitia sehingga memilih warna hijau sebagai warna seragam Employee Gathering tahun ini.

                 

Semangat,

Firman Allah dalam surat al mulk ayat 1

“Dialah (Allah) yang  menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dalam ayat ini tidak disinggung yang paling banyak amalnya, akan tetapi yang paling baik amalnya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan dibandingkan kuantitasnya. Bahwa kita sebagai hamba sudah semestinya bersemangat dalam amal ibadahnya, bahkan diseluruh sendi kehidupannya. Karena kuantitas merupakan tolak ukur utama penilaian Allah terhadap hambanya.

   

Berani,

Menurut Buya Hamka, keberanian yang dalam Bahasa Arab Syaja’ah itu terbagi dalam dua kategori yaitu keberanian semangat dan keberanian budi. Keberanian semangat ini ada pada diri serdadu menghadapi musuh di medan perang. “Walau bagaimana pun hebatnya granat , bom, Meriam, bedil, peluru, gas beracun yang ada dihadapannya dia akan terus maju,dan akan terus maju tak kenal kata mundur (halaman : 246). Sedangkan keberanian budi ialah keberanian menyatakan suatu perkara yang diyakini sendiri kebenaran, walaupun akan dibenci orang. Menurut Buya Hamka, inilah yang ada dalam islam dikenal dengan istilah “amar bil ma’ruf, nahyi anil munkar”. Menyuruh yang baik dan mencegah berbuat jahat. Dari sini jelas, seorang mukmin dituntut untuk mempunyai keberanian dan ketegasan dalam berkehidupan. Berani mempertahankan yang kita yakini itu benar dan tegas dalam menolak kebathilan.

Sesudah malam briefing berlalu, peserta Employee Gathering dipersilahkan untuk beristirahat. Persiapan untuk acara esok hari yang tentu akan sangat menguras tenaga. Awal rencana pemberangkatan adalah pukul 03.00 namun karena beberapa hal, keberangkatan akhirnya terpaksa mundur jam 03.30. Tiga bus diberangkatkan menuju Caldera River Resort yang berlokasi di Desa Citarik, Sukabumi. Tempat nantinya peserta diuji keberanian dan kerjasama mereka.

Perjalanan berlangsung cukup memakan waktu, beberapa kali bus harus berhenti disebabkan kemacetan parah di jalur Bogor-Sukabumi yang merupakan imbas dari proyek pembangunan jembatan Cisadane. Setelah sekitar enam jam perjalanan panjangpun berakhir. Sesampai resort peserta disambut dengan suguhan nasi goreng, yang seyogyanya disiapkan untuk sarapan pagi. Berhubung waktu tempuh yang melebihi perkiraan, sarapan hari itu terlaksana pukul 09.30 siang. Berkatnya sarapan kali itu terasa sangat nikmat, efek lapar sepertinya berpengaruh besar disini.

Selepas sarapan dan istirahat sejenak, peserta memulai kegiatan yang telah direncanakan malam sebelumnya. Sesuai rencana, kegiatan peserta ikhwan adalah paint ball terlebih dahulu sedangkan kegiatan peserta akhwat rafting terlebih dulu. Keputusan ini diambil karena kegiatan rafting akan memakan waktu lama, sedangkan jam menunjukkan pukul 10.00 yang artinya waktu sholat jum’at tersisa 2 jam saja. Kemudian dilanjutkan ba’da dhuhur dengan agenda sebaliknya, peserta ikhwan mengikuti kegiatan rafting, sedangkan peserta akhwat paint ball.

Selepas dhuhur dan makan siang tepat sebelum melanjutkan kegiatan, diumumkan pemenang  doorprise yang telah disiapkan panitia.

Sebagaimana slogan Employee Gathering “Hijau, Semangat, Berani!!!”, para peserta terlihat sangat bersemangat mengikuti kegiatan hingga akhir acara. Sekitar pukul 17.00 sore acara ditutup dengan kesan dan pesan perwakilan dari peserta ikhwan dan akhwat.

    

Akhirnya, sebagaimana tujuan acara ini. Semoga kita para alumni Employee Gathering tahun 2017 bisa menjadi insan yang lebih baik lagi dan dapat memperoleh energi baru untuk bekerja lebih semangat lagi.

Wallahu a’alam bishshawab